Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Triyatni M

dosen, arsitek, bekerja di Universitas Hasanuddin

Perjalanan ke Sorong & Raja Ampat (2)

REP | 10 June 2012 | 16:59 Dibaca: 2197   Komentar: 4   1

Menuju Raja Ampat

Setelah mengikuti acara seminar sagu, dari Sorong kami menuju Waisai yang merupakan ibukota Kabupaten Raja Ampat dengan menggunakan KRI Banjarmasin. Bila menggunakan kapal cepat, Sorong-Waisai bisa ditempuh sekitar 2-3 jam. Dengan KRI jarak tersebut ditempuh lebih lama yaitu sekitar 5-6 jam, karena kapal lebih besar. Waktu yang cukup untuk menikmati pemandangan lautan dan pulau-pulau yang ada antara Sorong-Raja Ampat.

Sebagai wilayah kepulauan, Raja Ampat sangat bergantung pada alat transportasi laut. Karena itu, sebagai tujuan wisata, Raja Ampat menjadi relatif mahal. Beberapa biro perjalanan menawarkan paket wisata dengan tarif 20-30 juta selama seminggu dari Jakarta. Bandingkan dengan paket wisata Jakarta-Singpura, Jakarta-Hongkong atau Jakarta-Thailand. Mahalnya biaya perjalanan dikarenakan harga BBM di Raja Ampat 10 ribu per liter. Itupun sering sulit didapatkan.

Saat meninggalkan Sorong, dari atas kapal kami dilepas oleh pulau Dofior yang ada di depan Pelabuhan Sorong. Di pulau kosong ini terdapat tugu selamat datang dengan patung ikan lumba-lumba di puncaknya. Lumba-lumba banyak ditemui dalam perjalanan. Dimana ada lumba-lumba, disitu ada cakalang atau tuna. Perairan Sorong-Raja Ampat memang kaya dengan ikan cakalang, karena itu juga banyak lumba-lumba. Bila lumba-lumba muncul di permukaan air, awak kapal berteriak memberi salam agar mereka mau muncul di muka air.

1339300849691887426

Pulau Dofior terletak di depan kota Sorong yang menyambut dan melepas kapal yang datang dan pergi.

Mengapa Raja Ampat

Kalana Fat dalam bahasa suku Maya, atau gugusan kepulauan yang kemudian dikenal dunia sebagai Raja Ampat, terletak di bagian kepala burung sebelah Utara Papua, berbatasan dengan Laut Seram dan Samudera Pasifik.

Raja Ampat memiliki sekitar 610 pulau dan yang berpenghuni hanya 35 pulau. Empat pulau besar adalah Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool. Alkisah empat raja dari kepulauan ini berasal dari empat dari tujuh butir telur yang ditemukan oleh seorang putri. Empat butir telur menetas menjadi pangeran yang kemudian memimpin empat wilayah di kepulauan yaitu wilayah suku Wage di Pulau Waigeo, Kerajaan Salawat, Kerajaan Sailolof di Pulau Salawati Selatan, dan Kerajaan Umsool di Pulau Misool.

13393004321647988957

Raja Ampat terletak di kepala burung tanah Papua

13393011471982304268

Gugusan Kepulauan Raja Ampat

Terkuaknya panorama alam bawah laut Raja Ampat yang tadinya cuma gugusan pulau yang sebagian besar tak berpenghuni dan kemudian menjadi perhatian dunia tak lepas dari kedatangan Max Ammer seorang petualang pemburu harta karun kelahiran Belanda yang besar di Nigeria. National Geographic edisi September 2007 mengulas tentang saat tahun 1990 Max ke Raja Ampat untuk memburu harta karun kapal dan pesawat yang karam pada masa Perang Dunia II. Max ini kemudian menjadi legenda Raja Ampat, karena melupakan niat awalnya akibat terpesona dengan keindahan alam bawah laut. Dia menjadi bagian penting dari konservasi lingkungan, melibatkan pemuda-pemudi lokal Papua untuk mencari nafkah sambil menjaga lingkungannya. Sayang kami tidak sempat bertemu dengan Max yang menurut warga Raja Ampat adalah orang yang paling tahu tentang wisata bahari Ampat.

Tahun 1998 Max melakukan penyelaman degan dibimbing Gerald (Gerry) Allen, seorang ahli perikanan dari Australia. Dalam satu kali penyelaman, Gerry terkejut karena menciptakan rekor menemukan dan menghitung 283 spesies ikan. Tahun 2002 hasil survey lembaga konservasi dunia Conservation International dan The Nature Conservation menemukan bahwa Raja Ampat memiliki 75% spesies karang dunia, yang tidak dimiliki tempat-tempat yang lain. Hal ini disebabkan karena Raja Ampat merupakan jantung dari segitiga koral dunia yang terletak di antara negara Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea, Philippines, Solomon Islands dan Timor-Leste. Kondisi ini yang kemudian membuat para ilmuwan dan penikmat keindahan bawah laut menjadikan Raja Ampat sebagai sesuatu yang wajib dikunjungi.

Ketika tahun 2002 Raja Ampat menjadi kabupaten sendiri lepas dari Kabupaten Sorong, kesadaran akan kekayaan alam laut yang luar biasa dengan sigap ditanggapi oleh pemda setempat yang segera mengambil keputusan menjadikan potensi unggulan wisata bahari sebagai sumber kesejahteraan warganya. Promosi wisata bahari ini dilakukan secara serius dilengkapi dengan peraturan daerah tentang tata cara menyelam, syarat lokasi selam, aturan keselamatan menyelam, peredaran kapal wisata di Raja Ampat, pelestarian lingkungan, dan sanksi bagi operator wisata yang melanggar. Mungkin Raja Ampat menjadi satu-satunya tujuan wisata bahari di Indoenesia yang sudah memiliki peraturan jelas yang bertujuan menjaga kelangsungan potensi ekowisata bahari mereka.

1339301396415706310

Raja Ampat adalah jantung segitiga koral dunia.

Waisai

KRI Banjarmasin tiba di Waisai di Pulau Waigeo sekitar jam 13.00 WIT. Karena sekeliling Pulau Waigeo ada terumbu karang, kapal lego jangkar di luar pulau. Penumpang diangkut bergiliran oleh dia speed boat KRI dan sebuah kapal feri kecil pengangkut sapi yang bernama Raja Ampat.

Miskomunikasi dengan panitia membuat semua orang mengangkut koper-koper berat mereka ke darat. Hal ini menyebabkan pengangkutan berjalan lamban. Tadinya panitia menyatakan peserta boleh memilih tidur di darat atau di kapal. Saya yang tadinya memilih tidur di kapal akhirnya mencari tempat untuk tidur di darat.

Acara expo pembangunan di Waisai membuat semua penginapan penuh. Pengelola penginapan juga dibuat bingung oleh orang-orang Jakarta yang saling berebut penginapan. Saya memutuskan kalau tidak dapat penginapan, saya akan kembali ke kapal lagi. Setelah berjuang hingga Magrib, akhirnya panitia bisa mendapatkan kamar di sebuah cottage dekat pantai yang nampak baru di bangun. Saya numpang tidur di salah satu kamar mereka.Disini sigmal internet kurang baik, sehingga sulit berkomunikasi lewat media online.

Acara makan malam ditemani dengan senter karena lampu padam. Menunya nasi kotak dengan ayam goreng kecap. Aneh rasanya di pulau kaya ikan, menunya ayam. Inilah ironi pulau-pulau kaya ikan di Indonesia yang menjadi tujuan wisata. Advis saya, bila ingin menikmati ikan saat berkunjung ke pulau terpencil, tinggallah di rumah-rumah penduduk. Kita dapat meminta tolong untuk membeli ikan murah dan segar yang banyak di pasar dan memasaknya sendiri.

Perkembangan ekonomi akibat pembangunan hampir tidak disikapi oleh pemerintah daerah untuk menyiapkan warganya agar bisa ikut memanfaatkan potensi tersebut. Ketika banyak orang asing datang ke suatu daerah tertinggal, mereka bukan cuma butuh penginapan, melainkan juga butuh makanan yang berkualitas. Karena penduduk lokal tidak memperhatikan masalah ini, semua warung atau rumah makan harus mendatangkan tenaga kerja dari luar. Hasilnya, harga makanan menjadi sangat mahal padahal potensi berlimpah.

Tanggal 1 Juni 2012 yang merupakan hari Lahirnya Panca Sila diisi dengan upacara bersama dengan pramuka Waisai. Baru jam tujuh pagi, di jalanan saya sudah melihat anak-anak berseragam pramuka lewat di depan cottage. Karena saya adalah anggota pramuka, saya sudah diminta sejak awal oleh panitia untuk menyiapkan seragam pramuka. Bertemu dengan sesama pramuka di berbagai daerah selalu membuat saya bergairah. Seakan ada gelombang energi yang menyatukan kami saat bertemu.

Upacara dilangsungkan di halaman Kantor Bupati Raja Ampat. Sayang sekali upacara yang idealnya dimulai jam 08.00 WIT menjadi jam 08.00 WIB. Tidak tega melihat anak-anak SD yang berjemur panas dan diguyur hujan menunggu kehadiran para pejabat Jakarta. Di Indonesia Timur, masyarakat bangun lebih cepat dari orang Jakarta. Menunda acara sesuai jam Jakarta membuat mereka kehilangan banyak waktu untuk aktifitas lainnya. Maju, maju, ayo kita maju!

1339302301860471474

Semaphore selamat datang

1339302435772284631

Kami Pramuka Indonesia

Expo pembangunan dilangsungkan di area Pantai WTC. Jangan salah, WTC bukan akronim dari World Trade Center, melainkan “Waisai Tercinta”. Expo pembangunan diikuti oleh sejumlah instansi pemerintah dan swasta. Saya tertarik dengan tenda Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal bidang Invesiasi. Mereka menyediakan banyak sekali permen, balon dan mainan anak-anak. Permen setara dengan “para-para pinang”, sarana perdamaian orang Papua. Jadilah tenda mereka selalu ramai dan penuh sesak oleh pengunjung anak-anak. Kepala deputi mereka kemudian mengadakan lomba Sajojo bagi anak-anak yang berkunjung. Hanya berkisar lima menit, anak-anak sudah membentuk kelompok penari. Saat panitia memutar lagu Sajojo, tarian peserta kompetisi yang energik membuat semua yang hadir ikut bergerak. Luar biasa!

Selama pameran berlangsung, acara juga diisi dengan pawai kelompok kesenian yang ada di Waisai. Seni yang ditampilkan didominasi dengan suling dan tifa. Yang unik, anggota kelompok seni didominasi oleh para kakek nenek. Dengan wajah gelap berkeringat yang berhias cat, mereka sangat bersemangat menghibur penonton walaupun panas sangat menyengat.

13393040681498373203

Berpose dengan latar belakang gapura Pantai Waisai Tercinta

1339304221815154176

Pengunjung pameran. Perhatikan, mereka adalah penikmat pinang.

1339302560929576268

Nenek Waisai yang energik

Saya tiba-tiba ingat kalau belum menikmati “papeda” makanan khas Papua. Saya membayangkan, bila dari Raja Ampat ke Sorong dan langsung ke Makassar, saya pasti tidak punya waktu untuk papeda. Maka sibuklah saya bertanya-tanya tentang warung papeda di Waisai. Akhirnya kami bertemu juga rumah makan yang masih menyediakan papeda saat jam tiga siang.

Papeda yang kami makan terdiri dari semangkuk bubur sagu, semangkuk ikan kerapu masak kuah merah, bukan kuah kuning seperti yang biasa diceritakan. Hal ini karena Restoran Rama yang menjualnya dimiliki oleh orang Manado. Karena itu kuah papedanya yang sudah terasa pedas masih dilengkapi dengan sepiring sambal dan potongan jeruk purut. Ikan kerapunya terasa sangat gurih karena tidak kenal es pendingin. Harga papeda per paket 25 ribu rupiah. Alhamdulillah, terasa kalau kami memang sudah berada di tanah Papua.

13393027252003286733

Papeda Waisai dengan ikan kerapu masak pedas.

Wayag

Berkunjung ke Raja Ampat menjadi kurang afdol tanpa mengunjungi Wayag. Wayag adalah ikon Raja Ampat. Umumnya semua gugusan pulau di Indonesia potensi estetika visualnya mirip-mirip, yaitu memiliki laut jernih, pasir putih, biota laut yang indah, Bentang alam Wayag sangat unik dan tidak dimiliki oleh gugusan pulau lain. Gugusan pulau Wayag ibarat hunian para peri laut, seperti cendawan yang tumbuh di air. Dikelilingi pasir putih dan air yang berwana hijau zamrud. Pemandangan bentang alam di Wayag ini yang membuat wisatawan menganggap mahalnya biaya dan waktu perjalanan sebanding dengan memori visual yang didapatkan.

13393030071279529165

Gugusan kepulauan Wayag

Wayag adalah kumpulan pulau tanpa penghuni. Untuk kesini dapat ditempuh dari Waisai dengan menyewa speed boat bertarif 15 juta atau long boat bertarif 10 juta, dengan kapasitas 10 orang. Wayag juga dapat dikunjungi dari Sorong dengan mengunakan pinisi bertarif 150 juta selama 10 hari untuk 10 orang. Karena itu kunjungan ke Wayag idelanya tidak dilakukan sendiri-sendiri, melainkan dalam kelompok, sehingga biaya perjalanan bisa dibagi.

Tanggal 1 Juni 2012 menjelang Magrib, rombongan kembali ke KRI Banjarmasin untuk berkunjung ke Wayag. Kami tiba di Wayag subuh hari tanggal 2 Juni 2012. Sayang sekali cuaca sedang tidak bersahabat karena mendung dan hujan yang cukup deras. Hal ini membuat langit kelabu dan pulau-pulau Wayag diselimuti kabut. Tanpa kehadiran matahari, terumbu karang tidak menampilkan warna-warninya yang menggoda. Walaupun demikian, keindahan Wayag masih tetap terasa.

1339303523473559554

Gugusan pulau ibarat istana para peri laut

Untuk menikmati Wayag, pemerintah daerah menyediakan pin kalender wisata dengan harga 250 ribu bagi warga negara Indonesia dan 500 ribu bagi warga asing, sebagai pungutan daerah. Pin ini berlaku selama tahun wisata dikeluarkannya. Pin saya berlaku sampai dengan Januari 2013. Saya berdiskusi dengan seorang anggota DPRD setempat tentang hak untuk memasuki Wayag bagi warga lokal. Mereka juga harus membayar, karena ini adalah daerah wisata. Idealnya, penduduk Raja Ampat dibebaskan dari segala macam tarif tersebut, karena lingkungan ini adalah hadiah pencipta untuk mereka. Aneh rasanya ketika lingkungan kita menjadi berharga bagi tamu, kemudian mereka yang tinggal disana malah dijauhkan dengan lingkungan mereka oleh batas biaya yang tak tersentuh.

Sambil menunggu giliran untuk menyelusuri laguna Wayag, acara di KRI Banjarmasin diisi dengan lomba memancing. Peraturan setempat melarang memancing di daerah ini kecuali dengan izin dan untuk kepentingan tertentu. Karena itu hampir tak terlihat ada perahu atau kapal, kecuali mereka yang bertujuan untuk wisata. Terlihat ada yacht yang konon mengangkut pangeran dan puteri Spanyol yang memasuki area Wayag.

Sambil menikmati kesabaran awak yang sedang memancing, nampak seekor penyu sisik besar yang sedang mencari makanan muncul di permukaan air. Keterpesonaan kami yang menikmati membuat tak mampu bergerak cepat mengambil kamera untuk memotret. Saat sadar, penyu sudah menghilang di kedalaman lautan.

Hasil pancingan awak kapal dengan peralatan sederhana menghasilkan ikan yang lumayan besar, mulai dari cakalang, bobara, kerapu dan kakap. Lucu dan menarik melihat para penonton berlomba untuk dipotret bersama ikan-ikan tersebut seolah merekalah para pemancingnya. Hasil lamba dimenangkan oleh kakap merah seberat 8,7 kg. Bisa dibayangkan para petinggi kapal akan menikmati santapan lezat ikan segar di malam hari.

Saya mendapat giliran untuk ke laguna bersama speed boat yang diawaki oleh marinir Ponari. Memasuki laguna Raja Ampat, semua anggota rombongan cuma mampu berteriak “wouw…… wouw…wouw”, tanpa kata lain karena tersihir oleh alam Wayag. Air jernih berwarna hijau zamrud, pulau-pulau kecil ibarat istana dan titik-titik pasir putih, membuat kamera bekerja keras hingga kehabisan energy battrei. Ponari mencari pantai berpasir putih untuk mendarat. Begitu speed boat merapat, seluruh anggota rombongan langsung melepaskan pelampung dan turun sambil berteriak-teriak kegirangan.

Butiran pasir pantai agak kasar, berwarna coklat muda dengan sedikit butir-butir merah. Artinya terumbu karang sudah ada yang rusak. Wayag seperti juga surga ikan mahal lainnya, menjadi tujuan perburuan para pencari ikan yang melakukan pemboman atau pembiusan. Wayag kaya akan ikan hiu. Karena itu walaupun terlarang, banyak nelayan yang melakukan perburuan hiu di Wayag secara ilegal.

1339303673635193866

Wayag adalah milik Indonesia

1339303833422714173

Air yang hijau zamrud membuat ingin berlama-lama disini.

Waktu dua jam menyusuri Wayag sungguh-sungguh sangat minimal. Ketika marinir Ponari mengajak naik ke speed boat untuk kembali ke kapal, saya mengambil sebotol pasir Wayag dengan doa agar saya diizinkan datang lagi kesini. Berharap saya bisa ikut trip kapal pinisi selama 10 hari di Wayag, menyaksikan ikon Wayag dari ketinggian sehingga puas menikmati surga yang diturunkan Allah SWT di Wayag.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | | 19 April 2014 | 08:26

Keluar Uang 460 Dollar Singapura Gigi Masih …

Posma Siahaan | | 19 April 2014 | 13:21

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Sstt, Pencapresan Prabowo Terancam! …

Sutomo Paguci | 10 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 18 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 18 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 21 jam lalu

Timnas U 19: Jangan Takut Timur Tengah, …

Topik Irawan | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: