Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Dzul Fahmi

Mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadramaut, Yaman

Jelajah Hadramaut (Bag. I) ; Dari Makam Sahabat hingga Rumah Makan Jakarta

REP | 05 March 2012 | 23:19 Dibaca: 4171   Komentar: 16   3

1330945229323218106

Keterangan Gambar : Foto 1 : Jalan menuju makam sahabat Abbad bin Bisyir ra.

Foto 2 : Kota Tarim difoto dari atas bukit

Foto 3 : Makam Sahabat Abbad

HADRAMAUT, di balik kesederhanaannya ternyata menyimpan sejuta peradaban. Setiap jengkal tanahnya mengandung catatan sejarah. Tak heran, jika propinsi berjuluk negeri berjuta wali ini menjadi salah satu tujuan utama peziarah dan pewisata religi, baik dari negeri Yaman sendiri maupun dari mancanegara, dari yang bertujuan ’ngalap barokah’ maupun yang sekedar ingin melancong. Bagaimanakah gambaran nyata kekayaan situs peradaban Islam di negeri asal-muasal Walisongo ini ?

Sekedar ingin berbagi cerita, pada liburan pasca ujian lalu, saya bersama seorang teman berkesempatan mengadakan ziarah religi. Saya katakan ziarah religi, karena memang yang kami kunjungi adalah makam-makam bersejarah para Nabi dan Wali, serta situs-situs bersejarah yang tersebar di wilayah Propinsi Hadramaut yang masih kokoh berdiri hingga saat ini. Di Propinsi ini memang bertaburan makam bersejarah, diantaranya adalah makam Nabi Hud as, Nabiyulloh Hadun as (putra Nabi Hud), Nabi Handhollah as, Sahabat Abbad bin Bisyir, Ka’ab bin Zuhair radhiyallo ’anhum, serta makam para wali dan sholihin bersejarah lainnya yang tidak mungkin saya perinci saat ini.

Bagi pelajar di Yaman, khususnya mahasiswa Universitas Al-Ahgaff, kegiatan ziarah religi adalah salah satu upaya ampuh untuk melepas penat, setelah selama dua minggu bertarung ’mati-matian’ dengan tumpukan muqororr kampus dalam even ujian akhir (al-ikhtibar al-fashly) yang cukup membuat ’deg-degan’. Betapa tidak, karena aturan yang diterapkan universitas, khususnya fakultas syariah tergolong cukup ketat ; jika ada satu saja mata pelajaran yang nilainya di bawah standar, maka mau tidak mau, mahasiswa tersebut harus rela mengulang di semester yang sama selama satu tahun. Maka kegiatan ziarah pun, selain bermanfaat secara spritual, bisa menjadi semacam nutrisi pembangkit dan penghibur sementara setelah ujian, sembari menunggu hasil nilai resmi diumumkan (selain memang karena tidak ada tempat wisata semacam Pantai Kuta seperti di Indonesia dulu, he,.he). Untuk menggambarkan suasana ujian di Al-Ahgaff tersebut, salah seorang teman pernah berkelakar, bahwa Al-Ahgaff memang moderat dalam hal manhaj atau metodologi pembelajaran, namun tergolong radikal dan ekstrem dalam hal ujian.

Dengan mengendarai sepeda motor, kamipun berangkat dari Kota Tarim sekitar pukul 9 pagi, tujuan pertama yang kami ziarahi adalah makam Sahabat Sayyidina Abbad bin Bisyir ra. Beliau adalah salah seorang sahabat Anshor yang kisahnya cukup populer di literatur Kitab Siroh ketika melindungi Rasul yang berlindung di gua seusai perang Dzatur Riqa’. Salah satu riwayat menyebutkan bahwa di tengah malam saat berjaga, Abbad melaksanakan shalat malam. Syahdan, seorang musyrik mengintai gerak-geriknya saat shalat dan berhasil meluncurkan beberapa busur panah di tubuh beliau. Dan yang aneh bin ajaib, Abbad tetap kuat menahan dan melanjutkan shalatnya hingga usai.

Selama perjalanan, hamparan pasir dan batu-batu terjal terhampar sejauh mata memandang. Di sepanjang jalan, banyak kami dapati penduduk asli Yaman sedang menuntun unta dan kambing ternak untuk dibawa ke tempat sumber-sumber air di tengah padang pasir. Sungguh, saya benar-benar menikmati panaroma nostalgia berkelana di negeri Arab.

Makam tersebut terletak di Desa Lisiq, sekitar 20 km dari timur Kota Tarim. Terik matahari yang cukup menyilaukan mata serta situasi sepanjang jalan yang jarang dijumpai rumah penduduk kecuali hanya segelintir, ditambah kondisi jalan yang terjal serta meliuk-liuk, membuat kami harus semakin berhati-hati. Tak jarang sesekali kami istirahat untuk sekedar meneguk air mineral. Dan Alhamdulillah, kurang lebih 30 menit perjalanan kami memasuki kawasan Lisiq. Desa tersebut sangat sederhana, bangunan gedung serta rumah-rumah penduduknya masih sangat alami dan kebanyakan terbuat dari tanah liat, bisa dikatakan jauh dari modernitas.

Setelah sampai di lokasi, ternyata kami belum bisa tersenyum lega, karena sesuai informasi yang kami dapatkan dari penduduk sekitar, makam tersebut terletak di puncak bukit batu. Ya, kawasan Hadramaut khususnya daerah Tarim, Seiwun dan sekitarnya memang kawasan lembah dataran rendah yang diliputi bukit serta gunung berbatu. Mau tidak mau kami pun harus mendaki bukit batu tersebut dengan berjalan kaki. Selama proses pendakian tersebut, saya jadi teringat saat menziarahi makam salah satu Wali Songo di Jawa Tengah, Sunan Muria, yang juga berada di atas bukit. Hanya saja bedanya, jalan naik ke makam Sunan Muria tersebut sudah dimodifikasi berbentuk tangga, sehingga memudahkan bagi peziarah untuk mendakinya. Sedangkan akses untuk menuju makam Sahabat Abbad tidak semudah menaiki tangga, melainkan harus menjajaki batu-batu besar dengan ekstra hati-hati. Dan Alhamdulillah, setelah berjalan dengan sedikit ”ngos-ngosan” mendaki bukit setinggi kurang lebih 400 meter, kami akhirnya sampai di makam tersebut.

Bagi tokoh sekaliber Sahabat, makam tersebut, – menurut pandangan saya – amatlah sangat sederhana karena hanya dibangun dari nisan putih biasa, tidak ada yang istimewa. Berbeda dengan kebanyakan makam-makam tokoh ”keramat” lainnya yang biasanya dihiasi dengan berbagai macam pernak-pernik. Dan yang membuat saya penasaran hingga saat ini, adalah letak makam yang berada di puncak bukit. Saya selalu bertanya-tanya dalam hati tentang asal-usul keberadaan makam tersebut. Tetapi saya juga sedikit terhibur, karena dari puncak bukit itulah saya bisa menyaksikan panorama keindahan Kota Tarim dan sekitarnya yang bertabur menara khas arsitektur Timur Tengah dan gedung perumahan penduduk yang tertata sangat rapi.

Selepas ziarah, kami menunaikan shalat Dzuhur di masjid Abbad bin Bisyir, yang dibangun di bawah bukit di pemukiman penduduk Desa Lasiq. Nama masjid memang sengaja dibuat untuk mengenang beliau. Pola rancang bangunan masjid ini tidak jauh beda dengan kebanyakan masjid di negeri Yaman, yang dilengkapi menara putih tinggi dan beberapa tiang penyangga yang besar.

Pukul 14.00 kami langsung beranjak keluar untuk melanjutkan rute ziarah. Dari Lisiq, sebenarnya ada banyak alternatif yang bisa kami tempuh. Ke arah timur menuju Kota Seiwun ada makam Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, (Pengarang Maulid Simtut Durror), dan jika ke barat ke arah Tarim, kami akan melewati kawasan Husaisah, di sana dimakamkam tokoh Sadah Ba’alawy pertama yang menginjakkan kaki di bumi Hadramaut, kakek dari para walisongo yang berdakwah membawa Islam ke nusantara, yaitu Habib Isa al-Muhajir ila Allah, juga pemakaman Zambal yang merupakan pusat pemakaman para habaib dan Bani Alawy di Tarim. Salah satu tokoh yang dimakamkan di Zambal yang sudah cukup populer bagi para santri pondok pesantren di Indonesia adalah Habib Abdullah Alwy bin Muhammad al-Haddad (penyusun wirid Rotibul Haddad). Karena waktu yang tidak mengizinkan, kami pun memutuskan mengambil rute kedua agar bisa langsung balik ke Tarim.

Keasyikan berziarah nyaris membuat kami lupa kalau belum makan siang. Maka tanpa berfikir panjang, sebelum kembali ke flat kami menyempatkan mampir ke pusat perbelanjaan masyarakat Tarim yang terletak di jantung kota. Pilihan kami untuk makan siang di sana bukan tanpa alasan. Penyebab utamanya karena di tempat tersebut ada beberapa rumah makan milik warga Yaman yang menyediakan menu khas Indonesia, salah satunya adalah math’am Jakarta. Rumah makan tersebut merupakan salah satu yang terlaris dan menjadi langganan para pelajar Indonesia yang berdomisili di Tarim. Disamping harganya relatif murah dan terjangkau untuk kantong mahasiswa, desain rumah makan juga dirancang untuk mengingatkan kita pada bumi pertiwi, ada beberapa foto masjid-masjid terkenal di berbagai propinsi Indonesia yang ditempel di tembok. Cukup berbekal 500 real Yaman (sekitar 25 ribu rupiah), kita sudah bisa menyantap hidangan ayam lalapan plus sambal pedas (agak kecut) untuk dua porsi dilengkapi minuman es jeruk. Asyik, bukan ?

Bagi masyarakat Tarim, nama Indonesia sudah memiliki tempat yang istimewa di hati mereka. Jumlah pelajar Indonesia yang hampir mencapai seribu yang tersebar di universitas dan beberapa ribath (ponpes) di Tarim seperti Darul Musthofa asuhan Habib Umar bin Hafidz dan Ribath Tarim asuhan Habib Salim as-Syathiri, menjadikan masyarakat Tarim semakin akrab dalam berinteraksi, berbaur serta mengenal budaya Indonesia. Maka tidak usah heran, jika beberapa kosa-kata bahasa Indonesia sudah dihafal di luar kepala oleh masyarakat Tarim, seperti roti, lontong, bakwan, sambal, sayur, somay, kerupuk, terong, terasi, sarung, es teh, dan lain-lain, sehingga kita pun tidak perlu bersusah payah mencari padanannya ke dalam bahasa Arab. Tetapi sayang, ada satu makanan favorit saya ketika nyantri di Pasuruan dulu yang tidak dikenal oleh mereka, bahkan mungkin oleh seluruh warga Yaman, yaitu ”menjos”, he, he.

Ada kisah cukup menarik yang dialami kawan saya asal Jember saat awal-awal tinggal di kota ini. Suatu hari dia berkeinginan untuk makan sayur bayam untuk lalapan. Karena tidak mengetahui bahasa Arab bayam, dia berusaha mendeskripsikan kepada penjual sayur itu dengan kalam Arab yang sudah disusun rapi sebelumnya. Dengan diiringi isyarat tangan untuk memperjelas bentuk sayuran tersebut, dia mengatakan, “Saya ingin beli sayur yang bentuk dan warnanya kadza wa kadza”. Memperhatikan raut wajahnya yang sangat berantusias dalam menjelaskan tersebut, si pedagang hanya tersenyum lebar, lalu berkata “Ha… a bageita Bayam ?”, (oalaah.., bayem toh Le ?). Ternyata si pedagang mengerti bahwa yang dikehendakinya adalah sayur bayam dan menuturkan kalimat bayam dengan sangat fasih kemudian langsung menyodorkannya untuk teman saya. Dia pun terkejut lalu spontan tertawa terpingkal-pingkal saat itu sambil berkata dalam hati ”gitu aja kok repot…?!!”.

(Bersambung…)

* Penulis adalah mantan wartawan Radar Malaya, media pers MA ’Negeri’ Kraton Al-Yasini Pasuruan, dan sedang bercita-cita menjadi wartawan yang ”sebenarnya”.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Menilai Pidato Kenegaraan Jokowi …

Ashwin Pulungan | | 21 October 2014 | 08:19

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 6 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 8 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 9 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 12 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Dunia Intuisi …

Fawwaz Ibrahim | 7 jam lalu

Presiden Baru, Harapan Baru …

Eka Putra | 7 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 8 jam lalu

Jokowi Sebuah Harapan Baru? …

Ardi Winangun | 8 jam lalu

Potret Utang Luar Negeri Indonesia …

Roby Rushandie | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: