Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Mega Nugraha

Suka jalan-jalan, suka tempat wisata Indonesia...

Travel Notes To South Beach Of West Java #1 | Bandung - Batu Karas

REP | 17 April 2012 | 06:56 Dibaca: 510   Komentar: 0   0

Sinar matahari belum m1334645459868296671emaksa masuk ruangan kamar saya melalui jendela yang tertutup tirai yang juga menghadap ke arah matahari terbit. Hari itu saya memang tidak bisa melihat moment itu di kamar saya karena sedari pagi, saya sudah nongkrong di pinggir jalan Cileunyi menunggu 4 orang kawan saya untuk segera meninggalkan Bandung dan menuju Ciamis, tepatnya pantai Batu Karas. Karena dari tempat itulah petualangan kami menyusuri semua pantai selatan Jawa Barat di akhir Maret lalu akan dimulai.

Perjalanan kami hingga Batu Karas menggunakan sepeda motor, saya perkirakan akan ditempuh selama 6 jam lebih dari Bandung. Jalur Bandung-Garut sudah terasa membosankan karena sudah sering kami lewati. Lalu perjalanan Garut hingga Tasikmalaya, cukup melelahkan. Laju bus antar kota yang berlari kencang hingga sinar matahari yang menyengat, membakar jalanan dan tubuh kami. Traveling menyusuri pantai selatan Jawa Barat memang bukan lagi hal yang spesial, beberapa orang kawan saya sudah jauh-jauh hari sudah melakukan. Traveling sederhana ini juga saya anggap penting mengingat, sudah dari jauh-jauh hari saya menginginkannya karena banyak hal, banyak tempat-tempat indah dan akan ada banyak cerita-cerita haru dan menyenangkan di sepanjang pantai selatan Jabar. Dan satu hal lagi yang penting, karena hidup itu soal jalan-jalan. :-D

Setibanya di Ciamis, kami mengambil arah Pangandaran. 1334645582404573775Namun, bukan pantai itu tujuan kami karena mungkin, pantai itu sudah tidak asing lagi. Di Pangandaran, kami hanya mampir untuk istirahat makan siang, setelah itu melanjutkan perjalanan ke Batu Karas. Perjalanan dari Pangandaran menuju Batu Karas sendiri tidak begitu melelahkan hanya saja infrastruktur jalan belum sempurna. Setelah satu jam berkendara, akhirnya tibalah di pantai Batu Karas menjelang malam dan kami menginap disana.

Pertigaan jalan menuju Batu Karas dan Cimerak sudah terlihat ketika kami melewati objek wisata Green Canyon. Kami melewatkan begitu saja objek wisata itu karena kami sudah berencana akan ke tempat itu setelah kami menginap di Batu Karas. Di pertigaan jalan, kami ambil jalur kiri karena jalur ini akan mengarahkan kami ke Batu Karas. Sementara jalur kanan, jalur yang akan kami lewati menyusuri pantai selatan Jawa Barat. Dari Pertigaan ini, tidak butuh waktu banyak menuju bibir pantai. Deretan rumah penduduk, hamparan sawah, rawa-rawa dan kebun kelapa. Infrastruktur jalan sendiri tidak begitu parah. Gerbang pintu masuk Batu Karas yang bersebelahan dengan Sungai Cijulang telah kami lewati. Jejeran penginapan mulai dari bangunan sederhana dan mewah berjejer disana.

Dua jam menjelang magrib, mata kami sudah melihat ombak yang tenang di pantai ini.Semilir angin menerpa wajah kami setelah sebelumnya berjam-jam diterpa debu dan asap kendaraan. Rupanya, penginapan sudah terisi penuh. Beruntung, orang yang kami temui di bibir pantai, yang menyewakan papan selancar dan menjual kelapa segar, rumahnya bisa disewakan untuk kami. Karena telah mendapat penginapan, berpuas-puas dihajar ombaklah kami.

Pantai batu karas ini pantai yang sering dikunjungi oleh turis 133464565862575368mancanegara di samping pantai-pantai lain di Jabar. Hal itu karena pantai ini termasuk pantai yang landai hingga banyak orang bisa berenang di pantai ini, terlebih lagi, pantai ini memiliki ombak yang baik untuk berselancar. Maka tidak aneh, warga sekitar Batu Karas pun cukup pandai berselancar. Di sepanjang bibir pantai pun, tersedia penyewaan papan selancar. Kalau tidak salah, harga sewanya Rp 75 ribu – Rp 100 ribu, ada yang per jam juga ada yang per hari. Saat itu, saya mencoba menyewa selancar dan memainkannya. Cukup sulit, ketika ombak akan datang datang, posisi saya tengah telungkup dalam papan selancar. Lalu setelah ombak itu tiba, saya berusaha untuk berdiri di papan, namun usaha itu seringkali gagal dan saya pun terjatuh dan dihajar habis-habisan oleh ombak.

Satu jam sebelum magrib, banana boat menarik perhatian kami. Dengan biaya Rp 50 ribu, kami menantang sang sopir perahu boat untuk menambah kecepatan dalam menarik banana boat yang kami tumpangi. Ketika menikung cukup tajam, kami coba bertahan agar tidak terjatuh. Sesekali usaha kami berhasil dan adrenaline kami kembali memuncak dan lagi, kami menantang sang penarik banana boat untuk menambah kecepatan dan menikung lebih tajam dari sebelumnya. Kali ini, kecepatan bertambah. Gelagat sang sopir untuk menikung tajam mulai terlihat dan, “byuuuuuuurrrr,”… kami pun terjatuh ke air. Sang sopir berkata, “mau lagi,”. Dan kami jawab, “kuraaang keraaaaas broo”. Kami pun tertawa dengan diiringi pantulan sinar matahari ketika hendak terbenam. Sekali lagi kami minta pada sang sopir, “kuraaaang keraaas, tambah kecepatanmu”.

Sayup-sayup adzan magrib mengalun ringkih dari surau di perkampungan sekitar Batu Karas, berkelindan dengan suara deburan ombak. Kami masih berada di bibir pantai, sedikit beristirahat sebelum akhirnya kami menuju penginapan. Setelah membersihkan badan, kami pun mencari makan malam dengan berjalan kaki menuju rumah makan sekitar bibir pantai.

Tiga café yang cukup moderen sudah te13346454002037357070risi penuh. Kami batal makan di tempat itu. Kami terpaksa mencari tempat lain. Rasa lapar begitu terasa, namun beruntung, sang pemilik warung makan bisa dengan cepat menghidangkan makanannya. Kami pun lahap menyantapnya. Obrolan ringan dan derai tawa membuat riuh suasana rumah makan yang cukup sederhana malam itu. Kami kembali ke penginapan, sebelum tidur, saya mengecek GPS untuk mencari tahu tentang jarak selanjutnya yang akan kami tempuh. Dan ternyata, perjalanan masih sangat jauh.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Candy Cane Lane: Gemerlap Malam Bulan …

Bonekpalsu | | 26 December 2014 | 12:51

Kisah Istri Da’i Korban Tsunami yang …

Gunawan | | 26 December 2014 | 09:04

Nge-gym dengan Kerjaan Rumah Tangga …

Nur Cahyo | | 26 December 2014 | 12:05

Tsu, Media Sosial yang Akan Membayar Anda …

Didik Djunaedi | | 26 December 2014 | 09:49

Kompasiana BlogTrip: Jejak Para Riser …

Kompasiana | | 24 December 2014 | 18:26


TRENDING ARTICLES

14 Artikel Berita Paling Populer di Tahun …

Kompasiana | 3 jam lalu

Pelajaran untuk Menteri Amran Sulaiman, …

Hendi Setiawan | 3 jam lalu

Mengapa Alat Kelamin di Film Porno Jepang …

Arief Firhanusa | 5 jam lalu

Dukung FPI dan PKS tentang Natal, Islam, …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Keberanian Menteri Susi Ibarat “Politik …

Cecep Zafar Sofyan | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: