Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Suka Duka Keliling Ke 19 Negara

REP | 25 August 2012 | 07:16 Dibaca: 1165   Komentar: 69   21

Menjadi duta besar adalah salah satu cita-cita saya sejak kecil. Bayangan saya, jadi duta besar kayaknya bisa keliling dunia gratis, asyik! Tetapi ternyata untuk menjadi duta besar itu tak mudah. Lalu jadi duta-duta lain bagi Indonesia … otak saya belum encer … apalagi muka saya pas-pasan, badan saya pendek, kulit saya hitam dan hidung saya tak mancung. Saya hanya bermimpi. Untung saja saya ingat untuk tetap bersyukur dan tahu bahwa mimpi adalah bagian dari masa depan. “Make your dreams and catch it if you can .…”

Hore, tak bisa jadi dubes tapi bisa keliling dunia berkat LSM dan keluarga saya! Dan kejadian-kejadian yang menakjubkan serta menegangkan dalam perjalanan ke manca itu membuat saya makin ingat Tuhan dan yang terpenting, meski tlah jauh … I love you, Indonesia!

13458344132049743471

Aku cinta Indonesia …

***

1.Philipina (1994, 2001)

Suatu hari di kota Cebu, kunyahan Annamae itu tampaknya menandakan ia sangat menikmati sajian. Saya ikuti melahap lauk pauk dan sepincuk nasi. Alas daunnya menambah harumnya makanan. Wow, makan di Philippina serasa di warung Indonesia. Sembari mengunyah, saya tanyakan pada siswa keperawatan berkacamata itu. Katanya, makanan yang dihidangkan adalah; nasi, sayur mayur khas Cebu dan … babi.

Saya langsung lari ke toilet, huekk … memuntahkan isinya. Ya Allah, saya tak sengaja. Saya yang waktu itu masih kelas 3 SMA kelas A3, sosial, hanya meringis. Kok panitia tak bilang ya? Padahal sudah saya isi formulir dengan keterangan, “No pork and no alcohol.” Ah, lebih ngeri lagi membayangkan tawaran makan balut oleh Romeo, telur bebek yang sudah berbulu!

13458344952076593

Festival tahunan, Sinulog tahun 1994 di Cebu

Selain itu, yang saya ingat pada negeri Corry Aquino ini; 3000 sepatu Imelda Marcos hasil keserakahan dan arogansi, Barong dan rok perempuan yang aduhai, bahasa Inggris remajanya yang hebat, perawatnya yang tersebar di seluruh dunia dan Jeepney, transportasi umum yang unik.

2.Malaysia (2001)

Kami baru saja bertugas meeting lalu memutuskan untuk sekalian menantang Kuala Lumpur; bertahan hidup tiga hari tanpa tujuan pasti. Di hari pertama kami menginap di sebuah aula karate milik seorang kenalan. Dalam mencari penginapan gratis berikutnya di KL, kami mampir makan. Seorang pemilik warung nasi Lemak di Ampang point, Kuala Lumpur menyapa kami dan menyuruh pegawainya melayani di sebuah meja. Karena dipanggil BUDAK, saya agak salting. Teman saya buru-buru menjelaskan bahwa BUDAK itu panggilan untuk anak-anak di Malaysia. Satu rumpun, lain maknanya.

Usai makan, si empunya warung mengajak mengobrol. Ternyata semua orang Indonesia! Wah … saking gembira dan kasihannya dengan niatan kami, empok menawari tinggal dirumahnya. Syaratnya mudah; membantu pekerjaan di warung nasi lemak. Bahkan pacar si makcik yang sopir taksi menawarkan jasa transportasi gratis keliling KL. Huyyy … terima kasih, Tuhan. Engkau ada dimana-mana.

1345834556537312326

Alamak, membantu di warung nasi lemak milik si emak

Cakaran menara kembar Petronas di Kuala Lumpur pada langit, seliweran lalin, belanja di pasar seni, naik KRL … seru. Apakah mereka benar-benar truly Asia?

3.Thailand (2003)

Saya atur jadwal penerbangan agar saya bisa dua hari di negeri gajah. Memang agak repot karena ransel sebesar saya itu berat. Usai berjalan-jalan dengan rute bis yang bisa didapat di bandara Bangkok, saya kembali lagi ke bandara untuk tidur. Esoknya, sikat gigi dan makan diluar. Lagi-lagi menggunakan jasa bis yang ada di airport. What a challenge! Untung saya sehat dan selamat.

Dalam jalan-jalan disebuah kawasan mirip Malioboro, saya bertanya pada salah satu pedagang souvenir disebuah tempat yang saya lupa namanya. Diantara kehidupan malam dan jualannya yang macam-macam, turis bersliweran di sana-sini. Si lelaki menjelaskan bahwa barang souvenir dagangannya itu ia impor dari Bali. Buntutnya saya tak jadi beli. Buat apa bawa souvenir, toh bukan buatan Thailand tapi Bali.

13458346292092721039

Mau kepang banyak?Coba di Prominade Bangkok

Negeri itu sepintas mirip Indonesia dengan kesemrawutan lalu lintasnya, warung-warung yang bertebaran dan wadag orang-orangnya (baru tahu kalau sudah ngomong Thai). Semoga Indonesia bukan pusat penyebaran HIV yang mengerikan seperti mereka (ingat HIV/AIDS center di Thailand).

4.Jepang (2001, 2004)

Pertama kali berkunjung, saya dijemput dibandara oleh seorang teman yang diutus organisasinya. Keluhannya muncul bukan lantaran menyetir jauh tapi karena iuran tol yang mahal. Pada kesempatan berikutnya saya lebih memilih kereta saja, meski ada berita bahwa ada tangan bergerilya tak hanya ke kantong tapi sampai dada.

1345834725258933157

Sushi? Pasti! Ikan mentah, aku ngeri …

Tahun berikutnya, membuat saya jadi trauma makan ikan (khususnya yang mentah). Ikan adalah makanan yang banyak dilahap orang-orangnya. Merasa gaya sebagai penyuka ikan, saya coba bergabung bersama teman-teman untuk reuni di sebuah resto. Menu yang kami pilih macam-macam sea food mentah dengan beragam kecap. Ternyata, nyali saya kecil. Hiks. Daging yang belum matang itu memaksa meloncat dari rongga mulutku. Segera lari ke kamar kecil dan muntah … huekkk!!! Kapok.

Kegaduhan diri tak hanya soal ikan. Guncangan gempa bumi yang pernah saya rasakan waktu itu di kantor sebuah LSM, 10 kali dalam sehari masuk dalam list. Wih, ngeri ah … kok teman-teman Jepun tenang-tenang saja? Bahkan mereka kegelian melihat saya panik mau turun tangga dari gedung.

Disneyland Yokohama, kelenteng-kelenteng yang bertebaran di kota-kota kecil, Shibuya … itei … kantong jangan cepat bolong.

5.Nepal (2004)

Trauma diajak ke ranjang GM hotel di Kathmandu diobati oleh pengalaman naik gajah yang seru. Security check regular dimana-mana, belanja baju sari dan makan curry tiap hari. Wah, wah … negeri dengan pemandangan pegunungan Himalayanya ini begitu eksotik menarik hati. Sayang perbedaan gender masih membuat gerak wanitanya terbatas. Mungkin lain kali lebih bebas.

13458348061833370288

Kathmandu-pun lalinnya belum pasti

Baiklah … Khatmandu, Phokara, Bhorle adalah kota yang penuh memori. Momo, bakso dari daging kerbau asal Mongolia itu tak pernah terlupakan, telah memasuki rongga saat makan.

6. Hongkong (2004)

Karena membawa ransel besar dan tas tangan bertrolley, jalan-jalanku terasa terseok-seok. Beristirahat di sebuah taman kota, saya lihat banyak para wanita dari segala umur berkumpul dan bercanda. Dari ketawanya, saya duga mereka pasti orang Asia. Hahaha ….

Seorang perempuan yang mengaku dari Philipina duduk didekat saya, menanyakan saya TKW dari mana. Bingung mau menerangkan bagaimana saya mojok di zona ini, saya jawab singkat, dari Indonesia.

Si Pinay langsung nyerocos, menceritakan suka dukanya bekerja pada majikan di negeri ini. Capek mendengarkan si embak dengan seksama, saya pamit naik bis menuju dermaga. Menyepi, memandangi pelabuhan, kapal dan orang-orang yang lewat. Segarrrr!!!

7.Denmark (2003)

Seorang professor berada di samping saya, dalam sebuah lawatan ke pulau Aarhus dengan sebuah kapal. Saya tersanjung karena image orang Indonesia dimatanya adalah open minded dan friendly. Kedekatan kami membuat dosen sebuah universitas itu tertarik untuk berkunjung ke tanah air, bertemu dengan orang-orang yang ramah dan kekayaan alam negeri kepulauan yang indah. Bangga.

1345834879731165338

Kenalkan: little Mermaid, Ariel atau putri duyung …

Tiga bulan sudah. Bering, Kopenhagen, Aarhus, Odense … Brenderup menyisakan cerita perjalanan yang panjang dan berbeda. Tugu putri duyung di pelabuhan Kopenhagen itu akhirnya terjamah. Legenda HC Andersen yang berabad-abad didengar orang, tak hanya oleh anak-anak dirumah.

8.Belanda (2003, 2006, 2009, 2011)

Usai meeting bersama organisasi rekanan di Utrecht …

„I’ll send you to this address, you don’t need to pay …” seorang supir bus gandeng yang segera usai tugas itu mengembalikan secarik kertas yang saya sodorkan dan justru menawari saya untuk mengantar hingga tempat tujuan. Mungkin ia merasa kasihan dengan beban di pundak dan kebingungan yang tersisa di gelapnya malam. Bus bergerbong dua nan panjang itu mengantar saya hingga gang kampung rumah teman saya. Dank, Mister. Terharu. Ternyata ada orang baik dan menolong juga saat tersesat di Belanda.

Mengitari kompleks, saya tertegun. Rumah teman (yang pernah menginap dirumah orang tua saya itu) tertutup rapat. Tak ada siapapun dirumah. Sedangkan HP saya batereinya habis. Saya beranikan diri mengetuk pintu tetangga sebelahnya. Pasangan itu begitu baik mengijinkan saya masuk dan menelpon HP teman saya lewat telepon dirumahnya, „I’m already here.“

13458349391654535909

Kincir angin di Utrecht

Keesokan paginya, kami menjejaki lorong-lorong Amsterdam. Jualan marijuananya di café-café tak mampu menggoda saya. Sorry, no drugs (jiah). Beberapa warga gemar mengayuh sepeda. Kincir angin raksasa mengibaskan angin. Eksotik juga negeri bendungan air ini, ya? Kemana rempah-rempah yang diangkut selama 350 tahun itu?

9.Belgia (2003)

“Wow, 20 euro !” Mata saya terbelalak melihat tarif Youth hostel di Brussel. Apesnya, meski tergolong “murah”, tak ada kamar yang tersisa. Memang waktu itu sedang ada event tertentu, full booked. Lain kali booking kamarnya lebih awal, tak boleh mendadak. Terpaksa mencari hotel lain, hah, 60 euro semalam! Hiks. Ketimbang tidur di jalan, uang itu berpindah tangan juga. Andai teman saya itu membolehkan saya menginap di apartemennya ….

13458350061825563615

Di tengah kota Brussels

However, seduhan coklat panas dan batangan coklatnya memang sensasional. Kabarnya selain Swiss, Belgia amat kondang dengan ramuan kakaonya.

10.Perancis (2002, 2008)

Seorang lelaki tua dari Malta menyapa di bandara Charles de Gaulle. Konon, saya ini mengingatkan pada anaknya yang ada di luar negeri. Saya agak khawatir waktu pria itu menawarkan jasanya untuk menjaga koper saya selagi di toilet. Mau bawa backpack dan tas ke toilet, sempit dan repot. Kalau dititipkan si bapak, lari nggak ya? Ya Allah, bapak tua itu benar-benar jujur. Usai buang hajat, ia masih ada disana dengan barang milik saya. Merci beaucoup, Monsieur!

1345835051167792279

Bapak kenalan saya di CDG, dimanakah kau berada kini?

Menara Eiffelnya yang bisa membobol euro dalam dompet hanya bisa saya pandangi dari hotel, Notre Damme yang mengagumkan itu saya lewati, bahasanya saya coba simak … St. Dennis, jalanan sarang PSK dan para gali itu, tempat kedua saya menginap. Je ne sais pas … saya tak tahu mengapa orang-orang menggilai Paris.

11.Turki (2005)

Kepanikan dibandara tercipta karena saya lapor pada pihak keamanan bahwa kopor saya menghilang. Lima orang polisi bandara segera membantu saya mencari. Hingga tiba suatu saat dimana otak ini berputar dan ingat koper telah masuk bagasi check in tadi.

1345835133144992024

Air terjun di Antalya

Payahnya lagi penyakit lupa itu kambuh lagi. Turun dari pesawat dan berganti bis, netbook saya ketinggalan! Untung panitia meeting mau menolong menelpon nomer dari karcis bus yang masih saya pegang. Untungnya si sopir baik hati mau mencari dan mengembalikannya ke hotel keesokan hari. Dua hari kemudian saat harus kembali ke tanah air, laptop itu lagi-lagi ketinggalan di atas meja check in. Untung maskapai mengembalikan pada saya sebelum terbang. Gana lalinesia.

12.Jerman (2003, 2005, 2006-…)

Kedatangan pertama ke Jerman begitu mulus terlampaui. Mengawali bus dari Odense, Denmark ke Hamburg, Jerman hingga Dusseldorf, Jerman. Arus balik saya ambil dari Amsterdam ke Kopenhagen. Diperbatasan Belanda-Jerman dekat kota Hamburg, pemeriksaan tak hanya soal tiket. Pasport saya diminta. Ya ampun, mata petugas melotot. Hari itu, visa saya sudah habis! Pijimana, dong ? Daripada repot harus dibungkus yang berwajib ke kantornya, saya tunjukkan tiket pesawat. Hari ini saya memang harus hengkang dari Eropa lewat Kopenhagen. Untunglah komunikasi kami berjalan lancar dan keduanya tersenyum mengucapkan selamat jalan. Pffff … deg-deg aaaaan.

1345835199960485876

Trauma di sekitar Hamburg …

13.Swiss (2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012)

Karena kami tinggal di perbatasan Jerman-Swiss, kunjungan ke negeri ini tak ubahnya pergi ke luar kota, sejam sampai. Waktu itu bensin masih murah, kami biasa isi disana dan putar-putar lalu isi lagi. Sekarang sudah agak mahalan.

1345835293985230303

Rheinfall itu sekarang 5 euro/orang!

Rheinfall alias air terjunnya memang menegaskan betapa keindahan alam dari Tuhan itu bermanfaat juga untuk dijadikan aliran listrik tenaga air. Begitu pula dengan Indonesia, bukan???

14.Austria (2005, 2006, 2008, 2012)

Ini kali pertama saya menyetir mobil ke luar negeri (setelah Jerman), melewati tol terpanjang se-Eropa (?). Dengan bantuan navigasi dan co pilot, suami, tak ada sesuatu yang buruk terjadi. Negerinya mempesona dengan jajaran gunung seperti Salzburg, penampakan lainnya yang hampir mirip seperti di Jerman (bunga Geranien, bahasa, bentuk rumah, makanan dan sebagainya). Perjalanan amat lancar dan menyenangkan.

13458353592104334343

Salzburg

15.Italia (2008, 2011)

13458354381598000445

Venezia

Kunjungan kedua, Milano alias Milan. Kami memesan hotel di situs BED AND BREAKFAST. Yang berarti kami bisa tinggal disana untuk tidur dan dapat makan pagi dengan harga yang miring untuk ukuran Milan. Delapan puluh euro semalam. Total 240 Euro.

Namun alangkah terkejutnya kami, karena yang tersedia adalah sebuah kamar kecil dengan dua tempat tidur tingkat dari sebuah rumah susun. Pemiliknya adalah seorang wanita dengan satu anak. Anaknya itu entah dikirim kemana karena tempat tidurnya kami booking tiga hari.

Usai membayar lunas di muka, kami lihat ibu begitu gembira berbelanja. Lima tas plastik isi belanjaan memenuhi kedua tangannya. Hahaha … ya sudah, itung-itung amal … untung saja city sight seeing sempat mempesona jadi lupalah semua duka.

16.Luxembourg (2007)

Usai melewati rumah kelahiran Max Havelaar di Trier, kami cabut ke Luxembourg. Sayang sekali, hari itu hari Minggu, semua toko tutup. Hanya beberapa Café dan restoran yang buka.

1345835505301888650

Yang buka hanya resto dan cafe

“Untung hari ini hari libur, kalau tidak aku bisa bangkrut.” Begitu kata suami saya saat melihat saya sedih memandangi dan menunjuk display barang-barang di kaca toko-toko yang temaram. Sebagai obat kecewa, saya isi bahan bakar mobil penuh-penuh. Maklum, negeri mini ini memang waktu itu mematok harga BBM sangat rendah dibanding Jerman. Puh.

17.United Emirate Arab (2004,2005, 2010)

Seorang pria berjanggut menyodorkan sebungkus roti untuk saya. Ia memang sedang berbuka puasa dan menghampiri setelah sholat saya usai, di masjid bandara Dubai. Kok ada orang yang perhatian. Apakah makanan itu beracun? Tentu tidak karena saya masih hidup hingga hari ini. Allahuakbar!

13458355521661378198

Dubai oh Dubai, lampumu gebyar-gebyar …

Lewat negeri ini ketiga kali tak sekedar transit. Kalau biasanya tidur di bandara Dubai atau Abu Dabi, sepuluh hari kami menginap disebuah flat yang indah. Pemandangan Jumeirah yang megah! Wara-wiri mobil hebat macam Cheyenne Porsche, Lamborghini dan sebangsanya kadang bikin iri. Para wanita dengan jubah hitamnya semakin mewarnai lalu lalang turis dari berbagai dunia.

Pembukaan Burj Khalifa di sela-sela suasana tahun baru, tarian air di Dubai Mall … Emirate mall yang megah dan luas, pantai pasir putihnya yang indah, suasana malam yang berseri … ahhhh … tahulah saya mengapa orang Jerman amat bermimpi berada disini.

18.Cekoslovakia (2011)

Sudah lama ngiler ingin mengunjungi Praha. Setelah mengikuti rombongan tur, saya jadi mengerti bahwa memang lebih enak jalan sendiri lantaran tak ada batasan waktu dan obyek yang ingin didatangi.

13458360682001357119

Salah satu jalur merah di Strazny

Satu lagi. Sebaiknya memang lelaki beristri datang tak sendiri, Ceko banyak gadis cantik nan seksi. Hotel plus-plus banyak menggoda pria di seluruh pelosoknya … all in. Hati-hati!

19. Hungaria (2012)

1345835717959593541

Patung di depan kastil pada halaman Buda (pest)

Selama berada di Jerman, saya rindu, ingin selalu kembali ke Indonesia. Saat berada di Hungaria, saya ingin segera menuntaskan liburan dan kembali ke Jerman. Rasa bersyukur itu makin muncul, saya tak mau tinggal di Hungaria ! Negeri indah ini masih belum tertata rapi seperti Jerman. Bagaimanapun, negara ini mampu membuat phobia air-ku lenyap dalam 10 hari. Ceritanya lain kali …

***

Menyukai perjalanan ke luar negeri syaratnya saya harus mampu mengencangkan ikat pinggang, menabung, pencarian akomodasi termurah, diskon hingga gratis dan menyesuaikan diri dengan keadaan di tempat tujuan. Saya tak harus tinggal di hotel yang mahal karena biasanya kesibukan berkeliling membuatnya hanya menjadi persinggahan saat makan pagi dan tidur sahaja.

Sayangnya, justru di negara sendiri baru Jawa dan Bali yang saya susuri. Masih ada Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya dan puluhan ribu pulau-pulau kecil lainnya yang menanti. Ya. Nasi telah menjadi bubur. Keinginan itu tak semudah ketika masih berada di tanah air. Semoga Allah memberiku rejeki yang cukup untuk menikmati keindahan tempat bangsa sendiri.

Akhirnya, kesadaran saya kambuh. Dari kunjungan ke sembilan belas negara, justru rindu pada Indonesia semakin menjadi-jadi. Makin terasa saat lebaran begini … hiks. Beruntunglah orang-orang yang mendapat kesempatan berkumpul bersama keluarga, saudara, teman, tempat klangenan dan apa yang disenangi pada hari yang fitri. Semoga anugerah itu benar-benar disyukuri.

Yaiy. Jalan-jalan ke luar negeri? Tak ubahnya membeli sangkar emas. Berkilau, indah, oase bahagia dalam tempo, mahal nan bersekat sampai bundas! Splash splash! (G76)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Taman Balekambang, Bukti Cinta Orangtua …

Agoeng Widodo | | 30 September 2014 | 15:39

Gedung DPR Dijual …

Hendra Budiman | | 30 September 2014 | 11:55

Bahkan Macan Asia pun Butuh Demokrasi …

Yudhi Hertanto | | 30 September 2014 | 12:16

Langkah Kecil, Meninggalkan Jejak yang …

Ngesti Setyo Moerni | | 30 September 2014 | 15:07

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 7 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 10 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 11 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: