Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Stand Up Comedy Terlucu Sedunia

REP | 10 May 2012 | 16:38 Dibaca: 2352   Komentar: 78   4

1336641861734029644

dok. syam

Saya kira, inilah stand up comedy terlucu se-dunia. Karena berhasil membuat saya menertawai diri sendiri. Aduh!

Di Cuba Street, Kota Wellington, Aotearoa, malam itu. Tak sengaja saya menonton jenis lawak yang juga sedang digemari di tanah air itu.

Semula saya kira kami akan segera tuju Levin, kota kecil 100 km di sebelah Timur Laut ibukota Selandia Baru. Tapi Arie kawan saya yang datang menjemput saya di bandara Wellington ada perlu menyinggahi kawannya. Urusan “bisnis sosial”. Antar kerupuk kemplang tekwan khas Palembang tapi buatan New Zealand. Kerajinan tangan sang kawan yang lebih mirip saudara angkat sekampung halaman.

Di kediaman Sari, sang kawan yang ternyata “tetangga” di Cinere, datang pula Lia. Obrol ibu-ibu asal Indonesia itu meletupkan rencana. Ayo ke Cuba Street! Nonton pertunjukan stand up comedy.

13366421671614714530

stand up comedy di Fringe Bar, Cuba Street, Wellington (dok. syam)

Cuba Street? Umm, tempat itu satu dari sepuluh tempat wajib kunjung di Wellington versi beberapa biro perjalanan. :p

Singkat cerita kami berempat sudah di Fringe Bar, Cuba Street. Pembawa acaranya penutur yang asyik. Buktinya, semua orang tertawa setiap jeda tuturnya. Ada sekitar 150-an pengunjung.

Lalu bergiliran para comic tampil di panggung. Saat itulah saya menyadari betapa lucunya acara yang saya saksikan. Bahasa Inggris mereka terdengar sengau di telinga saya, bertempo cepat, ditambah persediaan kosakata saya tak cukup untuk memahami semua yang mereka bicarakan. Biasanya, setelah para penonton tertawa saya baru sadar apa yang dibicarakan. Tapi untuk tertawa, sudah telat.

Para comic di Fringe Bar, benar-benar lucu karena berhasil membuat saya menertawakan diri sendiri. Menertawakan ketakcakapan saya berbahasa asing.

Pertunjukan dibagi dua babak. Ada jeda sekitar 15 menit antar babak. Saya keluar. Di dalam gerah betul dan saya ingin merokok. Tiba-tiba satu bule yang baru keluar dari bar berseru, “Gila! Sumuk betul di dalam. Ikan pun bisa keringatan!”

Lucu juga. Sayang dia bukan peserta adu banyol malam itu.

Di luar kudengar kawan-kawan saya mengeluhkan hal yang sama. Jangan-jangan sengaja dibikin panas, supaya pengunjung bar pesan minum, seloroh mereka yang kemudian membahas satu café di Jakarta yang menyediakan cemilan gratis berupa ikan teri asin. Supaya pengunjung kehausan, lalu pesan minum.

Cinderamata Cuma-Cuma

13366420311944117172

cinderamata :p (dok. syam)

Habis merokok saya merasa perlu ke toilet lagi. Karena tiba-tiba teringat kawan-kawan yang suka tanya oleh-oleh tiap saya bepergian, tanpa sebelumnya mereka merasa perlu mengucapkan, “Selamat berlibur, Kawan!”

Mungkin ucapan itu tak perlu benar. Sebab, siapa pun tahu, petani tak punya hari libur.

Di toilet Fringe Bar ada satu mangkuk besar berisi kondom. Saya sempat ambil dua, buat kenang-kenangan. Tiba-tiba terpikir, bagus juga itu dijadikan oleh-oleh. Kondom cuma-cuma.

Sayangnya, begitu saya kembali ke toilet, mangkuk isi kondom itu sudah melompong. Di dekatnya ada satu bule gempal berbulu banyak sedang menunduk, badannya menghadap cermin rias. Terdengar suara jeprat-jepret seperti karet ditarik-lepas tarik-lepas. Umm… mungkin dia sedang memasang pengaman.

Saya kembali duduk menyaksikan pentas banyol. Salah satu peserta di babak ke dua mengingatkan saya pada orang terakhir yang saya lihat di toilet. Kalau benar, aneh juga. Untuk apa dia pakai pengaman sebelum tampil melawak?

Sudahlah. Kalau pun iya, semua orang melakukan hal yang berbeda. Saya seharusnya menertawakan diri sendiri, karena berpikir kondom adalah cinderamata. Bukan pengaman bercinta. ###

[SyamAR; Taitoko, 5 April 2012]

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 7 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 7 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 7 jam lalu

Golkar Perlu Belajar ke PKS …

Puspita Sari | 7 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Saya Dirayu Aguk, Sang Penulis Haji …

Wening Tyas Suminar | 7 jam lalu

Kisruh di Partai Golkar, KMP Pun Terancam …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Let’s Moving On …

Tonggo Nababan | 7 jam lalu

Indonesia: Tim Medioker Asia Tenggara …

Agung Buana | 7 jam lalu

Gen Bahasa …

Zakiyatul Muti'... | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: