Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Boby Bahar

I am an independent traveler. In learning to write ;-) instagram: @bobybahar

“Perang” India-Pakistan di Perbatasan Attari-Wagah

REP | 05 August 2012 | 04:24 Dibaca: 1589   Komentar: 2   0

1344089846159601109

Katanya kalo berkunjung ke Amritsar-Punjab, ga afdol kalo ga melihat upacara penurunan bendera sekaligus penutupan perbatasan India-Pakistan di Attari-Wagah. Perbatasan tersebut berjarak 30km ke arah barat kota Amritsar. Upacara heroik itu berlangsung tiap hari mulai pukul lima sore sebelum matahari terbenam. Namun ternyata upacara itu tidak hanya sebuah acara seremonial biasa, di baliknya tersirat sebuah letupan fanatisme tanah air yang berlebihan, yang sewaktu-waktu bisa saja memancing konflik kedua negara.

Berdasarkan sejarah, India dan Pakistan dulu memang satu negara. Pada tahun 1947 pemerintahan British India memisahkan negara tersebut berdasarkan demografi agama, menjadi Republik India dan Pakistan (lalu akhirnya juga membentuk negara baru, Bangladesh). Banyak dari penduduknya yang terpaksa eksodus besar-besaran, yang Hindu memilih ke India dan yang Muslim masuk ke Pakistan. Sejak itu India dan Pakistan sering terlibat perang dingin. Kedua negara seolah bersaing ketat untuk menjadi yang terkuat, saling berlomba dalam kecanggihan militer, bahkan pernah terlibat perang sungguhan.  Saat ini perbatasan Attari-Wagah adalah satu-satunya jalan darat yang menghubungkan kedua negara. Dan di sanalah kita bisa menyaksikan sendiri, betapa rakyat kedua negara begitu bangga dengan negaranya masing-masing.

Beberapa jurnal dan acara televisi pernah membahas tentang upacara  yang sudah berlangsung sejak tahun 1959 itu. Banyak yang menilai bahwa “ketegangan” yang tercipta saat prosesi harus diredakan sedikit. Walaupun upacaranya selalu berakhir dengan damai-damai saja, tapi tak bisa dipungkiri betapa jelas diperlihatkanya arogansi dan persaingan emosional. Seremonial tersebut secara eksplisit mengandung ancaman yang diusahakan terlihat sangat hati-hati oleh kedua negara. Sekali saja salah satu pihak lepas kontrol, maka konflik sesungguhnya pasti tak terelakkan.

Untuk sampai ke perbatasan di Attari – Wagah dari pusat kota Amritsar, kita bisa menyewa angkot di depan Golden Temple. Mobil tersebut sengaja membawa turis pulang pergi untuk melihat upacara penutupan perbatasan. Setiap angkot bisa membawa 5-7 orang. Beberapa hotel di Amritsar biasanya juga mengkoordinir sendiri tamu-tamu yang menginap di hotel mereka untuk pergi menonton, dan dikenakan tarif yang bervariasi.

13440909341520376661

13440913241010573164

13440925601186329149

134409292642432231

Beberapa ratus meter sebelum gerbang perbatasan, mobil sudah harus berhenti dan menurunkan penumpang. Banyak terlihat truk-truk yang parkir di bahu jalan karena sudah tidak bisa melintas. Penonton harus berjalan beberapa ratus meter untuk sampai ke venue tempat upacara berlangsung. Hari itu memang sangat ramai sekali. Terlihat lautan manusia yang seperti mau berangkat ke medan perang. Untung saja jalur turis dan penduduk pribumi dipisahkan, jadi kami tak perlu bersaing dengan ratusan penduduk India yang sangat-sangat antusias! Beberapa tentara sempat berteriak keras mengatur orang-orang yang saling berebut ingin duluan.

Sebelum masuk ke tempat upacara berlangsung, turis asing akan melewati pemeriksaan terlebih dahulu. Tas bawaan dan saku celana diperiksa, petugasnya juga meminta kita memperlihatkan paspor. Suasana semakin ramai dengan suara musik dari pengeras suara. Lagu-lagu perjuangan berbahasa India kencang terdengar. Di seberang pagar, Pakistan juga tidak mau kalah, musik-musik patriotik berbahasa Urdu juga diperdengarkan. Tentara sibuk mengatur agar penonton duduk dengan tertib. Memang sudah disediakan tribun di sebelah pinggir untuk melihat prosesi upacara. Tribun tersebut bisa menampung ratusan rakyat India yang ingin menonton, di sebelah tempat duduk VIP juga disediakan tempat duduk khusus turis asing. Saya jadi berfikir, kalau misalnya tribun-tribun tersebut tidak dibangun, mungkin orang-orang tidak akan seantusias itu datang kesana hanya untuk menonton sebuah upacara penurunan bendera?

13440934561456910369

13440938441705578607

134409424218267033

13440950031820925154

13440953081707275516

1344095446935453599

1344095600333761496

13441019731079518199

1344095766577420643

13440959871551611356

Di negara sebelah, Pakistan, penontonya tidak seramai di kubu India.  Tribun tempat duduknya masih banyak terlihat kosong. Sebelum prosesi upacara dimulai, entah komando dari mana, beberapa orang wanita India turun ke bawah dan menari bersama mengikuti musik yang diputar. Bahkan tentara sempat melarang beberapa orang yang juga ingin ikut menari karena sudah terlalu ramai. Selesai menari, beberapa orang ditunjuk untuk membawa bendera. Bendera India tersebut digilirkan untuk dibawa berlari hingga ke depan pagar perbatasan. Mereka yang terpilih terlihat sumringah dan bangga karena telah dipercaya. Penonton bersorak patriotis saat bendera tiga warna tersebut dibawa berlari dan melambai tertiup angin, mereka mengangkat tangan ke udara. Di seberang pagar, penonton Pakistan juga berusaha bersorak seriuh mungkin dengan meneriakkan yel-yel.

Lalu masuklah ke acara inti, yaitu penurunan bendera. Musik dimatikan. Pasukan pria yang tinggi semampai, berbahu bidang, dan berkumis melingkar lengkap dengan tatapan mata tajam, keluar dari ruang imigrasi dan bergabung membentuk barisan dan berjalan dengan tegapnya menuju ke depan pintu gerbang. Hal yang sama juga terlihat di seberang pagar. Tapi yang terlihat sedikit konyol adalah saat pasukan kedua negara memperlihatkan keahlian baris-berbaris mereka secara bergantian. Pasukan India benar-benar tampil all out dengan semangat 45! Ketika jalan di tempat, mereka mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan menghentakkanya kembali ke tanah dengan tenaga penuh, kemudian dengan gerak cepat setengah berlari, mereka menuju ke depan pagar dan mengulangi lagi gerakan tadi, seolah menakut-nakuti lawanya yang di seberang pagar. Gerakan tadi diulangi lagi oleh rekan yang lain. Beberapa turis yang duduk di sebelah saya tertawa melihat adegan tersebut. Lalu pagar berlapis dua yang memisahkan kedua negara pun dibuka.

Dari pengeras suara teriakan yel-yel semakin lantang, lalu diikuti sorakan penonton yang hadir. Ibarat sebuah pertandingan olahraga, suasananya seperti sedang dalam pertandingan babak final! Saya sendiri beberapa kali mendengar penonton di dekat saya menimpali dengan sinis yel-yel dari negara seberang, mungkin sebaliknya juga seperti itu. Penonton di bagian India lebih banyak dan lebih keras teriakanya.

Akhirnya bendera nasional masing-masing negara diturunkan dan dilipat. Dengan gerakan secepat kilat, pasukan dari kedua negara berjabat tangan dengan kasar dan memberi penghormatan terakhir (kalau kita mengedipkan mata mungkin terlewat adeganya). Dan dengan gerak lebih cepat lagi-seolah berlomba siapa yang duluan-pagar pembatas kedua negara ditutup dengan bantingan keras. Upacara 30 menit yang memperlihatkan “show of force” kecil-kecilan itu selesai sudah. Selanjutnya pagar pembatas jalan penghubung India – Pakistan itu akan ditutup hingga esok hari pukul sepuluh pagi.

(Foto: koleksi pribadi)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pasien BPJS yang Kartunya Tidak Aktif Mulai …

Posma Siahaan | | 21 December 2014 | 06:53

Hollywood Kena Batunya, AS Panik! …

Daniel H.t. | | 21 December 2014 | 10:27

Inilah 5 Strategi Penting Menurunkan Tekanan …

Irsyal Rusad | | 21 December 2014 | 09:22

Tukeran Hadiah, Wichteln …

Gaganawati | | 21 December 2014 | 05:29

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 7 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 7 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 8 jam lalu

Pintu Damai Tertutup, Menang Golkar Bali …

Erwin Alwazir | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: