Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Nicholaus Prasetya

Lahir 5 Desember 1990. kalau ditanya tujuan menulis, saya pengen jawab supaya kalau saya sudah selengkapnya

Argapura: Keindahan Alam dalam Detak Sejarah dan Mistis

HL | 14 August 2012 | 18:14 Dibaca: 3103   Komentar: 18   2

13449229602010684195

Matahari Terbit di Puncak Rengganis

Gunung Argopuro. Nama ini mungkin terdengar cukup asing untuk beberapa orang, terutama mereka yang tidak tinggal di kawasan Jawa Timur. Hal ini sangat wajar mengingat Jawa Timur adalah surganya gunung-gunung api terkenal, sebut saja si gagah Semeru dan Gunung Raung. Argopuro, mungkin orang-orang hanya sedikit yang mengetahuinya.

Terjepit di antara kepopuleran Semeru dan Raung, gunung ini menyajikan sebuah keindahan alam yang tidak bisa diungkapkan dengan bahasa manusia. Perawannya hutan alam disertai binatang-binatang liar yang masih menghuni dataran tinggi Yang ini menjadikannya sebuah gunung api tidak aktif yang patut diperhitungkan untuk dikunjungi.

Keindahan alam ini juga ditambah dengan predikatnya sebagai pemegang jalur pendakian terpanjang di Pulau Jawa, mendampingi Gunung Semeru sebagai pemegang puncak tertinggi di Pulau Jawa. Sekitar empat puluh kilometer perjalanan pendakian adalah makanan yang harus disantap habis untuk naik dan turun di Argopuro berawal dari Baderan dan berakhir di sebuah desa bernama Bermi.

Panjangnya jalur pendakian yang terbayar dengan indahnya alam Argopuro masih akan ditambah dengan pesona lain yang dimiliki oleh gunung ini: sebuah detak sejarah dan mistis dalam keindahan Argopuro. Gunung ini menyediakan sebuah cerita yang menarik, baik dari segi sejarah maupun mistis. Cerita-cerita inilah yang akan selalu menyelimuti keindahan sang puncak kembar Rengganis dan Argopuro.

Perjalanan awal

13449231041644004244

Suasana Pagi di Desa Widoro Payung

Perjalanan awal menuju puncak Argopuro biasanya dilakukan dengan perjalanan menuju daerah bernama Besuki. Di daerah ini, perjalanan akan terpecah: Sumber Malang yang merupakan jalur pendakian dan Desa Widoro Payung yang merupakan tempat bermukim para penduduk di sekitar kawasan gunung Argopuro. Di desa inilah cerita-cerita mengenai gunung Argopuro banyak beredar dan akan semakin jelas ketika sampai di kawasan Argopuro.

Perjalanan menuju puncak akan diawali dengan melakukan pelaporan di kantor BKSDA yang terletak sebelum masuk jalur pendakian. Di sini, para pendaki akan dicek kelengkapan standar dalam menjalankan proses pendakian. Di pos ini juga para pendaki dapat melihat jalur pendakian yang akan dilalui.

13449231792076420976

Pemandangan Perbukitan

Keluar dari pos pelaporan, perjalanan aku diteruskan dengan mengelilingi perbukitan di sekitar gunung Argopuro. Pemandangan yang disajikan adalah bukit yang hijau di sekeliling dengan sesekali bertemu perkebunan tembakau yang dimiliki oleh penduduk di sekitar pegunungan. Sesekali hutan-hutan kecil dengan tanaman yang tidak terlalu besar serta gubuk-gubuk kecil penduduk sebagai tempat beristirahat akan menyambut para pendaki. Namun dominasi keindahan alam lebih ditekankan kepada indahnya suasana perbukitan.

Suasana ini mulai sedikit berubah ketika pendaki sudah melewati mata air pertama yang merupakan tempat mendirikan tenda untuk para pendaki sekaligus merupakan sumber air untuk pendaki. Selepas dari mata air pertama, pemandangan akan lebih didominasi oleh hutan-hutan dengan dominasi vegetasi berupa pohon cemara.

13449232471740374720

Mata Air Pertama

Selepas dari mata air pertama, pemandangan di sepanjang perjalanan yang terasa pun akan lebih beragam. Alun-alun kecil yang berupa sabana yang berisi rerumputan akan menyambut para pendaki setelah keluar dari hutan. Selepas alun-alun kecil, hutan-hutan heterogen dan beberapa sabana kecil masih akan menyambut para pendaki hingga tiba di sebuah sabana yang sangat luas yang bernama Cikasur.

Perjalanan di waktu ini bisa dilakukan dengan dua cara. Pendaki bisa memilih percaya pada kekuatan sendiri untuk mencapai sebuah daerah sabana bernama Cikasur atau mengeluarkan uang sekitar Rp 150.000 untuk membayar tukang ojek mengantar ke daerah Cikasur. Ya, perjalanan menuju Cikasur memang bisa ditempuh dengan menggunakan motor sebab penduduk di sini pun banyak yang mengambil tembakau dan rumput untuk makanan sapi di daerah atas sehingga rute ini merupakan rute yang sering dilewati pengendara motor.

13449245101469299587

Berjumpa dengan Seorang Nenek di Perjalanan

Tentang Cikasur

Perjalanan sejarah bisa dilihat di Cikasur. Sebuah sabana yang sangat luas ini merupakan sebuah lapangan udara yang dahulu dipergunakan oleh Belanda ketika masih menduduki Indonesia.

Menurut Saipul, salah seorang penduduk di kawasan Desa Widoro Payung, pemanfaatan Cikasur sebagai lapangan udara oleh pihak Belanda berbanding lurus dengan kekayaan mineral yang terkandung di dalam gunung Argopuro. “Untuk apa susah-susah membangun lapangan terbang di tengah gunung jika bukan untuk sesuatu? Bahkan, kekayaan itu hingga saat ini masih terlihat dengan adanya penambangan dan pendulangan oleh penduduk di sekitar daerah pegunungan. Kalau mau, saya bisa antarkan ke sana” katanya.

13449445721756231380

Sabana Cikasur

Cerita gunung Argopuro sebagai ladang mineral memang cukup merebak. Menurut sumber yang sama, dikatakan juga bahwa kekayaan berupa emas tersebut juga masih terdapat di dua buah kapal Belanda yang terdampar di pantai. Bahkan hingga saat ini, kekayaan yang berserakan itu masih dicari orang-orang. “Namun yang berhasil ditemukan nampaknya hanya sebatang emas di sana,” tambahnya.

1344923448622961617

Puing-puing Bangunan di Cikasur

Puing-puing sejarah di sabana yang terlihat seperti kasur dari kejauhan ini juga bisa dilihat dari puing-puing bangunan yang ada di sana. Selain berdiri dengan gagah sebuah pondok yang biasa digunakan untuk berkemah, puing sisa bangunan masih dapat terlihat di sana. Meskipun keadaannya sangat ironis bukan karena kehancurannya melainkan karena tempatnya yang lebih mirip tempat sampah dan kegiatan vandalis dibandingkan dengan pusing-puing bangunan bersejarah.

Selain suasana sejarah, suasana mistis juga ada di kawasan ini. Masih menurut Saipul, Cikasur juga merupakan tempat terletaknya sebuah hutan terlarang yang menjadi tempat pemandian Dewi Rengganis. “Namun tidak semua orang bisa masuk ke sana. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa,” katanya menambahkan.

13449235202048619948

Sungai di Cikasur

Detak sejarah dan mistis ini sebenarnya akan terbayar dengan pemandangan di sabana yang luas ini. Salah satu yang memanjakan mata adalah mengalirnya sebuah sungai yang di pinggirannya bertumbuhan selada air yang bisa dipetik dan dimasak oleh para pendaki. Sungai ini memiliki air yang sangat jernih dan pemandangannya dari atas disertai semilir angin khas sabana akan sangat membuat rasa lelah kembali tidak mendapatkan tempat.

Menuju puncak

Perjalanan menuju puncak adalah perjalanan yang berbeda 180 derajat dari perjalanan menuju Cikasur. Bukan hanya dalam hal tidak ditemukannya ojek untuk menuju pos Cisentor namun juga karena perjalanan kali ini lebih didominasi oleh tutupan hutan alam yang tumbuhannya memiliki tinggi sekitar lutut orang dewasa. Sesekali sebelum keluar menuju sabana yang lebih kecil, bunga-bunga akan menyambut mata para pendaki. Pemandangan ini seperti layaknya di kisah-kisah dongeng. Medan yang harus dilalui pun lebih ekstrem daripada tahap perjalanan awal.

Perjalanan ini akan menuju sebuah pos yang bernama Cisentor. Di pos ini, para pendaki busa mengambil air yang jernih sekaligus beristirahat di sebuah pondokan yang telah ada di sana. Cisentor sendiri juga merupakan sebuah tempat yang merupakan titik pertemuan antara jalur Desa Bermi dan jalur Baderan.

13449447721860174392

Pos Cisentor

Selepas Cisentor, perjalanan akan dilanjutkan menuju kawasan Rawa Embik. Seperti perjalanan sebelumnya, perjalanan akan dihiasi dengan bunga-bunga di pinggir jalur pendakian sembari sesekali tanaman Edelweis yang merupakan tanaman khas pegunungan akan muncul. Ada sebagian yang berbunga da nada sebagian yang tidak berbunga. Di Rawa Embik sendiri, Edelweis yang tumbuh cukup banyak mengingat kawasan ini memiliki ketinggian sekitar 2800 mdpl.

Menurut penduduk sekitar, yang ditemui ketika di jalur pendakian awal, kawasan ini merupakan tempat kambing-kambing dibawa oleh penduduk untuk dimandikan. Ada juga yang mengatakan bahwa di sini adalah tempat kambing gunung mencari minum. Rawa Embik sendiri adalah sebuah kawasan yang mirip dengan Cikasur, yakni sebuah sabana dengan sebuah sungai kecil. Hanya saja sabana di sini tidak seluas di Cikasur. Pada malam hari, angin yang berhembus di kawasan ini sangat menusuk kulit.

13449448461980328417

Sabana Rawa Embik

Puncak kembar

Perjalanan dari Rawa Embik menuju kawasan tertinggi di kompleks pegunungan ini akan memberikan sebuah pandangan adanya dua buah puncak yang letaknya bersebelahan. Kedua puncak ini akan terlihat jelas di sebuah sabana yang bernama Sabana Lonceng. Kedua puncak ini berdiri dengan gagahnya.

Puncak pertama adalah puncak Rengganis dan yang kedua memiliki nama Puncak Argopuro. Puncak Rengganis lebih dikenal dibandingkan dengan Puncak Argopuro. Hal ini disebabkan karena gunung Argopuro lebih dikenal oleh masyarakat dengan kaitannya dengan Dewi Rengganis.

Menurut kisah yang ada di masyarakat, Dewi Rengganis ini melarikan diri bersama dengan dayangnya dan menetap di gunung ini. Di Puncak Rengganis yang dikelilingi oleh batuan kapur putih dan aroma belerang yang dapat tercium dengan tajam, pendaki akan menemukan semacam bekas puing sebuah kuil dan tumpukan batuan yang mirip dengan kuburan. Puing ini diperkirakan merupakan petilasan dari Dewi Rengganis.

13449239362132691604

Puing-puing di Puncak Rengganis

Kisah lain yang beredar di masyarakat lainnya adalah ketika orang-orang berhasil mendaki hingga ke Puncak Rengganis, segala permintaannya akan terkabul. Selain itu, mitos lain yang juga ada di di daerah pegunungan yang berkaitan dengan Dewi Rengganis adalah titisan Dewi Rengganis yang masih hidup di daerah sekitar pegunungan Argopuro. Cerita ini disampaikan oleh seorang tukang ojek yang membawa penulis menuju pos pendakian pertama. Lebih jauh, ada juga kisah yang menyatakan bahwa Dewi Rengganis yang diperkirakan masih hidup dan kini sudah berusia ratusan tahun.

Mitos-mitos di atas berkembang di kalangan penduduk Desa Widoro Payung. Selain itu, cerita lain yang cukup popular di masyarakat sana adalah sebuah cerita yang dikisahkan oleh Saipul. Ia menceritakan bahwa pernah ada seorang pendaki yang hilang tersesat dan tidak berhasil ditemukan selama satu bulan. Akhirnya dengan bantuan upacara adat, orang tersebut berhasil ditemukan dan kembali.

“Lalu, ketika ditanya pergi kemana, orang itu menjawab bahwa ia diajak oleh seorang perempuan yang

13449449552088972088

Puing di Puncak Rengganis

sangat cantik untuk pergi ke sebuah kerajaan. Di sana ia mendapatkan makanan yang enak ditemani dengan dayang-dayang yang cantik hingga akhirnya ia kembali ke tempat awalnya,” kata Saipul. Lebih jauh ketika ditanyakan seluk-beluk kejadian tersebut, orang itu menjelaskan bahwa ia sempat mengambil sebuah cincin merah delima yang ada di hadapannya lalu perempuan cantik itu sekonyong-konyong datang menjemput. “Bisa jadi itu Dewi Rengganis atau titisannya. Oleh karena itu, jangan mengambil apapun di gunung Argopuro,” tambah Saipul.

13449240401809503887

Matahari Terbit di Puncak Rengganis

Cerita tentang kehilangan orang ini nampak sudah sangat wajar dan upacara adat biasanya menjadi jalan pilihan untuk menemukannya. Mukhlas, salah seorang penduduk Desa Widoro Payung, juga menceritakan bahwa pernah ada seseorang yang hanya mengambil peluit dan kemudian hilang di tengah-tengah himpitan pohon bambu.

Puncak Argopuro, yang tidak sepopuler Puncak Rengganis, akan menyajikan sebuah pemandangan yang lebih tertutup oleh vegetasi. Di sana juga terdapat tumpukan batu yang diperkirakan memiliki nilai sejarah tersendiri. Sayang, batu-batuan sisa sejarah itu lebih nampak tidak terawat.

Mitos-mitos yang berkaitan dengan Dewi Rengganis ini tentu saja berimbang dengan panorama alam yang disajikan di puncak gunung. Matahari terbit akan terlihat dengan jelas beserta dengan gagahnya Gunung Semeru yang bisa terlihat dari puncak Rengganis maupun Argopuro.

Tiga arca dan peti emas

1344924113473160082

Puing-puing di Puncak Argapura

Terdapat sebuah kisah menarik yang disajikan oleh penduduk Widoro Payung dan puncak Rengganis dan Argopuro. Kisah tersebut bercerita tentang tiga arca yang hilang dan sebuah peti emas.

Menurut penduduk di sana, keberadaan barang-barang ini berada di sekitar kawasan puncak Argopuro dan mistisnya, keberadaan benda-benda ini dilindungi oleh seribu orang jin. Oleh karena itu, untuk mengambil barang-barang ini nampaknya diperlukan sebuah upacara-upacara khusus. Lebih jauh, Agus, seorang penduduk di Desa Widoro Payung, juga mendukung keberadaan hal tersebut karena ia juga meyakini peta yang menunjuk ke arah tersebut memang ada. “Coba saja anda kalau sudah di puncak melihat dengan mata batin. Anda akan menemukannya,” tambahnya.

Namun hingga kini, belum ada cerita dari penduduk yang mengabarkan bahwa tiga arca tersebut dapat diambil oleh manusia pada umumnya.

Tiga puncak

Puas memandangi matahari yang semakin merangkak naik, kuburan dari Dewi Rengganis, dan susunan batu penanda puncak Argapura, perjalanan bisa diteruskan menuju ke arah Cisentor dan dilanjutkan ke arah Desa Bermi. Meskipun perjalanan selanjutnya ini memiliki tema menuruni gunung, kenyataan yang dilalui tidak semudah itu.

Perjalanan ini masih harus melalui sebuah gunung bernama gunung Cemara Lima setelah sebelumnya dahaga akan disegarkan di sebuah daerah bernama Aeng Kenek (yang berarti air kecil) yang memiliki sungai kecil yang mengalir dengan air yang jernih. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 2500 mdpl. Memang sepanjang perjalanan pendakian, para pendaki akan melewati beberapa gunung seperti gunung Jambangan yang terletak sebelum Cikasur. Namun biasanya jalur pendakian hanya akan mengitari perbukitan.

Hal yang sebaliknya terjadi ketika perjalana menyusuri gunung Cemara Lima. Pendaki akan dihadapkan pada jalur yang memiliki kontur naik bahkan hingga ke puncak gunung Cemara Lima. Oleh karena itu, menaiki Argopuro dengan mengambil jalur Bermi akan membawa pendaki menggapai tiga buah puncak sekaligus: Rengganis, Argopuro, dan Cemara Lima.

13449247491835875708

Hutan Cemara di Jalur Pendakian

Secara umum, pemandangan yang disajikan tidak jauh berbeda dengan pemandangan dari jalur Cikasur menuju ke puncak Rengganis-Argopuro. Tanaman-tanaman hutan lebih mendominasi dengan pohon-pohon cemara yang menjulang tinggi di bagian atas perbukitan. Perjalanan yang nantinya akan menanjak akan kembali memanjakan mata dengan bunga-bunga Edelweis yang berkeliaran di pinggir jalur pendakian hingga jalur menurun dari puncak Cemara Lima.

Jalur menurun dari Cemara lima akan menawarkan pesona alam yang berbeda dari jalur-jalur sebelumnya. Jalur ini ketika menurun akan semakin didominasi oleh hutan tropis layaknya perjalanan menuju puncak Gede-Pangrango. Hutan yang ada masih terlihat sangat alami dan terlihat begitu liar. Lebih jauh, beberapa monyet hutan kadang juga terlihat melompat di antara pepohonan liar. Hal ini wajar mengingat Argopuro adalah kawasan suaka marga satwa.

Si mistis Danau Taman Hidup

13449242241159643101

Suasana Danau Taman Hidup

Perjalanan menurun dari titik puncak Cemara Lima menuju ke sebuah titik dengan ketinggian sekitar 1900 mdpl berakhir di sebuah danau yang merupakan tempat terkenal di kawasan Argapura: Danau Taman Hidup. Jika Semeru memiliki Ranu Kumbolo sebagai objek danau yang terkenal, Argopuro menyediakan suasana mistis di Danau Taman Hidup.

Di bagian masuk Danau Taman Hidup, pemandangan berupa monyet hutan kecil yang melompat di antara pohon-pohon semakin terlihat jelas. Sayangnya, lensa kamera tidak cukup tajam untuk menangkap aktivitas ini. Namun pemandangan alam ini sungguh menyegarkan mata yang dibarengi dengan indahnya kawasan Danau Taman Hidup.

Danau Taman Hidup sendiri adalah sebuah danau yang dikelilingi oleh rawa dan terdapat sebuah dermaga kayu lapuk menuju danau. Danau ini mengandung aroma mistis yang tidak kalah dengan Cikasur maupun Puncak Rengganis. Kawasan ini dipercaya sebagai sebuah kawasan yang disukai oleh Dewi Rengganis dan dayang-dayangnya. Oleh karena itu, sering beredar cerita bahwa di kawasan danau ini para pendaki lelaki sering digoda untuk mandi di sana.

1344924406390302675

Kabut Menutupi Area Danau Taman Hidup

Namun menurut Saipul, danau ini lebih bersifat alami. “Danau itu bersifat alami dan kalian boleh saja mandi di sana asal mau,” katanya ketika ditanyakan mengenai Danau Taman Hidup.

Ketika hari menjelang sore, suasana mistis memang akan menyelimuti danau ini. Kabut yang turun sekonyong-konyong membuat para pendaki berada di dalam sebuah lingkup awan yang luas dengan sebuah dermaga kecil di depannya. Namun ketika matahari terbit di balik bukit, semuanya akan berganti dengan keindahan yang tiada tara. Pancaran sinar matahari yang diimbangi dengan kabut danau akan membuat pemandangan indah di sekitar dermaga.

Lebih jauh, kawasan ini merupakan bagian lembah dari perbukitan. Keindahan yang bisa dinikmati di sini juga adalah embun-embun air yang menjadi es ketika pagi hari karena suhunya yang sangat dingin di pagi hari. Selain itu, sesekali pemancing akan datang ke danau ini. Agus Setiawan, salah seorang pemancing di sana menuturkan bahwa di danau tersebut ia bisa mendapatkan ikan sebanyak 50 ekor per hari. Namun hal itu dilakukan hanya sebagai hobi dan bukan sebagai pekerjaan sehari-hari. “Setidaknya setahun dua kali,” katanya.

13449242781457938031

Dermaga Danau Taman Hidup

Perjalanan akhir dan kisah Pajarakan

Perjalanan dari Danau Taman Hidup menuju akhir di Desa Bermi akan sama dengan perjalanan sebelumnya. Hutan tropis beserta hewan-hewan liar masih akan menemani para pendaki yang berjalan. Perjalanan ini lebih bersfat menurun secara terjal hingga sampai pada sebuah lokasi yang ditumbuhi pepohonan yang bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar. Perjalanan diteruskan hingga pemandangan berupa bukit dan sawah menyambut mata dan di daerah ini Desa Bermi sudad dekat. Pos pelaporan terakhir di sini biasanya dilakukan di pos polisi yang terletak di Desa tersebut.

1344945065614456137

Hutan Tropis di Perjalanan Akhir

Perjalanan pulang biasanya akan menggunakan fasilitas kendaraan umum menuju sebuah daerah bernama Pajarakan. Dan daerah ini akan menutup kisah mistis dan sejarah di sekitar kawasan Argopuro. Menurut Saipul, di daerah Pajarakan terdapat sebuah tanah merah yang warna merahnya disebabkan karena darah yang bercucuran. Darah tersebut dipercaya sebagai darah dari kepala Minak Jinggo yang berhasil dibunuh oleh Damarwulan. “Kalau anda ke sana dan menginjak tanah tersebut, spontan kulit akan berubah menjadi biru. Entah mengapa. Tapi anda bisa coba kalau tidak percaya,” tambahnya.

Inilah sebuah perjalanan mengenai gunung Argopuro dengan puncak Rengganis dan Argopuronya. Detak sejarah dan mistis terlalu tebal untuk dihilangkan di gunung api yang sudah tidak aktif ini. Namun dua hal itulah yang selalu memberikan nyawa terhadap keindahan alam Argopuro.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Taman Bunga Padang Pasir …

Ferdinandus Giovann... | | 24 July 2014 | 19:07

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: