Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Foead Bolanger

pLease visit my bLog: http://fuadthebolanger.blogspot.com

Mengenal Pesawat Capung

REP | 03 October 2012 | 23:54 Dibaca: 916   Komentar: 0   0

Karena tidak memiliki akses jalan darat, maka otomatis pesawat kecil adalah satu-satunya alat transportasi dari Wamena menuju daerah Nduga. Pesawat kecil atau yang di Jakarta orang biasa sebut dengan istilah pesawat capung, ternyata beragam jenisnya. Saking seringnya naik pesawat capung, aku sampai hapal sama macam-macam jenis pesawat mungil ini…. :)

Dulu, sebelum aku datang ke Papua….aku beranggapan bahwa twin otter lah pesawat terkecil yang biasa digunakan untuk mengangkut penumpang. Ternyata sekarang setelah aku bertugas di Mugi, bahkan twin otter terlalu besar untuk mendarat disini!! Jadi otomatis harus naik pesawat-pesawat yang ukurannya lebih kecil lagi agar bisa mendarat di landasan yang berukuran relatif pendek. Selain itu, pesawat kecil juga bisa lebih lincah “menari-nari”
alias bermanuver diantara celah-celah pegunungan yang ada disini…
Di Kab. Nduga sendiri pada awalnya terdiri dari delapan distrik dan masing-masing memiliki landasan pesawat sendiri (kalo sekarang sih jumlah distriknya udah banyak karena dimekarkan, Distrik Mugi sendiri sekarang dimekarkan jadi 3 distrik). Terkadang satu distrik bisa memiliki lebih dari satu landasan. Misalnya di distrik Mapenduma, karena wilayahnya yang luas, maka orang-orang yang berada jauh dari ibukota distrik berinisiatif membuat landasan agar pesawat bisa masuk dan memudahkan trasportasi orang maupun barang ke wilayah mereka. Tak heran jika distrik Mapenduma kemudian memiliki 3 buah landasan pesawat, yaitu di ibukota distrik, di kampung Paro dan yang terbaru adalah di kampung komoroam (koroptak).
Dari berbagai landasan yang ada di Nduga, hanya satu landasan yang bisa didarati oleh pesawat twin otter, yaitu di ibukota kabupaten (Kenyam). Lalu ada dua landasan yang bisa didarati oleh pesawat caravan, pesawat yang satu tingkat lebih kecil dari twin otter, yaitu Darakma (Mugi) dan Paro. Sedangkan landasan sisanya, karena terlalu pendek, maka hanya bisa didarati oleh pesawat yang berukuran lebih kecil lagi yaitu jenis pilatus porter ataupun Cessna kecil. Kalo landasannya bisa didarati pesawat besar, otomatis pesawat-pesawat yang lebih kecil juga bisa mendarat disitu, jadi bisa lebih ramai penerbangannya, contohnya di Kenyam.
Bingung dengan istilah-istilah pesawat diatas?? Tenang…aku  akan coba untuk menerangkannya kepada anda-anda pembaca blog ini sekalian…. :)
Yang akan aku terangkan disini adalah jenis-jenis pesawat kecil yang melayani penerbangan di wilayah Nduga. Secara umum, pesawat yang terbang ke Nduga juga melayani penerbangan kewilayah-wilayah lainnya yang ada di daerah Pegunungan Tengah Papua ini. Namun ada beberapa maskapai yang terbang ke kabupaten lain, tapi tidak terbang ke Nduga (kalaupun terbang, amat sangat jarang sekali).
Ok, tanpa banyak kata mari kita mulai saja tour pesawat kita kali ini…. :)
  • Twin Otter
Twin Otter @ Kenyam

Aku ngga terlalu banyak tahu tentang pesawat ini, karena emang belum pernah naik… :) tapi setahu aku pesawat ini memiliki daya angkut sekitar 18 – 20 orang penumpang. Disamping itu, pesawat ini membutuhkan landasan yang agak panjang untuk take off ataupun landing, sehingga pesawat ini tidak bisa mendarat di Mugi. Di Nduga sendiri hanya Landasan di Kenyam (ibukota) saja yang bisa didarati pesawat jenis ini.

  • Caravan
Caravan Susi Air PK-VVE ( skrg sudah R.I.P)

Pesawat ini merupakan buatan Cessna, Amerika. Aku pernah baca di body pesawat caravan milik MAF, tertulis dibuat oleh “Cessna Aircraft Company, Wichita, Texas”. Nama seri lengkapnya sebetulnya “Cessna B208 Grand Caravan”, namun biasa kita sebut dengan caravan saja. Pesawat ini memiliki daya angkut 1, 1 ton alias 1.100 kg (for passengers and cargo only, not including pilot and fuel). Mungkin sebetulnya daya angkut pesawat tersebut bisa lebih banyak, tapi mungkin demi alasan keselamatan, maka kapasitasnya dibatasi hingga 1, 1  –  1, 150 ton saja..

kursi untuk penumpang biasanya terpasang 9 - 10 buah (maksimal), namun kalo barang yang dibawa banyak…biasanya kursi penumpang akan dicopot sebagian atau bahkan semuanya.
Aku dan temenku pernah iseng-iseng nanya ke pimpinan AMA Wamena dan juga ke pilotnya Susi Air….
berapakah harga sebuah pesawat Caravan?
Dan jawaban mereka adalah…………2,3 – 2,5 juta dollar amerika!!
Kalo kurs dollar sekarang sekitar 9.500…..silakan kalikan sendiri deh hasilnya…..aku mah suka pusing kalo liat angka yang kebanyakan nolnya….. :D
  • PAC
PAC milik AMA (sudah R.I.P)

Di bodynya tertulis “Manufactured by Pacific Aerospace PAC, Hamilton, New Zealand”. Jadi mungkin nama PAC ini merupakan singkatan dari nama pabrik pembuatnya di Selandia Baru sana… daya angkutnya sama dengan caravan, yaitu 1,1 ton tapi kabin pesawat ini lebih kecil karena bodinya memang lebih ramping dibanding caravan. Jadi walaupun daya angkutnya sama, tapi daya muat PAC secara volume masih kalah dibanding caravan.

Yang unik dari pesawat PAC ini adalah pintu untuk pilotnya yang model naik ke atas (gull wing), mirip pintu mobil sport ala Ferrari ataupun Lamborghini gitu. Selain itu, sayap pesawat ini letaknya dibagian bawah bodi dan melengkung diujungnya. Jadi kalo diliat-liat, desain PAC ini memang agak “nyeleneh” dibanding desain pesawat capung lain pada umumnya.
  • Pilatus
Pilatus Porter milik Susi Air

Nama lengkapnya adalah Pilatus Porter, daya angkutnya 800 kg. Pesawat ini bisa mendarat di landasan pendek sehingga bisa melayani di semua landasan yang ada di Nduga. Kapasitas kursi penumpang 7 orang.

Pesawat ini relatif lebih lincah dibanding caravan, mungkin karena bodynya lebih kecil dan lebih ringan. Menurut Claire, salah seorang pilot Susi Air asal New Zealand, dia lebih suka bawa pilatus ini dibanding caravan karena di udara pilatus ini bisa naik secara lebih cepat (lebih lincah). Dan juga aku pernah lihat seorang pilot AMA, bisa take off pilatusnya di Mugi hanya dengan “berlari” sejauh 150 meter saja!!
  • Kodiak
Kodiak milik MAF

Dibuat oleh “Quest Aircraft Company” (ngga tau deh dari negara mana). Bodynya mirip dengan caravan, tapi berukuran lebih kecil. Daya angkutnyapun lebih sedikit, sekitar 600-700  kg. perbedaan lain dibanding caravan, Kodiak tidak punya “perut” alias bagasi dibagian bawah bodynya.

  • Cessna
Cessna kecil (PK-MAU)

Ada beberapa Cessna kecil yang ada disini, kesemuanya milik MAF. Kapasitasnya ada yang 320 kg (PK-MAU), 380 kg (PK-MPO) dan 400 kg (PK-MPZ). Aku pernah naik Cessna yang paling kecil alias PK-MAU….alamak kecil banget dalamnya. Waktu itu penumpang ada 4 orang…1 orang di kursi depan (kursi co-pilot) dan 3 penumpang lainnya plus barang ada di belakang. Tadinya aku pikir naik pesawat super mungil kayak PK-MAU ini bakal banyak “goyang” di udara…ternyata tidak! Dua kali aku naik pesawat ini dan semuanya muluss…bahkan “goyangannya” lebih sedikit dibanding pesawat capung dengan ukuran diatasnya, padahal waktu itu cuaca di atas juga agak kurang bagus lho…

Itulah tadi beberapa jenis pesawat capung yang terbang ke wilayah Nduga. Sebetulnya ada satu lagi jenis pesawat yang terbang ke wilayah Nduga, yaitu helicopter. Namun karena heli tidak termasuk jenis pesawat capung, makanya ngga aku masukkan dalam penjelasan diatas. Heli ini biasanya terbang ke wilayah-wilayah sulit yang tidak terjangkau pesawat-pesawat diatas, misalnya karena tidak ada landasan pesawat didaerah tersebut.

Sensasi naik pesawat capung emang beda banget dibanding naik pesawat besar macam boeing atau airbus yang biasa dipakai maskapai penerbangan nasional (garuda, lion, dsb). Bedanya adalah karena pesawat kecil bisa terbang rendah, lebih lincah, kadang kita juga bisa duduk didepan….jadi kita berasa seperti jadi co-pilot gitu… Apalagi ketika pesawat terbang rendah dan meliuk-liuk diantara celah-celah pegunungan, kita bisa melihat dengan lebih jelas pemandangan sepanjang perjalanan berupa hutan, danau, gunung-gunung, sungai dan juga air terjun….(asyik banget kan?!)  Pokoknya naik pesawat kecil memang beda lah sensasinya….semua ini berkat PTT di Nduga….Nduga memang oye..!! :D

Heli TNI yg jatuh di Mapenduma

Tapi semua itu bukannya tanpa resiko, malah high risk sih kalo menurutku. Medan yang berat berupa gunung2 tinggi ditambah cuaca yang sering berubah bisa menjadikan tantangan tersendiri. Sepanjang pengetahuanku, selama tahun 2011 terdapat 6 kecelakaan pesawat (ini yang betul2 jatuh, belum termasuk yang tergelincir dan lain2). Dan dari 6 kecelakaan tersebut, dua diantaranya terjadi terhadap pesawat yang terbang menuju Nduga. Yang pertama adalah helicopter TNI yang jatuh ketika akan mendarat di Mapenduma, dan yang kedua adalah pesawat jenis Caravan milik Susi Air yang terbang dari Wamena menuju Kenyam tapi kemudian jatuh di perjalanan (di daerah Pasema, Kab Yahukimo). Empat kecelakaan lainnya yaitu Pesawat Merpati yang jatuh di Kaimana, pesawat AMA yang gagal take off dan kemudian jatuh di Kab. Pegunungan Bintang, dan Pesawat Susi Air yang jatuh di Kab Intan Jaya. Sedangkan satu kecelakaan lainnya melibatkan pesawat jenis Pilatus milik Yajasi yang jatuh di Kab. Yalimo.

Resiko PTT disini memang besar. Selain karena masih merupakan daerah rawan, juga resiko diperjalanannya (karena harus menggunakan pesawat)….sehingga aku hanya bisa berdoa dan berharap semoga Tuhan selalu melindungi dan memberikan keselamatan kepadaku selama menjalankan tugas sebagai dokter PTT di Kabupaten Nduga ini….amin. 
………(Bersambung)
http://fuadthebolanger.blogspot.com/2012/09/mengenal-pesawat-capung.html
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Latahnya Pedagang Kaki Lima …

Agung Han | | 17 September 2014 | 04:16

Polemik Kabinet Jokowi-JK …

Mike Reyssent | | 17 September 2014 | 05:05

Potret-Potret Geliat TKW HK Memang …

Seneng Utami | | 17 September 2014 | 06:07

Pro-Kontra Pembubaran (Sebagian) Kementerian …

Hendi Setiawan | | 17 September 2014 | 08:17

Setujukah Anda jika Kementerian Agama …

Kompasiana | | 16 September 2014 | 21:00


TRENDING ARTICLES

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 3 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 3 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 4 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 5 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: