Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Taufik Petunjuk

Seorang dokter yang suka jalan-jalan,makan-makan,baca-baca dan nulis-nulis

Berkelana di Dharmasraya

REP | 03 October 2012 | 08:54 Dibaca: 644   Komentar: 1   0

Propinsi Sumatera Barat memang dikaruniai Tuhan dengan keelokan alam, keunikan sejarah dan budaya serta kelezatan kulinernya. Destinasi wisata hampir tersebar merata diseluruh pelosok Ranah Minang.


Dharmasraya diujung tenggara propinsi Sumatera Barat merupakan sebuah kabupaten hasil pemekaran yang juga menyimpan kekayaan wisata khususnya wisata sejarah. Kabupaten Dharmasraya adalah sepotong sisa kejayaan masa lalu kerajaan Melayu Dharmasraya yang bercorak Hindu-Budha.

Pada akhir September tahun 2012 ini, saya bersama seorang teman mengunjungi seorang teman kami yang kebetulan lagi berdomisili di Pulau Punjung, Dharmasraya. Travel antar kota adalah alternatif transportasi murah yang kami pilih. Dari Padang menuju Pulau Punjung akan menghabiskan waktu lebih kurang 5 jam perjalanan melintasi Jalan Lintas Sumatera yang beraspal mulus.

Karena lagi ada perbaikan jalan di pinggang Bukit Barisan menuju Lubuk Selasih, maka dengan sabar kami mengantri selama 2 jam di pendakian Sitinjau Laut. Hari beringsut malam ketika antrian kendaraan yang naik dari Padang dan turun dari Solok semakin mengular. Tekhnologi menjadi media yang mampu merangsang release endorphin. Nonton TV streaming dari Note membuat jarum jam berdetak cepat.

Jam 1 malam kami sampai di Pulau Punjung, karena si teman Dharmasraya kami kebablasan tidur, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di sebuah Wisma penginapan.

Keesokan paginya, perkelanaan keliling negeripun dimulai. Berbekal 2 buah sepeda motor pinjaman, kami mengukur jalan menuju Kenagarian Siguntur via Simpang Sikabau. Jalan yang dilalui pun mulai berubah dari Jalinsum yang lebar beraspal mulus menjadi jalan aspal mulus yang kecil dan berubah lagi menjadi jalan yang lebih kecil serta berakhir dramatis menjadi jalanan yang bertabur kerikil.

Sungai Batang Hari adalah sungai peradaban lintas zaman. Daerah aliran sungai terpanjang di Pulau Sumatera ini telah mencatat jatuh bangunnya beberapa peradaban. Kerajaan Melayu Dharmasraya pernah membangun pusat pemerintahannya di hulu Sungai Batang Hari. Setelah kedatangan Islam, Kerajaan Siguntur muncul sebagai salah satu pewaris kebesaran Kerajaan Melayu Dharmasraya. Sejenak kami berhenti dipinggir Sungai Batang Hari untuk melihat proses penambangan emas. Ya emas! Karena emas inilah tanah Andalas pada jaman dahulu dikenal juga sebagai Swarnadwipa.


Puas berfoto ditepian sungai kami menjambangi Istana Kerajaan Siguntur yang berbentuk Rumah Gadang. Untuk ukuran Rumah Gadang yang kaya akan motif ukiran, maka Rumah Gadang Kerajaan Siguntur ini tergolong sederhana, namun tetap elegan dengan ornamen patung kaki dan sebuah menhir kecil dihalamannya. Disekitar istana juga terdapat kompleks pemakaman raja-raja Siguntur dan sebuah Masjid Tuo.

Sungai Batang Hari yang berair keruh mengalir tenang membelah daratan. Sebuah biduk melaju diatas permukaan sungai membawa kami berkelana ke masa lalu.Di seberang sungai, tepat ditengah perkebunan jeruk dan karet milik masyarakat terdapat beberapa buah kompleks percandian peninggalan peradaban Hindu-Budha.

Selama ini, kami berpikir bahwa candi hanya terdapat di Pulau Jawa dalam ukuran dan ukiran yang mengagumkan. Namun ternyata di Pulau Sumatera pun kita bisa menemukan candi walaupun tidak semegah candi di Pulau Jawa. Candi Pulau Sawah I, II dan III adalah kompleks percandian yang kami kunjungi. Kompleks percandian ini hanya berupa susunan batu bata kuno yang sebagiannya masih dalam proses ekskavasi.

Dharmasraya adalah kampung halamannya Raja Adityawarman. Raja terakhir dalam sejarah Kerajaan Melayu Dharmasraya sebelum pusat kerajaan dipindahkan ke Pagaruyung. Ekspedisi Pamalayu yang terkenal dalam sejarah Singosari-Majapahit merupakan latarbelakang berakhirnya kisah Kerajaan Melayu Dharmasraya didalam buku sejarah.

Puas berkeliling candi, kami memacu motor ke Gunung Medan untuk mencari pengganjal Sumatera Tengah, Shalat dan istirahat sejenak.

Selepas menunaikan semua kewajiban, roda motor kembali menggilas jalan menuju Sungai Lansek. Menjelang memasuki negeri Sungai Lansek, kami dan motor harus naik kapal penyeberangan yang disebut ponton. Sekali menyeberang kami harus membayar ongkos Rp.3000,-per motor/orang. Kesenangan kami harus sedikit dikecewakan oleh ban sebuah motor pinjaman yang tiba-tiba membocor.

Setelah menemukan bengkel penambalan ban, motor kami arahkan ke kompleks percandian Padang Roco di Sungai Lansek. Tampilan candi masih sama seperti candi-candi Pulau Sawah yang dikelilingi perkebunan karet, bedanya candi-candi Padang Roco ini lebih sedikit terawat.


Sore pun jatuh dengan sempurna. Kabut asap tipis memendarkan cahaya matahari. Kami memutuskan untuk pulang ke Pulau Punjung melewati jalur pintas. Jalur pintas ini berupa jalanan berbatu yang turun naik mengikuti kontur perbukitan dipinggiran Sungai Batang Hari. Medan offroad ini membuat adrenalin terpacu dan beberapa kali kami terjatuh dari motor.

Sungguh sebuah pengalaman yang tak terlupakan, karena ditengah berbagai kesibukan yang menyita, kami masih sempat meluangkan waktu mengembara ke masa lalu sambil menikmati eloknya alam ciptaan Tuhan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Rekor pun Ternoda, Filipina Bungkam …

Achmad Suwefi | | 25 November 2014 | 17:56

Pak Ahok Mungutin Lontong, Pak Ganjar …

Yayat | | 25 November 2014 | 21:26

Menunggu Nangkring Bareng PSSI, Untuk Turut …

Djarwopapua | | 25 November 2014 | 21:35

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | | 24 November 2014 | 10:02

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Suami Bergaji Besar, Masih Perlukah Istri …

Cucum Suminar | 5 jam lalu

Anies Baswedan Merobohkan Mental Block Guru …

Pong Sahidy | 5 jam lalu

Telah Ditemukan Sebab Kekalahan Timnas …

Pebriano Bagindo | 7 jam lalu

Tamat Sudah Riwayat Opa Riedl Siap-siap …

Hery | 7 jam lalu

Heboh, Usia 17 Menangi Rp 15 Miliar! …

Jimmy Haryanto | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Bau Apek Hilang dengan Kispray 3 in 1 …

Fadlun Arifin | 8 jam lalu

Revolusi dari desa, Revolusi dari Gagasan …

Basyir Iskandarsyah | 8 jam lalu

Ayah dan Anak Cacat 15 Tahun Tak Tersentuh …

Lugas Wicaksono | 8 jam lalu

Tujuan Jokowi Menaikkan Premium, Inikah …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Nonton Sepakbola Rasa Kesal, Timnas …

Sugiyanto Hadi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: