Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Bart Mohamad

Seorang 'backpacker' yang berkelana di bumi Eropa

Kenangan Sepanjang Jalan ke Budapest

HL | 25 February 2012 | 00:15 Dibaca: 1207   Komentar: 17   0

1330081701781494135

Keretapi ke Budapest dari stasiun Praha Holesovic (Foto: BM)

“The world is a book and those who do not travel read only one page.” – St. Augustine

Jam 9.00 pagi saya sudah melangkah keluar dari hostel ke stasiun kereta Praha Holesovic untuk ke destinasi berikutnya - Budapest. Kereta akan berangkat jam 11.30 pagi dan akan melalui perjalanan panjang ke arah selatan. Kereta akan terus ke Budapest dengan harga tiket hanya € 19.00 yaitu jauh lebih murah dari kereta Krakow ke Praha. Perjalanan ini melalui jarak 550 km melalui beberapa kota besar seperti Brno dan Brastilava sebelum sampai ke Budapest. Perjalanan memakan waktu hampir 7 jam.

Kereta EC (Euro City) dari Praha ke Budapest sangat nyaman. Kereta EC berbeda dengan IC (Inter City). IC biasanya hanya untuk layanan kereta antara kota dalam negeri tetapi EC adalah untuk layanan yang melintasi perbatasan. Sebenarnya kereta ini dimulai dari Hamburg melalui Berlin dan Dresden sebelum berhenti di Praha untuk mengambil dan menurunkan penumpang, dan kemudian melanjutkan perjalanan berikutnya ke Bratislava dan Budapest. Oleh itu saya mengusulkan untuk wisatawan yang ingin ke Eropa Tengah adalah lebih baik dimulai dari Jerman. Jadi petualangan Anda akan meliputi 5 negara yaitu Berlin (Jerman), Praha (Ceko), Bratislava (Slowakia), Wina (Austria) dan Budapest (Hongaria). Rute ini lebih mudah karena Anda akan menggunakan kereta yang sama dan hanya perlu ‘break journey’ di kota-kota tersebut. Meskipun Wina keluar dari rute kereta ini, tetapi Anda dengan mudah ke sana dari Bratislava dan ‘return ticket’ Bratislava-Wina hanya € 10.00 dan waktu yang diambil hanya 30 menit. Saya membuat kesilapan dengan memulai perjalanan dari Krakow yang menyebabkan saya melalui perjalanan panjang untuk ke Praha dan mengalami berbagai kesulitan. Tetapi saya tidak menyesal karena setiap hal yang terjadi memberikan saya pelajaran dan pengalaman yang berharga. ‘Nothing to regret’.

13300818941437061905

Budapest, Hongaria (Foto: BM)

Kursi kereta IC agak berbeda dengan yang pernah saya naiki sebelumnya. Disetiap gerbong terdapat beberapa buah kamar yang didalamnya memiliki 6 kursi yang disusun seperti kursi di cafe. Jika Anda bepergian dalam suatu kelompok adalah lebih enak karena bisa ngobrol sepanjang perjalanan. Pintu kamar berfungsi secara otomatis dan untuk dibuka dan ditutup dan harus menekan ‘button’ di tepinya. Jadi ia lebih ‘privacy’ dan tidak mengganggu penumpang yang lain. Ketika saya naik, tidak banyak penumpang didalam kereta dan bisa memilih mana-mana kamar yang kosong. Saya menempatkan ‘backpack’ di atas kursi didepan saya. Sambil mendengarkan lagu-lagu dari ipod nano, mata saya melihat keluar jendela menikmati permandangan lanskap bumi Ceko. Densiti penduduk negara Ceko amat jarang yaitu 331 orang untuk setiap mil persegi. Jadi permandangan disepanjang perjalanan melalui wilayah Moravia di selatan hanya akan terlihat ladang-ladang dan hutan belantara. Cuaca mendung dan hujan menemani saya sepanjang perjalanan pada hari itu.

Setibanya di stasiun Pardubice yang masih di wilayah Ceko, naik 3 orang penumpang lalu membuka pintu kamar dan meminta izin duduk situ. Mungkin mereka melihat saya berseorangan dan kamar yang lain sudah penuh. Ketiganya berseragam merah dengan logo CD yaitu Ceske Drahy yang berarti Czech Railways. Seorang duduk disebelah dan 2 lagi duduk di kursi di depan menghadap saya. Kami bertentang mata dan saya pun memulai percakapan. Kendala bahasa adalah hal yang sering terjadi untuk pengembara. Kami lebih banyak menggunakan bahasa isyarat dibandingkan bahasa lisan. Ketika saya bertanya tentang kerja mereka, salah seorang dari mereka yang berbadan paling besar menunjukkan logo di baju mereka. Saya mengerti mereka bekerja di perusahaan kereta Ceko. Pakaian mereka tampak kotor dan membawa peralatan seperti mekanik. Saya mengasumsikan mereka bekerja sebagai buruh memperbaiki jalan atau perlalatan kereta dan baru pulang dari menyelesaikan pekerjaan mereka. Ketiga-tiga mereka memiliki karakter yang berbeda. Disebelah saya nampak paling tua berdasarkan rambutnya yang hampir tiada. Di depan saya pula seorang berbadan besar dan bentuk wajahnya memang tipikal Ceko asli, sedangkan seorang lagi kurus dan pendiam dan jarang-jarang bersuara. Dari 3 orang itu, pria yang berbadan besar itu yang paham sedikit tentang bahasa Inggris dan sering menjadi penerjemah kepada 2 orang rekannya yang lain setiap kali saya mengajukan pertanyaan. Meskipun ia paham tentang pertanyaan saya, tetapi sulit baginya untuk membalas pertanyaan saya dalam bahasa Inggris. Bahasanya terputus-putus dan saya sabar mendengar setiap patah kata yang keluar dari mulutnya.

Karena kamar digerbong yang saya naiki itu tertutup, saya dapat mencium bau kuat bir dari mereka bertiga. Sepertinya mereka baru saja menikmati bir sebelum naik kereta tadi. Di tas mereka juga terlihat ada beberapa botol bir yang belum dibuka. Mungkin cuaca dingin diluar, bir dapat memanaskan badan mereka. Saya juga teringat kata seorang teman dari Jerman yang menginap di ‘dorm’ hostel yang sama di Praha, ada dua sebab orang Jerman suka ke Praha yaitu bir dan perempuan. Menurutnya bir di Ceko sangat murah dibandingkan dengan Jerman. Oleh yang demikian banyak orang Jerman sanggup datang ke Praha hanya untuk menikmati birnya dan mencari perempuan.

Meskipun mereka memperkenalkan nama masing-masing tetapi sulit untuk saya mengingat dan menyebutnya. Bahasa Ceko adalah dalam kategori bahasa Slavik Barat dan hampir sama dengan bahasa Slovakia. Kedua penutur ini saling memahami bahasa lisan dan tulisan. Jadilah orang Ceko dan Slovakia tidak mengalami masalah dalam berkomunikasi lebih-lebih lagi mereka bersatu dalam satu negara Czechoslavakia selama lebih 80 tahun.

Lama juga kami semua membisu karena tidak ada isu baru yang dibicarakan dan masalah memahami setiap pertanyaan dan jawaban yang diberikan. Tiba-tiba, pria disebelah saya mencoba berbicara sesuatu yang saya tidak dapat menangkap isi pertanyaannya. Ia berusaha keras menjelaskan kepada saya dengan dibantu oleh rekannya yang berbadan besar sambil menunjuk uang koin kepada saya. Akhirnya, dia mengeluarkan secarik kertas yang dilipat dari dalam tasnya. Dikertas itu ada gambar koin Euro dalam denominasi € 0.01, € 0.02, € 0.05, € 0.10, € 0.20, € 0.50, € 1.00 dan € 2.00 dari berbagai negara Uni Eropa. Saya baru tau setiap negara Uni Eropa yang menggunakan matauang Euro memiliki fitur berbeda di setiap koin berdasarkan negara yang mengeluarkannya. Kadangkala kita dapat mempelajari sesuatu yang bermanfaat dari orang-orang kecil. Koin Euro memiliki dua bagian yaitu bagian ‘common side’ dan satu lagi ‘national side’. Di bagian ‘common side’ semua desain adalah sama yaitu menampilkan 12 bintang dan peta Eropa. Sedangkan bagian ‘national side’, desain nya tergantung pada negara tersebut.  Kini ada 15 negara dalam Uni Eropa yang menggunakan matauang Euro. Jadi, di kertas itu ada jenis-jenis koin dari setiap 15 negara itu. Rupanya pria itu adalah pengumpul koin Euro yang mau menukar jika saya ada menyimpan koin Euro. Di atas kertas itu ada bebrapa tanda X yang menunjukkan jenis koin itu telah ada dalam simpanannya dan ia masih belum dapat mengumpulkan keseluruhan seri koin itu. Kebetulan saya membawa beberapa koin Euro yaitu lebihan ketika saya berkunjung ke Dublin di Republik Irlandia dan Barcelona di Spanyol. Koin itu ingin saya gunakan ketika di Slowakia atau di Austria karena kedua negara ini menggunakan matauang Euro.

Saya mengeluarkan plastik berisi koin Euro dari dalam ‘backpack’ dan memberikan kepadanya sambil berkata ‘have a look, maybe you will find something’. Ia begitu gembira melihat setiap koin yang ada dalam plastik itu sambil membandingkan dengan gambar di dalam kertas miliknya. Sesekali dia berkata-kata dalam bahasa Ceko dengan rekannya yang saya tidak memahaminya. Usai memilih koin itu, dia menunjukkan 3 keping koin yang baru dia temui yang belum ia miliki. Raut wajahnya nampak gembira karena pertemuan dengan saya di gerbong kereta itu menghasilkan sesuatu untuk dia buat kenangan. Dia kemudian mengeluarkan uang Koruna untuk diberikan kepada saya sebagai pengganti koin Euro. Saya menolak dan berkata ‘it a gift from me to you’. Pria itu juga tetap mau memberikan uang itu kepada saya dan rekannya mengatakan, uang yang diberikan itu juga adalah ‘gift’ untuk saya sebagai kenangan. Memang nilai uang itu tidak sama nilai tukaranya tetapi ia sebagai tanda persabahatan. Apa yang saya pelajari dari pertemuan singkat itu adalah persahabatan yang tidak mengenal batas dan budaya. Meskipun sulit untuk berkomunikasi tetapi kami tetap tersenyum sepanjang perjalanan itu. Mereka bertiga turun di stasiun Brno yang masih dalam Ceko dan kami bersalaman sebelum mereka meninggalkan gerbong itu.

Dari Brno sampai ke Bratislava saya kembali sendirian dalam kamar di gerbong kereta itu. Hanya melihat keluar jendela dan hujan masih turun gerimis. Kereta melaju dan melewati beberapa kota kecil sepanjang perjalanan. Karakter rumah, ladang dan kota kecil ini dapat memberikan gambaran tentang sosial ekonomi masyarakat Ceko. Negara Ceko tidak semaju seperti Jerman dan Prancis, bahkan mobil di jalannya juga hanya bermerek biasa-biasa saja. Kurang terlihat mobil mewah seperti Mercedes atau BMW. Kereta terus bergerak laju melintasi perbatasan Slowakia dan tidak ada perbedaan signifikan antara kedua negara ini. Kereta berhenti di Bratislava dan disitu naik seorang pria dalam lingkung 30 an dan meminta izin saya untuk duduk di kamar saya. Pria itu terlihat seperti seorang yang berpendidikan dengan cara berpakaiannya yang kemas dan membawa sebuah bagasi yang ditarik.

Menurut pria itu dia memiliki kerjaan di Budapest dan sering naik kereta ke sana. Ia bisa berbahasa Inggris dengan bagus dan lancar, jadi tidak ada masalah bagi kami berkomunikasi. Percakapan lebih kepada isu yang berat pada ekonomi dan sejarah Slowakia karena dia memang warga Slowakia. Cerita tentang Slowakia di zaman rezim komunis dan pasca perpisahan dengan Republik Ceko. Kereta yang kami naiki berhenti hampir 20 menit di Sturovo yaitu di perbatasan antara Slowakia dan Hongaria. Disitu naik imigrasi dari Hongaria untuk mengecek paspor para penumpang. Tidak ada cap di passport hanya untuk tujuan kontrol pergerakan warga selain dari Uni Eropa yang di panggil sebagai ‘passport control’. Setelah semua gerbong telah diperiksa, kereta melanjutkan perjalanan ke Budapest yang jaraknya dari perbatasan hanya sekitar 50 km.

13300817792009591288

Stasiun Kereta Api Keleti di Budapest (Foto: BM)

Hari sudah gelap ketika kereta sampai di Stasiun Keleti di Budapest. Hostel yang saya pesan tidak jauh dari stasiun Keleti. Sebelum saya memesan hostel itu, saya telah melihat lokasinya di dalam ‘google maps’ yaitu hanya 100 meter dari pintu depan stasiun. Sengaja saya memilih hostel dekat dengan stasiun kereta karena mudah untuk mendapatkan tranportasi umum ke mana-mana. Saya juga akan naik lagi kereta di stasiun Keleti untuk ke Bratislava kembali nanti. Keluar dari pintu stasiun itu konstruksi jalan dan renovasi gedung sedang dijalankan dan nampak semrawut. Menurut petunjuk dari hostel yang saya pesan, gedungnya dihadapan stasiun dan saya berjalan menuju kearah situ. Saya coba mencari nomor gedung hostel itu tetapi tidak menemukannya dan kondisi yang gelap juga menyulitkan pencarian itu. Saya berhenti di sebuah apotek dan menunjukkan alamat hostel itu kepada seorang wanita yang bekerja disitu, tetapi dia juga kurang yakin. Dia mengusulkan kepada saya berjalan kedepan sedikit dan mungkin gedung itu berada dikawasan rumah susun tidak jauh dari apotek itu.

Memang benar nomor hostel itu berada di lokasi rumah susun dan untuk masuk saya harus menekan bel diluar pagar dan kemudian suara seorang pria terdengar melalui ’speaker’ di pintu pagar itu. Saya menyatakan saya ingin ‘check-in’ dan kemudian pagar itu terbuka secara otomatis. Saya diarahkan untuk naik di lantai 4 dan saya harus menaiki tangga karena tidak ada lift. Sesampai dihostel itu yang sebenarnya adalah rumah yang dijadikan hostel, seorang pria yang separuh abad menyambut saya dengan ucapan ‘Selamat Datang’. Saya juga keheranan karena dia pandai berbahasa Melayu. Menurut penjaga hostel itu dia juga seorang ‘backpaker’ dan mempelajari bahasa Melayu ketika 2 minggu berkunjung ke Kuala Lumpur beberapa tahun yang lalu.

Hostel itu bukan miliknya tetapi ia hanya bekerja sebagai penjaga dan dibantu oleh istrinya warga Jepang. Pasangan itu tinggal di salah satu kamar di hostel itu dan ketika saya sampai istrinya asyik mengisi nomor-nomor di buku ‘Sodoku’. Sodoku adalah permainan seperti ‘puzzle’ dengan mengisi nomor dari 1 sampai 9 di dalam kotak 9 x 9. Permainan ini dipopulerkan di Jepang pada tahun 1986 dan dipasarkankan tingkat internasional sejak tahun 2005. Oleh itu permainan ini sangat populer dikalangan orang Jepang.

Setelah ‘check-in’ saya beristirahat sebentar dan mengobrol sebentar dengan penghuni hostel yang lain. Ada 3 orang di hostel itu dari Taiwan yang semuanya masih kuliah di universitas di Inggris dan seorang lagi pria warga Inggris. Pria warga Inggris itu telah 3 minggu di situ untuk mengelola harta peninggalan ayahnya di Hongaria. Ia mengatakan, sistem hukum Hongaria yang berbelit-belit menyebabkan ia sulit menuntut harta milik ayah yang telah meninggal. Dia tidak tau berapa lama lagi dia harus tinggal di hostel itu untuk menyelesaikan hal tersebut. Saya hanya mendengar setiap keluhan beliau yang terlihat hampa dengan apa yang terjadi. Malam itu saya keluar sebentar mencari makanan di sekitar hostel dan kemudian balik dan tidur karena esoknya saya akan mencoba menjelajah ke segenap kota Budapest.

13300819521323516020

Permandangan Pest dari Buda (Fot: BM)

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Mudik? Optimalkan Smartphone Anda! …

Sahroha Lumbanraja | | 23 July 2014 | 02:49

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: