Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Marlistya Citraningrum

avid reader, enthusiastic writer, passionate traveler. uncredited pictures are personal collection. kindly respect the copyright.

Tiga Hari di Hongkong dan Macau

REP | 19 July 2012 | 17:29 Dibaca: 8844   Komentar: 11   2

Siapkan minum dan camilan karena ceritanya panjang. Hehe.

Bagi sebagian orang Indonesia, Hongkong adalah surga belanja. Ada banyak sekali shopping center di Hongkong, semuanya memasang harga relatif murah dan sering mengadakan sale, misalnya summer sale seperti sekarang ini. Hongkong tidak menerapkan import tax, sehingga banyak barang yang harganya lebih murah dibanding Singapura atau Taiwan, misalnya.

Tapi karena kali ini yang bepergian adalah saya dan 3 orang teman (laki-laki), empat orang deadliner traveler ini jalan-jalan untuk menikmati kota Hongkong dan Macau serta makan-makan, bukan untuk shopping. Plus kami tidak ada uang tambahan untuk belanja. Hahaha.

Tiket kami baru dikonfirmasi 2 minggu sebelumnya, hotel seminggu sebelumnya. Tukar uang, dua hari sebelum berangkat, dan packing sehari sebelum terbang. Semua serba mepet. Saya sibuk di lab, satu sibuk di kampus, dua yang lain bekerja. Traveling dengan cowok itu serupa dengan solo traveling, karena pada dasarnya mereka tidak suka menyusun itinerary detail seperti yang biasa saya lakukan. Jadilah saya yang membuat jadwal perjalanan.

Kehebohan pertama yang terjadi adalah kami hampir ketinggalan pesawat. Setelah check-in, kami pergi untuk sarapan sebelum akhirnya ke meja imigrasi 30 menit sebelum pesawat take-off pukul 8.15. Karena kami semua hanya membawa backpack (tidak ada barang yang masuk bagasi), kami semua lupa bahwa tripod seharusnya juga masuk bagasi. Di x-ray screening, tripod tersebut diambil dan akan dimasukkan ke bagasi, namun karena waktu take-off tinggal 20 menit lagi, bagasi sudah ditutup dan tripod tersebut harus dikirim kembali ke rumah seorang teman (daripada disita). Urusannya cukup lama, dan jam sudah menunjukkan 8.10. Jadilah kami harus berlari-lari seperti orang gila untuk menuju gate, yang cukup jauh juga, dan kami orang terakhir yang ada di sana! Hahaha. Saya sudah ngos-ngosan setengah mati dan langsung meminta air minum begitu sampai.

Itinerary berikut boleh banget diikuti (kalau sanggup :D).

Day 1 (July 6): Taipei – Hongkong International Airport – Giant Buddha – Tsim Sha Tsui – The Peak

Untuk menghemat waktu, setelah sampai di HKIA, kami langsung menuju ke Ngong Ping Giant Buddha (Po Lin Monastery) tanpa check-in di guesthouse kami yang terletak di Causeway Bay (makanya, pack light!). Dari airport kami naik bus S1 menuju Tung Chung, lalu ganti bus lagi (nomor 23) ke Po Lin Monastery. Ada cable car yang bisa dinaiki, namun harganya sekitar HKD 125, sedangkan bus hanya HKD 35 (PP). Namanya juga budget traveler, pilih yang murah saja (:D). Giant Buddha yang disebut dengan Tian Tan Buddha ini terbuat dari perunggu dan tingginya sekitar 34 meter. Untuk naik ke puncak bukit dimana Tian Tan Buddha terletak, pengunjung harus menaiki 240 anak tangga yang percayalah, membuat ngos-ngosan, apalagi suhunya sungguh nggak banget dan kami semua membawa backpack. Tapi Giant Buddhanya benar-benar besar.


Dari sana kami bertemu dengan seorang teman (ABC, Australian Born Chinese yang lahir di Hongkong) yang tanpa disangka-sangka menjadi tour guide kami selama 3 hari ke depan. Dari Ngong Ping Village kami kembali ke Tung Chung dan makan siang di sana, lalu menuju Causeway Bay untuk check-in di guesthouse. Setelah meletakkan beberapa barang, kami berjalan-jalan sebentar di sekitar Causeway Bay, guesthouse kami letaknya sangat strategis, dekat dengan MTR station dan pusat perbelanjaan. Kami membeli es mangga paling happening di Hongkong, Hui Lau Shan, yang memang enak dan recommended, meski harganya mahal untuk segelas es mangga (dan aloe), HKD 30. bergegas ke Tsim Sha Tsui area untuk menikmati pemandangan Victoria Harbor, Avenue of Stars, dan Symphony of Lights. Yang terakhir ini, meski terkenal di kalangan turis, sebenarnya biasa saja, jadi jangan berharap banyak. Pada dasarnya Symphony of Lights yang diadakan setiap hari jam 8 malam “hanya” pemainan musik dan cahaya dari gedung-gedung di seberang Victoria Harbor. Lima belas menit kemudian kami menuju ke Avenue of Stars, di mana terdapat plat nama dan cap tangan aktor/aktris/penyanyi terkenal dari Hongkong dan China, misalnya Jet Li dan Jackie Chan.

Itinerary awal sebenarnya menuju The Peak dan Madame Tussaud’s Museum of Wax lebih dahulu, namun tour guide dadakan kami menyarankan untuk ke Tsim Sha Tsui dulu karena pemandangan dari The Peak baru bagus saat benar-benar gelap. Setelah menikmati Symphony of Lights dan Avenue of Stars, kami menuju ke The Peak menggunakan ferry lalu ganti bus (bus kecil berkapasitas 18 orang). The Peak terletak di puncak bukit, sehingga rute perjalanan yang diambil berkelok-kelok. Gilanya lagi, meski kecepatan maksimal yang diijinkan yang tertulis di bus adalah 80 km/jam, entah kenapa dengan cara menyetir si supir yang was-wus membuat kecepatan bus rasanya selalu di atas 80 km/jam. Mual gila.

Sampai di The Peak, kami buru-buru membeli tiket Madame Tussaud’s Museum of Wax dan masuk. Kira-kira di sana satu jam (pas sampai museum tutup), lalu kami beralih ke gedung satunya untuk melihat pemandangan Hongkong dari atas. Rooftop gedung satunya ini gratis, beda dengan The Peak yang harus membayar HKD 30. Foto-foto sebentar, lalu kami kembali ke Causeway Bay (ke Central dulu, naik bus yang sama). Perjalanan ke Central ini juga sama, membuat saya mual dan hampir muntah. Turun dari bus, saya bertanya pada si teman yang orang Hongkong itu, “where is the nearest restroom?”, dan dijawab “in the restaurant we’re going to eat”. What??? Kirain di MTR station ada toilet, ternyata tidaaaaaaaak. Gawat. Karena mualnya sudah maksimal, akhirnya saya muntah di tong sampah dalam MTR station. Gilaaaaa. Diketawain habis-habisan. Ya gimana, masa mau muntah di jalan. Hehe.


Sampai di restoran tempat makan malam yang sangat terlambat itu jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Restoran yang kami tuju, Tsui Wah, adalah chain-store restaurant terkenal di Hongkong yang buka 24 jam. Makanannya bervariasi, mulai dari makanan ala barat seperti burger dan sandwich, hingga kari dan milk-tea. Rasanya juga beda (kata si teman, “very Hongkong”).  Soal harga, standar Hongkong lah ya (satu porsi sekitar HKD 40-50).

Pulang, mandi, tidur.

Day 2 (July 7): Hongkong Disneyland – Mongkok (Ladies Market, Temple Street Market)

Hari berikutnya, Disneyland day!! Berangkat jam 9 dari Causeway Bay, lalu naik MTR ke Disneyland. Banyak orang. Ya iyalah, weekend gitu. Sampai di sana, untung kami sudah membeli tiket online sehingga tidak perlu mengantri tiket manual. Tinggal menuju “AutoMagic Tickets”, masukkan kartu kredit, tiket langsung keluar. Beres.

Kami menghabiskan sehari penuh di Disneyland. Memutari sekian banyak area, nonton show (Golden Mickeys, PhilarMagic, dan Festival of The Lion King), hingga parade (termasuk Mickey’s WaterWork Parade yang membuat basah semua). Capek pake banget karena sudah jalan kaki melulu, panasnya juga tidak kompromi.


Jam 6 sore, kami meninggalkan Disneyland menuju Mongkok (sengaja tidak melihat firework show). Tujuan pertama: makan malam. Hahaha. Kami menuju satu restoran yang cukup murah di sekitar Mongkok, lalu menyusuri area pedestrian dan jajan streetfood yang rasanya memang tasty, lebih tasty daripada Taiwan (meski jenisnya lebih banyak di Taiwan). Sebelum ke Ladies Market, kami keluar masuk electronic shopping center karena ada yang mau membeli iPod Touch (bukan sayaaaa). Harganya memang lebih murah dibanding harga di Taiwan. Setelah itu kami menyusuri Ladies Market. Barang-barangnya bermacam-macam, dari baju, tas, sampai casing iPhone. Harga, bisa ditawar. Capek setengahn mati jalan-jalan di sana, kami lalu makan steamed milk di Yee Shun Milk Company. Enaaaak. Steamed milk ini bisa dinikmati panas/dingin dan bisa juga dengan rasa yang tidak hanya susu saja (jahe misalnya).


Puas di Ladies Market, kami lalu berjalan ke Temple Street Market. Lebih sepi dibanding Ladies Market, tapi justru dengan begitu proses tawar menawar bisa menghasilkan harga yang lebih murah. Saya membeli gelang, 2 buah seharga HKD 50. Teman saya membeli sandal Crocs (sepertinya sisa/cacat produksi) seharga HKD 39 saja. Bukan Crocs model aspal, logo dan tulisannya benar-benar Crocs, hanya memang logo yang dipasang di sandal itu kiri dan kanan berbeda (miring sedikit).

Jalan-jalan dengan cowok (dan dengan saya sih sebenarnya) pasti makan-makannya sering. Hahaha. Sebelum meninggalkan Temple Street Market, kami mampir di restoran (warung kali ya) yang menyediakan bangku-bangku di luar (jangan tanya soal kebersihan). Memesan beberapa makanan (porsi kecil) seperti seafood dan grilled pork, ditemani Yanjing Beer yang di botolnya tertulis “official state beer of China”. Kalau di Taiwan, pasti Taiwan Beer.


Pulang, mandi, tidur. Plus kaki pegal-pegal.

Day 3 (July 8): Hongkong Ferry Terminal – Macau Taipa Ferry Terminal – Venetian – Macau Tower  - Senado Square – Ruins of St. Paul – Outer Macau Ferry Terminal – HKIA Ferry Terminal

Rute hari ketiga ini agak ribet karena kami menuju Macau dan malamnya langsung kembali ke Taipei, sehingga kami tidak kembali ke Hongkong Island melainkan langsung ke airport yang terletak di Lantau Island.

Di Hongkong Ferry Terminal, tentu saja kami harus mengantri di imigrasi karena Hongkong dan Macau adalah special administrative district. Di sini kami mendapatkan cap keberangkatan dari imigrasi Hongkong. Setelah itu, kami mengantri untuk naik ferry. Selain antrian biasa, ada antrian khusus dimana kita bisa naik ferry manapun yang berangkat duluan selama ada tempat duduk kosong. Tergantung mana yang lebih cepat.

Perjalanan ke Macau memakan waktu sekitar 45 menit (dan saya sedikit mual), maklum, menggunakan ferry biasa (HKD 163) dan bukan Turbojet. Di Macau Taipa Ferry Terminal, ya tentu saja harus mengantri di imigrasi lagi (cap kedatangan Macau). Setelah itu kamu naik bus gratisan yang menuju ke Venetian Hotel dan Casino Complex.

Desain interiornya luar biasa. Semuanya indoor dan ber-AC meski banyak setting yang dibuat seperti di luar. Tidak mulus, tapi bagus. Ada kanal buatan di dalam (seperti di Venice, Italia) lengkap dengan gondola yang bisa dinaiki (bayar ya). Selain itu, kompleks casino-nya juga luas dan lengkap, dari poker sampai craps, dari yang meja sampai yang dioperasikan komputer. Daaaan, sejuta kamera dimana-mana (namanya juga casino).

Selesai dari sana, kami menuju ke Macau Tower untuk bungy jumping. Saya saja, yang lain menunggu di lobi. Ceritanya sudah ada di sini (Menaklukkan Bungy Jumpung Tertinggi di Dunia).

Tujuan berikutnya: Senado Square. Naik taksi dari Macau Tower untuk menghemat waktu. Senado Square ini penuuuuuuh dengan turis. Huah. Dimana-mana isinya orang. Bahasa resmi pemerintah Macau adalah Portugis, jadi banyak jalan dan gedung yang mencantumkan nama Portugis. Bahasa sehari-harinya Cantonese, sama seperti Hongkong, dan mata uang Hongkong dolar juga dipakai di sini (resminya Macau Pataca/MOP). Jalan sedikit dari Senado Square, ketemulah Ruins of St. Paul, bekas gereja yang menyisakan tembok depannya saja. Foto-foto, keliling-keliling, lalu membeli oleh-oleh di toko dekat sana (eggroll dan nougat khas Macau).


Tidak lupa sebelum meninggalkan Macau, kami mencicipi pork bun (burger ala Macau) dan Portuguese tart yang nyaaaaam *sapi mode on*.

Ferry terminal yang kami tuju berbeda dengan terminal kedatangan, karena kami akan langsung menuju airport. Di sana, tersedia counter khusus yang juga bisa melayani check-in pesawat (minimal 3 jam sebelum keberangkatan). Ferry-nya jenis Turbojet, lebih cepat dan lebih mulus lajunya sehingga saya bisa tertidur dengan nyenyak *kebo mode on* (HKD 233). Tidak lupa, lewat imigrasi lagi (meninggalkan Macau).

Sampai di area airport, ada lane khusus bagi mereka yang menggunakan ferry dari Macau. Counter check-in dan x-ray inspection, maksud saya. Sepi, jadi tidak perlu mengantri. Kami juga mendapat refund sebesar HKD 120 karena air-passenger departure tax kami dihilangkan (karena menggunakan ferry). Selesai mengambil tax refund, bisa langsung menuju gate. Jadi kami masuk ke Hongkong, keluar dari Macau. Capnya jadi banyak. Hehe.

Pesawat ke Taipei seharusnya berangkat jam 9.30 malam, namun delay hingga pukul 10 malam. Sampai di Taipei sudah lewat tengah malam. Sampai di dormitory jam 1.30 pagi. Heuuuu.

Capek? Pasti. But it was crazy and fun!

Yuk mari jalan-jalan lagiii :D

-Citra, #DeadlinerTraveler

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 5 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 8 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 12 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 13 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: