Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Tika

Wanita biasa yang tidak punya pengaruh apa apa dan tidak bisa dipengaruhi

Bermalam di Kereta Api Eksekutif Gajayana

REP | 06 April 2012 | 06:55 Dibaca: 14578   Komentar: 55   5

1333689303461096144

Gambar diambil dari senowidi.blogspot.com

Sudah punya rencana apa untuk menghabiskan long weekend ini, sayang dunk..apabila menghabiskan liburan panjang hanya di rumah saja, apalagi masih tanggal muda begini (heheheheheh ngomporin aja ya,,) berikut ini kisah perjalananku dengan menggunakan angkutan kereta api, yang mudah mudahan bisa menjadi sarana alternatif bagi teman teman sekalian untuk menikmati liburan.

Sebetulnya cerita tentang perjalanan dengan menggunakan kereta api ini sudah satu minggu yang lalu, tetapi apa salahkan untuk di ceritakan terutama bagi yang belum pernah menggunakan kereta api eksekutif Gajayana.

Yuk kita mulai saja..

Hari Jum’at  tanggal 30 Maret 2012, bertepatan dengan hebohnya  unjuk rasa besar besaran  kenaikan harga BBM,  aku  berlibur ke kota Malang dengan menggunakan kereta api eksekutif  Gajayana dari statsiun Gambir. Awalnya ada sedikit kekhawatiran karena jadwal liburan yang  sudah di rencanakan  beberapa bulan yang lalu berantakan dikarenakan berbarengan dengan adanya demo besar besaran tetapi dengan membaca bismilah, kekhawatiran akan bertemu dengan pata pendemo tidak ada  alih alih  malah  bertemu dengan  iring iringan rombongan mobil Wapres RI di bunderan Tugu Tani dan berbelok arah menuju jalan Menteng Raya. Hmmm mau kemana pak Budiono, jam segini (16.00 pm) sudah pulang kerja.

Akh…daripada  memikirkan politik yang tidak pernah selesai ujung pangkalnya , mendingan aku teruskan saja tulisan ini, terutama bagi yang belum pernah naik kereta, sehingga ada sedikit gambaran seperti apa suasana di dalam kereta api Gajayana ini.

1333692352435468319

Interior KA Eksekutif Gajayana (ilustrasi diambil dari communitypoenya.blogspot.com)

Perjalananku kali ini akan menempuh waktu hampir 14 jam lamanya. Dimulai dengan pemberian selimut gratis berwarna tosca yang masih terbungkus plastik sesaat ketika kereta mulai meluncur meninggalkan statsiun Gambir pukul 17.30 pm  mengingat suhu di dalam kereta yang semakin malam semakin dingin sampai menusuk ke tulang.

Untuk mengatasi suasana jenuh, disediakan tv layar lebar yang di letakan di depan dan belang tempat duduk, jadi bagi yang dapat tempat duduk seperti aku yang dibelakang, pandangan dapat melihat ke tv yang di depan tetapi suara dari arah belakang. Heheheh lumayanlah dari pada bengong.

13336942881427389007

Mushala dalam kereta (Ilustrasi diambil dari adelays.com)

Dan bagi yang beragama muslim, tidak usah khawatir untuk menunaikan ibadah shalat, karena tersedia mushola di dalamnya, walaupun hanya cukup untuk satu orang saja, dan air untuk wudhupun mengalir lancar, Ini dapat dilihat dari foto dibawah ini dimana kondisi wc pun bersih, karena selalu dibersihkan setiap habis dipakai.

13336919421445206025

Makan koq ga bagi bagi mba…

Untuk penumpang yang duduk dekat jendela harus sedikit ekstra hati hati, karena di sela sela perjalanan sering terdengar bunyi lemparan batu yang mengenai jendela, tetapi walaupun kaca jendela cukup tebal, apabila sedang apes bisa saja menyebabkan kaca retak rambut.

13336947331978959357

Di Restorasi inilah aku makan Nasi Krawu (Ilustrasi diambil dari semboyan35.com)

Tepat jam 21.30 WIB  kereta berhenti di statsiun Cirebon dan memberikan kepada penumpang yang akan naik dari daerah ini, dan tentu saja hal ini tidak disia siakan oleh para pedagang asongan untuk menawarkan barang dagangannya di pintu luar kereta api, sehingga bagi penumpang yang ingin membeli dagangan mereka dapat mendatangi mereka di pintu kereta api.

13336908441951639487

Stop kontak (koleksi pribadi)

Mengghabiskan waktu perjalanan di dalam kereta kurang komplit rasanya apabila tidak membawa gadget (Ponsel, Handycam ataupun notebook) dan apabila kehabisan batere tidak usah khawatir  karena di setiap bangku tersedia stop kontak untuk men charge batere.

Hari semakin malam dan rasa kantukpun mulai singgah di pelupuk mata. Dengan ditemani selimut  kututupi seluruh tubuh dari ujung kepala sampai kaki dan menyetel tempat tidur sampai mendapatkan posisinya yang nyaman untuk tidur.

Kurang sepuluh menit menuju jam tiga pagi, kereta berhenti di statsiun Solo, itupun aku ketahui sesudah menanyakan kepada petugas keamanan yang setiap saat wara wiri di sepanjang rel kereta api Gajayana ini, sehingga boleh dikatagorikan aman, tetapi tetap saja kita harus ekstra hati hati, karena siapa tahu ada penumpang yang suka menguntil.

13336911901000033956

Maaf ini WC nya (koleksi pribadi)

1333693452632283653

wastafel di KA Gajayana (gambar diambil dari semboyan35.com)

Tidak terasa pagi sudah mulai menjelang dan hari sudah berganti menjadi  hari Sabtu . Beberapa Pedagang asongan berteriak teriak di depan pintu kereta menawarkan nasi pecel peyek dan ketika kutengok di jendela ternyata kereta sudah berada di statsiun Madiun dari papan penunjuk arah kulihat 157 km akan mencapai Surabaya. Wow ternyata sudah berada di propinsi Jawa Timur sekarang.

Di dalam kereta api ini juga tersedia beberapa souvenir ataupun oleh oleh khas kota setempat, sehingga bagi yang tidak sempat membeli oleh oleh dapat membelinya di dalam kereta ini  seperti wingko babat, yangko, bakpia dan lain sebagainya.

Statsiun Blitar sudah di depan mata,dan waktu menunjukan hampir pukul 07.00 WIB, demikian pula dengan petugas sudah mulai menarik kembali selimut yang dibagikan sebelumnya. Dan akhirnya tepat jam sembilan pagi sampailah ke kota Malang.

1333691791858785679

Penampakan penulis

Sungguh perjalanan yang sangat mengasyikan mengawali liburan di kota ini

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 6 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 8 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 9 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 10 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 7 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 7 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 8 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 9 jam lalu

Resiko Terlalu Banyak Informasi Diri di …

Opa Jappy | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: