Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Cahayahati (acjp)

tukang nonton film, betah nulis dan baca, suka sejarah, senang jalan-jalan, hobi jepret, cinta lingkungan, selengkapnya

Pedagang Asongan Liar Ternyata Ada di Mana-mana

REP | 05 July 2012 | 04:31 Dibaca: 519   Komentar: 0   2

13414626401756362412

dok pribadi

Kalau sedang jalan-jalan, selain pemandangan alam, kota dan sejarahnya, saya juga suka sekali memperhatikan lalu lalang orang-orang, turis dan pedagang asongan. Sama seperti di Indonesia, di Mekah, di Itali, di Spanyol juga ada petugas TIBUM (penertiban umum red.).

13414620141431059601

dok pribadi

Tampaknya sudah menjadi naluri alami semua pedagang asongan di seluruh dunia, mereka menjajakan dagangannya dengan sangat efisien dan dikemas dengan sangat kreatif. Saya yakin tidak ada komunikasi antara pedagang asongan di Kuta, di Anyer, di sekitar Masjidil Haram, di Roma atau di Marbella Spanyol tapi entah ya … memperhatikan gerak-gerik mereka terutama saat proses jual beli, koq mirip sekali.

Saya selalu menangkap rasa mencekam pada wajah para penjual asongan ini. Gaya menawarkan mereka dengan pandangan ke segala penjuru dan tidak sabar, membuat saya walaupun kadang hanya pemerhati, ikut gelisah. Apalagi bila mereka tiba-tiba menggulung jualan mereka dan berlari menjauh, membuat saya juga turut meluaskan pandangan saya dan menjadi was-was lalu ikut mencari dari mana petugas keamanan datang akan datang. Tampaknya diantara para penjual asongan sudah ada kode tertentu bila petugas keamanan sedang menuju ke tempat mereka mengasong.

Di sekitar Masjidil Haram, kakak saya ditinggalkan begitu saja oleh pedagang asongan ketika sedang memilih-milih taplak meja. Penjual yang mengenakan abaya hitam ini, cepat mengumpulkan dagangannya dan dengan gagah melarikan diri karena takut petugas. Kami hanya bengong melihatnya melesat lari tunggang langgang,  sambil meragukan apa penjual tersebut memang seorang perempuan.

Di Roma, terutama di sekitar Fontana di Trevi, pedagang asongan tampak didominasi oleh orang-orang dari daerah Tamil, Bangladesh, India atau Pakistan. Sedangkan di Andalusia, Spanyol, para penjual asongan didominasi oleh orang Afrika. Mereka ini juga kelihatannya saling kenal dan barang jualan mereka sama, tampaknya berasal dari sumber yang sama pula.

1341462396790888984

dok pribadi

Kacamata hitam, tas tangan wanita, syal Pashmina, mainan anak, sabuk wanita dan laki-laki, lukisan ramai diperjualbelikan, kadang menuntut tawar menawar yang alot diantara para pembeli dan penjual. Bagi saya sambil istirahat, menyaksikan aksi kehidupan ini sangat seru.

Terkadang saya pikir, tidak mungkin para pedagang asongan yang jumlahnya menyolok mata ini tidak terlihat oleh para petugas keamanan, malah di Fontana di Trevi saya lihat para petugas keamanan juga jumlahnya sangat banyak dan sedang berdiri-diri di lokasi. Tampaknya para petugas initerkadang menutup mata akan kondisi tersebut. Namun memang keberadaan petugas turut meringankan turis karena para pedagang asongan ini cukup memaksa.

Saya ingat ketika kami di Kuta, Bali dan di Anyer. Para pedangan asongannya juga sangat agresif, mereka menawarkan dagangannya dengan menegur dan setengah memaksa. Malah ketika di Bali, saya sempat diomeli oleh seorang ibu yang kesal karena saya tidak membeli dagangannya. Secara spontan memang saya merasa terganggu dengan cara mereka mengasong, karena satu pergi datang lagi pedagang yang lain, ketenangan membaca paling hanya berlangsung 5 menit saja. Padahal kan tidak setiap turis senang memborong oleh-oleh.

13414625391157966854

dok pribadi

Namun bila melihat bagaimana para pedagang Afrika di Marbella Spanyol berlarian karena ada polisi datang, trenyuh juga hati saya. Terlihat … keangkuhan sebuah kekuasaan di balik seragam dan kacamata hitam para polisi ini, yang dengan rajin menyisir pantai mengusir para pedagang asongan yang lari terbirit-birit penuh ketakutan. Tapi tentu, keteraturan memang harus ditegakkan. (ACJP)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Hidup Pramugari yang Selamat dari …

Harja Saputra | | 29 August 2014 | 12:24

UGM dalam Sorotan, dari Plagiat, Titisan …

Ninoy N Karundeng | | 29 August 2014 | 13:08

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Cara Unik Jokowi Cabut Subsidi BBM, …

Rizal Amri | 6 jam lalu

Soal BBM, Bang Iwan Fals Tolong Bantu Kami! …

Solehuddin Dori | 9 jam lalu

Gaduhnya Boarding Kereta Api …

Akhmad Sujadi | 9 jam lalu

Jokowi “Membela” Rakyat Kecil …

Melvin Hade | 10 jam lalu

Saya Pernah Dipersulit oleh Pejabat Lama …

Enny Soepardjono | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Menaikkan BBM, Menghapus Subsidinya, …

Popy Indriana | 7 jam lalu

Negotiating with Our Dream.. …

Ogie Urvil | 8 jam lalu

6 Kegiatan Sederhana Bersama Anak …

Cucum Suminar | 8 jam lalu

Harga BBM Naik, Siapa yang Takut? …

John Rubby | 8 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: