Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Rendra Tris Surya

RENDRA TRISYANTO SURYA/Dosen, tinggal di Bandung

Menikmati “Keindahan” Kota Kepulauan Ternate dari Udara

REP | 29 February 2012 | 01:58 Dibaca: 1143   Komentar: 3   2

Perjalanan singkat ini dimulai, ketika sebuah perusahaan konsultan di Jakarta (bulan lalu) menelpon saya , dan meminta untuk melakukan perjalanan ke kota Ternate (Maluku) sehubungan dengan adanya pekerjaan “Audit Teknologi Informasi” terhadap sistem jaringan NIX (Nusantara Internet Exchange) yang baru saja selesai dibangun di sana.   Waktu itu saya sempat kaget: “Ditugaskan ke Ternate?”, “Di daerah mana itu?”. “Apakah disana memang diperlukan infrastruktur Teknologi Informasi yang canggih begitu?” Serta  berbagai hal yang kemudian  berseliweran dalam benak  saya ketika itu.

***

Lalu dengan pengetahuan yang agak samar-samar saya mencoba membuka peta dan mengingat kembali pelajaran ilmu Bumi tentang berbagai wilayah dan propinsi di kawasan Indonesia Timur. Sungguh, perkiraan saya waktu itu, pastilah kota ini kota yang kecil, sepi dan terpencil sendiri di tengah samudera sehingga kurang menarik buat dikunjungi. Karena bukankah bayangan kita umumnya tentang Ternate (sebagaimana halnya sering dikatakan dalam buku sejarah pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia dulu), merupakan tempat dimana tokoh-tokoh pahlawan di buang dan diasingkan oleh penjajah Belanda tempo dulu? Setidaknya itulah kesan awal saya…

13599070671079218308

(Peta Propinsi Kepulauan Malauku Utara, dimana kota TERNATE berada di pulau kecil yaitu pulau ternate. Disamping pulau terbesar yang bernama Halmahera. Peta ini ditempel di hotel Naga tempat penulis menginap selama di Ternate / Photo by: Rendra trisyanto Surya)

Ternyata dugaan saya  meleset!

Saya menjadi suprise dan penasaran….  Dari beberapa informasi awal dari Google yang saya temukan, kemudian menggambarkan bahwa kota Ternate masa kini sudah berbeda jauh dengan yang dahulu sering di ceritakan dalam pelajaran sejarah oleh guru-guru sekolah kita. Kota ini sekarang tidak ada bedanya dengan kota-kota “modern” di daerah lain di Indonesia. Di sini hampir semua hal tersedia, walaupun tentu tidak semarak seperti keadaan di kota-kota besar. Bahkan lokasi dan  alam lingkungannya begitu unik dan indah. Berada di antara Laut Maluku (Mollucas Sea) dan Samudera Pasifik yang luas yang kemudian  memberikan impresi dan daya tariknya tersendiri….

Maka dengan antusias dan suka cita, akhirnya  saya bersedia berangkat ke kota Ternate.  Meskipun  harus  mengejar keberangkatan pesawat yang tidak lazim, yaitu tengah malam dari Jakarta ke kota jauh di ujung Timur arah utara Indonesia ini.  Hal tersebut disebabkan karena memang jadwal penerbangan ke kawasan terpencil tersebut tidak selalu tersedia setiap saat dari Jakarta….

Saya lalu bersiap-siap dan berkemas. Dan pukul 20:00 malam  kemudian meninggalkan kota Bandung (kediaman saya) menuju Bandara Cengkareng mengejar pesawat  jam 01:30 di tengah malam hari Selasa itu. Walaupun  seharusnya saya tertidur lelap pada jam-jam begini.Namun dengan “positive thinking” di benak saya, justru sebenarnya beruntung. Artinya  saya akan tiba di atas di wilayah kepulauan Ternate tersebut pada pagi keesokan harinya.  Dan  jika cuaca cukup cerah di sana, maka kemungkinan besar  akan dapat menikmati  keindahan beberapa gugusan pulau yang dilewati oleh pesawat ini menuju ke ibu kota provinsi kepulauan Maluku Utara ini…… ..

Bukankah pemandangan alam dari udara  yang sering disebut dengan “islands view” (apalagi terhadap gugusan kepulauan), akan selalu  memberikan pesona dan daya tarik tersendiri? Dari atas udara pada  ketinggian pesawat yang mencapai 10.300 meter tersebut,  sudah pasti akan terlihat terbentang “lukisan panorama alam” yang berbeda. Deretan rumah, toko, gedung yg terlihat kecil-kecil tersusun rapi, diantara sawah, gunung dan laut menjadi semacam mosaik tersendiri. Dan bukankah lalu jalan raya kota di bawah sana itu akan menjadi semacam “goresan-goresan” batas susunan mosaik-mosaik seakan menandai suatu  dinamika sebuah kota? Yang sudah pasti, kesemrawutan suatu kota (sebagaimana lazimnya) tidak akan terlihat, seakan-akan tertutup dan tersembunyi oleh keindahan awan dan langit biru diangkasa diantara pernik-pernik  ikon “islands view” tersebut …. 

Hm, saya jadi marfhum…pantas banyak orang yang menyukai dan bisa tergila-gila dengan olahraga kedirgantaraan…Karena dari ketinggian seperti ini, angkasa nan luas tersebut memberi bentangan “lukisan alam” yang eksotik…….. dan menggugah  ……..

Dan diantara deru suara mesin pesawat yang terdengar sayup-sayup itu …. Saya memaksakan mata agar melek dalam ketermanguan atas keindahan simponi alam pagi khas “Islands View” kepulauan Maluku Utara itu…. . Ada perasaan haru … yang membuat saya merasa begitu “kecil” ketika berada diatas samudera laut nan luas. Dibalik pesona keindahan pulau-pulau yang terlihat  dari kejauhan  tersebut,  seakan  menyadarkan dan mengingatkan.. Bahwa kita yang sibuk dengan berbagai urusan duniawi ini ternyata hanya merupakan suatu titik dari bentangan kemestaan Alam milik Sang  Pencipta  ………

Kemudian saya melirik selintas ke dalam pesawat….Ternyata hampir semua penumpang terlihat begitu nyenyak tertidur saat pergantian subuh menjelang fajar tersebut…….  Mereka sepertinya tidak begitu peduli terhadap eksistensi dan pemaknaan “keberadaan (being)”  yang baru saja dilewati saat berada diantara dimensi waktu dan ketinggian alam semesta angkasa yang membentang ……………

Mungkinkah karena  banyak orang sudah mulai malas merenung…? Apalagi ketika suatu aktivitas (penerbangan) ini sudah menjadi suatu rutinitas…..

*****

Saya beruntung dan  bersyukur, karena  baru pertama berkunjung ke kawasan Timur ini sehingga belum merupakan  rutinitas yang membosankan. Dan saya bangga sebagai orang Indonesia. Betapa negara  kepulauan (Archipelago Country) yang bernama Indonesia ini, begitu kaya dan beragam serta indah membentang dari sabang sampai merauke …. Menyimpan  segudang potensi, keindahan, keunikan dan mungkin juga berbagai misteri …..

Ini kah salah satu faktor yang menyebabkan banyak “orang asing’  sejak berabad-abad lalu ingin menjajah negeri cantik ini?  Indonesia, kadang seperti “gadis centil” yang dipaksa genit diantara samudera laut kehidupan global dunia.  Magnet dan daya tarik yang dimilikinya sering berubah justru menjadi “malapetaka”….Para bangsa agresor kemudian lalu lalang datang silih berganti menjajah dengan dalih berdagang.  Bangsa Portugis dan Belanda diantara yang menjadi pelopor pertama yang pernah datang dan menjajah kawasan Ternate ini pada  tahun 1512.  Ditangan pedagang-pedagang  kolonial tersebut, semua hasil alam berupa rempah-rempah Ternate yang berkualitas tinggi tersebut “dirampas” dan dijadikan komoditas favorit dan terkenal di Eropa pada jaman itu. Sampai-sampai para pelaut-pelaut Portugis  menamakan wilayah kepulauan Ternate dan  Maluku (Molluccas) ini dengan julukan “Spicy Islands” karena kekagumannya. Namun karena konflik horizontal beberapa tahun yang lalu tersebut. Wilayah “pulau rempah-rempah” itu kini terbagi menjadi dua propinsi, yaitu Maluku Utara (MALUT) dengan ibukotanya TERNATE (yg baru adalah Sofifi). Dan Maluku (dengan ibukota provinsinya adalah Ambon)….

****

Di wilayah propinsi kepulauan  Maluku Utara (MALUT) ini terdapat  400 pulau yang  menyebar luas diantara Laut Maluku dan Samudera Pasifik… Meskipun  hingga saat ini belum semua pulau tersebut diberdayakan. Hanya sekitar 70 pulau saja yang  dihuni penduduk. Umumnya hanya  pulau-pulau besar seperti  Obi, Morotai, Bacan, dan kepulauan Sula (yang terdiri dari Taliabu, Mangole dan Sulabesi) saja yang didiami penduduk.  Uniknya, setiap pulau tersebut saat ini sudah menjadi kabupaten tersendiri dengan ciri-ciri khas mempertahankan dan mengembangkan keragaman kekayaan alam dan sub-etniknya masing-masing. Hampir sama seperti suasana berabad-abad lampau….  Pulau yang paling terkenal di Provinsi MALUT  adalah  Ternate dan Tidore, yang kali ini  saya kunjungi….

13304551931374750554

(View cantik yang terlihat ketika pesawat dari Jakarta itu semakin mendekat ke Bandara Sultan babullah. Mozaik-mozaik kota Ternate semakin jelas terlihat secara perlahan -lahan, menjadi pemandangan unik tesendiri / Photo By: Rendra Trisyanto Surya)

Sebagai kota pertama yang menjadi pusat perdagangan, maka kota Ternate yang saya kunjungi ini merupakan wilayah yang paling dinamis. Disini  kemudian “Kesultanan Ternate” pernah berjaya selama ratusan tahun memerintah dengan bijaksana dan menjadi jaman keemasaan masyarakat Ternate.  Kota Ternate terletak di Pulau Ternate yang   terletak hanya sekitar 23 Km dari pulau terbesar Halmahera.  Jika anda duduk-duduk santai di pantai Swering di kota Ternate,  maka dengan jelas terlihat kerimbunan hutan lebat pulau Halmahera dari kejauhan …. Hanya dengan speed boat selama 45 menit maka orang-orang Ternate sudah sampai ke ibukota Provinsi Maluku Utara yaitu kota Sofifi. Pegawai Pemda Provinsi MALUT diwajibkan berkantor di sini walaupun rumahnya di kota Ternate. Ketika ibukota Propinsi ini kemudiajn dipindahkan maka  aktivitas  pulang pergi setiap hari dengan keramaian speedboat dan kapal khusus yg merentas jalan laut ini telah menjadi salah satu ciri khas rutinitas PNS di sana….

***

Kemudian mentari pagi semakin tinggi…Pesawat yang saya tumpangi akhirnya melaju menuju ke tujuan akhir,  yaitu kota Ternate (di Pulau Ternate).. Terlihat dari atas  pemandangan gunung Gamalama dengan gagah seakan menjadi penguasa pulau vulkanik tersebut…  Apakah ini sebabnya Pulau Ternate dijuluki juga dengan pulau gunung berapi (Vulkanic island)?   Gunung api itu masih aktif dan sekali-kali masih menyemburkan asap ke seantero kota dan gempa ringan….  Gunung dengan ketinggian 1.721 meter ini menjadi barometer masyarakat yang terus berharmoni dengan Alam itu. Terdapat tiga buah puncak disana yang selalu terlihat dari semua sudut kota Ternate. Karena sering gempa, orang kemudian  menyebut kota Ternate juga sebagai “kota gempa”……..

Kota Ternate merupakan salah satu kota rawan bencana di Indonesia. Namun uniknya, penduduk disini seperti cuek,  pasrah dan tidak begitu peduli dengan berbagai julukan dan dampak bencana alam tersebut… Mereka percaya dengan kemurahan “penunggu” gunung Gamalama ini…. Itu sebabnya, kota  ini tetap dinamis, ramai dan begitu asyik dengan berbagai kesibukan masyarakatnya dalam melakukan berbagai kegiatan bisnis dan perdagangan sebagaimana halnya khas kota-kota lain di kawasan Indonesia Timur. Transaksi perdagangan rempah-rempah, ikan, coklat, kopra, cengkeh, perbankan, mall, tekstil dstnya tetap berjalan normal seperti biasanya…… “The Jati Land Mall” yang merupakan satu-satunya mal disana, tetap buka setiap hari menjual berbagai kebutuhan masyarakat kelas  menengah dan atas disana…. Mobil, angkot umum dan sepeda motor tetap bersewileran ke sana ke mari…

Bagi masyarakat Ternate, bencana dan abu letusan gunung Gamalama ini punya makna lain. Meski tetap dikhawatirkan masyarakat,  namun juga disyukuri sebagai rahmat dan  “berkah”. Abu Vulkanik  memang sering merusak infrastruktur kota Ternate….  namun  dalam jangka panjang dipercaya dapat memberi berkah bagi kehidupan mereka yang mayoritas di sektor pertanian rempah dan perikanan itu…… Itulah sebabnya, hampir tidak pernah kita lihat ada gelandangan berkeliaraan di kotamadya Ternate yang berpendududk 250.000 jiwa. Harga-harga yang  memang relatif lebih tinggi dibandingkan indeks harga di kota-kota Indonesia lainnya, ternyta tidak membuat masyarakat Ternate begitu kesulitan dalam hidup.

***

Tidak terasa, kemudian pesawat  yang saya tumpangi mendekati pulau Ternate, dan  melewati pulau-pulau kecil disekitarnya.  Saya tersentak dari lamunan diatas pesawat tesrebut. Dari atas saya melihat pemandangan “City view” yang lain….Yaitu  kota kedua teramai di kawasan ini,   yaitu kota Siausio yang berada di pulau Tidore yang merupakan ibukota Kabupaten Tidore. Pulau kembar dari pulau Ternate tersebut dalam banyak hal selalu digambarkan bersama-sama, termasuk dalam menghadapi gejolak sejarah panjang  masyarakat Ternate. Ya, memang  kedua pulau kembar ini sejak ratusan tahun lalu merupakan pusat dua kerajaan besar di kawasan Maluku. Yaitu “Kesultanan Ternate” (dengan raja pertamanya Sultan Babullah),  dan Kesultanan Tidore. Kedua kerajaan ini sering bahu membahu  dengan sinergi membentuk kekuatan yang disegani. Termasuk ketika mereka  secara mengejutkan pada jaman itu, mampu mengusir sesaat penjajahan Portugis pada tahun 1574 dari bumi Ternate. Meskipun tentu pada saat ini kedua kerajaan tersebut telah berubah fungsi, menjadi pusat budaya, museum dan saksi sejarah besar kejayaan propinsi kepulauan MALUT ini…

***

Setelah 3 jam dalam perjalanan, akhirnya pesawat yang saya tumpangi  inipun landing di Bandara Sultan Babullah di pinggir kota Ternate. Bandara ini ternyata lokasinya unik dan berlatar belakang pemandangan yang juga indah…….Ia terletak di pinggir laut.. dengan berlatar belakang pulau pegunungan disisi Bandaranya…..Selisih waktu 2 jam karena  perbedaan waktu (time zone) antara Jakarta (WIB) dan Ternate (Waktu Indonesia Timur / WIT), membuat  perjalanan panjang ini terasa lebih lama dari seharusnya. Namun,  matahari pagi hari yang cerah di sekitar Bandara “Sultan Babullah” menyapa ramah para penumpang. Di pagi itu, jam 07:15, bandara sudah mulai bergeliat dengan kesibukkan khas rutinnya setiap kali  kedatangan pesawat. Beberapa petugas bandara tampak menurunkan barang dari pesawat dan memuatnya  ke kendaran bagasi yang bergerak meski perlahan. Ratusan penumpang yang sudah turun terlihat antri menunggu di bagian bagasi …..

13304550791418260726

Pulau terbesar di provinsi Malut adalah Halmahera, yang dijuluki pulau “k kecil” , karena bentuknya menyerupai pulau Sulawesi. Halmahera  hingga saat ini merupakan wilayah daratan terbesar namun yang paling terisolir. Disana masih terdapat banyak hutan lebat yang belum terjamah oleh manusia/penduduk. Begitu terisolirnya daerah ini, maka sudah menjadi cerita umum di sana bahwa beberapa wilayah kecamatan/desa tidak terjangkau  infrastruktur telekomunikasi. Yang menyebabkan banyak penduduk (yang sebenarnya relatif makmur dengan hasil cengkeh/pala tersebut), harus berjalan kaki puluhan kilometer hanya untuk dapat berkomunikasi melalui telpon dengan anak-anaknya yang bersekolah  jauh di Sulawesi atau pulau Jawa.

***

Dipintu keluar bandara terlihat kerumunan orang yang  agak semrawut… Di sana supir-supir taksi sibuk aktif  membujuk dan menawarkan jasanya mengantarkan penumpang (terutama kepada penumpang yang terlihat berwajah asing dan bingung). Mereka bersedia mengantar menuju  ke kota Ternate yang sebenarnya hanya berjarak sekitar 15 Kilometer dari Bandara ini, namun  dengan ongkos yang lumayan tinggi yaitu sebesar Rp 100.000 untuk jarak yang kurang dari 5 Kilometer.. Tapi, itulah kota Ternate….

Dan dari titik ini..barulah kemudian  berbagai aktivitas dan kegiatan “Audit TI” pekerjaan saya  yang sebenarnya dimulai ….

(Keterangan Photo: Pemandangan pulau Tidore dengan kota Siau-siau dati udara / Photo by: Rendra Trisyanto Surya)

13304553551073473286

(Keterangan Photo: Suasana bandara Sultan Babullah ternate, dengan latar belakang laut dan pulau / photo by: Rendra Trisyanto Surya)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: