Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Sensasi Liburan Bermakna di Kampung Inggris Pare

OPINI | 10 March 2012 | 04:54 Dibaca: 1013   Komentar: 3   0

13313083231101149545Jika anda mempunyai waktu liburan sekitar dua minggu atau sebulan lebih dan ingin lebih bermanfaat, anda bisa mencoba ke tempat yang satu ini. Atau mungkin anda ingin lebih mahir dalam bahasa inggris secara terfokus dan persiapan ke luar negeri atau mungkin anda ingin mempersiapkan secara matang wawancara masuk kerja di sebuah perusahaan asing, dengan merogoh isi kantong lebih, Anda bisa mencoba ke Pare Kediri. Terletak di Jawa Timur, atau tepatnya 100 km selatan Surabaya. Pengalaman kami, dari surabaya menuju pare menempuh waktu sekitar 3 jam dengan menumpang bus ¾ Rukun Jaya tujuan Kediri dengan ongkos Rp. 20.000. Turun di simpang Telungrejo Pare, semua kondektur bus akan tahu perempatan tulungrejo ini. Atau bisa dari Yogyakarta menggunakan bus tujuan Surabaya, berhenti di Jombang dan dari Jombang naik angkutan menuju Pare sekitar 15 menit perjalanan dengan ongkos Rp. 5000. Masyarakat dari Sabang sampai Merauke berada di Pare, sehingga berbagai budaya ada di sini. Pada awalnya kami sedikit meragukan, ada apa sebenarnya di Pare?

Ada yang unik dengan Pare, disini terdapat sebuah kampung inggris, tepatnya di desa Telungrejo kecamatan Pare, kampung ini bukanlah kampung yang didomisili oleh warga negara asing, akan tetapi sebuah desa yang disulap menjadi pusat kursus bahasa inggris. Banyak sekali tempat kursus bahasa inggris di kampung ini, terdapat pula beberapa kursus bahasa mandarin, kursus musik bahkan kursus membaca kitab kuning. Suasana kampungnya jauh dari hiruk pikuk kota besar, dan terletak di pinggir kota Pare, dikelilingi perkebunan dan hamparan sawah yang indah, sehingga kampung ini sangat cocok untuk belajar atau sekedar liburan membuang kepenatan sibuknya aktivitas. Selain itu, menurut Pemerintah Kabupaten Kediri, Pare adalah wilayah yang biaya hidupnya termurah di pulau Jawa.

Terdapat banyak pilihan program belajar, ada Grammar, Speaking, Pronounciation, Writing, Listening, Public speaking, yang masing-masing dengan berbagai tingkatan, terdapat pula program TOEFL, IELTS, bahkan Job Interview, tergantung keinginan dan kebutuhan masing-masing calon peserta kursus. Tempat kursusnya pun beragam, masing-masing kursus mempunyai durasi dan keunggulan tersendiri dalam sebuah program, umumnya berdurasi dua minggu untuk sebuah program, namun ada beberapa tempat kursus yang menerapkan durasi satu, dua, tiga, dan enam bulan per programnya. Suasana belajar terkesan sangat berbeda, ada kelas yang bermeja kursi, lesehan di pinggir sawah, lesehan dengan meja kecil, bahkan ada yang belajar di pinggir jalan tergantung program dan kesepakatan peserta. Untuk waktu belajar bisa dipilih sendiri oleh calon peserta, belajar pada pagi, siang, sore atau malam hari. di Pare umumnya berdurasi 1,5 jam per pertemuannya, dan dua pertemuan plus study club dalam sehari per programnya. Maka kita bisa mengambil 2 sampai 3 program dalam satu periode. Metodenya pun tidak terlalu formal sehingga membuat peserta tidak tertekan dalam mempelajari bahasa inggris, namun terdapat pula kursus yang menetapkan target yang sangat ketat dalam programnya. Umumnya kursus disini tidak dibatasi untuk memlilih program, kemampuan awalnya boleh beragam, mulai dari yang tidak tahu sama sekali bahasa inggris, basically, sampai yang sudah berbicara cas cis cus (istilah populer di Pare bagi mereka yang sudah mahir berbahasa inggris), peserta akan diajarkan dengan berbagai metode untuk menguasai bahasa inggris secara komprehensif. Untuk biaya per program tergolong murah, umumnya sekitar Rp. 100.000 – Rp. 150.000 per periode, ini berbeda-beda pada kursusnya. Misalnya untuk sebuah tempat kursus tertua dan terbaik di Pare, yaitu BEC, BEC menawarkan program berdurasi enam bulan, peserta diajarkan dari pengenalan dasar bahasa inggris sampai bisa menguasai bahasa inggris dengan sangat baik. Semua program akan diajarkan di kursus yang satu ini dengan berbagai metode. Sertifikat BEC pun diakui oleh institusi pemerintah, institusi pendidikan dalam dan luar negeri. Biasanya mereka yang belajar di BEC adalah calon mahasiswa yang akan mengambil studi di luar negeri, dosen atau guru bahasa inggris, calon karyawan pada perusahaan asing dan bahkan calon tutor pada beberapa tempat kursus di Pare. Dan menariknya, informasi S2 ke dalam dan luar negeri serta lowongan kerja terus mengalir di tempat ini.

Tempat kursus disini semuanya membuka program pada tanggal 10 (periode 10 bulan n) dan 25 (periode 25 bulan n) setiap bulannya, untuk mendaftar sebagai peserta, bisa langsung datang ke Pare minimal 1 hari sebelum program dimulai pada masing-masing tempat kursus tujuan atau bisa juga via online dari situs-situs yang disediakan oleh berbagai tempat kursus di Pare, situsnya bisa disearch pada mesin pencari internet dengan keyword “Kampung Inggris Pare”. Semua kursus di sini bersepakat bahwa pada hari sabtu dan minggu adalah hari libur, jadi memberikan kesempatan lebih lama kepada peserta kursus untuk sekedar bersantai pada akhir pekan, atau berwisata di sekitar kota Pare.

Untuk tempat tinggal, kita ditawarkan dua opsi, pertama di Camp, camp ini semacam asrama, aktivitas berbahasa inggris tambahan di luar kursus bisa didapatkan di Camp, seperti menghapalkan vocabulary atau study club camp, nonton film berbahasa inggris, diskusi, debat dan presentasi dalam bahasa inggris, program camp boleh tidak diikuti jika beradu jadwal dengan kursus, dan bahkan pada malam jumat, beberapa camp juga mengadakan pengajian rutin camp, bagi yang beda agama dapat ditolerir. Bagi mereka yang benar-benar ingin bisa berbahasa inggris sebaiknya tinggal di Camp. Kedua, kita bisa tinggal di kost, di kost tidak terdapat program-program tambahan, sehingga bisa lebih bebas dan tidak terikat. Untuk biayanya, camp sedikit lebih mahal daripada kost. Umumnya biaya Camp sekitar Rp. 150.000 – Rp. 250.000 per bulan, sedangkan kost sekitar Rp. 80.000 – Rp. 150.000 perbulan, harganya bervariasi tergantung fasilitas yang disediakan pemilik camp atau kost, misalnya kebersihan tempat, MCK yang memadai, meja belajar, lemari, kasur, bahkan TV dan jaringan WiFi.

Untuk makanan, sebenarnya tergantung selera lidah masing-masing seseorang. Walaupun banyak pilihan makanan, makanan di Pare didominasi oleh masakan khas jawa, rasanya yang agak manis, tentunya tidak serta merta bisa diterima oleh lidah orang non jawa, sehingga bagi kebanyakan orang non Jawa butuh waktu untuk adaptasi lidah. Tetapi jangan khawatir, terdapat alternatif makanan luar jawa yang langsung dijual oleh orang asal daerah masing-masing, Harga per porsinya relatif murah, harga termurah adalah Rp. 2500, namun ada pula yang sampai Rp. 15.000 per porsi, sesuai jenis dan pastinya tergantung pada selera lidah. Kami dari Aceh lebih memilih masakan khas sumatra yang pedas dan asam, biasanya kami memesan nasi dan ikan yang rata-rata hanya Rp 4000 per porsinya. Yang lainnya hanya harga penyesuaian, seperti lauk double, kerupuk yang harganya cuma Rp. 100 dan lain-lain. Begitu pula makanan kecil lainnya, juga dijual dengan harga yang sangat murah. Dan bagi yang suka minum juice, bisa berpesta pora disini, kita bisa mendapatkan berbagai macam juice buah dengan harga murah meriah, misalnya untuk apel hanya Rp 3500 dan yang paling mahal yaitu juice durian yang harganya Rp. 7000.

Untuk urusan kebutuhan sehari-hari lainnya, sangat mudah diperoleh disini. Misalnya alat transportasi, umumnya masyarakat menggunakan sepeda, begitu pula dengan peserta kursus, mereka menggunakan sepeda sebagai alat transportasi yang paling utama di Pare. Sebuah sepeda bisa disewa di tempat penyewaan dengan harga murah, yaitu Rp. 50.000 – Rp. 100.000 per bulannya, ini biasanya dilihat dari jenis dan kualitas sepeda. Tapi saran saya, bagi yang ingin tinggal lebih lama di Pare, lebih baik membeli sepeda yang baru, harganya berkisar antara Rp. 200.000 sampai Rp. 800.000 per unitnya, selain terjamin bagus, kita bisa menjualnya kembali pada tempat jual beli sepeda tanpa harus khawatir akan harga jual yang rendah. Akses internet sangat mudah didapatkan dimana-mana, dengan bermodal Rp. 2500 warga kampung inggris bisa menikmati akses internet selama sejam, dan juga tersedia paket internet bagi yang ingin berlama-lama di depan monitor, tentunya juga dengan harga yang sangat murah. Bagi warga kampung inggris yang agak sibuk belajar sehingga tidak sempat mencuci pakaian, mereka bisa memanfaatkan jasa laundry dengan harga Rp. 3500 per kilonya.

Pare didominasi oleh masyarakat yang beragama Islam. Kehidupan sosial di Pare patut diacungkan jempol, selain aman, toleransi kepada agama dan pendatang juga tinggi. Selain bisa menerima budaya dari beragam daerah, mereka juga tidak terlalu peduli pada aktivitas pendatang, yang penting jangan melanggar aturan agama dan negara menurut mereka. Masyarakat asli kampung Inggris juga ramah dan sangat bersimpati jika pendatang ikut serta dalam kegiatan sosial kampung sewaktu-waktu.

Bagi yang suka berolahraga, terutama para pria bisa datang ke alun-alun kota dimana disediakan fasilitas olahraga dan juga terdapat lapangan futtsal jika ingin berolahraga yang lebih elit. Tempat wisata juga terdapat di sekitar kota Pare, seperti Tugu Garuda yaitu pusat berkumpulnya pemuda Pare pada malam hari, Taman kota Pare, Candi Surowono yang merupakan peninggalan kerajaan Majapahit dan lain-lain. Tapi pada akhir pekan, masyarakat Pare lebih memilih berwisata ke luar kota, misalnya kuburan mantan Presiden Indonesia, yaitu Gus Dur di Jombang, atau ke kota Kediri, terdapat Gunung Kelud yang fenomenal, ada juga Tugu Simpang Lima Gumul layaknya Monumen Arc De Thriomphe di Paris Prancis, untuk wisata kuliner, banyak sekali pilihan, tapi sekali lagi, didominasi oleh masakan khas Jawa Timur.

Biasanya setelah program belajar bahasa inggris selesai, banyak kursus yang menawarkan paket liburan pesertanya, paket liburan favorit adalah ke Bali selama 4 hari, dengan mengeluarkan Rp. 350.000, kita mendapatkan fasilitas transportasi Pare – Bali pulang pergi, makanan 3 hari sekali, penginapan dan tentunya jalan-jalan ke 10 tempat wisata Bali, diantaranya Denpasar, pantai kuta, bekas tragedi bom bali, Pura tengah laut dan lainnya. Dan yang paling penting, kita bisa langsung mempraktekkan kemampuan bahasa inggris kita dengan para turis asing yang berada di Bali. Paket liburan lainnya adalah ke Malang, dengan mengeluarkan Rp. 150.000, kita bisa camping di beberapa tempat di kawasan Malang, salah satunya adalah di sebuah pulau kecil yang indah di laut selatan Jawa, dilanjutkan dengan wilayah Savana di dataran tinggi Malang, kemudian juga mengunjungi beberapa tempat wisata di Provinsi Jawa Timur. Ada pula paket liburan ke Candi Borobudur dan Yogya, tapi paket ini tidak terlalu diminati oleh warga kampung inggris Pare.

Bagi masyarakat Aceh sendiri, biaya hidup seperti ini termasuk rendah. Sehingga bisa dijadikan destinasi liburan yang asyik dan sekaligus bermanfaat. Juga sangat disarankan bagi mereka yang mempersiapkan diri ke luar negeri ataupun ingin matang dalam job interview, bisa belajar di sini dengan terfokus. Selain harga murah, kita bisa melihat kehidupan masyarakat dunia luar. Warga Kampung Inggris asal Aceh juga mengakui bahwa terdapat kendala bagi masyarakat Aceh untuk ke Pare, antara lain jarak yang sangat jauh dan ongkos transportasi dari Aceh ke Surabaya yang tinggi, serta minimnya informasi tentang Kampung Inggris Pare sendiri di Aceh. Dan kami juga merasakan hal yang sama ketika menuju Pare.

Kami sebagai mahasiswa sangat menyarankan bahwa sudah seharusnya setiap institusi pendidikan di Aceh menyebarluaskan informasi tentang Pare, dan juga tempat-tempat bermanfaat lainnya bagi masyarakat dan terutama generasi muda Aceh. Agar bisa memanfaatkan waktu luang yang bermanfaat serta persiapan ke luar negeri dan kerja. Alumni Pare asal Aceh sudah mencapai ratusan orang dan mari kita berharap agar angka tersebut bertambah. Dan juga semoga suatu saat di Aceh juga punya tempat yang sangat bermanfaat seperti ini.

ZULFIADI AHMEDY (joel.ahmedy@live.com)

Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Universitas Syiah Kuala

(Peserta Program English Study di Pare Jawa Timur)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 10 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 11 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | 8 jam lalu

Takut Pada Presiden Jokowi, Malaysia Bongkar …

Febrialdi | 8 jam lalu

Melihat dari Film II …

Nilam Sari Halimah | 8 jam lalu

Cara Efektif Menghafal …

Masykur | 8 jam lalu

Sembilu Cinta …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: