Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Arkanhendra

"… berjalan-jalan dan bersenang-senang,…" karena setiap pertemuan itu menyenangkan, bukan? (email/blog: hendraarkan@gmail.com/ denmasgundul.wordpress.com) selengkapnya

Rekam Jejak Timang-Sundak Part I

REP | 19 February 2012 | 17:42 Dibaca: 238   Komentar: 2   2

Timang Beach, Gunung Kidul, Yogyakarta Indonesia (Googlemap)

Sekitar pukul 11 siang pada pertengahan bulan Mei di tahun 2011, kami tiba di sebuah pantai bernama Timang. Nama Timang tiba-tiba mengingatkan pada sesosok ibu yang sedang menimang-nimang anaknya. Rasa kasih sayang yang terpancar, ketika si ibu sedang berdendang lagu nina bobo terwakili oleh pemandangan yang indah dari atas bukit. Yang menunjukkan kasih sayang Yang Maha Kuasa pada setiap ciptaan-Nya.

Perjalanan kami menyusuri pantai kali ini merupakan perjalanan yang kedua setelah perjalanan pertama yang dilakukan seorang teman pada jalur Wediombo-Timang. Pada perjalanan yang kedua ini kami meneruskan jalur dari Timang menuju Sundak. Sesuai rencana, kami akan tiba di Sundak pada hari minggu selambat-lambatnya pukul 3 sore. Kurang lebih sehari setelah keberangkatan kami pada sabtu pagi.

Pantai Timang yang terletak di daerah Gunung Kidul tersebut memiliki keunikan tersendiri. Di pantai tersebut terdapat sebuah kereta gantung yang menghubungkan sebuah tebing dengan pulau yang terletak di dekat pantai. Rasa penasaran mulai menggoda minat saya untuk sekedar menengok bahkan jika perlu menaiki kereta tersebut

Kereta gantung ini dibuat dengan sangat sederhana. Hanya bermodalkan tali dan beberapa batang kayu. Amankah? Ya, bagi mereka yang terbiasa memakainya tentu saja. Mereka para nelayan pencari udang atau lobster. Kadang, demi menjaga agar dapur tetap mengepul segi keamanan yang meragukan tidak akan menjadi masalah. Karena utamanya, kebutuhan dasar mereka terpenuhi.

Itulah pilihan yang diambil para pencari udang / lobster di wilayah pesisir pantai Gunung Kidul. Mereka lebih memilih menantang  maut dengan mencari makan menggunakan sebuah kereta gantung ala kadarnya, daripada harus merampok atau mencuri apa yang menjadi hak orang lain. Sebuah pelajaran yang seharusnya dimengerti bagi mereka-mereka yang memiliki taraf hidup lebih baik namun acap kali melakukan kecurangan.

Perjalanan kami ke pantai Timang menghabiskan waktu kurang lebih 6 jam dari terminal Giwangan, Yogyakarta. Berangkat sekitar pukul 6 pagi menuju terminal Giwangan, kami segera menaiki sebuah angkutan minibus jurusan Jogja-Wonosari. Minibus yang kami naiki melewati Patuk, Wonosari yang berkelok-kelok. Pada jalur ini kami melewati sebuah spot wisata yang sering ramai didatangi para pasangan muda. Tempat itu bernama Bukit bintang. Objek wisata ini sebenarnya hanyalah sebuah jalan yang berada di tepi sebuah bukit dengan jurang yang cukup dalam di satu sisinya. Sedang pemandangan landscape kota Yogyakarta yang berkelap-kelip ketika malam membuat wilayah ini akhirnya terkenal dengan nama Bukit Bintang.

Untuk sampai ke pantai Timang kami harus meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki selama 3 jam dari tepi jalan beraspal menembus ke jalan pedesaan. Melewati ladang, sawah, pemukiman penduduk yang tidak padat, bahkan hutan. Hal tersebut karena minibus yang kami sewa dari terminal wonosari dengan harga 200.000 untuk 6 orang hanya mampu mengantar kami sampai di tepi desa. Karena jalan mendaki dan menurun beralaskan batu-batu kapur yang tidak rata, tidak mengijinkan minibus untuk melewatinya.

Sesampainya di pantai Timang, kami memutuskan untuk berhenti sejenak sambil beristirahat. Menyiapkan bekal dan tenaga untuk meneruskan perjalanan dengan kembali berjalan kaki. Cuaca yang cerah setelah sempat gerimis, membuat kami memanfaatkan kesempatan ini untuk bermain-main di pantai, yang terbilang masih sepi dari pengunjung.

Di pantai tampak beberapa anak kecil sedang memancing. Sambil menunggu hasil pancing, waktu mereka habiskan dengan bermain di pantai. Saling berteriak ketika ombak datang menggulung tinggi, saling tertawa dan bercanda riang bersama  gelombang air laut yang datang berarak-arakan. Berbahayakah? Tidak, kata raut wajah mereka yang gembira.

Setelah merasa sudah cukup bermain-main di pantai, kami pun segera beranjak kembali ke bukit tempat kami beristirahat. Kurang lebih sudah hampir 1 jam kami bermain-main di sana. Dan kini waktunya makan siang. Menu makan siang kali itu terdiri dari nasi sarden, mie instan dan secangkir kopi hitam. Menu andalan para petualang kata seorang teman. Dan tentu saja beberapa batang tembakau yang mengepul sebagai hidangan pencuci mulut. []

Arkanhendra

Beach Boys at Timang Gunung Kidul Indonesia (Dok. Sapusothil Adventure)

Sitting on the edge along Timang-Sundak track (Dok. Sapusothil Adventure)

The landscape along Timang-Sundak track (Dok. Sapusothil Adventure)

Waiting for the twilight along Timang-Sundak track (Dok. Sapusothil Adventure)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | | 23 November 2014 | 12:04

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 9 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 17 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 19 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 12 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 12 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 12 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 12 jam lalu

Peniti Community, Wadah Kompasianer …

Isson Khairul | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: