Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Apikecil

Seorang ibu rumah tangga muda, yang ingin selalu berbagi.

Wisata Konservasi Sukamade : dari Pelepasan Tukik Sampai Penanaman Pandan Laut

HL | 30 June 2012 | 20:56 Dibaca: 668   Komentar: 4   3

Sukamade merupakan salah satu wisata alam yang terletak di Banyuwangi - Jawa Timur. Pantai yang berjarak kurang lebih 97 km dari arah barat daya kota Banyuwangi ini merupakan bagian dari kawasan konservasi Taman Nasional Meru Betiri. Lokasi yang dijadikan zona pemanfaatan intensif pengamatan telur penyu dan pelepasan tukik tersebut merupakan pantai yang tenang. Medan yang sulit membuat pantai ini tetap terjaga keasriannya. Untuk mencapai kesana diperlukan waktu yang relatif lama, belum lagi jalur makadam yang panjang dengan sebaran batuan besar seringkali menghambat laju kendaraan. Namun semua itu tak mengurangi minat para wisatawan untuk menjamahnya.

Pada tanggal 22 April 2011 yang lalu (bertepatan dengan peringatan hari bumi), saya berkesempatan mengunjungi the turtle beach ini. Beberapa kawan alumni pencinta alam Jember, mengadakan kegiatan sarasehan lingkungan hidup di sana. Saya dan rombongan berangkat menggunakan truk dengan chasis tinggi, karena hanya itulah kendaraan berkapasitas besar yang bisa menjangkau pantai Sukamade. Untuk rombongan kecil maksimal 5 orang biasanya menggunakan Jeep 4wd. Selain itu, bisa juga ditempuh dengan sepeda motor. Perjalanan dari Jember menuju Banyuwangi (105 km), jarak dari kota Banyuwangi menuju ke kota Pesanggaran (60km), kemudian dilanjutkan ke Sarongan (20km), setelah itu Sarongan-Rajegwesi-sukomade (17km). jadi total semuanya adalah 202 km. Bisa dibayangkan berapa lama kita ada di jalan? Hehehe…

13410458991715975578

Suasana Perjalanan Kami di Dalam Truk

Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan hutan, beberapa diantaranya lahan pertanian penduduk serta kebun coklat dan karet. Ketika sampai di perkampungan, ada keramahan khas penduduk desa yang menawarkan kopi dan beberapa cemilan hasil kebun mereka. Hmm, benar benar suasana yang langka  dan belum tentu kita temui di kota.

134104440686333176

Bersama Mas Feri dan Keluarga (Penduduk Sekitar Sukamade)

Sebelum mencapai pantai Sukamade ada beberapa pemandangan pembuka yang tak kalah anggunnya. Yang pertama adalah Pantai Rajegwesi. Di sana kami menikmati pemandangan pantai berpasir putih yang lengkap dengan gerak gerik aktivitas nelayan. Selanjutnya, kami ditantang jalan rusak, bebatuan terjal, dan tanah liat sepanjang 15 km dari Rajegwesi ke Sukamade. Terkadang kita dapati beberapa ruas jalan yang menyempit karena tanah longsor. Dalam perjalanan Rajegwesi  – Sukamade kami juga menyeberang  4 sungai besar dan 3 sungai kecil. Menurut penduduk, bila musim hujan tiba beberapa sungai tersebut meluap sehingga membuat kendaraan tidak bisa lewat. Satu satunya jalan adalah menyeberang memakai rakit.

1341045993482979541

Beberapa Kawan Mencoba Naik Rakit

View menarik yang kedua adalah Teluk Hijau yang bisa kita nikmati dari atas ( Teluk Damai). Di Teluk Damai ini kita bisa melihat hamparan air laut yang berwarna hijau segar. Di sana juga disediakan jalur berupa tangga kecil dan curam untuk menuju ke Teluk Hijau. Bila musim hujan, tangga darurat ini akan sangat licin dan butuh konsentrasi ekstra agar kita tidak jatuh terpeleset. Sayangnya pada waktu itu saya dan rombongan tak memiliki kesempatan untuk mampir menikmati udara Teluk Hijau yang sejuk. Kami hanya bisa menikmati dari atas saja. Suatu saat bila ada kesempatan yang tepat, saya akan mengunjunginya.

1341044507241529786

Pemandangan Teluk Hijau Dari Atas

Perjalanan yang panjang dan melelahkan akhirnya terbayarkan setelah kita sampai di Sukamade. Melihat nuansa hijau dimana mana, seolah mengobati letihnya terombang ambing di atas truk. Pantai yang ditemukan Belanda pada tahun 1927 ini berhasil membuat saya dan rombongan terhipnotis oleh eksotismenya yang misterius. Kegembiraan kami bertambah, ketika tahu dalam agenda kegiatan ada pengamatan penyu di malam hari, pelepasan tukik dan penanaman pandan laut. Wow, rasanya perjalanan mengandung muatan yang lengkap sekali.

1341044622741729157

Saya dan Rombongan Setelah Tiba di Pelataran Cottage Sukamade

Tidak perlu khawatir untuk masalah tidur dan konsumsi. Di Sukamade disediakan beberapa Cottage dan Camping Ground. Bila tak membawa tenda, kita bisa menginap di Cottage-nya. Khusus untuk acara pertemuan, disini juga disediakan aula lengkap dengan sound dan peralatan yang kita butuhkan. Hanya saja kekurangannya, listrik tidak menyala 24 jam. Karena memakai diesel, listrik hanya sampai pukul 22.00 WIB. Namun, ketika ada acara kita bisa minta perpanjangan. Untuk urusan konsumsi, ada juga warung yang menyediakan beberapa makanan lokal dan tentu saja makanan laut. Tapi jangan berharap kita bisa mendapati menu daging penyu dan telur penyu. Pengawasan petugas terhadap setiap pengunjung sangat ketat. Lagi pula, Sukamade merupakan wisata konservasi. Apakah pantas jika kita berharap mendapatkan menu menu tersebut di sana? Ada baiknya kita mengabaikan budaya konsumerisme yang semakin membabi buta.

1341044855822239446

Biasanya, Penyu bertelur pada bulan Mei, Juni dan Juli. Hasil pengamatan petugas pada TNMB (Taman Nasional Meru Betiri), hampir tiap hari ada penyu yang mendarat di Pantai Sukamade, selama Januari-Desember. Penyu hijau merupakan penyu yang sering mendarat di pasir putih Pantai Sukamade. Selain itu,obyek wisata lain yang ada di kawasan pantai pendaratan Penyu adalah hutan mangrove yang terletak di muara timur Pantai Sukamade. Sungai di sekitar hutan mangrove dapat digunakan berkano pada sore hari sambil melakukan pengamatan burung seperti Roko-Roko, Elang Laut, dan Dara Laut.

Pengamatan Penyu dilakukan sekitar pukul 20.00 – 24.00. Menurut petugas disana, kami harus ekstra sabar menunggu. Saat itu kami diminta menunggu di pesisir pantai oleh petugas. Saat ada tanda kemunculan penyu kami diberi kode lampu senter dari arah lokasi. Semua rombongan sangat antusias menuju kesana. Petugas memperingatkan kami agar tidak berdiri di depan lintasan jalan penyu, karena akan menyebabkan penyu-nya ngambek, hehehe.. Kami pun menuruti semua aturan yang dijelaskan oleh petugas. Waktu itu kami bisa melihat langsung binatang yang panjangnya hampir 1,5 meter itu berjalan merangkak menuju ke pantai. Selidik punya selidik dia meninggalkan beberapa butir telur yang langsung diamankan oleh petugas. Telur telur ini nantinya akan ditaruh di tempat penetasan telur penyu, setelah menetas dan menjadi tukik (anak penyu) akan dilepaskan lagi ke laut.

1341045003601496060

Pengamatan Penyu di Malam Hari

Setelah mengamati penyu di malam hari, agenda kita esok harinya adalah pelepasan bayi penyu alis tukik. Wah, seluruh rombongan langsung heboh dan sumringah. Mulai dari anak anak sampai orang dewasa ingin turut serta. Tukik yang imut imut ini kita dapatkan dari petugas. Biasanya petugas menyediakan jumlah yang sangat banyak atau disesuaikan dengan jumlah tukik yang siap dilepaskan ke laut. Anak anak bersorak ketika tukik tukik mereka merayap dengan perlahan, kemudian hilang tersapu oleh ombak.

13410457011870077406

Pelepasan Tukik (Dok. Oleh Mas Alpha - Kawan Perjalanan Kami)

Agenda selanjutnya adalah penanaman pandan laut. Pandanus tectorius ini adalah tanaman rehabilitasi sekaligus sebagai perlindungan kawasan pesisir pantai. Bibit pandan laut ini disediakan oleh petugas. Kita hanya tinggal menanamnya saja. Untuk penanaman pandan laut, harus berjarak sekitar 1,5 meter antara 1 dengan lainnya. Ini diharapkan agar pertumbuhannya optimal. Tanaman ekosistem pantai ini berfungsi mencegah proses pengikisan pantai oleh gelombang dan arus laut yang sifatnya merusak. Menurut petugas, penanaman pandan laut dan beberapa tanaman ekosistem laut lainnya merupakan kebijakan yang dikeluarkan oleh pengelola kawasan sejak lama.

13410458151364851123

Suasana Sewaktu Penanaman Pandan Laut (Dok. Oleh Mas Chuk - Salah Seorang Kawan Rombongan Ke Sukamade)

Sukamade adalah tempat wisata yang recomended dan layak dikunjungi. Di sana kita bukan hanya sekedar berjalan jalan, tapi juga turut serta dan berperan aktif dalam bidang konservasi. Untuk anak anak juga sangat baik, setidaknya sebagai wahana untuk memberikan pendidikan lingkungan sejak dini.

*****

Opera Travel Blog Competition

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wisata ke Perbatasan Surga dan Neraka di …

Taufikuieks | | 17 December 2014 | 11:24

Melahirkan Cesar Versi Saya dan Ashanty …

Mariam Umm | | 17 December 2014 | 13:39

Mau Operasi Kanker Tulang Kemaluan Atau …

Posma Siahaan | | 17 December 2014 | 19:17

The Hobbit: The Battle of the Five Armies …

Iman Yusuf | | 17 December 2014 | 21:02

Nangkring Parenting bersama Mentari Anakku: …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Seniman, antara Profesi dalam Angan dan …

Christian Kelvianto | 6 jam lalu

Sadisnya Politik Busuk Pilpres di Indonesia …

Mawalu | 8 jam lalu

Kalah Judi Bola Fuad Sandera Siswi SD …

Dinda Pertiwi | 8 jam lalu

Mas Ninoy N Karundeng, Jangan Salahkan Motor …

Yayat | 9 jam lalu

Jiwa Nasionalis Menteri yang Satu Ini …

Adjat R. Sudradjat | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Transformasi Perbankan di Tengah Likuiditas …

Andreas Hassim | 8 jam lalu

Saya Kaya Raya, So What? …

Nararya | 8 jam lalu

Penampilan Oke, Jodohpun Datang …

Fania | 8 jam lalu

Jika Saya Mendapatkan Paket Internet …

Syaiha | 8 jam lalu

The Obgyn #4 …

Dyah Rina | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: