Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Analia Wenda

menulislah selagi menulis itu gak dilarang...

Permainan Rakyat “Meriam Karbit” Meriahkan Malam Takbiran di Pontianak

HL | 18 August 2012 | 19:40 Dibaca: 1029   Komentar: 22   6

Kota pontianak yang merupakan ibukota provinsi kalimantan barat yang terletak di garis khatulistiwa ini terkenal dengan tanaman lidah buaya atau Aloe Vera merupakan komoditas yang dihasilkan di sektor pertanian dan perkebunan. Akan tetapi selain tanaman lidah buaya ada satu moment menarik selama bulan suci Ramadhan ini, yaitu tradisi permainan meriam karbit yang di mainkan oleh masyarakat Kota Pontianak terutama warga yang bermukim di sepanjang tepian sungai kapuas. Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang Hari Raya Idul Fitri sebagian warga Kota Pontianak kerap memadati tepian Sungai Kapuas. Maksud kedatangan mereka tidak lain adalah untuk menyaksikan permainan rakyat yaitu meriam karbit. Seperti apa permainan meriam karbit itu…???? check this out… J

Dilihat dari aspek sejarahnya, menurut sebagian para ahli sejarah, permainan meriam karbit erat kaitannya dengan sejarah berdirinya kota Pontianak. Pada saat itu, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri kota Pontianak yang juga merupakan Sultan pertama Kesultanan Pontianak, ketika membuka lahan untuk bertempat tinggal di Pontianak sempat diganggu hantu-hantu. Lalu Sultan memerintahkan pasukannya untuk menembakkan meriam ke arah daratan tersebut, tujuannya adalah untuk mengusir hantu kuntilanak yang konon saat itu banyak bergentanyangan di daratan tempat yang akan di singgahi oleh Sultan. Pontianak sebenarnya adalah sebuah kota yang dulunya banyak di huni makhluk halus hantu kuntilanak. Karena pada dasarnya pontianak berasal dari kata “Bunting” dan “anak”, atau dalam bahasa Malaysianya adalah “Buntinganak”.

Untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, masyarakat kota pontianak, khususnya yang tinggal di tepian sungai Kapuas membuat meriam-meriaman berbahan batang kayu gelondongan besar. Meriam dari kayu itu kemudian diberi karbit (CaC2) dan disulut dengan nyala api di salah satu sudutnya. Tradisi unik ini bisa dijumpai mulai pekan ke dua bulan Ramadhan.

Bentuk meriam karbit ini bukan seperti meriam mesiu seperti yang biasa kita lihat pada gambar sejarah perang dengan VOC, dimana meriam tersebut terbuat dari pipa logam yang di letakkan diatas gerobak atau kereta. Awalnya meriam karbit ini terbuat dari batang kelapa atau batang pohon pinang, seiring dengan berlakunya masa keemasan industri kayu, batang kelapa serta batang pohon pinang pun diganti dengan kayu gelondongan. Bunyi yang dihasilkan pun dijamin memekakkan gendang telinga. Hal ini menunjukkan bahwa wujud dari meriam karbit ini dari tahun ke tahun terus mengalami evolusi. Untuk memperoleh kayu yang berkualitas, kayu gelondongan tersebut harus direndam di dalam lumpur yang ada di dasar sungai kapuas. Proses perendaman ini bertujuan untuk membunuh serangga yang memakan kayu. Setelah sekian tahun di penamkan didalam lumpur, kayu kemudian di naikkan ke atas panggung nibung. Proses menaikkan kayu ini terbilang sulit. Untuk meringankan kerja, biasanya kayu di naikkan pada saat air sungai sedang pasang.

Jika telah dirangkai sedemikian rupa, suara dentuman dari meriam karbit berbahan kayu ini sangatlah keras. Gelegar suaranya bisa terdengar sampai dengan 4-5 kilometer dari panggung. Tak jarang suaranya menimbulkan gema yang berulang. Meriam karbit yang saat ini terbuat dari kayu besar yang berdiameter kurang lebih 50 cm -100 cm, dengan panjang antara 4 meter – 7 meter. Pada salah satu bagiannya, tepatnya di tengah meriam, diberi lubang. Cara memainkan meriam karbit ini mudah. Sebelum di sulut, meriam terlebih dahulu diisi air dengan jumlah tertentu. Kemudian di dalamnya di masukkan karbit. Karbit yang bereaksi dengan air akan menghasilkan gas yang jika disulut dengan api akan mengakibatkan ledakan.

Untuk satu kali permainan paling sedikitnya dibutuhkan sekitar 3 ons –5 ons karbit. Suara ledakan yang dihasilkannya mampu menggoyangkan bangunan yang ada disekitarnya. Pada beberapa kasus, pernah terjadi pecahnya jendela kaca pada salah satu rumah warga. Kondisi ini terjadi karena jarak antara meriam dengan rumah terlalu dekat. Bagi warga yang ikut menyaksikan dan suka akan tantangan, mereka dapat merasakan sensasi yang luar biasa saat menyulut meriam karbit. Dentuman suaranya mampu mengguncangkan gertak dan panggung kayu nibung yang dibangun di tepian sungai kapuas. Aksi ini jelas memacu kerja jantung.


Secara teoritis, ledakan yang ditimbulkan oleh meriam karbit tersebut dikarenakan adanya konsentrasi gas ditempat yang sempit. Gas yang dihasilkan karbit memilki sifat mudah terbakar. Akumulasi gas dalam jumlah besar dapat diperoleh dalam waktu relatif singkat melalui pencampuran air dengan karbit. Dimana karbit tersebut memiliki rumus kimia CaC2. Sehingga CO2 yang terkandung didalam karbit dapat terlepas jika terkena air. Menurut penuturan Rektor Universitas Tanjungpura Pontianak, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Dekan dan Dosen kimia di Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura pontianak “jika gas CO2 berkumpul dan terakumulasi dalam ruang sempit (dalam meriam), maka gas akan mudah terbakar jika terkena api”.

Sayangnya eksistensi meriam karbit di kota pontianak kian di persimpangan. Hal ini disebabkan terbatasnya dana, membuat warga sulit berkreativitas demi melestarikan permainan rakyat ini. Memang biaya untuk proses pembuatan meriam karbit tersebut lumayan besar. Akan tetapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat warga untuk tetap melestarikan permainan rakyat tersebut. Agar budaya yang sudah turun temurun itu tidak punah, segelintir warga rela patungan mengumpulkan dana dalam proses pembuatannya. Seperti warga di Kelurahan Benua Melayu Pontianak Selatan, mereka yang sehari-harinya hidup di bawah jembatan tol ini, turut memeriahkan malam idul fitri setiap tahunnya.

Pesona permainan rakyat meriam karbit ini jelas memilki nilai pesona budaya yang menarik. Menurut H. Martias ketua MPI (Masyarakat Pariwisata Indonesia) Kalbar, “ tidak sedikit wisatawan nusantara dan mancanegara yang terpesona dengan permainan meriam karbit di kota Pontianak. Bagi para wisatawan, permainan seperti itu jelas merupakan sesuatu yang langka. Besar kemungkinan, atraksi meriam karbit hanya ada di kota Pontianak, Kalbar”. Maka hal tersebut di harapkan permainan rakyat meriam karbit ini dapat di gelar setiap tahunnya. Beliau pun menyarankan jauh hari sebelumnya diikuti dengan promo wisata sehingga khalayak luas semakin mengenal kebudayaan yang ada di kota Pontianak ini. Semoga…!!!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Karnaval Kota yang Paling Ditunggu …

Ikrom Zain | | 30 August 2014 | 14:46

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | | 30 August 2014 | 16:19

Madrid yang Tak Belajar dari Pengalaman …

Garin Prilaksmana | | 30 August 2014 | 16:19

Makna Perjalanan Adalah Menambah Sahabat …

Ita Dk | | 30 August 2014 | 13:06

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Florence Penghina Jogja Akhirnya Ditahan …

Ifani | 3 jam lalu

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 12 jam lalu

Masalah Sepele Tidak Sampai 2 Menit, Jogja …

Rudy Rdian | 13 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

“Florence, Anda Ditahan untuk 20 Hari …

Farida Chandra | 8 jam lalu

Deddy Corbuzier Bikin Soimah Walkout di IMB …

Samandayu | 8 jam lalu

Semua Gara-gara Air Asia …

Rinaldi | 8 jam lalu

Negeri Berutang …

Yufrizal | 8 jam lalu

Dua Wajah Manusia dalam Antologi Cerpen dan …

Alexander Aur | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: