Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Finaisme

Sekarang berpuas hati hanya menjadi istri dan ibu dari 3 bos yang masih balita. Tapi selengkapnya

Tips Naik Taksi di Kuala Lumpur

OPINI | 23 June 2012 | 11:36 Dibaca: 5251   Komentar: 3   0

Dilematis memang soal taksi menaksi di KL. Di satu sisi jasa taksi sangat dibutuhkan baik oleh warga maupun turis. Tapi di sisi lain mendapatkan pengalaman buruk naik taksi di KL sudah bukan rahasia lagi. Walaupun KL dan sekitarnya tercakup dalam sistem transportasi kereta, tapi kita memang akan sering butuh taksi. Entah karena belanjaan banyak, kepanasan, jarak tujuan jauh dari stasiun kereta atau karena kaki sudah pengkor seharian jalan kaki.

Skenario menyebalkannya ada banyak macam. Yang paling juara tentunya taksi ‘nembak’ yang mangkal di depan pusat perbelanjaan dan obyek wisata. Supir taksi tipe ini sangat mengerti kalau pengunjung kedua tempat itu rata-rata turis. Karena warga lokal biasanya tidak ‘gentayangan’ di kota Kuala Lumpur kecuali para pekerja kantoran atau karyawan toko. Dengan alasan sudah lama menunggu, mereka enggan menggunakan argo. Akhirnya turispun menyerah karena tidak tahu jalan atau sudah banyak belanjaan ataupun kepanasan tak sanggup jalan.

Skenario menyebalkan lain adalah supir taksi yang menolak mengantar kita ke tujuan. Saya pernah menyetop lebih dari 10 taksi di pinggir jalan selama hampir 1 jam tanpa hasil. Penolakan seperti in cukup umum (dan super annoying!) karena supir taksi di KL lumayan pemalas melewati jalan macet atau ke tujuan tertentu. Sekitar jam sholat jumat juga agak sulit mendapatkan taksi. Bukan karena mereka jumatan, tapi karena mereka tidak mau melewati rute yang banyak mesjidnya. Penolakan lain biasanya terjadi jika anda minta diantar ke tempat yang jauh atau Anda menyetop taksi yang lewat diantara taksi yang mangkal. Supir taksi yang tidak mangkal harus mendapat ‘restu’ dari supir taksi mangkal untuk mengangkut penumpang.

Karena KL adalah rumah sementara saya dan kami belum diijinkan mengemudikan mobil kantor di 2 bulan pertama, jadilah saya sangat akrab dengan taksi. Memang butuh waktu untuk berbesar hati menghadapi jasa taksi ini. Namun di sisi lain, banyak cerita dan pengalaman yang saya peroleh dari para supir taksi yang saya rasa sangat berguna untuk bekal pengunjung Kuala Lumpur yang lain.

JENIS DAN TARIF TAKSI DI KL

Di Kuala Lumpur beroperasi 3 jenis taksi :

1. Taksi bandara berwarna hitam yang khusus mengantar penumpang dari bandara KLIA ke kota. Harga pas dibayar di counter taksi di terminal kedatangan. Harga ditentukan berdasarkan jumlah penumpang dan jarak tempuh. Taksi ini dilarang mengangkut penumpang di tengah kota. Kalau dari bandara AirAsia / LCCT, taksi bandaranya mirip dengan taksi umum yaitu bercat merah dan putih, dengan stiker khusus. Sama dengan taksi hitam, penumpang sebaiknya membeli voucher taxi di dalam bandara. Sesaat setelah bagian pengecekan bea cukai dilewati akan ada counter resminya.

2. Taksi eksekutif alias taksi biru. Taksi ini hanya ada di KL tapi bisa mengantar penumpang ke luar kota. Di desain untuk mengakomodasi turis, jadi jangan heran kalau harganya 2x lebih mahal dari taksi biasa. Flagfare-nya 6 ringgit. Untuk menjadi pengemudi taksi eksekutif, seorang calon supir harus mengikuti kursus menjadi supir merangkap tur guide. Dengan harga lebih, penumpang bisa menikmati mobil yang lebih baru, bersih terawat dan banyak diantaranya adalah mobil berkapasitas penumpang hingga 7 orang. Plus supir yang berpakaian bersih, lebih ramah dan bisa menjadi konsultan wisata.

3. Taksi biasa alias taksi bajet (budget). Ini dia taksi biang kerok yang sering dikeluhkan orang. Hubungan saya dengan taksi bajet seperti ABG pacaran. Benci sama cinta gonta ganti dengan mudahnya. Tentunya saya senang taksi bajet karena tarifnya jauh lebih murah dari taksi eksekutif yaitu flagfare 3 ringgit saja. Tapi supirnya banyak yang gak punya ‘manner’. Kisah-kisah menyayat hati pun sering terjadi ketika saya naik taksi bajet. Plus armadanya lebih banyak yang jelek dan mereka paling hobi ‘ngetem’.

Selain harga berdasarkan argo, taksi di KL juga menerima booking per jam atau harian. Harga standar sewa perjam dalam kota KL untuk taksi bajet adalah 35 ringgit sementara taksi biru 50 ringgit. Harga ini bisa menjadi patokan Anda jika terpaksa pakai taksi tembak. Kalau jarak tempuh 10 menit misalnya, jangan bayar lebih dari 10 ringgit. Untuk booking taksi per hari, misalnya day trip ke Malaka, taksi bajet mulai dari 400 ringgit dan taksi eksekutif 500 ringgit. Mereka juga bersedia untuk dibooking bermalam. Ke Penang, Langkawi, Perak, etc. Harga-harga ini sangat fleksibel tergantung jarak, jumlah jam dll. Kalau sudah langganan, biasanya bisa ditawar.

CARA MENDAPATKAN TAKSI ARGO YANG AMAN

Sudah saya bilang tadi, sekarang saya sudah temenan sama taksi, kalau kita gak bisa mengubah mereka kita yang mesti beradaptasi, bukan? Berikut ada beberapa solusi yang bisa dicoba juga oleh siapapun.

Pertama, naik taksi dari taksi stand. Di mall utama KL seperti Suria di menara Petronas ataupun Pavilion di Bukit Bintang sudah disediakan taksi stand untuk menghindari penipuan tarif. Anda akan diminta membayar 2 ringgit ke loket taksi lalu mereka akan panggilkan taksi untuk Anda. Di Suria KLCC mereka hanya menyediakan taksi eksekutif. Sementara di Pavilion mereka menyediakan taksi bajet juga.

Kalau di mall tersebut tidak ada taksi stand resmi, Anda bisa coba jalan kaki ke lobi hotel terdekat. Dengan begitu Anda bisa naik taksi yang ngetem di lobi hotel ataupun taksi yang baru saja menurunkan penumpang. Keuntungan naik taksi yang ngetem di lobi hotel adalah keamanan. Beberapa hotel memiliki petugas khusus taksi yang mendata taksi-taksi yang ngetem di sana. Sehingga agak mudah untuk dilacak jika ada barang tertinggal atau jika Anda ada masalah dengan supirnya. Taksi yang baru saja menurunkan penumpang (dimana saja, tidak hanya di lobi hotel) hampir selalu menggunakan argo (soalnya baru dapet duit dari pelanggan sebelumnya. gak pelit dia).

Kedua, kita bisa order taksi lewat telepon dimanapun kita berada (tidak harus dari hotel/rumah). Di KL ada banyak sekali perusahaan taksi. Kalau di Jakarta perusahaan taksi dibedakan berdasarkan warna dan ‘pemain’nya sedikit, di KL tidak. Warna ada bermacam-macam, namun biru khusus taksi eksekutif. Pemilik taksi akan diketahui dari tulisan yang tertera di badan taksi (biasanya pintu depan). Jadi kita bisa mendapati 5 taksi berwarna sama tapi dimiliki 5 perusahaan yang berbeda. Dari aneka perusahaan taksi itu, ada 2 nomor telepon yang saya save di hp, keduanya taksi bajet.

Yang pertama Sunlight : 1-300-800-222. Saat memesan taksi mereka menanyakan lokasi jemput, tujuan dan nomor telepon kita. Tak lama kita akan menerima SMS, contohnya seperti ini : ‘Dear MS, ur taxi order (ID1318454) is confirmed to HWB5070 (ini nomor taksi), distance fr pick up point is 1.58 approx.’ Kalau tidak ada taksi pun mereka akan SMS. Tidak ada minimum payment hanya biaya order by phone extra 2 ringgit. Cara ini bisa saja gagal, tapi kemungkinan gagal kecil. Saya pernah menunggu respon hingga 30 menit. Ternyata kalau sudah lebih dari 15 menit tanpa kabar, sebaiknya diabaikan saja, tandanya memang taksi sedang langka. Yang oke dari sunlight ini, tidak hanya mereka punya system database lebih baik tapi juga tersedia taksi bajet kapasitas 7 penumpang. asik kan.

Nomor telepon kedua adalah unicab +60362592020. Prosesnya agak mirip, kita telepon mereka, jawab pertanyaan dan tak lama akan mendapatkan konfirmasi melalui telepon balik. Mereka akan kasih tahu nomor taksi yang menjemput dan perkiraan waktunya. Bayar ekstra 2 ringgit juga untuk jasa ini. Armada unicab lebih banyak tapi semua sedan. Kadang kita dapat taksi butut tapi bisa juga ketemu taksi baru. Tergantung nasib lah.

Cara ketiga, kalau Anda suka dengan pelayanan supirnya dan kondisi taksi, minta nomor hp-nya! Semua supir taksi (kecuali taksi bandara yang hitam) menerima order langsung ke hp mereka. Bahkan banyak diantaranya memang punya langganan khusus. Saya sendiri punya koleksi supir taksi langganan yang akan saya sewa sesuai kondisi. Apakah saya sedang butuh taksi besar, butuh taksi murah atau butuh supir taksi yang kenal jalan tikus.

SABAR MENGHADAPI SUPIR TAKSI
Tips terakhir di tulisan ini adalah ‘manner’ kita sebagai penumpang. Sesekali cobalah berempati dengan para supir taksi dan coba bersabar ketika menghadapi komentar ajaib dari mereka. Kalau memang tujuan kita jauh dan kemungkinan ia tidak mendapat penumpang balik atau macet yang serius, beri sedikit tip tambahan. Khusus untuk macet, Anda bisa menawarkan extra 5-10 ringgit sebelum taksi bergerak menghindari ketidaknyamanan ia berkeluh kesah di jalan.

Sebulan yang lalu marak ditulis di koran lokal KL tentang 2 supir taksi yang menghadapi sidang dan harus membayar denda 1000 ringgit karena meminta bayaran keterlaluan dari penumpangnya. Penyebaran berita itu cukup mujarab untuk mengancam supir taksi nakal yang meminta Anda membayar terlalu mahal. Jika Anda mengalaminya, jangan lupa catat nomor plat mobil, warna taksi dan nama supir (kalau terlihat) untuk dilaporkan segera ke polisi.

Seringkali supir taksi membuat komentar miring tentang Indonesia. Kalaupun ia tidak bermaksud buruk, salah kaprah bahasa melayu juga sering menyesatkan. Seperti kata ‘bual’ yang berarti berbincang-bincang dan berkonotasi netral. Coba bandingkan dengan kalimat ‘Anda pembual’ kalau diucapkan di Jakarta. Atau kata ‘seronok’ yang artinya bersenang-senang, jauh dari bayangan seksi. Belum lagi terkadang turis dari Indonesia bernasib sama dengan imigran asal Indonesia, alias terdiskriminasi. Turis dari Indonesia terkenal hemat (tidak royal seperti turis arab), agak bloon (karena bahasa Inggris terbatas) dan murahan (maksudnya, sukanya yang murah-murah saja). Kalau Anda sedang mood menghadapinya, cobalah lakukan dengan elegan. Sia-sia adu mulut
penuh emosi karena justru memberi kesan makin buruk tentang Indonesia.

Saya sendiri, karena terlalu cinta tanah air (oh, my, kok bisa ya?) sering memanfaatkan sesi ngobrol dengan supir taksi sebagai salah satu sarana meluruskan bayangan miring tentang Indonesia. Tanpa terlihat ‘selling to hard’ tentunya. Saya percaya, tindakan kecil tapi sering dilakukan bisa berdampak besar juga. Sebab begitu banyak yang harus diluruskan di tetangga kita itu, setidaknya tercermin dari celetukan para supir ini. Bahwa Indonesia bukan Negara Islam (walaupun mayoritas Muslim), bahwa perempuan tampang melayu boleh mengenakan celana pendek keluar rumah, bahwa terorisme bukanlah budaya Indonesia, bahwa perempuan muslim berhak pindah agama kalau ia mau, bahwa polantas di Jakarta ada juga yang tidak bisa disuap, bahwa Indonesia itu besar gak cuma Jawa (mayoritas asal TKI di sini), Sumatra dan Bali, bahwa banyak orang Indonesia yang murah hati buang duit di Malaysia untuk membantu negara ini memajukan ekonomi mereka (gak cuma cari duit dengan ngarepin gaji ringgit di sini), dll.

Yah, seindah apapun rumput tetangga, rumput kita sendiri tetap harus dirawat kan? Dengan begitu, biar aja ntar tetangga yang iri sama rumput kita. hehe.

Selamat naik taksi di KL!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 8 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 14 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 15 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 16 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Pengumuman Kabinet, di Istana Atau Dimana? …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Dilan dan Milea: Kisah Manis ABG ala Tahun …

Nurussakinah | 9 jam lalu

Nora Samosir, Bintang Indonesia Bersinar di …

Adi Supriadi | 9 jam lalu

Preman …

Bhre | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: