Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Okti Li

"Pengejar mimpi yang tak pernah tidur!" Salah satu Kompasianer Backpacker… Anda backpacker jugakah? Yuuuk, jalan bareng? Kalau ada selengkapnya

Serunya Wisata Murah Meriah Baduy Dalam: Memperkokoh Semangat Gotong Royong, Kejujuran, dan Cinta Alam

REP | 12 June 2012 | 23:54 Dibaca: 2299   Komentar: 25   5

Saat dapat informasi ada acara ngetrip ala backpacker ke Baduy Dalam, saya sangat antusias, langsung cari panitia dan daftar saat itu juga. Selain waktu keberangkatannnya sudah mepet, saya pikir acara seperti ini susah dan jarang ditemukan. Kalau tidak sekarang, kapan lagi ada kesempatan?

1339499737631345306

Dok. Okti Li

Saya orang USA, alias Urang Sunda Asli. Tapi sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di bumi Baduy yang saya tahu dari pelajaran saat sekolah dasar dulu kalau Baduy itu salah satu suku terasing di wilayah Jabar (saat itu Banten masih masuk di Provinsi Jabar). Banyak keunikan serta hal-hal lain yang tidak saya tahu mengenai Suku Baduy dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya. Padahal saya keturunan Sunda, domisili pun tidak terlalu jauh ke lokasi Suku Baduy. Kalau seumur hidup ini belum pernah menginjakkan kaki disana, oalah, apa kata Dunia? Malu dong!

Bukan tidak ingin sejak dulu jalan ke Baduy, masalahnya dulu ya karena sikon saya yang tidak memungkinkan. Sekarang, saat saya bisa memastikan ikut, so why not? Biaya perjalanannya murah lagi karena even jalan ini murni backpackeran. Jadilah saya menjadi peserta trip ke Baduy, bersama delapan teman lainnya (lima laki-laki dan tiga perempuan) di minggu pertama bulan Mei 2012 itu.

Sabtu 5 Mei 2012 kami berangkat menggunakan kereta ekonomi pemberangkatan pertama jam 07.10 jurusan Catang dengan tarif karcis Rp. 4.000 per orang. Tak sia-sia selepas subuh berangkat dari base camp menuju Stasiun Kota - Jakarta. Datang pagi-pagi selain udara Jakarta masih terasa segar, terhindar dari kemacetan (walau di beberapa titik tetap kena macet juga) yang menguntungkan adalah kami masih kebagian tempat duduk di kereta.

Kehidupan rakyat kelas menengah ke bawah sangat jelas kita temui dengan mengendarai kereta kelas ekonomi ke arah Merak ini. Menyaksikan para pedagang dengan segala trik merayu pembeli; para penumpang dengan segala macam bawaannya, dari mulai gadget canggih sampai hewan ternak semua masuk di gerbong; anak sekolah, pejabat, buruh, dan mungkin juga para pencopet yang beroperasi semua membaur dalam satu kereta. Hal ini adalah sisi lain yang saya sukai dari perjalanan dengan trip ala backpacker, selain murah ongkos (tidak perlu nunggu kaya untuk bisa traveling dan happy) juga bisa lebih dekat dengan kehidupan nyata rakyat Indonesia.

1339499838454958003

Stasiun Rangkasbitung yang menyedihkan (Dok.Okti Li)

Kesabaran, rasa tepo sliro, bentuk pemahaman kebiasaan suatu tempat/daerah dan rasa tanggung jawab benar-benar ditempa dan dilatih saat melakukan perjalanan ini. Suatu pembelajaran hidup yang tidak bisa kita dapatkan di perkuliahan manapun. Pembelajaran sekaligus praktek terjun langsung di lapangan dalam menjalani segala permasalahan kehidupan secara nyata. Dalam kereta ekonomi Jakarta - Catang yang kami tumpangi ini benar-benar tergambar bagaimana rupa rakyat Indonesia sesungguhnya…

Sesuai jadwal, kami turun di Stasiun Rangkasbitung hampir mendekati pukul sebelas siang. Saat teman-teman antri di toilet yang Indonesia banget, saya berkeliling mengambil gambar suasana stasiun yang menjadi pusat sarana transportasi warga sekitar sekaligus sarana laju perekonomian mereka. Pikiran saya melesat kepada Dahlan Iskan. Jika beliau sering menggunakan kereta di Jabodetabek, pasti tanggapannya lain jika menaiki kereta yang saya tumpangi plus kondisi stasiun daerahnya ini.

Saya baru tahu kalau Ari sang ketua rombongan mengambil rute masuk ke Baduy Dalam ini tidak melewati rute pada umumnya melalui Ciboleger, melainkan memakai jalan belakang. Berdasarkan keterangannya, jika melewati jalur Ciboleger jarak tempuh menuju Baduy Dalam itu diperkirakan sepanjang 11 km. Sementara perjalanan itu tak mungkin kami lakukan mengingat tengah hari itu kami masih berada di Rangkasbitung. Jika memaksakan melalui rute Ciboleger, sekitar isya kami tiba di Baduy Dalam.

“]”]13394999201286577518

Dalam angkot yang selalu mogok beserta sebongkah kayu untuk ganjal ban di pintu angkot [Dok.Okti Li

"Lalu apa asyiknya jika sampai di Baduy Dalam cuma numpang tidur doang? Esok pagi kita harus sudah pulang lagi kan?" Tatap mata Ari bagai menghipnotis kami untuk menyetujui rute yang akan diambilnya, yaitu tidak melalui Ciboleger. Ya, memang benar juga, kalau perjalanan jauh dengan waktu yang sangat minim tak akan banyak hal yang akan kita dapat. Apalagi malam hari. Sementara esok pagi kami harus kembali karena seninnya kami harus bekerja menjalani aktivitas sehari-hari.

Setuju dengan usulan Ari sang ketua rombongan, sambil menanti instruksinya kami makan siang, sholat dan beristirahat di sekitar belakang Stasiun Rangkasbitung. Setelah sekian lama gagal dan tidak nyambung akhirnya Ari bisa mengontak Safri (20), orang Baduy Dalam temannya Ari. Akhirnya rute yang akan kami tempuh sudah lebih jelas. Menurut Safri, dari Rangkasbitung kami bisa mencarter angkutan umum hingga ke Desa Parigi dengan jarak tempuh sekitar 30 km. Kalau memakai kendaraan bisa sampai dalam waktu 2 jam dengan kondisi jalan yang apa adanya. Di Desa Parigi nanti Safri akan menjemput.

13394999811012523813

Sawah, pematang, bukit hijau, menjadi pemandangan alam sepanjang jalan menuju Baduy Dalam (Dok.Okti Li)

Kini Ari bersama teman lainnya mencari angkutan yang bersedia mengantar kami ke Desa Parigi di sekitar Pasar Rangkasbitung. Negoisasi berjalan cukup lama dan alot. Ya, kami memberikan harga penawaran yang sangat-sangat minim sementara sopir memberikan tarif yang sangat tinggi. Setelah harga deal, dan kami selesai sholat serta makan, sekitar jam satu siang Ari membawa kami menuju angkutan itu diparkir.

Ya Tuhan! Saya hanya bisa melongo saat angkutan yang Ari maksud adalah sebuah angkutan kota yang sepertinya sudah tidak layak jalan. Khususnya bagian bodi angkutan itu (maaf ya Pak Sopir dan Kondekturnya) lebih mirip pada rongsokan!

1339500054399854581

Adhen, Ari, Stevani dan saya narsis di jalan berbatu menuju Cijahe (Dok.Okti Li)

"Ini bagaimana kalau mogok di tengah jalan?" pertanyaan saya itu bukan hanya untuk Ari, tapi juga untuk si sopir serta kondekturnya. Sama-sama bingung mungkin, baik Ari maupun si sopir itu tak menjawab. Yah, kami pun tanpa banyak omong lagi langsung naik angkot yang saat berjalan bunyinya berisik sekali. Kreyak-kreyok cekat-cekot, malah ada bunyi klotak-klotak gitu dech!

Saat di dalam kota, jalan masih bagus. Angkot yang kami tumpangi masih berjalan cepat. Tapi pas memasuki derah Cirinten, melewati Cisimeut yang jalannya bergelombang naik dan turun apa yang saya khawatirkan itu akhirnya terjadi juga. Saat melewati sebuah tanjakan yang menikung tajam, angkot tidak bisa naik dan mogok! Tragisnya angkot yang sudah direm oleh supir itu malah mundur! Kontan saja kami yang ada dalam angkot panik. Berteriak dan berusaha keluar dari angkot. Ari, Arman dan Mas Herry berhasil berlompatan dari dalam angkot sebelum sopir bisa menguasai kendaraannya itu. Saat angkot bisa dihentikan kami yang masih terjebak di dalam segera keluar.

Alhamdulillah masih diberi keselamatan. Tak terbayang bagaimana jadinya jika angkot tak bisa dikendalikan dalam kondisi jalan turun dan berkelok-kelok. Lalu angkot terbalik misalnya sementara kami masih ada di dalamnya! Naudzubillah...

13395001331139578434

Sadam, adiknya Safri menjemput kami. Ini jembatan batas kami boleh mengambil foto (Dok.Okti Li)

Sejak itu, setiap ada tanjakan kami selalu turun dan memilih jalan kaki hingga angkot bisa dinaiki lagi setelah sampai di jalan yang kondisinya datar. Saat berjalan Adhen mempunyai inisiatif beserta si bapak kondektur mengambil balok potongan kayu dari tempat penggergajian yang ada di pinggir jalan. Walau berat balok itu ia pikul dan disimpan di dekat pintu. Benar saja, potongan balok itu sangat berguna. Beberapa kali angkot tidak naik saat melewati tanjakan dan dengan balok itu ban angkot bisa diganjal. Cukup aman.

Setelah beberapa kali turun naik, kami sampai juga di Desa Parigi sekitar jam empat sore. Kembali Ari berusaha menghubungi Safri. Kami hanya diam di pinggir jalan aspal sambil menunggu keputusan dari sang ketua rombongan. Tukang ojek setempat mengerubungi kami, menawarkan jasa mengantarkan ke perbatasan kampung luar dan kampung dalam, begitu mereka menyebut lokasi perbatasan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam.

Tawaran tukang ojek tidak kami indahkan. Selain harga yang mereka tawarkan sangat melambung, informasi dari Safri yang berhasil dihubungi juga mengatakan kalau jarak dari jalan aspal ke Kampung Cijahe --nama kampung perbatasan antara Baduy Luar dan Dalam-- hanya sekitar 3 km. Dan kami sepakat, memilih berjalan kaki bersama menuju tempat yang diinformasikan Safri itu.

Pemandangan alam desa berupa sawah, pematang, jalan berbatu yang belum diaspal serta bunyi serangga sore menjadi teman kami saat berjalan. Bukit-bukit terlihat dari kejauhan dengan warna hijau yang menyegarkan mata. Perkampungan penduduk masih jarang walau sudah terbilang modern. Dari jauh terlihat satu pemancar BTS yang katanya belum dioperasikan. Pantas sinyal ponsel di jalan itu hanya kedap-kedip dua bar saja.

13395002281719625719

Jembatan bambu yang sangat eksotik. Tradisional, tanpa paku tapi kuat. (Dok. Okti Li)

Dari jauh kami melihat ada serombongan orang berjalan cepat sambil melambai-lambaikan tangannya. Kami cuek saja merasa tidak mengenal siapapun di tempat itu. Ternyata rombongan itu adalah Safri beserta keluarga serta kerabatnya. Ya Tuhan! Mereka sengaja "turun kampung" untuk menjemput kedatangan kami! Saya dikenalkan oleh Ari kepada Safri, adik-adiknya, ayah Safri dan kerabat satu kampung lainnya dari Cibeo. Mereka tampak gembira menyambut kedatangan kami.

"Maaf ya teman-teman, saya terlambat menjemput kalian. Saya tadi terlambat membaca pesan yang dikirim Ari," ucap Safri dengan bahasa Indonesia yang cukup bagus. Ya, bisa berbahasa Indonesia itu sebuah kemajuan untuk Safri beserta warga Baduy Dalam lainnya. "Kami tidak pernah belajar secara formal karena adat kami melarang untuk bersekolah." Jelas Safri.

13395003471967286748

Sadam menggandeng Editha. Tolong menolong sejak kecil :) (Dok.Okti Li)

Saya baru sadar, kalau Suku Baduy memang sangat menjaga tradisi nenek moyang serta adat istiadatnya. Dulu pernah mendengar cerita, Baduy Dalam menolak sekolah gratis dari pemerintah dengan alasan mereka ingin tetap bisa memegang tradisi serta adat istiadatnya. Jadi kalau warga Baduy Dalam bisa bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia, itu adalah sebuah hal yang sangat menarik, bukan? Bagaimana Safri dan teman-temannya bisa berbahasa Indonesia?

Satu lagi! Safri bilang dia terlambat membaca pesan dari Ari. Apakah pesan itu maksudnya sms? Safri warga Baduy Dalam bisa sms-an? Safri Warga Baduy Dalam boleh memakai ponsel yang menurut adat istiadat mereka bukankah sebuah hal yang sangat dilarang keras? Bagaimana bisa sementara di kampung mereka tidak ada listrik, tidak ada sinyal dan bagaiamana bisa Safri mengerti cara menggunakan ponsel?

Sambil berjalan menuju Baduy Dalam, berbagai pertanyaan itu terus bergelayut dalam benak saya. Penasaran, dan saya tak bisa berlama-lama menahannya. Saat berkesempatan berjalan dekat Safri, buru-buru saya tarik dan mengajaknya ngobrol. Safri sempat kaget, katanya saya orang mana kok bisa berbahasa Sunda yang halus? Dia manggut-manggut saat semuanya saya jelaskan kalau saya bukan orang Jakarta, sebagaimana perkiraannya.

1339500502801215299

Kekeluargaan yang sangat erat. Sudah besar menjadi generasi bangsa yang membanggakan (Dok.Okti Li)

"Gimana cara belajar kamu bisa menggunnakan hp padahal kamu kan enggak sekolah?" Todongku langsung pada pertanyaan inti. Safri hanya tersenyum diantara remang senja. Sambil tersenyum, tanpa kata, telunjuknya menunjuk ke arah kedua matanya, kepala serta dadanya. Thats all?

"Maksudnya?" cecarku makin penasaran.

"Ya, aku memang gak sekolah. Tapi aku bisa melihat, bisa berpikir dan aku punya hati untuk merasakan..." ucapnya enteng.

Aku tertegun sekian lama sambil berjalan dalam remang. Mencerna kata-kata Safri saat magrib menjelang.

"Banyak orang Jakarta datang ke rumah, dari mereka aku belajar. Aku juga mengajarkan lagi apa yang sudah aku bisa itu kepada keluargaku, saudara-saudaraku, dan dengan itu aku semakin banyak tahu, semakin cepat bisa dan lancar."

Baduy Dalam tidak ada listrik juga tidak ada sinyal telepon seluler. Karenanya jika ingin berkomunikasi, Safri harus "turun kampung" dulu ke Cijahe yang sudah termasuk wilayah Baduy Luar. Saya baru mengerti kenapa Ari harus menghabiskan waktu lama untuk menghubungi Safri. Ya karena menunggu Safri keluar dari Baduy Dalam dulu. Begitu juga saat batre ponsel habis, Safri harus numpang men-charge ponselnya di tempat kerabat yang berada di Baduy Luar. Saya hanya bisa mengelengkan kepala saat membayangkan, sekali "turun kampung" itu menghabiskan waktu paling cepat dua jam.

13395005831211267757

Pakaian orang Baduy Dalam yang sangat sederhana membungkus jiwa mereka yang mulia (Dok.Okti Li)

Ketakjubanku kepada Safri dan warga kampungnya semakin besar. Bukan hanya terhadap keramah-tamahannya yang sangat tinggi, pun juga bukan hanya karena mereka pandai berjalan dalam gelap malam tanpa mengandalkan cahaya senter atau lilin sebagaimana kita biasa menggunakannya di kota jika listrik mati, bukan pula karena telapak kaki mereka kuat-kuat mampu berjalan kaki sepanjang hidupnya kemanapun mereka pergi tanpa memakai alas kaki (memakai sendal atau sepatu serta naik kendaraan adalah sebuah larangan keras untuk warga Baduy Dalam) tapi terlebih karena kepandaian mereka dalam mensyukuri serta penghormatan yang sangat tinggi atas karunia yang diberikan-Nya terhadap mereka.

Warga Baduy tidak memeluk agama. Saya hanya tahu mereka mempercayai kepercayaan secara turun temurun yang disebut Sunda Wiwitan. Warga Baduy juga tidak mengerti apa itu Pancasila, GBHN, UUD 45 apalagi APBN, dlsb. Tapi rasa syukur mereka terhadap karunia sangat tinggi dan benar-benar merealisasikannya. Kejujuran, toleransi, kerukunan, gotong royong, hidup damai saling membantu sangat tinggi mereka junjung.

Safri contohnya. Seperti diakuinya, ia belajar bahasa Indonesia sudah hampir tiga tahun. Setelah dia bisa, dengan rendah hati dia membagikan ilmunya kepada saudara serta temannya. Diajarinya mereka dengan sabar, ikhlas serta kontinyu. Tanpa pamrih, kecuali harapan dalam dirinya supaya ilmu yang didapatnya bisa diamalkan dan tidak sia-sia. Begitu mulia serta luhur nilai-nilai kehidupan mereka, bukan? Sadar atau tidak itulah sifat serta watak asli penduduk Indonesia, kawan. Kita yang merasa sudah lebih maju serta modern dari mereka tidakkah merasa malu kalau dalam diri ini masih ada rasa serakah serta egois?

Ketika berada di Baduy Luar, Safri melihat orang menggunakan ponsel. Ia pun mempelajarinya, bertanya dan terus mempraktekan. Bagaimana ia menyusun huruf latin sehingga bisa terangkai menjadi sebuah kata dan kalimat, bagaimana ia mempelajari fitur-fitur dalam ponsel hingga ia bisa menggunakannya sebagaimana layaknya kita yang bersekolah sejak usia tujuh tahun. Bagaimana seorang Safri warga Baduy Dalam yang terikat oleh tradisi serta adat istiadat yang sangat kuat namun bisa menjejeri kehidupan modern sehingga tak tertinggal atau justru tergerus zaman.

Safri dan warga Baduy Dalam lainnya mereka itu sebetulnya orang yang berilmu, tetapi sikap mereka selalu rendah hati.

Saat magrib itu kami berjalan dalam kegelapan dengan beban barang bawaan yang cukup berat, mereka dengan senang hati membawakan barang-barang kami. Membantu kami sepenuh hati dengan rasa tanggung jawab supaya kami --para tamunya-- benar-benar selamat serta aman. Tuan rumah yang sangat luar biasa...

"]“]”]1339500660442216498

Editha, Safri, Sapni, Sarta dan pamannya Safri. Bersama adalah keluarga (Dok.Okti Li)

Seperti merestui perjalanan kami, hujan beberapa hari itu tidak turun. Menjelang isya kami sampai di Kampung Cikertawana ditemani jutaan bintang di langit yang membentang. Cikertawana adalah salah satu pemukiman warga Baduy Dalam, selain dua kampung lainnya yaitu Cibeo serta Cikeusik. Sepi, satu kata yang saya bisa gambarkan untuk Cikertawana malam itu.

Ternyata warga Cikertawana semuanya sedang berladang. Jika berladang, mereka memang menginap dan tinggal beberapa hari. Kampung sunyi sepi karena ditinggal pergi. Berladang bagi penduduk Baduy Dalam bukan hanya sekadar mata pencaharian, tetapi juga sebuah ritual ibadah yang mana saat menanam padi gogo menurut kepercayaan mereka adalah sebuah ritual mengawinkan dewi padi atau Nyi Pohaci Sanghyang Asri. Karenanya mereka berladang dengan sepenuh hati serta sangat menjunjung tinggi aturan adat nenek moyangnya.

1339500765708217508

Narsis di jembatan bambu yang Indonesia banget (Dok.Okti Li)

Iqbal salah satu teman kami entah kenapa di Cikertawana itu kakinya kena kram sehingga sementara waktu tidak bisa jalan. Ayah Safri yang bernama Pak Narja langsung memberikan pertolongan pertama. Kaki Iqbal diurutnya, dan meski sudah terbilang tua, dia sanggup mengendong Iqbal hingga sampai di rumahnya di Cibeo!

“Gak apa, sudah biasa berat mah,” kata Pak Narja serius.

Tapi tentu saja kami tidak ingin itu terjadi. Arman berusaha memberikan obat nyeri otot supaya kaki Iqbal tidak terlalu sakit dan bisa dipaksakan untuk berjalan. Akhirnya, sambil digandeng Arman serta Adhen, Iqbal memaksakan diri jalan menuju Cibeo, rumah keluarga Safri.

Jam menunjukkan setengah delapan malam saat kami sampai di perkampungan Cibeo, lokasi rumah Safri berada. Gelap gulita kami temui dimana-mana. Rumah warga hanya diterangi oleh satu buah lampu tradisional. Terbuat dari tempurung kelapa yang diberi satu sendok minyak goreng sebagai bahan bakarnya. Untaian kapas atau kain secukupnya sebagai penahan nyala api. Sudah. Dengan penerangan sederhana itu mereka bertahan dalam mengarungi malam.

13395009701864097501

Rumahku istanaku (Dok.Okti Li)

Safri bersama seorang temannya bernama Jali mengantar saya, Edita, Stefani dan Devi ke pancuran untuk membersihkan diri dan mengambul wudhu. Sementara Sarta bersama Sapni mengantar Mas Herry dan Arman ke sungai. Sejak awal kami sudah diinformasikan, kalau Baduy Dalam sangat menghargai alam dan tumbuhan. Karenanya malam itu kami membersihkan diri tidak menggunakan sampo maupun sabun. Menyikat gigi saja tanpa pasta gigi. Luar biasa penghargaan warga Baduy terhadap karunia serta berkah dari Yang Maha Kuasa. Mereka benar-benar menjaga supaya alam serta isinya tidak tercemari produk-produk luar dan tetap berorientasi pada kemurnian alam. Itulah Baduy Dalam yang sudah menyatu dengan alam Indonesia. Mereka tidak pernah menyakiti alam dimanapun mereka tinggal. Bagi mereka, tumbuhan maupun air harus dijaga dengan baik.

1339501062307766721

Rumah sederhana warga berhati mulia (Dok.Okti Li)

Setelah sholat dan makan bersama-sama, kami ngobrol ramai-ramai. Tidak hanya keluarga Safri yang menjadi tuan rumah bagi kami malam itu, tapi juga saudara Safri lainnya dari rumah sebelah berdatangan dan ikut ngobrol bersama kami. Keadaan kampung gelap gulita, hanya bercahayakan lampu teplok seadanya (senter serta lilin perbekalan kami simpan dulu) beserta kelap-kelip bintang di langit sana. Sengaja kami gelap-gelapan, supaya kami merasakan sensasi kondisi alam Cibeo yang benar-benar alami, jauh dari modernisasi.

Stevani dan Devi sempat sibuk saling berkomentar saat di halaman ada beberapa kunang-kunang berterbangan sangat indah. Bahkan Edita bilang baru kali itu ia bisa melihat langsung apa yang disebut dengan kunang-kunang. Ya, di Jakarta sebuah kunang-kunang bisa saja menjadi sebuah hal yang langka. Kunang-kunang bisa menjadi sebuah objek wisata yang menarik bagi warga kota. Malam itu kami hampir tidak tidur karena obrolan yang seru terus saling sambung-menyambung. Gelak tawa serta banyolan yang terus saling timpal menimpal tak habis-habisnya hingga sepertiga malam terakhir tiba.

13395019671871738576

Kenangan bersama Safri (Dok.Okti Li)

Keesokan paginya, setelah berkeliling kampung dan beramah tamah dengan warga sekitar yang tidak berangkat ke ladang kami kembali berkumpul di rumah Safri. Baru kali itu saya bisa mengamati bentuk bangunan rumah Baduy Dalam serta isinya. Jika malam gelap gulita karena pencahayaan kurang, tak jauh beda saat siang yang pengap serta sesak pula karena rumah tak berjendela kecuali ada beberapa lubang bilik bambu yang sengaja anyamannya direngangkan sehingga kita bisa mengintip ke luar. Peralatan dapurnya sangat sederhana kebanyakan terbuat dari bambu dan masih tradisional.

13395015785631910

perjalanan mendaki melewati alam perbukitan yang hijau (Dok.Okti Li)

Pukul enam pagi (itu sudah sangat siang menurut ukuran waktu warga Baduy Dalam untuk menjalankan aktivitas) Pak Narja berangkat ke Cijahe membantu kami mencarikan angkutan untuk pulang ke Rangkasbitung. Kebetulan ada kerabat Safri yang tinggal di Baduy Luar dan memiliki angkutan yang biasa dipakai ke Pasar Kroya. Sebelumnya Darti –istrinya Safri– sudah lebih dahulu pamitan hendak ke ladang. Begitu pula ibunya Safri, sambil mengendong adik terkecil Safri, ia berpamitan hendak ke lumbung. Mereka mengucapkan terimakasih dan memohon maaf jika nanti kami kembali ke kota tidak bisa mengantar.

Luar biasa! Bagi saya pernyataan mereka itu adalah bentuk kesopansantunan dari seorang tuan rumah terhadap tamu yang benar-benar luar biasa. Meski warga Baduy Dalam ini tidak mengenyam pendidikan formal, tapi mereka memiliki perilaku yang beradab, santun dan tanggung jawab. Satu contoh lagi bagi saya yang harus banyak dipelajari dari mereka. Sambil menunggu Pak Narja kami kembali ngobrol rame-rame sambil mencicipi buah kokosan dan asem kranji hasil dari hutan Baduy Dalam.

Selain berladang, warga Baduy Dalam juga menjual asem kranji, buah kokosan serta madu yang mereka dapat dari hutan sebagai lahan usahanya. Kami membeli semua itu sebagai oleh-oleh yang akan kami bawa pulang ke Jakarta. Selain berbagai bentuk kerajinan tangan lainnya yang ditawarkan oleh warga Baduy Luar tentunya.

13395017831634815075

Icon lumbung padi Suku Baduy di Cijahe (Dok.Okti Li)

Sambil ngobrol, Safri meminta alamat serta nomor ponsel saya. Saya yang terbiasa membawa kartu nama memberikan kartu nama dan Safri sendiri yang membacakannya. Kami tertawa-tawa saat Safri bertindak lucu saat ada tulisan/huruf Mandarin yang tidak dimengertinya. Orang bilang, suatu waktu mereka bisa saja datang ke alamat yang kita beri tanpa kita duga. Mengingat itu, saya buru-buru menambahkan alamat kampung di Sukanagara di balik kartu nama saya. Berharap, suatu saat mereka bisa berkunjung ke kampung untuk mempererat tali silaturahmi dan semakin memperpanjang persaudaraan.

Pukul setengah delapan, Pak Narji datang membawa kabar ada angkutan bak terbuka yang bisa mengantarkan kami kembali ke Rangkasbitung. Alhamdulillah, menggunakan angkutan yang biasa mengantarkan barang ke kota melahirkan kepercayaan kalau kendaraannya tahan banting tak seperti angkot yang kami carter kemarin. Harapan kami akan lebih cepat sampai pun semoga menjadi nyata.

Selama berinteraksi dan tinggal di Baduy Dalam kami belajar banyak dari mereka. Belajar tentang kepemimpinan, loyalitas, kesederhanaan, dan tentu saja kejujuran. Dengan sangat berat hati kami meninggalkan Baduy Dalam. Kampung dengan penuh kesederhanaan, yang masih berkomitmen untuk tidak ikut terbawa arus modernisasi.

Kampung yang memiliki pemimpin yang dihormati seluruh warga. Kampung yang seluruh warganya patuh pada hukum. Kalau saja pelajaran tentang loyalitas pada pemimpin dan hukum, kesederhanan, kejujuran serta sikap ramah tamah kepada sesama itu ada pada diri kita yang hidup di luar Baduy Dalam ini saya yakin Indonesia pasti menjadi bangsa yang luar biasa. Luar biasa seperti perilaku warga Baduy Dalam yang rasanya terpatri dalam hati.

13395018682092485358

Ari selaku ketua rombongan berpamitan kepada Safri di Cijahe (Dok.Okti Li)

Sesampainya di Cijahe, saya langsung menyalakan ponsel dan up date status di jejaring sosial. Teman-teman pun saling berteriak saking bahagianya kembali bisa bertemu sinyal walau hanya dua bar. Ramai saling memberikan komentar saat upload foto dan men-tag teman-teman yang gak bisa ikut dalam acara ini. Dih, baru semalam di Baduy Dalam saja sudah seperti itu antusiasnya, gimana kalau tinggal lebih lama ya? Hahaha…

13395065201960954227

ceria kembali bertemu sinyal dan bisa apdet status :D (Dok.Okti Li)

1339507137389103328

ceria mengendarai bak terbuka walau panas membakar raga (Dok.Okti Li)

Perjalanan pulang menggunakan angkutan bak terbuka sangat meriah dan tak terasa capai. Padahal panas matahari sangat memanggang kulit berbaur udara yang bercampur debu jalanan. Perjalanan pun terbilang cepat. Pukul sebelas lewat kami sudah sampai di Rangkasbitung. Sambil menunggu keberangkatan kereta jurusan Tanah Abang yang berangkat pukul dua siang kami bisa leluasa istirahat di belakang Stasiun Rangkasbitung. Bahkan kami dengan leluasa bisa lesehan di pelataran stasiun bersama calon penumpang lainnya. Tertawa-tawa melihat foto-foto yang berhasil kami jepret.

Puas rasanya Minggu sore 6 Mei 2012 kami bisa kembali ke Jakarta  setelah melakukan wisata yang seru, murah meriah dan mendapatkan banyak ilmu kehidupan.(0l)

Opera Travel Blog Competition

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Demonstrasi KM ITB: Otokritik untuk …

Hendra Wardhana | 6 jam lalu

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 11 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 12 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 13 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: