Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Ghea Adasta

andaikan otak saya seperti spons yang menyerap segala ilmu yang kadang datang tanpa permisi

Roma : Wisata Rohani & Wisata Sejarah

REP | 30 March 2012 | 14:40 Dibaca: 106   Komentar: 3   0

Agustus dan September 2011 lalu, saya berkesempatan untuk menyembangi benua Eropa. Yeay! Panorama benua Uni Eropa membuat saya layaknya  berada dalam buletin liburan, atau foto foto dalam kartu pos. Saya pergi ke sana dalam rangka misi kebudayaan yang diselenggarakan oleh Du Sud Festival, dan difasilitasi oleh IOV Indonesia. Saya beserta 30 orang rombongan berasal dari Komunitas Tari FISIP Universitas Indonesia, berhasil go international! Kami berangkat dari tanggal 23 Juli 2011 sampai 6 September ke negara Perancis dan Spanyol. Namun saya memutuskan untuk memperpanjang masa tinggal sya sampai 13 Desember dan berlibur di Roma, Italia bersama saudara saya.

Touchdown berhasil di bandar udara Leonardo da Vinci. Seniman kondang asal Italia, yang kaya seninya belum satupun saya lihat. Saya mengikuti tur dari Jerman dan selama 5 hari akan mengelilingi Roma. Tempat pertama adalah taman - taman kota di Roma, yang saya lupa namanya, berhasil memukau para peserta tur akan keindahan beserta terik panas matahari yang menyengat. Roma, terkenal dengan pusat Katolik di dunia, yang kita kenal dengan Vatican City. Negara mini yang luasnya hanya 44 hektar dikelilingi oleh tembok besar di tengah kota Roma. Wisata di Roma artinya adalah wisata gereja - gereja Katolilk yang berpengaruh di eropa dan dunia katolik sendiri. Bila Arab punya Mekah dan Madinah sebagai pusat jemaah haji, maka Roma punya Vatikan dan ratusan gereja untuk jemaah Katolik. Tur dimulai dengan gereja - gereja di Roma, takjub hanya yang bisa saya sampaikan atas keindahan kapel - kapel megah yang memayungi atap - atap gereja. Seluruh gereja di Roma memiliki unsur tersendiri dari kapel - kapel di dalamnya dan selalu menarik wisatawan untuk melihat karya seniman yang dipamerkan dalam kapel kapel tersebut. Sistine Chapel, favorit saya. Karena Michaelangelo yang menyapukan kuasnya pada dinding atap sebuah ruangan besar tempat Conclave atau musyawarah pemilihan Paus dilaksanakan, merupakan mahakarya yang tidak bosan - bosan saya pandangi. meskipun leher pegal - pegal karena harus mendongak ke atas. Komplek Vatikan saya ambangi sampai Musei Vaticani yang berisi ribuan karya seni yang dibuat dari zaman dark ages sampai pencerahan, dari dulu hingga karya seni modern.Dari seluruh penjuru bagian komplek museum memperlihatkan gambaran sejrah pada masa itu, layaknya flashback ke masa lalu, pengunjung diperlihatkan bagaimana perkembangan seni, ilmu pengetahuan, dan agama katolik itu sendiri.

Melanjutkan tur ke Pantheon, yang merupakan kuil Roma kuno yang dimasukkan unsur Kristen Katolik ke dalamnya, kumpulan air mancur yang menghiasi taman kota seperti Fontana de Trevi (jangan lupa make a wish dan melempar koin) sampai wisata ke lokasi lokasi dimana kekaisaran Roma Kuno dijalankan, Foro Romano atau Roman Forum, plaza yang dikelilingi reruntuhan bangunan pemerintahan Roma pada masa itu. Komplek sepanjang jalan yang dikelilingi reruntuhan bangunan indah nan megah tersebut diakhiri oleh Colosseum, arena pertarungan antara manusia dan binatang, gladiator. Arsitektur Colosseum tidak ada tandingannya, teknologi bagaimana sistem drainase dan sistem pintu hidrolik di masing - masing tempat sang gladiator dan singa berdiam, hanya mendapatkan decak kagum dari wisatawan. Kemegahan Roman Emperor ditunjukkan salah satunya pada bangunan ini serta mermemberikan perasaan yang sangat epic dan kolosal.

Roma memang identik dengan Katolik dan Kekaisaran Romawi, hal itulah yang nampaknya ditonjolkan kota ini untuk mengundang para wisatawan untuk hadir disana. Bagaimana tidak, dari kekuatan Katolik berada di kota ini begitu pula kekuatan kaisar Romawi yang kuat di seluruh penjuru dunia memberikan efek besarnya tawaran kota ini untuk dijadikan tempat wisata yang harus dikunjungi seluruh orang di dunia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Kakak-Adik Sering Bertengkar, Bagaimana …

Lasmita | | 19 April 2014 | 22:46

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: