Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Dwi Prihariyanti

Belajar seumur hidup sampai ke negeri Cina

Perjalanan Darat Pontianak Brunei

OPINI | 03 July 2012 | 03:51 Dibaca: 2895   Komentar: 5   5

Sesuatu yang tidak pernah aku duga sebelumnya, merasakan perjalanan dari Pontianak Ke Brunei. Saya dengan tiga orang teman pengawas yang memang hobby jalan jalan tiba tiba berkeinginan melakukan perjalanan ke Brunei melalui jalan darat. Kami berangkat kepontianak  melalui Bandara Sukarno Hatta by lionair  pada hari jumat 15 mei 2012 pukul enam sore. Satu jam perjalanan udara tibalah kami di bandar udara supadio. Dari sana kami langsung menuju hotel yang terdekat dengan PO Damri. Hotel itu lumayan bersih dan nyaman untuk istirahat sejenak sebelum kami melanjutkan perjalanan esok pagi ke Brunei.  Cafe dan rumah makanpun bertebaran dilokasi ini. jadi bagi teman teman yang ingin merasakan perjalanan panjang ini, saya sarankan untuk menginap dihotel ini. Lokasinya persis disamping PO DAMRI  Pontianak.

Esoknya tepat pukul tujuh  kami berangkat dari PO DAMRI menuju Brunei. Setelah barang barang kami masuk semua ke bagasi, bis mula bergerak meninggalkan Pontianak. Sepanjang perjalanan mataku tak pernah lepas dari pemandangan didepan, kiri dan kanan jalan. Sekitar pukul dua belas siang bis yang kami tumpangi tiba Entikong diperbatasan Indonesia dan Tebedu Malaysia. Setelah melalui pemeriksaan imigrasi dan stempel paspor, bis melanjutkan perjalanan. Beberapa kota di Malaysia kami lewati, banyak hal yang bisa kami petik dalam perjalanan ini. Diantaranya kondisi MCK ketika kami beristirahat, banyak yang tidak memnuhi standar kesehatan. begitupun sarana ibadah, banyak yang hanya sekedarnya saja.

Sepanjang perjalanan hampir sebagian besar yang kami temui hanya hutan belantara. Namun kondisi jalan sangat baik, tidak banyak bergelombang dan berlobang. Sangat jauh bila dibandingkan dengan kondisi di Sanggau Indonesia. Wajar bila warga negara Indonesia di perbatasan memilih untuk berbelanja ke negara tersebut. Sekitar pukul sembilan pagi esok harinya kami tiba diperbatasan Malaysia Brunei. Kembali kami harus berhadapan dengan pihak Imigrasi Malaysia maupun Brunei. Alhamdulillah dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan kami, untuk kami berempat sangat cepat sekali prosesnya. Sayang sekali lagi sayang ketika kami ingin kekamar kecil, kantorImigrasi Brunei tidak menyediakan sarana tersebut. Kalaupun ada, kondisinya sangat tidak manusiawi sekali. Sehingga hilanglah keinginan untuk buang hajat kecil disana.

Setelah selesai dengan kantor Imigrasi kerajaan Brunei, kami melanjutkan perjalanan menuju Bandar Seribegawan. Pukul setengah duabelas kami sampai di Bandar Seribegawan.  Semula kami ingin menginap di Pusat Belia, tetapi kami urungkan. Dengan rekomendasi teman kami mas Imam yang telah lama tinggal di Brunei, kami menginap di hotel yang sederhana, tapi bersih dan rapi. Sampai di hotel, setelah beristirahat sebentar ditemani sahabat kami mas Imam, kami langsung menuju masjid Sultan Hasanal Bolkiah, Museum Brunei, dan Kampung Aer. Ada hal yang tidak terdapat dan tidak pernah kita temui di Indonesia, khususnya di Jawa. Yaitu angkutan umum di Brunei sangat nyaman, ber ac dan itu lho, kondektur sama sopirnya orang Indonesia. Kalo di Jakarta modelnya seperti Kopaja. Kalo kita mau menyeberang, mereka yang menggunakan mobil pribadi otomatis berhenti memberi kita jalan lebih dahulu. Kalo di negri kita, lampu merah aja diterjang…

Kalo untuk harga makanan, jangan ditanya, harganya tiga kali lipat di malaysia. Esok harinya pukul sebelas, setelah kami mengunjungi pantai brunei yang begitu sepi tanpa ada pengunjung, padahal pantai ini sangat cantik dan bersih, taman nya pun tertata dengan baik. Kami segera meninggalkan Brunei, disamping tidak ada lagi obyek wisata yang  dapat kami kunjungi, keuangan dikantong kami juga mulai menipis karena oleh oleh mulai kami beli. Tujuan kami selanjutnya adalah Kuching Malaysia. Karena angkutan bis dari Bandarseribegawan tidak ada yang langsung ke Kuching, kami harus ke kota Mirri dahulu. Sampai di Mirri pukul duabelas siang,sementara bis yang akan ke kuching berangkat pukul satu. Masih ada waktu untuk makan siang dan sholat dhuhur. Beruntung tidak jauh dari terminal Mirri  ada sekolah dasar yang mempunyai fasilitas ibadah. Kami sholat dan istirahat sejenak disana.

Pukul satu bis yang kami tumpangi berangkat menuju Kuching. Setelah menempuh perjalanan selama 14 jam kami tiba diterminal Kuching, yang bernama Central Kuching. Kalo teman teman sempat berkunjung ke kuching, pasti terkagum kagum melihat kondisi terminal bis di kuching. terminal ini diprogram seperti bandara, sangat bersih dan teratur,  masyarakatnyapun sangat disiplin dengan peraturan yang ada. Karena kami tiba suasana masih agak gelap, kami menunggu diterminal ini sampai matahari keluar dari peraduannya. Dengan menggunakan taksi kami berempat menuju hotel yang telah kami pesan sewaktu masih dijakarta. Setelah beristirahat, kami mulai dengan perjalanan wisata di Kuching. Mungkin karena penduduknya sedikit ,kota ini terlihat begitu bersih.

Di Kuching kami berwisata di sungai Sarawak yang lebar, dan bersih. Sempat takut juga sih waktu naik speed boat, tapi lama lama asyik juga mengarungi sungai terpanjang di sarawak ini. Apalagi sopir speed boatnya sangat bersahabat sekali dengan kami pendatang dari Indonesia yang mana dua negara serumpun ini sebentar sebentar seperti anjing dan kuching. Oh iya saya hampir lupa, dalam perjalanan dari Mirri ke Kuching, kami sempat kehabisan uang ringgit. Uang yang kami punya hanya cukup untuk membeli tiga gelas teh manis, kalo disana disebut TO. Jangan jangan untuk makan malam, untuk membeli teh manis saja tidak cukup untuk kami berempat.

Tidak berlama lama di Kuching, keesokan harinya kami kembali melanjutkan perjalanan ke Pontianak. Tentunya setiba kami dihotel tempat kami menginap, kami berempat menukar rupiah dengan ringgit dulu. Tiba di Pontianak pukul sepuluh malam setelah melakukan perjalanan kurang lebih tiga belas jam. Esok harinya di Kota Pontianak kami sempatkan untuk mengunjungi tugu khatulistiwa, jalan jalan kepasar tradisional, menikmati kota Pontianak dengan sungainya, kulinernya, oleh olehnya dan kembali ke jakarta dengan penerbangan by sriwijaya air pukul lima sore. Entah kapan lagi bisa menikmati perjalanan seperti ini…. Terimakasih ya Allah telah engkau beri kesempatan kepada kami.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung Perjanjian Linggarjati: Saksi …

Topik Irawan | | 26 July 2014 | 16:11

Kompasianer Dalam Kunjungan Khusus ke Light …

Tjiptadinata Effend... | | 26 July 2014 | 18:13

Susah Move On dari Liburan? Ini Tipsnya..! …

Sahroha Lumbanraja | | 26 July 2014 | 18:08

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Saya Juga Ingin Menggugat Kecurangan Bahasa …

Gustaaf Kusno | | 26 July 2014 | 17:05


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 2 jam lalu

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 5 jam lalu

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 5 jam lalu

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 10 jam lalu

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: