Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Akbar Pitopang

Pitopang Ever After | Jangan lihat siapa awak, tapi lihatlah apa yang awak tulis | selengkapnya

Gunung Sago, Misteri di Balik Sejuta Keindahan

REP | 14 May 2012 | 15:23 Dibaca: 4889   Komentar: 2   1

13369641861261800937

ilustrasi/admin padang-today.com

RATUSAN TAHUN MATI

Baru-baru ini masyarakat dikejutkan dengan adanya kabar yang menyebutkan bahwa Gunung Sago telah aktif kembali. Sete­lah beratus tahun lalu dinya­takan mati dan tidak aktif, kini Gunung Sago di Kabu­paten Limapuluh Kota mulai meng­geliat dan mengeluarkan kepu­lan asap hitam. Diduga kuat gunung setinggi 2.262 meter itu terbangun dari tidur panjang­nya. Kondisi ini mem­buat masyarakat setempat lebih meningkatkan kewas­padaan.

Mulainya peningkatan aktivitas di Gunung Sago mengingatkan kembali, bahwa masih ada beberapa gunung api di Sumbar yang masih tidur. Seperti Gunung Singgalang yang berketinggian 2.872 meter, Gunung Pasaman yang berketinggian 1.984 meter dan Gunung Talamau yang berketinggian 2.918 meter.

Sementara untuk gunung aktif yang masih mengancam dan menge­pung berbagai daerah di Sumbar diantaranya Gunung Marapi yang berketinggian 2.891 meter, Gunung Talang yang berketinggian 2.597 meter, Gunung Tandikek yang berketinggian 2.476 meter dan Gunung Kerinci yang berketinggian 3.300 meter.

KEMBALI AKTIF

Dilansir dari harian surat kabar lokal, Kabid Geologi Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar, Nuzuir menyatakan Gu­nung Sago termasuk gunung yang aktif dan telah tercatat di pusat geologi Sumatera Barat.

13369656382019232657

gunung sago telah lama tidur… (sumber:travel.nuraina.com)


“Gunung Sago itu memang gunung yang aktif. Namun sejak tahun 1600-an tidak pernah menam­pakkan aktivitas seperti Gunung Marapi, Tandikek dan Talang. Jika sekarang gunung tersebut menam­pakkan aktivitasnya, itu biasa,” katanya.

Ia juga menyampaikan kepada masyarakat sekitar untuk waspada dengan aktivitas Gunung Sago seminggu belakangan ini. Karena dampak dari aktivitas gunung api yang biasanya diam dan tiba-tiba mengeluarkan energi, akan berdam­pak besar dibanding gunung yang sering aktif, terutama untuk dampak erupsinya.

“Gunung Sago dapat disamakan seperti Gunung Sinabung yang meletus pada tahun 2010 silam. Masyarakat sekitar menganggap Gunung Sinabung tersebut sebagai gunung mati, Namun kenyataannya gunung tersebut meletus dengan kekuatan yang besar,” ujar Nuzuir.

Ia juga mengatakan, sebenarnya keaktifan Gunung Sago sudah terpantau sejak tahun 2008 lalu oleh pusat geologi dan diperkuat dengan hasil visual satelit google.

“Kita memang sudah menjad­walkan dalam bulan Mei ini akan menerjunkan para ahli untuk melakukan penelitian ke Gunung Sago, sekaligus memasang alat pendeteksi gempa,” katanya lagi.

Sementara itu, aktivitas Gu­nung Sago hingga Rabu (9/5) kemarin masih terus bergejolak. Bujang Sawir (56) salah seorang warga Padang Laweh, Nagari Tanjung Aro, Kecamatan Situjuh Kota Paya­kumbuh, yang bermukim di sekitar di kaki Gunung Sago mengatakan, sejak seminggu belakangan telah tiga kali melihat asap tebal di puncak Gunung Sago. Asap tersebut terlihat sangat jelas mengepul bewarna hitam pekat.

Bujang juga mengatakan, semen­jak adanya asap yang keluar dari Gunung Sago, masyarakat sekitar kaki gunung juga mulai merasakan gempa-gempa kecil. “Kamis (3/5) sore, masyarakat di kaki Gunung Sago merasakan gempa yang tidak terlalu kuat. Namun cukup terasa oleh masyarakat di kaki gunung,” katanya.

Keterangan sama juga disam­paikan oleh Fauzan (21), yang melihat jelas asap dari puncak Gunung Sago pada Selasa (8/5) sore.

“Saya melihat jelas asap yang keluar dari puncak Gunung Sago. Asap itu juga diiringi dengan bunyi gemuruh yang berasal dari gunung,” katanya.

TANDA TANYA BESAR

Tak hanya warga di sekitar kaki Gunung Sago, tapi sejumlah warga di kawasan Bonjol Kabupaten Pasaman juga sering merasakan getaran kecil. Namun getaran yang dirasakan warga itu masih miste­rius, karena belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait.

Menanggapi informasi masya­rakat tersebut, pernyataan berbeda dan sangat kontras diungkapkan Manajer Pusat Pengendalian Ope­rasional Penanggulangan Benca­na (Pusdalops PB) Sumbar Ade Edward.

“Gunung Sago masih mati dan belum aktif. Informasi masyarakat tersebut belum bisa diper­tang­gungjawabkan secara ilmiah. Jika memang ada gempa di sekitar kaki gunung itu, kenapa tidak terdeteksi oleh alat yang ada,” tutur Ade Edward bersikukuh. (h/ang/wan)

Tentu informasi yang valid tentang keadaan terkini Gunung Sago sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Semoga segera diadakan penelitian dan ditentukan langkah secepatnya untuk menanggapi masalah ini.

MENYIMPAN KEINDAHAN LUAR BIASA

Dibalik kesan ngeri yang tersimpan, Gunung Sago juga mempunyai daya tarik yang perlu untuk disambangi. Panorama keindahan Gunung Sago memang sudah sangat tersohor khususnya dikalangan masyarakat Kabupaten 50 Kota dan Kota Payakumbuh.

1336964516254921974

tampak keindahan gunung sago dari kejauhan (sumber:deviantart.net)


Gunung Sago ini letaknya sangat strategis. Memiliki pemandangan yang sangat indah. Gunung Sago ini seperti berada di titik pusat dua wilayah tadi. karena seakan-akan Gunung Sago ini bisa terlihat dimana-mana. Dari Kota Payakumbuh atau Pasar Payakumbuh misalkan, Gunung Sago ini bisa terlihat sangat indah. Dari kampung saya, Gunung Sago ini juga terlihat sangat indah.


Gunung Sago ini seperti landmark buatan tuhan yang amat luar biasa. Gunung Sago memiliki ketinggian yang cukup tinggi. Sedangkan wilayah Kabupaten 50 Kota dan Kota Payakumbuh berada di lereng dan kaki gunungnya. Otomatis keindahannya akan sangat mudah terlihat. Siapa pun yang datang berkunjung ke Kabupaten 50 Kota ataupun Kota Payakumbuh pasti akan berjumpa dengan gunung yang sangat indah ini.

13369653071056327425

background gunung sago yang dilihat dari area kantor bupati Kabupaten 50 Kota (sumber:yd5eaf.blogspot)


Udara di lereng Gunung Sago cukup dingin. Sama seperti lereng gunung pada umumnya. Saya pernah merasakan dinginnya udara di lereng gunung merapi ini ketika mengantarkan mama ke rumah temannya di daerah Padang Mengatas.

Di daerah Padang Mengatas ini dulunya merupakan daerah peternakan sapi yang cukup besar dan maju. Peternakan ini sangat terkenal. Karena udara yang bersih dan makanan yang melimpah di lereng gunung ini membuat sapi-sapi menjadi sehat sehingga usaha peternakan itu dulunya memang sangat maju. Tapi sekarang peternakan disana tidak seperti dulu lagi. belakangan ini mengalami kemunduran yang cukup signifikan.

Tidak hanya itu.. Gunung Sago juga sangat menarik untuk didaki. Sudah sangat banyak pendaki yang mencoba menaklukkan gunung ini.

Teman-teman saya banyak yang sudah mendaki Gunung Sago ini. memang pengalaman mendaki gunung ini cukup mengasyikkan dan menyenangkan. Sayangnya sampai sekarang saya belum mempunyai kesempatan untuk mendakinya.

Dari puncak Gunung Sago kita akan menikmati betapa indahnya pemandangan dibawahnya. Dari puncaknya kita akan menyaksikan betapa indahnya pemandangan Kabupaten 50 Kota dan Kota Payakumbuh. Dari puncaknya kita serasa berada diatas khayangan. Kita bisa melihat indahnya awan. Dari puncaknya kita seperti membayangkan berada di kota di atas langit.

13369650082020627738

indahnya pemandangan yang terlihat dari puncak gunung sago. seakan berada di negeri kahyangan (sumber:tikustikusgoblog.files.wordpress)


Itulah yang pernah saya alami. Walaupun saya tidak menikmatinya langsung dari puncaknya namun dari radius beberapa kilometer saja dari puncaknya, tapi indahnya pemandangan dibawah sana tetap saya nikmati dengan puas. Memang, sungguh luar biasa.

JANGAN PERNAH BANGUN

Mendengar kabar Gunung Sago aktif kembali, saya merasa sangat terkejut. Tentu saja hal itu akan dirasakan oleh semua masyarakat tidak hanya saya pribadi. Gunung Sago tiba-tiba memberikan sinyal mengerikan ketika selama ini masyarakat terlena dengan keindahannya.

Saya sangat khawatir jika memang Gunung Sago aktif kembali. Mengingat tempat tinggal saya tidaklah jauh dari gunung merapi. Hanya berjarak lebih kurang beberapa kolimeter. Saya tinggal di Jorong Tanjung Kaliang, Nagari Sungai Kamuyang, Kecamatan Luak, Kabupaten 50 Kota. Jorong kami berada di kaki Gunung Sago.

Kembali saya teringat akan musibah Galodo (banjir bandang) beberapa waktu yang lalu. Ketika itu saya bisa menyaksikan dengan nyata dampak yang ditimbulkan oleh galodo. Galodo atau banjir bandang membawa bebatuan berbagai ukuran. Banyak rumah-rumah warga yang rusak bahkan sampai hancur karena dilalui batu besar.

Itu baru galodo. Dampak galodo yang kelihatannya tidak terlalu separah erupsi sudah sangat membuat masyarakat menderita. Bagaimana jika nanti terjadi erupsi atau gunung meletus?

Ya Tuhan… jangan pernah terjadi… saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.

Bagaimana dengan nasib Bunda tercinta dan orang-orang yang saya sayangi disana? Ya Tuhan… sekali lagi hamba berharap bencana itu tidak terjadi…

Mengingat tempat kami tinggal tidaklah terlalu jauh dari Gunung Sago. Ketika terjadi galodo memang jorong kami tidak terkena dampaknya. Karena kebetulan jalur yang dilalui galodo tidak melalui jalur ke jorong kami.

Saya yakin Gunung Sago amatlah luar biasa. Luar biasa karena keindahannya sekaligus karena kehebatan dah kedahsyatannya. Saya yakin di dalam gunung itu tersimpan banyak bebatuan besar yang amat banyak jumlahnya.

Itu dapat saya yakini melihat fakta di lapangan. Di persawahan sangat banyak saya temukan bebatuan besar. Bebatuan itu menyebar di banyak petak-petak sawah. Dan saya yakin bebatuan itu berasal dari Gunung Sago. Muntahan dari Gunung Sago beratus tahun yang lampau. Karena sejak saya lahir ke dunia hingga saat ini, bebatuan itu sudah ada disana.

Ya Tuhan yang maha kuasa… yang mempunyai kuasa atas segala sesuatu di dunia ini. kami mohon berilah yang terbaik untuk kami. Limpahkanlah keselamatan untuk kami semua hamba-Mu. Amiiin…

Gunung Sago memang sudah sangat lama tidur panjang. Tak tahu kapan akan terbangun. Namun kami berharap tetaplah tidur. Lanjutkan mimpi indahmu. Karena dengan keindahan Gunung Sago kami bisa merasakan betapa besarnya kekuasaan Tuhan.

Namun hingga saat ini Gunung Sago masih menyimpan misteri. Semoga tidak terjadi hal buruk pada Gunung Sago yang jelas akan berdampak pada kami disana. Semoga Tuhan mendengar doa kami ini…

13483993201340155176

Gunung Sago, diambil beberapa ratus meter dari rumah saya..

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

BBM Naik Kenapa Takut? …

Mike Reyssent | | 30 August 2014 | 00:43

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | | 30 August 2014 | 04:53

Jokowi-JK Berhentilah Berharap Tambahan …

Win Winarto | | 29 August 2014 | 22:16

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 13 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 13 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 17 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 20 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 23 jam lalu


HIGHLIGHT

Sepenggal Kisah dari Laut …

Adi Arwan Alimin | 8 jam lalu

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | 8 jam lalu

Media Baru: Jurnalistik Online …

Adi Arwan Alimin | 8 jam lalu

Hotel Beraroma Jamu Tradisional …

Teberatu | 8 jam lalu

Menanti Pagi Di Kintamani …

Dewi Nurbaiti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: