Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Fajr Muchtar

menulis itu artinya menyerap pengetahuan dan mengabarkannya www.facebook.com/fxmuchtar fxmuchtar.blogspot.com twitter @fxmuchtar selengkapnya

Bertemu Tom di Tanjung Puting

REP | 16 February 2012 | 09:24 Dibaca: 236   Komentar: 2   0

TNTP

TNTP

inilah pertama kalinya saya menginjakan kaki di bumi Borneo. keinginan untuk mengunjungi pulau ini sudah sangat lama, oleh karena itu, ketika seorang teman menawari tiket promo ke Palangka Raya dan sekaligus mengajak berpetualang di Kalimantan, tak saya lewatkan.

Tanjung Puting, sudah dipatok menjadi tujuan utama dalam perjalan ini. Menurut Wikipedia, Tanjung Puting pada awalnya merupakan cagar alam dan suaka margasatwa dengan luas total 305.000 ha yang ditetapkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 13 Juni 1936. Selanjutnya pada tanggal 12 Mei 1984 oleh Menteri Kehutanan, Tanjung Puting ditetapkan sebagai Taman Nasional luasnya menjadi 415.040 ha.

Perjalanan dimulai dari Teluk Kumai dengan menyewa sebuah Klotok, dan Fahrurrzi, seorang guide TNTP. Ingat, ke TNTP harus menggunakan GUIDE. dialah yang akan mengatur perjalanan di Camp Leakey. Guide juga adalah orang yang sudah sangat mengenal hutan di TNTP sehingga bila bersamanya, kemungkinan tersesat sangat kecil. di samping itu, guide juga biasanya sudah akrab dengan para orang utan atau Pongo satyrus dalam bahasa latinnya.

camp leakey

camp leakey

perjalanan menuju ke TNTP memakan waktu 5 jam perjalanan. artinya PP memerlukan waktu 10 jam!!! perjalanan yang panjang. karena perjalanan dengan klotok ini sangat mendebarkan, saya ingin menceritakan perjalanan saya dengan klotok ini dalam tulisan tersendiri.Tujuan kami ke sana adalah melihat orang hutan yang diberi makan dan bertemu dengan Tom si raja orang utan.

langsung saja kita ke TNTP yang merupakan lokasi pertama di Indonesia sebagai pusat rehabilitasi orangutan. Terdapat tiga buah lokasi untuk rehabilitasi orangutan yaitu di Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, dan Camp Leakey. dalam kesempatan ini saya mengunjungi Camp Leakey, tempat seorang raja orang hutan yang terkenal sampai ke mancanegara.

Sampai di dermaga Camp leakey, kami berjalan ke tempat feeding orang hutan yang berjarak hampir 1 Km. kami berjalan agak cepat karena waktu feeding sudah hampir habis. Di dekat camp pekerja, kami sudah disambut oleh Tutu, bersama anaknya yang masih kecil. Menurut Azi, Tutu ini adalah ibu dari Si Tom yang jadi raja di Camp Leakey. Setelah bercengkrama sebentar dan berfoto kami melanjutkan perjalanan ke tempat feeding.

sayang, saat kami berkunjung hanya ada satu orang utan yang sedang sibuk menghabiskan pisang yang sengaja disediakan untuk orang utan. hal itu disebabkan pada saat itu, sedang musim buah di hutan, sehingga para orang utan hanya sedikit yang mendatangi tempat feeding. agak mengecewakan, setelah perjalanan panjang yang ditempuh dan hanya melihat seekor orang utan yang menghabiskan Pisang.

Seekor burung enggang, burung khas kalimantan dan maskot dari propinsi Kalteng hinggap di pucuk pohon yang tinggi. agak susah membidiknya, karena lensa tak cukup panjang untuk menjangkaunya. kesempatan melihatnya di TNTP menjadi hiburan tambahan. tapi belum ketemu TOM. Raja orang utan. Kami kembali ke dermaga, dengan perasaan kecewa. tak berhasi bertemu maskot Camp Leakey.

Tom di TNTP

Tom di TNTP

Tiba-tiba saja, Azi berteriak “Ada Tom di jembatan”. seketika kami dialiri semangat. Azi berkata lagi, jangan terlalu bersemangat, nanti Tom akan merasa terintimidasi, “tenang saja” katanya. setelah menarik nafas panjang kami berjalan perlahan. tapi justru Tom menuju ke arah kami.Badanya sangat besar, tangannya lebar dan kuat. cukup untuk mematah-matahkan tulang kami. wajahnya lebar. sorot mata tajam dan waspada. Dengan agak takut kami mundur. beberapa kali Tom memandang kami. kami waspada. Tom kemudian berjalan menuju Camp. di dekat menara dia berhenti agak lama. di situlah kami sepuasnya mengabadikan TOM.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Asyiknya Acara Pernikahan di Jakarta (Bukan …

Irwan Rinaldi | 11 jam lalu

Matematika Itu Hasil atau Proses? …

Pical Gadi | 12 jam lalu

Usia 30 Batas Terbaik untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 12 jam lalu

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Phsycologhy Dangdut Pengaruhi Cara Pandang …

Asep Rizal | 8 jam lalu

“Triple Steps Solution” Upaya …

Hardiansyah Nur Sah... | 8 jam lalu

Every Children is Special …

Hardiansyah Nur Sah... | 8 jam lalu

Pemilik Bagasi Lost 500 Juta Rupiah Itu …

Irawan | 8 jam lalu

Habibi & Kakak vs Sentimentil Sang Guru …

Daniel Oslanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: