Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Dedy Zulkifli

perpaduan tukang ojek dan foto keliling

Menikmati Pesona Gunung Leuser

HL | 21 April 2012 | 07:50 Dibaca: 1527   Komentar: 20   4

1334991753292488870

Pagi di Puncak Gunung Leuser.

Gunung Leuser berada di Kabupaten Gayo Lues, Nanggroe Aceh Darussalam. Gunung yang memiliki ketinggian 3119 mdpl (meter dari permukaan laut) ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung leuser (TNGL) yang luasnya sekitar 1.094.692 hektar. Untuk mendakinya di perlukan stamina yang cukup, mengingat lama pendakian sekitar dua belas hari.

Untuk menuju titik start pendakian, askses yang biasa di tempuh yakni, dari Kota Medan naik angkutan bernama Karsima (sejenis L300) menuju Kota Blangkejeren, Gayo Lues. Lamanya waktu tempuh kira-kira sepuluh jam. Tiba di Blangkejeren kita bisa meminta mobil untuk di antar ke Dusun Kedah.Jaraknya pun sudah tidak jauh lagi, kira-kira setengah jam.

Dusun Kedah biasanya di jadikan titik awal pendakian ke Gunung Leuser. Di butuhkan izin dari pihak TNGL dan penggunaan jasa guide demi keamanan selama pendakian. Perizinan dan guide bisa di urus langsung di Dusun Kedah.

Setelah ijin dan guide didapat, biasanya kita akan di antar terlebih dahulu ke bungalow (semacam tempat penginapan) untuk beristirahat semalam. Esok paginya perjalanan akan di mulai dengan menuju Gunung Pucuk Angkasan (2891mdpl).

Pucuk Angkasan

Keluar dari dusun, perjalanan akan melewati sekeping hutan yang tidak luas. Setelah itu terhampar pemandangan padang sabana dan menjumpai perladangan tembakau. Ladang tembakau ini di kenal dengan nama Tobaco Hut. Dari sini perjalanan di teruskan. Hanya berselang satu jam, kita akan masuk pintu rimba. Jalur pendakian langsung mulai menanjak. Namun begitu tidak usah khawatir, di sepanjang jalur pohon-pohon besar berdiri merindang. Jadi kelelahan yang ada tidak terlalu terasa karena sejuknya udara.

13349934441889251980

Seorang petani tembakau sedang memetik pucuk daun di Tobaco Hut.

Mendaki ke puncak Pucuk Angkasan tidak bisa di tempuh dalam satu hari, di samping medannya yang berat, isi ransel juga masih cukup banyak. Otomatis jalan jadi lambat. Namun begitu kita dapat bermalam di pinggang gunung di sebuah tempat yang bernama Simpang Air. Tempat ini di tandai adanya kolam kecil yang berair coklat namun masih aman untuk di minum.

Keesokannya, perjalanan pun di lanjutkan lagi dengan masih melewati jalur yang banyak pepohonan besar dan berlumut. Namun menjelang ketinggian duaribuan, pepohonan perdu mulai mendominasi. Jalur pendakian mulai terbuka. Panasnya matahari jadi begitu terasa. Disini kita dapat menikmati pemandangan alam. Kota blangkejeren dan bebukit barisan menjadi tontonan di kala kelelahan melanda.

Menjelang sore, kita akan tiba di puncak gunung angkasan. Dari sini akan terlihat bayang-bayang biru Gunung Loser yang kadang timbul tengelam oleh awan putih.

13349921201317278977

Kantung Semar (Nepenthes) ukuran mini.

Bunga Kantung Semar

Dari Pucuk Angkasan kita berjalan ke arah Kayu Manis I. Di sepanjang jalur kita akan menjumpai beberapa bunga kantung semar yang mungil seukuran kelingking. Bunga-bunga ini terlihat sangat survive di medan yang tandus bebatuan. Warnanya pun bermacam-macam. Namun begitu jika melihat kebutuhan makanan mereka berupa serangga maka disini mereka tidaklah kekurangan.Ada banyak agas dan serangga lainnya di daerah ini.

Tiba di Kayu manis I biasanya hanya rehat sejenak. Kemudian perjalannan di lanjutkan ke Kayu Manis II (2760 mdpl). Disini kita akan bermalam. Tempat camp ini di untungkan oleh adanya semak-semak yang melindungi tenda dari angin yang cukup kencang. Sementara itu tidak jauh dari camp terdapat sumber air yang berupa cerukan kecil.

13349929581951302917

View dari Kayu Manis II

Perjalanan kemudian di lanjutkan ke Pepanji (2420mdpl) dengan melewati Kayu Manis III dan istirahat makan siang di Lintasan Badak. Kira-kira tiga jam perjalanan kita akan tiba di Pepanji. Keadaan Camp Pepanji tidak cukup luas dan hanya mampu menampung dua atau tiga tenda. Walau kondisi tanahnya tidak terlalu datar tapi cukup tertutup dan tidak terlalu dingin hingga pas buat bertenda.

Esok paginya, perjalanan di lanjutkan menuju Camp Alas (2290 mdpl). Melewati Hutan Pepanji memang agak merepotkan karena hutannya yang rapat dan banyak di tumbuhi rotan. Namun kita akan menikmati keriuhan suara burung dan primata sepanjang jalur. Tidak hanya itu saja perjalanan juga di suguhi view lembah alas dengan air terjunnya.

Lepas dari Hutan Pepanji, kita memasuki daerah yang di sebut dengan blang (padang rumput). Suasana yang tadinya tertutup pepohonan langsung terbuka dengan pemandangan bukit yang berumput luas. Disini kembali disaksikan kantung semar. Tidak hanya ukuran kecil tapi juga ada yang besar seukuran botol minuman. Kadang juga dapat di temui bunga anggrek terselip di antara bebatuan.

13349922701708875027

Kantung Semar (Nepenthes).

13349923271363180349

Kantung Semar (Nepenthes).

133499242493504050

Anggrek Hutan.

1334992473748180716

Anggrek Hutan.

Untuk makan siang kita bisa rehat sejenak di Blang Beke. Tempatnya berada di tengah padang rumput yang terbuka tanpa ada teduhan pohon. Namun begitu pandangan jadi luas hingga bisa menikmati alam yang berumput hingga terhampar berhektar-hektar.

Usai makan siang disini, perjalanan di lanjutkan langsung menuju Camp Alas. Camp Alas berada di seberang Sungai Alas. Jika hari hujan butuh kehati-hatian untuk menyeberangi sungai yang dalamnya selutut. Di samping karena airnya yang dingin juga bahaya air bah yang bisa datang tiba-tiba.

Vegetasi di Camp Alas masih berupa rerumputan. Walau pun ada pohon yang tampak hanya beberapa selebihnya semak-semak.Tempat ini terkenal dingin. Sementra tempat untuk bertenda hanya berjarak beberapa puluh meter saja dari Sungai Alas. Jadi kita tidak perlu khwatir akan kekurangan air.

13349926881119931577

Kolam Badak.

Kolam Badak

Dari Camp Alas perjalanan di lanjutkan menuju Camp Bivak III (2960 mdpl). Dengan masih melewati padang rumput sesekali turun ke lembah dan naik di antara bebukitan. Tidak lama kemudian kita akan menjumpai tempat yang di kenal dengan nama Kolam Badak. Tempat ini terdapat sumber air yang banyak di tumbuhi lumut. Air kolam agak kecoklatan dengan diameter sekitar 8 – 10 meter. Di duga dulunya ini adalah bekas kubangan Badak Sumatera. Menurut Mr Jali, salah seorang guide yang cukup berpengalaman dari Kedah, saat ini Badak Sumatera (Dicerorhinus Sumatrensis) sangat susah di jumpai. Bahkan jejaknya saja jarang terlihat. Hewan langka ini diambang kepunahan. Hanya ada tinggal beberapa ratus saja di pulau sumatera.

Dari Kolam Badak perjalanan di lanjutkan dengan melewati punggungan tipis yang di penuhi tumbuhan perdu. Setelah sekitar empat jam perjalanan tiba di Camp Bivak III. Keadaan camp cukup terbuka, namun beberapa semak akan melindungi tenda dari hempasan angin.

Setelah bermalam di Bivak III perjalanan di lanjutkan menuju Bivak Batu (2940 mdpl). Karakter jalur yang dilalui berupa tanjakan di atas punggungan tipis. Sepanjang jalan kita bisa menyaksikan hamparan bebukitan yang masih dalam gugusan bukit barisan Pulau Sumatera. Sementara itu bayangan Gunung Leuser semakin menjelas di seberang lembah.

Siang harinya kita akan tiba di Camp Kaleng. Istirahat sejenak sambil menikmati makan siang paling pas disini karena tempatnya cukup datar. Sementara itu selepas Camp kaleng perjalanan kembali mendaki dan menuruni bukit.

Menjelang sore kita akan tiba di Bivak Batu. Di tempat ini terdapat banyak bebatuan vulkanik.Barangkali keadaan ini yang mendasari nama dari Bivak Batu tersebut.

Simpang Tanpa Nama

Setelah bermalam di Bivak Batu perjalanan di lanjutkan ke Camp Simpang Tanpa Nama. Perjalanan kesana lumayan berat karena memang harus berjalan naik dan turun ke lembah. Dengan melewati beberapa anakan sungai diantaranya Krueng (sungai) Kluet kemudian kembali naik ke punggungan hingga akhirnya tiba di Camp Simpang Tanpa Nama.

1334993088606456087

Puncak Tanpa Nama terlihat dari Bivak Batu.

Camp Simpang Tanpa Nama ini berada tidak jauh dari persimpangan jalur ke Puncak Loser (3404 mdpl) dan Puncak Tanpa Nama (3455mdpl). Puncak Tanpa Nama sendiri jarang di daki orang. Padahal Gunung ini adalah yang tertinggi di Aceh. Untuk kesana kira-kira dua jam lagi dari Simpang Tanpa Nama.

Setelah bermalam di Camp Simpang Tanpa Nama perjalanan di lanjutkan ke arah Puncak Gunung Loser. Keadaan alamnya pun masih berupa rerumputan dan pepohonan perdu. Tidak lama kemudian melewati sebuah padang rumput yang datar dan luas. Tempat ini biasa di sebut lapangan bola. Kalau lagi musim hujan tempat ini selalu di genangi air.

13349932552091154241

Bebatuan vulkanik yang berserak menjelang Puncak Loser.

Perjalanan di lanjutkan lagi dengan mendaki punggungan dan menjumpai tempat yang banyak sekali bebatuan vulkanik. Disini bahkan lebih banyak lagi di bandingkan dengan di Bivak Batu. Setelah satu jam perjalanan akhirnya tiba di Puncak Gunung Loser yang di tandai dengan adanya sebuah pilar dari semen setinggi kurang lebih satu setengah meter.

13349938992139393539

Puncak Gunung Loser (3404 mdpl).

Puncak Loser

Setelah tujuh hari berjalan, Puncak Loser seakan menjadi klimaks. Rasa lelah dan putus asa yang menyergap selama perjalanan seakan sirna. Hamparan bebukitan dan bayang-bayang pantai barat sumatera menjadi suguhan yang tak tergantikan. Keindahan alam Nanggroe Aceh Darusalam yang mempesona ini tentu akan membuat kita menjadi lebih mencintai tanah air Indonesia.

1334994082817724894

Puncak Loser di pagi hari terlihat dari Gunung Leuser.

1334994214886512459

Senja di Puncak Gunung Leuser.

Sebelum kembali ke Dusun Kedah yang biasanya memakan waktu lima sampai enam hari, Puncak Gunung Leuser yang namanya di tabal sebagai nama taman nasional ini jaraknya tidak jauh lagi.Dengan menggunakan daypack perjalanannya kurang lebih dua jam ke arah barat daya. Dari puncak Leuser pantai barat sumatera jadi begitu jelas terlihat. Bahkan akan tampak beberapa kota di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam seperti, Meulaboh, Blang Pidie, Manggeng, Labuhan Haji dan Tapak Tuan. Jika memang memiliki kesempatan untuk bertenda di Puncak Leuser maka ada kemungkinan akan menyaksikan indahnya matahari terbenam di seberang Samudra Indonesia.Jadi tunggu apalagi, mari datang ke Leuser dan saksikan sendiri sekeping keindahan alam Indonesia Raya.###


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Inilah Reaksi Mahasiswa Australia untuk …

Tjiptadinata Effend... | | 20 October 2014 | 19:16

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

10 Tips untuk Komedian Pemula …

Odios Arminto | | 21 October 2014 | 01:11

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | 2 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 4 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 11 jam lalu

Indonesia Jadi Tuan Rumah Lagi di Piala AFF …

Djarwopapua | 12 jam lalu

BJ Habibie, Bernard, dan Iriana Bicara …

Opa Jappy | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: