Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Arif Rahman Hakim

Hobi membaca dan menulis. Bekerja di Jakarta dan berdomisili di Bekasi, Jawa Barat.

Jalan-jalan ke Malaysia

REP | 04 September 2012 | 22:35 Dibaca: 7152   Komentar: 13   1

Aku belum pernah ke Malaysia dan sudah lama memendam keinginan jalan-jalan ke negeri jiran tersebut. Keinginanku menginjakkan kaki di Malaysia akhirnya terwujud tanggal 25 – 26 Agustus 2012. Seorang sahabatku, Jamal Abdillah Bages, yang tinggal di Kota Batam, Kepulauan Riau, bersedia menemaniku ke Malaysia, dengan catatan aku berangkat dari Batam. Aku setuju. Jamal telah lama menjadi pemandu wisata dan pernah beberapa tahun bekerja di Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Myanmar, dan Brunei Darussalam.

Sabtu (25/8) pukul 06.15 WIB aku berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta dengan pesawat Lion menuju ke Bandara Hang Nadim, Batam. Sekitar pukul 07.30 sampai Bandara Hang Nadim. Aku lantas ke Pelabuhan Batam Centre dan bertemu dengan Jamal. Pukul 09.00 WIB kami naik kapal ferry NV Indomaster 3 jurusan ke Pelabuhan Stulang Laut, Johor Bahru. Sepanjang perjalanan Jamal bercerita tentang pengalamannya sebagai pemandu wisata freelance yang ditekuninya sejak 15 tahun silam.

1346754524836640973Aku (kiri) dan Jamal Abdillah Bages di atas kapal NV Indomaster 3.

(Foto: dok. pribadi)

Sekitar dua jam kapal telah sampai di Pelabuhan Stulang Laut, Johor Bahru, Johor, Malaysia. Siang itu tak banyak wisatawan dari Indonesia yang ke Johor Bahru. Aku sempat deg-degan ketika memasuki ruang imigrasi di Pelabuhan Stulang Laut, karena khawatir mendapat banyak pertanyaan. Untunglah, apa yang kukhawatirkan tak menjadi kenyataan. Aku cuma ditanya ke mana tujuanku, dan aku jawab mau jalan-jalan ke Kuala Lumpur.

Dari Pelabuhan Stulang Laut kami naik taksi menuju ke Terminal Larkin, Johor Bahru. Di Terminal Larkin kami makan siang. Jamal menawariku menyantap menu India, tapi aku menolak. Aku lebih suka memilih masakan Melayu. Setelah sekitar setengah jam beristirahat di Terminal Larkin, kami lalu naik bus Durian Burung yang bertingkat satu. “Dari Larkin ke Kuala Lumpur sekitar lima jam, dan akan istirahat di dua tempat,” kata Jamal.

13467545951497724719 Di Terminal Larkin, Johor Bahru. (Foto: dok. pribadi)

Bus Durian Burung perlahan meninggalkan Terminal Larkin, kemudian menuju ke jalan tol. Di sepanjang perjalanan di kanan kiri jalan tol terlihat pemandangan perkebunan kelapa sawit. Perjalanan terasa tak menjemukan karena Jamal pintar berceloteh. Lagi-lagi dia menceritakan pengalamannya selama menjadi pemandu wisata yang dibumbui dengan humor menyegarkan. Aku tak sempat meladeni obrolannya karena tertidur. Kecapekan.

Entah berapa lama aku tertidur ketika Jamal membangunkanku. “Kita istirahat sebentar di Simpang Renggam, Johor,” katanya. Aku bersama para penumpang lainnya turun. Sebagian besar penumpang ke toilet, lalu ke mini market dan warung makan. Jamal menawariku makan nasi. “Nggak usah, Bang Jamal. Aku masih kenyang. Kita minum kopi saja,” kataku. Kami memesan kopi lalu mengambil tempat duduk di taman, persis di depan bus Durian Burung parkir. Di tempat itu juga terparkir belasan bus jurusan berbeda-beda. Saat itu pukul 16.00 waktu setempat.

1346754655685955470 Di Simpang Renggam, Johor. (Foto: dok. pribadi)

Sekitar setengah jam di tempat peristirahat tersebut terdengar pengumuman dari pengeras suara yang meminta semua penumpang Bus Durian Burung jurusan Kuala Lampur naik ke bus. Aku dan para penumpang pun naik ke bus. Sopir mencek satu-persatu penumpang, dan setelah dipastikan semuanya telah berada dalam bus, ia lalu menjalankan bus, dan lagi-lagi melewati jalan tol.

Matahari telah tenggelam, dan bergantilah malam. Tiba-tiba di daerah Senawang, Negeri Sembilan, bus berhenti. Sopir turun. Pikirku, mungkin dia mau buang air kecil di tepi jalan. Sekitar lima belas menit dia naik ke bus dan meminta semua penumpang turun karena bus mogok, terjadi kebocoran bensin. Semua penumpang, termasuk aku, turun dari bus dan melihat tempat bensin bocor. Dengan bahasa Melayu yang kumengerti sopir minta maaf atas musibah ini, dan dia akan mengusahakan mencarikan bus lain untuk mengangkut kami. Mendengar penjelasan itu, sebagian besar penumpang menjadi panik. Saat itu pukul delapan malam. Kepanikan kami bertambah karena beberapa bus yang dicegat sopir bus Durian Burung tak mau berhenti.

13467546972030912580 Bus mogok di jalan tol di daerah Senawang,

Negeri Sembilan. (Foto: dok. pribadi)

“Waduh, baru kali ini aku piknik busnya mogok,” kata Jamal sambil tertawa. Aku cuma nyengir.

Tepat pukul sembilan malam sebuah bus berhenti dan sang sopir yang orang India dengan ramah mempersilakan kami naik ke bus. Kami tak perlu membayar. Haaaa……aku bernafas lagi. Dan berdoa semoga bus yang kedua ini tak mogok.

Bus melaju dengan kencang, dan sejam kemudian kami tiba di Terminal Pudu Sentral, Kuala Lumpur. Aku dan Jamal kelaparan, dan kami mencari makan di lantai dua terminal. Beruntung ada dua warung yang masih buka. Kami memesan nasi goreng, dan dengan lahap menyantapnya. Jamal bertanya tentang rencanaku malam itu. Aku menjawab, kita keliling Kuala Lumpur dengan berjalan kaki, nggak perlu naik taksi atau bus. Jamal kaget. “Nanti kamu kecapekan,” katanya. “Bersamamu aku nggak kenal capek,” jawabku bercanda.

13467547511200094052 Di Pasar Jalan Petailing di kawasan China Town,

Kuala Lumpur. (Foto: dok. pribadi)

Setelah cacing-cacing di dalam perut tak bernyanyi, aku dan Jamal meninggalkan Terminal Pudu Sentral, dan dengan berjalan kaki kami menuju ke Pasar Jalan Petailing yang berada di kawasan China Town. Kawasan itu ramai sekali, banyak turis mancanegara yang berbelanja. Tapi, China Town di Kuala Lampur ini masih kalah ramai dengan China Town di Singapura yang pernah kukunjungi beberapa tahun silam. Di Pasar Jalan Petailing aku hanya membeli gantungan kunci untuk oleh-oleh.

13467548111162822897 Di menara kembar Petronas, Kuala Lumpur.

(Foto: dok. pribadi)

Kami cuma setengah jam mengelilingi Pasar Jalan Petailing, lalu berjalan kaki menuju ke menara kembar Petronas. Aku tak tahu berapa kilometer jarak dari Pasar Jalan Petailing ke menara kembar Petronas. Yang jelas pakaian kami basah oleh keringat, dan berkali-kali kami beristirahat di halte bus dan juga mampir ke Malaysia Tourism Centre. Sekitar pukul sebelas malam kami sampai di lokasi menara kembar Petronas yang menjadi kebanggaan rakyat Malaysia. Banyak sekali turis dari berbagai negara yang berada di menara kembar tersebut dan bebas berfoto ria. Aku dan Jamal menghabiskan waktu sejam di tempat itu, lalu melanjutkan perjalanan berkeliling Kuala Lumpur dengan berjalan kaki!

Jamal mengajakku ke lokasi wisata kuliner di Kampung Baru yang tak jauh dari menara kembar Petronas. “Tiga tahun lalu aku pernah tinggal di Kampung Baru ketika bekerja di sebuah restoran. Aku setahun bekerja di restoran di Kampung Baru, lalu pindah kerja di Thailand, juga kerja di restoran, sambil menjadi guide freelance,” kata Jamal. Aku diajaknya melewati bekas tempat kosnya yang dekat dengan wisata kuliner.

134675486191968799 Di Kampung Baru, Kuala Lumpur. (Foto: dok. pribadi)

Warung-warung di Kampung Baru buka 24 jam dan menawarkan aneka makanan dan minuman khas Malaysia. Aku dan Jamal hanya memesan kopi dan orange juice. Kami tak berminat makan karena masih kenyang. Warung-warung dipenuhi anak-anak muda yang ngomong dalam Bahasa Melayu, Bahasa Inggris, dan Bahasa India.

“Nanti kita ke perkampungan Indonesia, juga masih di Kampung Baru, nggak jauh dari sini,” kata Jamal. “Kita begadang di sana sampai subuh, lalu ke Johor Baru,” sambungnya.

Di perkampungan Indonesia kami nongkrong di restoran Padang. Pukul dua dini hari aku menyantap soto, lalu tidur bergantian di restoran itu. Menjelang subuh kami meninggalkan restoran, lalu naik taksi menuju ke Terminal Bersepadu Selatan di Kuala Lumpur, terminal baru yang beroperasi sebulan lalu. Kami naik bus jurusan Terminal Larkin. Di bus aku dan Jamal tidak lagi ngobrol ngalir ngidul. Kami kecapekan dan tidur. Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Terminal Larkin hanya tiga jam karena jalanan sepi. Dari Terminal Larkin kami naik taksi menuju ke Pelabuhan Stulang Laut. Pukul 12.00 waktu setempat kami naik kapal ferry meninggalkan Malaysia menuju ke Batam. Setelah istirahat beberapa jam di Batam, aku terbang ke Jakarta dengan Garuda.

Sungguh, liburan yang menyenangkan dan berkesan di Malaysia. (*)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat! Surabaya Meraih Socrates Award …

Ilyani Sudardjat | | 17 April 2014 | 11:14

Warga Kecam Pemogokan Panitera …

Sutomo Paguci | | 17 April 2014 | 08:56

Fenomena Simon Santoso: Penerapan Teori XY? …

Yuniandono Achmad | | 17 April 2014 | 08:18

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 10 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 10 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 10 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 11 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: