Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Ezraah

a space and time wanderer ....

Pengalaman Perjalanan ke Bali, Lombok, Sumbawa

REP | 09 September 2012 | 02:28 Dibaca: 17434   Komentar: 18   2

Berbekal tiket promo yang saya beli bulan Maret lalu, pada awal bulan September ini saya melakukan perjalanan ke Bali, Lombok dan Sumbawa. Sebetulnya tujuan perjalanan saya adalah Pulau Sumba, namun demikian perjalanan ke Pulau tsb saya sadari tidak lah mudah, jika melalui jalur darat. Untuk ke pulau tsb harus melalui 4 selat yang tentunya membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak.


Sudah sejak lama saya ingin mengeksplore pulau-pulau yang dikenal dengan nama Sunda Kecil tsb yang meliputi Pulau Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Dalam pengetahuan saya selama ini pulau-pulau tsb begitu eksotisnya, dataran tandus dan padang savana nya yg menghijau. Juga kuda-kuda dan sapi-sapi liarnya.

Perjalanan dimulai dari Jakarta dengan maskapai penerbangan yg bercirikan warna hijau pada pukul 07.45 pagi. Sampai di Denpasar, Bali, sekitar pukul 10.30-an WITA. Rute saya adalah Ngurah Rai, Bali, kemudian menuju ke Lombok dengan kapal laut dari pelabuhan Padang Bai, Karang Asem, Bali.

Satu hal yg kurang manusiawi di Bali adalah susahnya mencari angkutan umum dalam kota. Transportasi disini kalo bukan taksi, ya ojek, tidak ada angkot seperti yg ada di kota-kota lain. Akhirnya saya naik ojek dari Bandara Ngurah Rai ke Terminal Ubung dengan biaya Rp. 50.000.

Sampai di Terminal Ubung sekitar jam 11.30, saya menunggu di terminal sambil ngopi. Bus menuju Padang Bai berupa mobil elf berwarna biru, adanya di pojokan. Setelah penumpang penuh, akhirnya bus berangkat pada jam 12.30. Kata sopirnya ini merupakan bus terakhir, entah benar atau tidak. Ongkos Terminal Ubung ke Padang Bai sebesar Rp. 40.000.

Setelah melewati Kabupaten Klungkung dan Karang Asem yang indah, pada jam 14.00 siang akhirnya bus tiba di Pelabuhan Padang Bai. Saya dan teman makan siang di warung jawa yang ada di pelabuhan ini. Perjalanan kami santai saja karena kapal ke Pelabuhan Lembar, Lombok, tersedia setiap jam.

Setelah makan siang, akhirnya kami naik kapal dan pada jam 14.40 akhirnya kapal pun mulai buang sauh menuju Lombok.Ongkos dari Pelabuhan Padang Bai ke Pelabuhan Lombok sebesar Rp. 36.000.
Setelah melalui Selat Lombok, akhirnya kapal merapat di Pelabuhan Lembar jam 20.30. Lama juga perjalanan ini, sekitar 6 jam.


Di Pelabuhan Lembar kami cari angkutan umum, tapi sudah tidak ada. Akhirnya kami memutuskan untuk naik taxi. Tujuan kami adalah Senggigi. Di sini tersedia taxi Blue Bird dgn argo.

Setelah melewati Kota Mataram yg cukup ramai dan padat, akhirnya kami tiba di Senggigi. Pantai Senggigi tidak lah jauh dari Kota Mataram, lama perjalanan sekitar 15-30 menit. Atas rekomendasi dari suatu blog akhirnya kami memilih untuk menginap di Hotel Elen. Pilihan kamar ada yang fan dan AC, kami pilih yang fan seharga Rp. 110.000.

Pusat Pantai Senggigi sangat mirip Bali, keramaian dengan bar-bar malam yang menyuguhkan live music saling berlomba menarik pengunjung. Para turis-turis asing yang rata-rata berkulit bule hilir mudik sepanjang jalan dan minum-minum di bar. Infrastruktur disini sangat memadai. Dari ATM sampai konter-konter tour guide banyak tersedia. Setelah makan malam, akhirnya kami beristirahat untuk rencana perjalan esok harinya.

Pada pagi harinya, kami jalan-jalan di Pantai Senggigi. Pantai ini tak berpasir putih, tetap tetap saja elok dipandang mata. Airnya sangat jernih. Ada banyak perahu dan para pelancong lokal yang bermain di pantai ini. Pantai Senggigi merupakan pantai yang sangat panjang, memanjang sampai ke Pelabuhan Bangsal. Namun demikian pusat keramaian pantai ada di depan Hotel Senggigi Beach Hotel.

Setelah puas menikmati Pantai Senggigi, pada jam 10.00 akhirnya kami berangkat ke Pamenang, suatu daerah di Lombok Utara yang dekat dengan pelabuhan Bangsal. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan umum yang akan mengantar kita ke 3 gili yang terkenal yaitu Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air.

Tapi hari ini jadwal kami adalah melihat air terjun Sendang Gila di Senaru, yang terletak di kaki Gunung Rinjani. Dari Senggigi ke Pamenang kami naik taksi dengan biaya Rp. 70.000. Sayang sekali tidak ada angkutan umum yang melewati Senggigi sehingga kami terpaksa naik taksi. Yang perlu dicatat, pemandangan sepanjang perjalanan sungguh lah indah. Kami melihat pantai Senggigi dari atas ketinggian karena jalan-jalan ini terletak di perbukitan.Pemdangannya sungguh sangat menakjubkan karena pasir beradu dengan birunya air laut. Di sepanjang jalan pun sudah dibangun resor-resor dan hotel-hotel mewah seperti Sheraton, Malimbu villa, dll.


Sampai di rumah teman, setelah beristirahat beberapa saat kami siap-siap menuju air terjun Sendang Gila dengan diantar mobil teman tsb. Ternyata cukup jauh juga perjalan kesana. Di perjalanan kami melewati Desa Bayan. Juga ada petunjuk Mesjid Kuno Bayan. Sayang kami tidak bisa mampir.

Suku Bayan Beli merupakan suku yang unik dan sangat menjunjung tradisi. Untuk memasuki kampung ini, kita harus melepas semua pakaian yang melekat di badan kita (termasuk dalaman) dan mengenakan kain sarung yang telah disediakan. Untuk yang cowok telanjang dada, sedangkan untuk yang cewek mengenakan kain sampai atas (kemben).

Keunikan lain adalah adanya tradisi Islam yang cukup “nyeleneh”, yaitu shalat dan puasa kita cukup diwakilkan kepada 3 orang yang sudah dipilih. Jadi, kita tidak perlu shalat dan puasa karena sdh diwakilkan kpd orang tsb. Tapi ini merupakan cerita teman yang saya tidak tahu kebenarannya. Isu yang berkembang bahwa mereka hanya shalat 3 waktu, kata teman saya, tidak lah benar.

Setelah menempuh 2 jam perjalan akhirnya kami tiba di air terjuan Sendang Gila, di kaki Gn. Rinjani. Ada 2 air terjun, kami pilih yang kedua karena air terjunnya sangat tinggi, tapi perjalanannya lebih jauh lagi. Setelah bercapek-capek ria akhirnya kami tiba juga, tapi sampai disana kami sangat puas karena air terjunnya indha sekali. Kami pun mandi sampai puas walaupun airnya sangat dingin, seperti air kulkas.

Singkat cerita, keesokan paginya acara kami adalah mengunjungi 3 gili. Tidak lengkap rasanya pergi ke Lombok tanpa mengunjungi gili-gili ini.
Dari rumah teman saya ke Pelabuhan Bangsal cukup dekat, kami naik Cidomo (sebutan untuk andong di Lombok) dengan ongkos Rp. 5.000. Kamipun membeli tiket kapal seharga Rp. 10.000 dan retribusi pantai Rp. 2.000. Pelabuhan ini cukup terorganisir dengan baik. Kapal-kapal itu tidak rebutan penumpang, melainkan sudah diatur gilirannya. Jika sudah penuh maka kapal pun diberangkatkan. Namun, jika gelombang tinggi kapal tidak boleh melaut. Oya sehari sebelumnya saya mendengar ada kapal terbalik akibat gelombang besar. Untung tidak ada korban jiwa.


Akhirnya kapal pun berangkat dan 30 menit kemudian mendarat di Gili Trawangan, gili paling ramai dari 3 gili yang ada. Kami disambut pantai yang sangat indah berpasir putih dan air laut yang bening. Alhamdulillah akhirnya kami bisa berkunjung ke pulau kecil di Lombok yang terkenal ini…

Dari kami berlima ada 2 orang yang asli orang Lombok, ini penting karena, kata teman saya, disini penetapan harga-harga berdasarkan bahasanya (hahahaha). Kalau kita pake bahasa lokal maka harganya cukup murah, kalau pakai bahasa Indonesia maka harga lebih tinggi, kalau pakai bahasa asing harga akan lebih tinggi lagi.

Berkat teman saya akhirnya kami bisa menyewa homestay seharga Rp. 250.000 untuk 5 orang. Biasanya homestay untuk 5 orang akan dihargai Rp. 450.000 sampai Rp. 500.000. Homestay kami bernama Cemos.


Kemudian di homestay juga kami menyewa sepeda seharga Rp.25.000 untuk seharian. Tarif umum sewa disini sebetulnya Rp. 75.000 seharian. Ada juga sewa jaman seharga Rp. 20.000 sejam.

Karena acara hari itu adalah bersepeda dan snorkling, maka kamipun menyewa peralatan snorkling seharga Rp. 30.000 sepuasnya. Padahal tarif sebetulnya adalah Rp. 75.000. Beruntunglah kami bersama teman Lombok kami sehingga bisa mendapatkan keuntungan diskon :)

Siang itu kami menikmati gili dengan bersnorkling ria. Snorkling disini cukup di tepi pantai saja, gak sampai ke tengah laut. Pemandangan di dasar laut sangat indah dengan ikan dan karang berwarna-warni. Setelah puas pada sorenya kami kembali ke homestay.


Acara lain yang tidak boleh dilewatkan disini adalah melihat sunset. Pada jam 5 sore kamipun bersepeda ria menuju spot sunset disana. Teman-teman saya yang kebetulan fotografer pun akhirnya berhasil mengabadikan pemdangan sunset di pulau ini, dengan latar belakang Gunung Agung yang terletak di Bali.


Setelah itu kami kembali ke homestay dan belanja-belanja oleh-oleh karena besok pagi kami harus kembali ke Bangsal.

Untuk diketahui kehidupan malam di Gili sangat lah hidup, gak beda dengan Legian, Bali. Bar-bar dengan musik-musik berdentum keras saling bersaing satu sama lain. Jalan kecil yang menjadi pusat keramaian di Gili padat dgn turis-turis bule. Restoran-restoran dengan menampilkan berbagai menu asing dan suasana memadati kiri kanan jalan. Ada juga yg menampilkan fire dance dan lain-lain. Sungguh ini merupakan surga bagi turis-turis yang menginginkan kebebasan, lepas dari peningnya keseharian mereka. Malam itu kami menghabiskan kongkow-kongkow di tepi pantai sambil minum dan makan makanan ringan, bukan di bar-bar (maklum turis backpacker..hehehe).

Keesokan paginya kami kembali ke Bangsal. Acara hari itu saya akan ke Pulau Sumbawa dengan mengendarai bus, sedangkan teman2 saya kembali ke Mataram dan ke Jawa. Kamipun berpisah.

Dari Bangsal saya naik taksi tujuan ke Terminal Bertais Mandalika dengan ongkos Rp. 130.000.
Saya membeli tiket bus Surya Kencana tujuan Bima, Sumbawa, seharga Rp. 150.000. Ini merupakan bus eksekutif dgn toilet didalamnya. Bus berangkat pada jam 10.00 pagi melwati pulau Lombok sampai ke pelabuhan Kayangan, Lombok Timur. Dengan kapal ferry bus menyeberang ke Pulau Sumbawa. Lama perjalanan ferry ini sekitar 2 jam. Setelah melewati beberapa kabupaten diantaranya Kab Sumbawa Besar dan berhenti untuk makan malam akhirnya bus pun sampai di Terminal Bus Bima jam 20.00. Berarti lama perjalalanan sekitar 12 jam. Dari rekomendasi penumpang bus yang ngobrol dengan saya, akhirnya saya menginap di Hotel Marina. Hotel ini cukup bagus dengan tarif termurah Rp. 325.000 kamar standar.

Sebetulnya banyak hotel lain yang lebih murah dan bagus dengan harga Rp. 100 ribuan per kamar. Malam itu saya langsung tertidur.

Keesokan paginya saya bingung karena petugas hotel pun tidak tahu lokasi-lokasi wisata di Bima. Saya baca tentang Pulau Ular tapi letaknya cukup jauh dan kapal menuju kesana juga belum tentu ada. Akhirnya saya hanya mengunjungi satu mesium disana yang bernama Mesium Asi Mbojo.

Tapi pelayanannya sangat mengecewakan. Saya tidak mengerti apakah memang jam 1 siang mesium tutup karena pada saat saya dan beberapa pengunjung lain datang, jendela-jendela malah di tutup. Akibatnya di dalam ruangan menjadi gelap gulita, lampu pun tidak ada yang menyala. Saya merasa keheranan sekali dengan semua ini. Petugasnya ada 2, satu orang yang muda, yg menjadi pemandu suatu rombongan. Satu lagi bapak2, yang penampilannya seperti tukang kebun, yang melayani saya. Saya diajak berkeliling melihat-lihat berbagai benda yang ada disana. Ada senjata jaman Portugis, uang kuno dll. Ada kamar sultan, permaisuri, anaknya, dll. Bahkan saya ditunjukkan pula kamar Bung Karno sewaktu berkunjuang ke Bima.
Herannya ketika di kamar permaisuri saya disuruh berdoa sama petugas tersebut, tapi pada akhirnya saya disuruh memasukkan uang Rp. 100.000 ke balik tampak. Tentu saya tidak mau, saya hanya memasukkan Rp. 5.000 saja (krn memang tidak ada uang 20 ribuan). Petugas ini menurut saya cukup aneh dan misterius dengan gaya yg sangat terburu2. Setelah mengelilingi mesium yang kecil ini, saya kasih dia tip tambahan. Tapi sebelum keluar dia berkata, jangan berkeliling ditaman banyak anjing galak. Padahal saya lihat di taman tidak ada anjing, melainkan rusa-rusa yang tengah merumput. Aneh…

Habis dari mesium saya ingin membeli oleh-oleh khas Sumbawa seperti susu kuda liar dan madu sumbawa, tapi kata resepsionis tidak ada toko oleh-oleh seperti itu di Bima. Sepertinya kota ini memang kurang ramah bagi wisatawan yah…

Salah satu pengalaman buruk lain adalah saat saya membeli tiket pesawat untuk rute Mataram-Denpasar untuk tanggal keberangkatan esok harinya. Semua tiket sudah habis kecuali Merpati akhirnya saya beli seharga Rp. 550.000. Tiketnya dimasukkan amplop dan dibungkus plastik. Pikir saya kok aneh ya, baru kali ini tiketnya dibungkus berlapis-lapis. Sampai di Mataram baru saya dasar, ternyata tiket tsb harga resminya hanya sebesar Rp. 445.000. Ckckck.. ternyata agen travel di Bima tidak jujur dgn mengambil keuntungan Rp. 100.000 lebih, karena sepengetahuan saya agen tidak boleh mengambil keuntungan berlebih karena mereka sdh dapat komisi dari penerbangan. Nah, buat para pelancong harap berhati-hati bila membeli tiket di Bima !

Terminal bus Bima malam itu sangat padat. Luar biasa orang-orang Bima yang memang banyak merantau ke kota-kota besar. Bus yang saya tumpangi, Surya Kencana, malam itu memberangkatkan 5 buah bus. Ada banyak PO disini antara lain Surya Kencana, Langsung Indah, Safari Dharma Raya, Rasa Sayang, Surabaya Indah, dll. Bayangkan betapa banyaknya orang-orang Bima yang merantau !


Bagusnya di terminal ini, tidak ada persaingan harga antar bus, semua bus eksekutif dihargai Rp. 150.000 per sekali berangkat. Dengan begitu maka bus-bus ini bersaing dari segi pelayanan. Hal yang cukup menguntungkan bagi konsumen.

Pada jam 8 malam akhirnya bus pun berangkat dan tiba di Terminal Bus Bertais Mandalika jam 8 pagi. Dari terminal ini tujuan saya adalah Bandar Udara Internasional Lombok (BIL). Penerbangan saya sore jam 5 maka ada waktu saya untuk jalan-jalan di Lombok. Saya memutuskan untuk mengunjungi Pantai Kuta dan Suku Sasak di Lombok Selatan. Sambil menunggu bus Damri di terminal saya mandi. Segar rasanya setelah 12 jam perjalanan kepala disiram air yang dingin. Mandi disini gratis, ada di ruang tunggu terminal Damri.
Jam 8.45 bus Damri datang dan setelah menaikkan penumpang bus berangkat. Naik Damri bisa juga dari pool bus di jalan Faisal.


Jam 9.45 bus pun sampai di BIL. Saya tanya2 ojek untuk ke Pantai Kuta tapi tidak ada, akhirnya saya sewa mobil untuk keliling Lombok Selatan seharga Rp. 250.000. Saya mengunjungi suku Sasak Sade yang menjunjung tradisi, dengan rumah2 khas nya dari kayu dan beratap alang-alang.

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Pantai Kuta. Betapa indahnya pantai ini, pasirnya putih dan airnya biru jernih. Disini cocok untuk surfing. Akomodasi disini cukup memadai, meskipun belum seramai Senggigi maupun Gili. Bahkan Novotel sdh buka disana. Sungguh nikmat memandang pemandangan indah laut lepas disini. Pantai yang sangat eksotis, karena berpadu antara pantai putih, laut biru, dan bukit-bukit savana yang gersang…


Setelah itu saya pun kembali ke BIL dan melanjutkan perjalan ke Bali dengan Merpati. Keesokan sore nya saya kembali ke Jakarta.

Demikian lah pengalaman perjalanan saya ke Bali, Lombok, Sumbawa yang sudah saya impikan sejak lama. Mungkin bisa memberikan manfaat buat para pelancong yang punya tujuan atau destinasi yang sama..

Jakarta, 9 September 2012

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: