Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Amelberga Vita Astuti

Berbagi cerita dan pemikiran dari Melbourne, Australia

Canberra Katanya Kota Mati …

HL | 21 September 2012 | 23:03 Dibaca: 763   Komentar: 22   2

Waktu nge-tweet tentang pengalaman city transport yang gratis di Sydney, seorang teman berkomentar: “Setidaknya Sydney masih lebih oke daripada Canberra. Itu kota mati bikin frustasi…” Eh, kebetulan minggu depannya saya mau ke Canberra. Mendengar itu, teman saya ini langsung merespon: “Kota matiiiii. Kapok! Kapok!” Saya menjadi semakin bersemangat untuk pergi ke sana. Untuk membuktikan apakah benar Canberra kota mati? Juga untuk mencari apa sebenarnya definisi kota mati bagi teman saya itu.

Sebelum berangkat saya mempersiapkan mental dulu untuk bertemu dengan kota mati itu. Saya berkata pada diri sendiri bahwa saya ke sana untuk mengikuti conference. Bahwa adanya conference paling tidak membuktikan adanya kehidupan di lokasi itu. Bahwa saya juga hanya akan tinggal tiga hari di sana. Saya merasa siap dengan pertemuan ini dan saya merasa sangat sensitif dengan proses perjalanan ini.

Sehari sebelumnya saya sempat bertanya kepada teman lain yang pernah tinggal di sana untuk studi master. Pesannya hanya pendek: Dont imagine public transport in Canberra like in Melbourne. Maksudnyaaa??? Dia menjelaskan: Ojo dibayangkan public transportnya se-extensive Melbourne. Cuma ada bus di sana. Walau dengan bahasa campur aduk Jawa-Indonesia-Inggris, saya rasa teman saya cukup jelas menerangkan situasi di sana. Haduuuuh, di Melbourne taxi kuning lalu-lalang, bis banyak merek dan warna-warni, dibonusin trem yang klenong-klenong kayak badak sundal-sundul di mana-mana Eh ya, teman saya ini menambahkan kalau di Canberra yang banyak lalu-lalang adalah kangguru terutama di Belconnen. Saya ingat dulu dia sempat bercerita kalau rumahnya pernah diketuk kangguru

Pada hari yang ditentukan, Kamis (20/9) di siang bolong, empat jam sebelum penerbangan ke Canberra, saya mendapat telepon dari hotel tempat saya rencana menginap. Petugas hotel bertanya kapan saya akan check-in. Saya bilang pesawat saya akan mendarat pukul 4 sore tapi akan putar-putar dulu cari ‘dinner’. Apa yang dia katakan selanjutnya membuat semakin penasaran: “You’d better go straight to the hotel because from 5 to 6 is a very busy hour in the traffic.” Busy hour di kota mati??? Kalau sampai hotel dan di sekitarnya tidak ada Asian resto bagaimana saya ‘survive’ makan malamnya? Saya semakin semangat pergi ke sana.

Berangkat siang hari dari Tullamarine airport di Melbourne, saya sudah mengalami kejadian-kejadian istimewa. Sewaktu melalui scanning door saya diminta ikut petugas untuk random checking for explosive items in the baggage. Karena saya yakin tidak membawa barang bahan peledak, saya mau saja. Kerennya di sini saya disodori tulisan: kalau tidak mau tidak apa-apa tapi harus melalui screening khusus. Daripada repot dengan yang khusus-khusus itu saya pun mau dicek bagasinya dengan alat seperti pentungan yang ujungnya menyala. Tidak sampai lima menit scanning-nya selesai. Dan tidak ada apa-apa. Thank you for your time, kata bule petugas itu. Detik itu saya berpikir, kenapa saya yang dicek ya? Bukan orang lain. Ah itu nanti saja mikirnya, tidak ada hubungannya dengan kota mati.

Naik pesawat bergambar kangguru yang terbangnya tidak lompat-lompat, akhirnya dalam waktu kurang dari sejam saya sampai di Canberra. Sebelum mendarat, mata saa mengintip jendela yang ada di samping penumpang lain. Kok pegunungan sepi semua? Tidak banyak perumahan? Hanya tanah dan tanah? Masa Canberra ibukota Australia, tempat pusat pemerintahan negara maju ini adalah kota mati tanpa banyak penduduk? Masa kota di Australian Capitol Territory (ACT) ini sepi? Saya masih mempertanyakan hal ini.

Waktu pesawat sudah mendarat saya mengamati ada beberapa pesawat lain yang parkir, hmm mirip suasana bandara Adisucipto di Jogja. Keluar dari pesawat mulai terasa sepi. Ruang tunggu tidak cukup besar, sangat beda dibandingkan bandara Melbourne yang ruangnya hampir sampai angka seratus. Saya berencana mencari makan dulu. Celingak celinguk kok tidak ada resto makan cepat saji? Oh mungkin karena di lokasi penerbangan domestik jadinya tidak banyak penjual makanan, cuma dua café saja yang saya lihat. Ah langsung ke hotel saja deh daripada kejebak macet. Mungkin di hotel ada menu pakai nasi. Hihi perut ini belum kenyang kalau belum kemasukan padi ditanak.

Berikut ini pemandangan detik-detik pertama keluar dari bandara di Canberra. Yang terlintas di kepala bukan matinya kota tapi INDAH! Saya jadi berpikir, definisi kota mati bisa berbeda-beda sesuai pengalaman masing-masing orang. Mungkin bagi saya sepi itu indah. Tidak banyak orang. Pemandangan terasa luas dan membebaskan karena tidak ada hiruk-pikuk manusia dan kendaraan. Tapi saya jadi khawatir apakah ada taxi pada sore ini? Setelah mengikuti petunjuk ke tempat taxi-taxi, saya melewati sebuah pintu kecil. Dan di depan saya berjejer-jejer dengan rapi taxi putih menunggu penumpangnya. Ah taxi putih, jadi ingat Sydney dengan taxi putihnya juga.

13482246501773491084

Patung di bandara Canberra, foto: v4vita

1348224732256343651

Suasana di terminal domestik, foto: v4vita

1348224905411960168

Ikuti petunjuk di atas, foto: v4vita

Di dalam taxi yang gede banget (iya loh jendelanya sehidung saya hihi), saya mencoba mengabadikan momen-momen penting ini. Dan yak Sodara-sodara, ternyata saya salah bilang jam mendaratnya. Saya ternyata mendarat pukul lima! Dan lagi, betul apa kata petugas hotel. Perjalanan dari bandara ke hotel yang harusnya cuma lima belas menit ternyata saya lalui selama 30 menit. Macet, cet! Saya sudah print peta jalan di Canberra dan saya sangat yakin sopir taxi ini tidak menipu cari jalan jauh buat nambah argo. Ini benar jalannya dan macet!

Saya bilang ke sopir yang pendiam ini (biasanya sopir taxi Australia sangat ramah): Busy hour, eh? Eh Pak Sopir langsung nyerocos bercerita kalau jam 5-6 itu macet-macetnya jalan-jalan di Canberra. Bla bla bla. Dua bukti: petugas hotel benar dan sopir taxi Australia memang ramah mungkin setelah tahu saya bisa Bahasa Inggris.

13482248321990228030

Pepohonan terkena sinar sore, foto: v4vita

Sampai di hotel saya minta informasi dan peta ke resepsionis muda dan cakep yang tahu saya dari Indonesia dari nama saya. Kok tahu? Katanya dia belajar Bahasa Indonesia di universitas dan nama saya terdengar familiar. Oh nama pasaran maksudnya?? Hihi.

Dia bilang kalau restoran dekat hotel tidak banyak, hanya dua tempat dan agak jauh. Weks! Kalau supermarket, Mas Bule? Dia tidak yakin apa jam 6 masih buka di toko kecil dekat hotel. Weks lagi! Kalau yang pasti di City di Central Business District (CBD) yang terletak 30 menit jalan kaki. Oh, okay, thanks so much. No worries, katanya sambil memberi tanda di peta di mana hotel kami, resto dan toko kecil yang dia sebut.

Setelah menaruh koper dan menyiapkan ransel ringan, saya memulai petualangan di kota mati Canberra. Sesudah 10 menit berjalan, saya merasakan sepinya kota ini. Tidak ada orang tempat bertanya apakah saya berjalan ke arah yang benar. Akhirnya saya ketemu mas-mas bule yang jalan-jalan sore dengan anjingnya. Benar kan, saya salah arah. Saya harus kembali ke jalan tadi untuk cari rumah makan dan supermarket besar yang pasti masih buka. Dia mau menemani karena kea rah yang sama. Tapi maturnuwun mas, saya enakan jalan sendiri saja sambil potret sana sini.

Di sini saya merasa teman saya benar. Setelah berjalan 15 menit melalui perumahan dan taman yang sepi, gelap namun aman, dan bertemu pejalan kaki yang jumlahnya kurang dari sepuluh, saya menemukan resto Asia take-away. Langsung saya pesan karena takut tidak ada lagi lainnya. Kemudian saya bertanya ke kasirnya arah ke supermarket besar. Dia bilang cukup jauh dan tetap member arah sambil berpesan, sampai sana saya disuruh tanya orang lagi. Saya mulai khawatir.

Berikut laporan pandangan mata perjalanan ke arah supermarket besar. Apakah seperti kota mati?

1348225020317262191

Dekat resto Asia, foto: v4vita

13482250671809973908

Perempatannya, foto: v4vita

13482251071333771495

Perempatan lainnya :) foto: v4vita

13482251581541752833

Saya belum sempat naik ini, foto: v4vita

Sampai di shopping centre saya merasa bahagia karena melihat ada resto cepat saji favorit saya. Besok saya akan kembali buat beli. Saya lanjut cari supermarket. Tidak banyak orang yang ada untuk ditanya. Untung ada mesin informasi ini.

13482252441424759141

Ini touch screen, foto: v4vita

Setelah berbelanja keperluan emergensi buat perut selama tiga hari, saya berkeliling mall kecil ini. Ternyata jam tujuh toko-tokonya sudah pada tutup. Ke foodcourt, banyak yang masih makan tapi kok pakai seragam? Ternyata para pekerjanya. Jadi warung makannya sudah pada tutup. Saya menepuk take-away food saya. Lega tadi sudah beli.

Canberra disebut kota mati mungkin karena sepi sebagai ibukota. Malam hari tidak banyak toko buka kecuali toko bir dan café-café di pinggir jalan. Lampu kota menyala di beberapa tempat. Saya melihat masih ada bis dan banyak mobil. Café rame orang ngopi dan ngebir. Menurut saya, Canberra sama dengan kota Wellington di New Zealand: pejalan kaki bisa seenaknya menyeberang karena lalu lintas tidak ramai. Hanya di Melbourne dan beberapa titik di Sydney, pejalan kaki harus memencet tombol penyeberangan dan menunggu lampu ijo untuk menyeberang dengan aman.

Kembali ke hotel yang terasa jauh karena capek dan lapar, saya menikmati sejuknya Canberra dan indahnya kota sepi yang bagi beberapa orang mungkin kota mati.

Buat: C. Siddha M. dan G. Arum Y.

Tags: city

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 9 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 12 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 13 jam lalu

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi & The Magnificent-7 of IndONEsia …

Sam Arnold | 8 jam lalu

Diperlakukan-Dikerjain-Anda Bagaimana? …

Astokodatu | 8 jam lalu

Pelajaran dari Polemik Masril Koto …

Novaly Rushans | 9 jam lalu

Kemana Hilangnya Lagu Anak-anak? …

Annisa Ayu Berliani | 9 jam lalu

[Nangkring Cantik] Cantik itu harusnya luar …

Bunda Ai | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: