Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Dadan Wahyudin

Gembala sapi, suka bahasa dan menulis. Mengagumi keindahan natural. Lahir di Pagaden, Tinggal di Bandung, selengkapnya

Jalur Naringgul: Akses Masa Depan Menuju Trans-Lintas Selatan Jawa Barat (LSJB)

REP | 03 July 2012 | 07:40 Dibaca: 3645   Komentar: 2   1

Batas Kabupaten Cianjur -kab. Bandung (17 km dari Naringgul, 5 km dari Balegede)

Jalur Ciwidey-Naringgul-Cidaun diprediksi bakal menjadi akses cepat menuju Lintas Selatan Jawa Barat (LSJB) yang menguntai kota-kota sepanjang pantai selatan Jawa Barat, yakni Ujunggenteng, Sindangbarang, Cidaun, Rancabuaya, Pameungpeuk, Cikelet, Cipatujah hingga Pangandaran.

Wilayah pakidulan Jawa Barat dengan jalan baru (trans-LSJB) relatif mulus dan datar serta berdampingan dengan pesisir Samudra Hindia dengan gemuruh ombak tiada henti  tampaknya bakal menggoda para investor untuk menanamkan modalnya di daerah baru “membebaskan diri” dari isolasi sarana transpotasi bertahun-tahun.  Ada beberapa akses menuju LSJB,  via Jampang di  kabupaten Sukabumi, Jalur Cianjur-Sukanagara-Sindangbarang, Jalur Garut-Pameungpeuk, Tasikmalaya-Cipatujah, Banjar-Pangandaran, maka jalur  Bandung Selatan (simetris=tengah-tengah) menjadi pilihan alternatif.   Saat ini ada beberapa jalur dari Bandung Selatan menuju akses ke LSJB yakni Ciwidey-Naringgul-Cidaun; Gununghalu-Sukanagara-Sindangbarang, atau Pangalengan-Cisewu-Rancabuaya.

Akses Ciwidey-Naringgul-Cidaun

Pengalaman perjalanan pulang penulis pasca-kegiatan studi lapangan sosiolinguistik mahasiswa PBSI S2 UNSUR Cianjur (berisi gambaran sekilas, jarak, situasi, dsb) melalui Naringgul ke Bandung, mudah-mudahan  dapat menjadi pelega informasi bagi pembaca yang hendak bepergian ke daerah pakidulan Cianjur ini melewati jalur ini.

dinding batu di Leuweung Wangun (Naringgul)

Rencana pulang ke Bandung, penulis akan naik angkutan Elf. Jadwalnya pukul 06.00 dan 08.00. Rupanya, karena hari Jum’at, elf hanya satu kali pemberangkatan saja di pagi hari pukul 06.00.  Angkutan elf adalagi pukul 14.00, wah waktu terlalu banyak terbuang.   Alternatif ke Bandung via Sindangbarang-Cianjur berarti harus memutar jalan pernah dilalui sebelumnya. Tentu menjemukan. Apalagi perjalanan panjang dan hampir pasti,  angkutan elf banyak ngetem menunggu penumpang.

Dalam keadaan bimbang, Kang Yana (suami tukang warung saat penulis menanti elf) menawarkan jasa ojeg hingga terminal Ciwidey. Tawar-menawar pun jadi, dari seharga Rp. 100.000,00 turun hingga Rp. 80.000,00.  Sekedar informasi, ongkos angkutan elf Cidaun-Ciwidey Rp. 40.000,00.

Kang Yana cukup akrab dengan jalan ini.  Awalnya menjamin penulis tidak menggunakan helm pun dijamin aman dari razia.  Penulis keberatan tidak berhelm, karena angin dan keselamatan, juga kalau nasib sial kena tilang, kasihan Kang Yana kena denda.

Tebing batu dan lembah Sungai Cipandak

Ketinggalan ELF, ternyata membawa berkah tersendiri.  Dengan angkutan ojeg sepeda motor, penulis meminta dokumentasi dan mencatat wilayah dipandang menarik.  Jadilah perjalanan Cidaun-Naringgul-Ciwidey laksana tamasya. Kang Yana, orang Naringgul pituin, mampu menjadi “guide” dengan menerangkan daerah-daerah yang dilewati.

Air Curug Ciceret (Naringgul) suka

Perjalanan dimulai dari Kertajadi (Cidaun), persis di depan Bale Desa Kertajadi.  Leuweung Wangun merupakan daerah pertama wilayah Naringgul dilewati dengan dinding batu tegak lurus hampir 1 km dan diapit dengan jurang di sisi sebelahnya.  Kemudian menemukan perkampungan Malati dengan Curug Malati yang berlokasi persis di tepi jalan.

Wilayah kecamatan Naringgul dibelah oleh Sungai Cipandak dengan DAS cukup panjang.  Jembatan Cipandak di pesisir pakidulan ditandai dengan tiang besinya kokoh.  Lembah dibelah oleh DAS Sungai Cipandak amat luas.  Desa Wanasari termasuk Naringgul tampak dari kejauhan di atas punggung bukit.  Menurut Kang Yana, hulu sungai Cipandak adalah gunung-gunung di perbatasan kabupaten Bandung, seperti Gunung Sepuh, Gunung Patuha, Gunung Purut dan sebagainya.  Ia pernah beberapa kali berpetualang ke daerah-daerah rimbun dan lebat itu.

Jalan berhotmik mulus dapat ditemui menjelang Kantor Kecamatan Naringgul.  Setelah itu berganti dengan jalan biasa yang aspalnya terkelupas.

Namun selama perjalanan tersebut, ada 3 titik jalan yang sedang dikerjakan oleh petugas.  Ini berarti, meskipun di pelosok, perawatan jalan tembus ini secara kontinyu dilakukan.  Kedua, jalan ini dirasa strategis sebagai jalan tembus ke LSJB. Mudah-mudahan asumsi penulis benar, sehingga jalan ini kualitasnya semakin ditingkatkan dan terus dipelihara.

Kang Yana (guide dan driver) di Jembatan Cipandak Hulu, sebelum Tanjakan Paracap (Sukabakti)

Pemandangan sebelah kiri adalah DAS Cipandak dan dibentengi bukit kokoh memanjang.  Di sebelah kanan bukit-bukit terjal dengan batu-batu keras menemani perjalanan kami.  Disela batu-batu besar vertikal itu air bening berjatuhan. Jatuhan air Curug Ciceret (ceret = basah, suka membasahi pejalan kaki) dengan relief terjadi secara alami di daerah Cijeungjing cukup mempesona berada persis  di tepi jalan dilalui.

Kami tiba di jembatan Sungai Cipandak dan mengambil dokumentasi sebentar.  Sepeda motor pun bersiap menghadapi tanjakan Paracap, Sukabakti.   Perjalanan selanjutnya menuju desa Balegede dengan jalan aspal relatif mulus. Jalan mulai berkelok-kelok seperti di daerah Puncak Bogor.

Hawa dingin pun mulai menusuk. Hal ini beralasan, jika diumpamakan segitiga, puncak punggungan Balegede sama tinggi dengan daerah Rancabali/Ciwidey, tak heran hawa pun terasa dingin.  Jarak Naringgul-Balegede sekitar 12 km.  Sementara Balegede-Rancabali 14 km.

Desa Wanasari (dipunggung bukit belakang) dilihat di tanjakan Cicurug (Naringgul)

Naringgul: Wilayah Cianjur Beraroma Bandung

Secara administratif Naringgul terdiri 11 desa (Naringgul, Balegede, Wangunjaya, Wangunsari, Mekarsari, Cinerang, Wanasari, Sukabakti, Malati, Sukamulya dan Margasari) ini merupakan kecamatan di kabupaten Cianjur, satu wilayah Pembantu Bupati bersama Cidaun dan Sindangbarang.

Kabupaten Cianjur memiliki perbatasan dengan 6 kabupaten lainnya yakni kabupaten Sukabumi di sebelah barat, Kabupaten Bogor dan kabupaten Purwakarta di sebelah utara.  Adapun di sebelah timur, kabupaten Bandung  Barat dan kabupaten Garut. Karena letak wilayah  selatan Kabupaten Cianjur cukup gemuk, maka kabupaten Bandung bukan di sebelah timur, tapi sebelah utara Naringgul.

Aroma Bandung dapat dilihat dari pasokan kebutuhan sembako dan energi. Banyak pedagang kanvas dari Bandung selatan mengadu untung di pasar tradisional di pakidulan yang belum memiliki pasar tetap (berpindah-pindah).

Begitupula kebutuhan BBM seperti: premium, solar atau gas lebih mudah diperoleh dari SPBU dan agen di kabupaten Bandung. SPBU terdekat yakni di Campaka dan Pagelaran, namun stoknya sering habis.  Begitu juga SPBU di Cianjur kota sering membatasi dan kehabisan stok, tak heran SPBU di Bandung selatan ini yang menjadi tumpuan.

Kang Yana di Tugu Batas Kabupaten (5 km dari Balegede, 9 km dari Rancabali)

Namun pengendara tak usah panik!  Bensin eceran seharga Rp. 7.000,00 perliter membuat kendaraan Anda dijamin tidak mogok kehabisan bensin.  Kondisi demikian membuat tak heran mobil enreyen baru keluar dealer harus rela diisi premium eceran di kios-kios pinggir jalan seperti dijumpai oleh penulis.  Untuk pertamax, penulis rasa pedagang eceran tidak berani membuat stok BBM non-subsidi.  Mahal dan pasarnya tidak ada.

Nyampe Gerbang Rancabali (Kab. Bandung) : lokasi obyek wisata Situ Patengang, Pemandian air paas Ciwalini, Ranca Upas, Cimanggu, Kawah Putih

Begitupula dalam hal pendidikan, menurut Kang Yana, beberapa warga Naringgul memilih melanjutkan sekolah lanjutan di sekitar daerah Bandung selatan.  Selain indekos, jarak tersebut bisa dijangkau oleh warga di Naringgul, terutama yang bermukim di sebelah utara, seperti Balegede atau Sukabakti. Salah satu alumnus PBSI S2 UNSUR, Kang Dede Junaedi yang tinggal di Naringgul (pernah berdiskusi di kampus) tempo hari mengisahkan bahwa ia lebih sering menggunakan akses Naringgul-Ciwidey-Kopo-Padalarang untuk mencapai Kampus UNSUR di kota Cianjur daripada via Sindangbarang-Sukanagara.

Akses Naringgul menembus pakidulan Jawa Barat diprediksi bakal semakin ramai. Peningkatan kualitas jalan, rambu-rambu dan petunjuk jalan akan semakin memudahkan akses lalu-lintas.  Akses ini terkoneksi dengan  trans-Lintas Selatan Jawa Barat (LSJB) yang menghubungkan kota-kota kecamatan yang berbatasan dengan Samudra Hindia, seperti: Ujunggenteng-Sindangbarang-Cidaun-Pameungpeuk-Cipatujah-Pangandaran.

Derap pembangunan di daerah pakidulan harus direspon dengan prioritas fasilitas pendukung, kemudahan birokratis, dan tak lupa pembangunan harus berbasis pemberdayaan masyarakat sekitar.  Obyek-obyek wisata pantai selatan menunggu sentuhan bakal meramaikan wisatawan lokal maupun mancanegara di masa depan.  Dengan demikian, kesetaraan kemajuan dan pembangunan sebuah upaya nicaya untuk direngkuh warga di sini.

Contohnya saja, dari Wangunjaya (Naringgul) menurut keterangan warga ada angkutan ELF yang ke Cianjur kota via Padalarang.  Begitupula  angkutan ELF jurusan Sindangbarang-Ciwidey senantiasa menyambangi  jalur Naringgul  menembus ini Leuweung Mala dan Perkebunan Cibuni, Cibadak, Cibitu dalam jadwal terbatas.

di terminal Ciwidey (Kab. Bandung):   76 km = 3 liter premium = 3 jam = Rp. 80.000,

Angkutan lain adalah sepeda motor ojeg siap mengantar penumpangnya ke daerah mana pun di Bandung selatan.  Kang Yana cukup akrab dengan para pengojeg di terminal Ciwidey.  Begitupula dengan sopir dan kernet. Sebuah pertanda interaksi dijalin cukup akrab dan dekat.

Menurut Kang Yana, bensin yang diisi 3 liter di Cidaun bakal habis dan sebaliknya menuju Cidaun harus mengisi full-tank, soalnya kalau beli Cidaun harganya lebih mahal. Bila dihitung jarak Cidaun-Ciwidey setara 72 km dan waktu dihabiskan menggunakan sepeda motor dengan kecepatan biasa dan beberapa kali berhenti mengambil gambar sekitar 3 jam.

Jarak yang berdampingan dan tingginya intensitas interaksi masyarakat di tapal batas ini, sehingga tak heran muncul seloroh, bahwa Naringgul daerah Cianjur Beraroma Bandung. **** [Dadan Wahyudin]

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 8 jam lalu

PDI-P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 11 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 22 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 23 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 19 April 2014 18:50

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: