Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Ina Rakhmawati

Ina, 24 years old | penikmat senja, kopi, sastra | writing | reading | travelling | cat lover | good listener

Menyusuri Pantai Pasir Putih dan Pulau Tak Berpenghuni di Kabupaten Ende

REP | 06 August 2012 | 21:11 Dibaca: 842   Komentar: 10   3

Pernahkah terlintas di bayangan anda, travelling menikmati keindahan alam di daerah pelosok? Pemandangan alam yang indah di Indonesia tak hanya milik lokasi-lokasi wisata yang terkenal saja. Menikmati indahnya pesona alam di daerah pelosokpun memberikan pengalaman dan sensasi tersendiri. Pemandangannya tidak kalah indah dengan tempat wisata terkemuka di Indonesia. Perjalanan saya kali ini, buktinya.

Entah termasuk dalam kategori apa perjalanan kali ini. Dilihat dari alat transportasi yang digunakan dan wilayah yang ditempuh, bisa dibilang perjalanan yang nekat dan mendadak. Dibilang wisata bahari juga bisa, meskipun acara cebur-ceburan di laut nggak jadi karena cuaca mendung dan udara dingin. Kalo dikategorikan extrim travelling? Hmm…sebenernya nggak ekstrim juga sih. Bagi yang sudah terbiasa melewati jalur sulit ini, jalanan tidak lagi terasa ekstrim.
Percaya atau tidak, segalanya baru fixed sehari sebelum perjalanan. Memanfaatkan waktu liburan yang tersisa dan ingin mengeksplor pemandangan alam di Kabupaten Ende-Flores-NTT  lebih jauh, itulah alasan kami kemari. Lokasi yang kami pilih adalah kecamatan Maurole dan Kecamatan Maukaro-Kabupaten Ende. Rute pun direncanakan : kami akan mengunjungi pantai kecamatan Maurole- pantai kecamatan Maukaro- wisata bahari ke pulau kecil tak berpenghuni. Eh, jangan salah…berdasarkan informasi, walaupun pulaunya sangat kecil dan nggak berpenghuni, pemandangannya tetap luar biasa.
Hari pertama, perjalanan dimulai dari kota Ende jam 10.00 WITA. Saya berangkat bersama tiga orang teman guru. Kami  menyewa dua buah sepeda motor beserta helm dengan harga sewa 50.000 IDR/hari,  tidak termasuk bensin. Jadi, kami berboncengan. Motor yang saya boncengi tidak dilengkapi dengan spion, kondisi ban ‘halus’ (bahkan ban depannya kecil), serta kaca lampu yang pecah (tapi lampunya masih bisa menyala kok). Kami oke-oke saja, sebab hanya itu persediaan motor yang tersisa dan nggak sempat nyari sewaan motor di tempat lain karena waktu yang terbatas. Kontur jalanan yang kami lewati berkelok-kelok, berliku, serta dihiasi jurang dan tebing di sampingnya. Kami tiba di pantai kecamatan Maurole pada pukul 12.30 WITA.
Pulau Flores identik dengan pantai pesisir selatan yang berpasir hitam dan pantai pesisir utara yang berpasir putih. Pantai Maurole yang terletak di pesisir utara Flores ini memanjakan mata kami dengan pasir putihnya yang indah dan pemandangannya yang alami. Pantai ini sepi dan tenang. Siang itu, sinar matahari sangat terik. Lucu juga sih…jalan-jalan ke pantai di tengah siang bolong. Hehehe…

foto pantai maurole

Setelah cukup menikmati pemandangan dan berfoto ria, pada jam 13.30 WITA kami melanjutkan perjalanan ke kecamtan Maukaro. Astaga….jalanan menuju kecamatan ini sulit ditempuh.  Meskipun ada perbaikan jalan di lokasi tertentu, tetap saja masih didominasi oleh kondisi jalanan yang berbatu kasar dan tidak beraspal.  Beberapa kali saya harus turun dari motor dan berjalan selama beberapa menit jika melewati jalanan yang sangat menanjak dan curam. Teringat kondisi motor yang beresiko tinggi untuk bocor, kami cuma bisa berharap motor nggak kenapa-kenapa. Bisa dibayangkan betapa repotnya jika ban motor pecah di jalan, karena sangat jauh dari tempat tambal ban. Pukul 16.00 WITA, kami tiba di kecamatan Maukaro dan beristirahat sekaligus menginap di rumah kontrakan teman-teman guru yang dpat penugasan di kecamatan ini.

Perjalanan ke kecamatan Maukaro, mantap

Keesokan harinya, cuaca sangat mendung dan rintik-rintik hujan baru reda pada pukul 09.00 WITA. Tujuan kali ini adalah berlayar!  Dua orang teman kami ikut serta, jadi rombongan kami berjumlah 6 orang.  Kami berjalan melewati kampung nelayan dan tiba di pinggir pantai untuk mencari perahu kayu bermotor yang bisa disewa. Penduduk kampung nelayan menyapa dengan ramah saat kami berjalan melewati perkampungan mereka.
Karena cuaca mendung, bapak pemilik perahu sempat ragu hendak membawa kami pergi berlayar. Namun, kami tetap kekeuh. Hahaha…Lagipula kondisi lautan tenang. Akhirnya, bapak pemilik perahu setuju dan harga sewa kapal yang disepakati adalah 150.000 IDR.  Yap, harga yang nggak mahal. Perahu kayu bermotor ini sepertinya sudah cukup tua, nggak disertai jaket pelampung, tetapi masih layak jalan. Bapak pemilik perahu mengajak tiga orang anaknya yang masih kecil. Beliau dan ketiga anaknya menguras air yang masuk ke dek kapal, menyiapkan bensin dan menghidupkan mesin perahu. Taraaaa…we are ready for this journey!

ilalang di Pulau Kinde

Pantai Pulau Kinde

Perahu kayu bermotor melaju di lautan. Sekeliling saya hanya aja pemandangan air, lautan, dan perbukitan. Indah sekali. Rasanya seperti ikutan acara Jejak Petualang saja, nih. Hahaha. Sekitar 30 menit kemudian, perahu merapat di Pulau Kinde, sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang luasnya hanya 1 kilometer. Benar saja, pemandangannya bagus.  Nampak perbukitan besar, kayu, ilalang dan pantai pasir putih dengan gradasi warna memukau. Kami tidak melewatkan kesempatan untuk  berfoto ria, mengabadikan momen ini. Berhubung tidak ada cinderamata khas dalam perjalanan kali ini, maka potret-potret pun sudah cukup sebagai kenang-kenangan yang berharga.

Pulau Tikus, bentuknya kayak batu karang, imut

Setelah itu, kami kembali naik perahu kayu bermotor dan melewati Pulau Tikus yang terletak berdekatan dengan Pulau Kinde. Bedanya, Pulau Tikus ini mungil banget. Bukan daratan, tetapi lebih menyerupai bebatuan raksasa yang tumbuh di tengah lautan. Perahu terus melaju, membelah semilir angin laut yang berhembus. Tujuan berikutnya adalah merapat di Pulau Koba, pulau kecil yang hanya terdapat lima rumah berdinding bambu di daratannya. Wah, saya terpukau membayangkan betapa kerennya penduduk di lima rumah itu survive tinggal di Pulau Koba yang nggak ada apa-apanya! Namun, lagi-lagi pesisir pantai pulau ini menyuguhkan pasir putih dan bukit yang indah. Kami menyempatkan turun sebentar ke Pulau Koba. Dengan cuaca yang kurang cerah saja pemandangannya tetap indah, apalagi kalau cuaca cerah.

Pulau Koba, cuma ada 5 rumah penduduk!

Setelah itu, apakah perjalanan sudah selesai? Oh, belum! Bapak pemilik perahu mengantarkan kami menelusuri Tanjung Maukaro. Tampak pepohonan bakau di depan mata. Bapak pemilik perahu dan ketiga anaknya turun mengambil buah asam dari pohon. Hmmm…masih alami ada kulitnya. Saya ikutan nyicipin…asem bangeeeett. Ya iyalah…! Hehehe…gini nih kalo kehabisan cemilan, sampai-sampai asam-pun ikutan dicicipin…

Tanjung, ada pohon bakau

Usai dari tanjung, akhirnya perahu kayu bermotor kembali menuju pantai kecamatan Maukaro. Perjalanan yang menyenangkan. Flores memiliki keindahan alam yang luar biasa, sayangnya masih banyak yang tidak dikelola. Andai saja pemandangan seperti ini letaknya di Bali, Lombok, atau Jawa, tentu sudah terkenal.
Kami tiba di kecamatan Maukaro pukul 13.00 WITA. Setelah mengucapkan terima kasih kepada bapak pemilik perahu, kamipun berjalan kaki menuju rumah kontrakan teman yang nggak jauh dari situ. Nggak ada acara kuliner-kulineran, karena emang nggak ada makanan yang khas dan saya nggak melihat ada warung makan di sekitar situ. Jadi, kami makan di rumah kontrakan teman. (Tenkiu jamuannya, hehehe…).
Pukul 14.00 WITA, saya dan ketiga teman kembali ke kota Ende dengan motor sewaan kami. Syukurlah, nggak ada acara ban bocor ataupun motor mogok. Jangan ditiru, ya. Kalau mau sewa motor untuk travelling, jangan ambil resiko seperti kami yang menggunakan motor kurang layak pakai. Hehehehe…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menunggu Listrik di Kulonprogo …

Ratih Purnamasari | | 20 October 2014 | 11:14

Papua kepada Jokowi: We Put Our Trust on You …

Evha Uaga | | 20 October 2014 | 16:27

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Tips & Trick Menjadi Travel Writer: …

Sutiono | | 20 October 2014 | 15:34

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Dilantik, Bye-bye Skandal Pajak BCA …

Amarul Pradana | 7 jam lalu

Standing Applause, Bagi Kehadiran Prabowo …

Abah Pitung | 10 jam lalu

Beda Perayaan Kemenangan SBY dan Jokowi …

Uci Junaedi | 10 jam lalu

Ramalan Musni Umar Pak Jokowi RI 1 Jadi …

Musni Umar | 13 jam lalu

Jokowi Dilantik, Pendukungnya Dapat Apa? …

Ellen Maringka | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Rentannya Kehidupan Bumi …

Deajeng Setiari | 8 jam lalu

Bangkitkan Bangsa Maritim …

Hendra Budiman | 8 jam lalu

Pergilah… Walau ku Tak Ingin… …

Leni Jasmine | 8 jam lalu

Generasi Pembebas …

Randy Septo Anggara | 8 jam lalu

Selamat Bertugas JKW-JK …

Sutiono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: