Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Putra Cikandang

Penggemar kegiatan alam, dan pencinta sepakbola...

Parongpong, Curug Cimahi: 10 Nama, Satu Cerita…

REP | 11 October 2012 | 16:54 Dibaca: 893   Komentar: 0   0

Aktifitas didunia kerja sangat menyita waktu dan pikiran. Belum lagi bumbu-bumbu diperjalanan seperti macet di perjalanan baik berangkat ataupun pulang kerja menambah suntuk dan menyebabkan kepala serasa penuh. Itulah yang dirasakan sebagian besar para penjemput rezeki di Jakarta. Aktifitas tempo tinggi setiap hari kerja mengakibatkan akhir pekan harus dimanfaatkan untuk me-refresh pikiran. Baik dengan berwisata, maupun dengan hanya sekedar istirahat penuh di rumah. Mungkin banyak yang memilih pilihan kedua, karena jakarta-pun tetap macet dihari libur weekend, jadi untuk keluar rumahpun jadi malas. Untuk yang memilih berwisata, banyak yang memilih wisata alam. Sekedar melihat pemandangan, hijaunya pepohonan dan sejuknya udara bisa jadi pilihan. Puncak jadi primadona buat warga Jakarta.

Begitu juga dengan kami. Sekumpulan anak-anak muda yang tergabung dalam satu perusahaan yang sama. Kami sering melewatkan akhir pekan dengan berwisata bersama. Dan wisata alam selalu jadi pilihan pertama kami. Dan kali ini kami memutuskan untuk menikmati alam parahiyangan yang indah. Berjumlah 10 orang, kami memilih menyepi di kaki gunung Tangkuban Perahu di daerah Parongpong, Lembang . Disini kami menginap di sebuah komplek villa yang cukup terkenal, Villa Istana Bunga. Bertepatan dengan acara family day kantor yang juga diadakan di Bandung, kami memilih hari yang sama untuk sekaligus menikmati keindahan alam Bandung utara. Dan salah satu tempat yang ingin kami tuju adalah Curug Cimahi.

13499487181216684015

Curug Cimahi, Curug Tertinggi di Jawa Barat? (Dok. Pribadi)

Setelah acara Family day kelar pada sore hari, kamipun memisahkan diri dengan rombongan kantor. Kami memilih tetap di Bandung, dan bergerak menuju istana bunga dengan cara yang sangat back packer sekali, ngeteng angkot. :D. Kami minta di drop didaerah Pasteur dan setelah itu perjalanan akan kami lalui dengan berangkot ria. Setelah menikmati santapan malam di depan Rumah Sakit Hasan Sadikin dan membeli perlengkapan untuk pengisi perut, kamipun melanjutkan perjalanan menuju Istana Bunga. Dan sesampainya di Istana Bunga dimalam harinya, kami hanya bisa berdiam diri di Villa yang telah kami pesan sebelumnya. Ya, cuaca dingin yang menusuk tulang mengurungkan niat kami untuk berkeliling menikmati suasana komplek Villa tersebut. Dan kami memutuskan untuk lebih baik menyiapkan diri untuk besok paginya menikmati keindahan Curug Cimahi. Karena banyak diantara teman-teman yang terlihat sangat kecapean karena aktifitas disaat Family day siangnya.

1349948652782350670

Jalan pagi keliling komplek Istana Bunga (Dok. Pribadi)

Pagi itu, matahari sudah memanggil. Kabut yang menyelimuti daerah parongpong tidak menyurutkan semangat kami. Untuk pemanasan kamipun memilih joging keliling kompleks Villa. Udara dingin pagi menambah keindahan Parongpong pagi itu. Setelah selesai joging kamipun segera sarapan dan bersiap-siap menuju tujuan utama kami hari itu, Curug Cimahi. Dengan menumpangi angkot jurusan Parongpong-Padalarang kamipun berangkat menuju pintu gerbang Curug. Setelah membeli tiket masuk di pos, kami pun langsung menuruni tangga menuju Curug. Dari ketinggian terlihat Curug yang tertinggi di Jawa Barat ini. Curug yang bertinggi lebih dari 70 m ini egitu menggoda. Dengan sabar kami menuruni sekitar 600-an anak tangga menuju Curug indah ini. Tak lupa kami abadikan setiap momen di kamera. Semakin banyak tangga yang kami turuni, semakin takjub kami dengan keindahan Curug ini. Airnya terlihat bersih, dan cukup tinggi.

13499487751280462649

Narsis dulu sebelum menuruni tangga (Dok. Pribadi)

13499488451991569656

Curug CImahi dilihat dari tangga menuju Curug (Dok. Pribadi)

Setelah berhasil menuruni anak tangga, dan sampai di tepi curug kamipun langsung menikmati keindahannya. Beberapa teman langsung masuk ke air terjun. Wowww, dingin sekali. Tapi itu tak menyurutkan mereka. Air yang dingin di kalahkan oleh keindahan dan kesejukan alam yang terbentang dihadapan. Momen ini kami manfaatkan juga untuk bernarsis2 ria. :D Curug cimahi yang berada di lembah ini memang memancarkan keindahan tersendiri. Deru air yang jatuh di dasar Curug dan bebatuan, sejuknya angin yang berhembus menerpa tubuh, embun yang sekali2 tertiup angin membasahi tubuh, menambah ketakjuban kami pada curug ini. Tumbuhan yang ada di sekitar curug terlihat sangat hijau. Belum lagi adanya beberapa ekor monyet yang bermain di sekitar Curug seakan ikut menikmati keindahan alam yang di ciptakan yang Kuasa.

1349948910187875028

Penghuni lain Curug Cimahi :D (Dok. Pribadi)

13499489731659129642

Kami ber-10. (Dok. Pribadi)

Kami ber-10 memang bukanlah orang kota, kami berasal dari berbagai tempat dan latar belakang, tapi di depan Curug ini, kami merasa sama, merasa seakan berada di kampung halaman sendiri. Tak ragu beberapa teman bermain siram-siraman sampai badan basah kuyup. Ada juga teman-teman yang hanya duduk-duduk di atas bebatuan sambil menikmati keindahan curug.  Karena baru masuk musim hujan dan malam sebelumnya Parongpong tidak di guyur hujan, memang air Curug tidak terlalu deras. Dan terlihat kecil, dibanding beberapa tahun lalu saya ke tempat ini. Tapi satu hal yang tak pernah berubah, Curug CImahi tetap mempesona, tepa menawan dan bisa jadi pilihan untuk menenangkan pikiran dan merefresh tubuh dari rutinitas yang melelahkan di dunia kerja.

1349949019486100892

Menikmati dinginnya air terjun (Dok. Pribadi)

13499490471667215443

Menikmati air terjun dari bebatuan alias takut basah :D (Dok. Pribadi)

2 jam lebih kami menikmati Curug ini, sambil saling bercanda satu sama lain. Buat kami ini adalah perjalan ke-2 bersama-sama yang cukup menyenangkan, setelah sebelumnya saya mengajak teman-teman satu kantor ini ke Curug 7 Cilember. Indahnya alam memang harus dinikmati dan disyukuri. Setelah puas bermain air dan berfoto-foto, kamipun kembali ke Villa untuk berkemas-kemas dan kembali ke Ibukota. Dan yang mantapnya, kami harus kembali menaiki tangga-tangga yang berjumlah 600-an itu. Tak apa, dan tak perlu mengeluh, keindahan yang diperoleh juga sepadan dengan cape yang didapat saat menuruni dan menaiki tangga ini. Beberapa tahun lalu saat ke Curug ini dengan teman kuliah, ada teman yang pingsan ketika menaiki tangga ketika hendak pulang. Alhamdulillah kali ini tak ada lagi, walaupun awalnya saya menakutkan hal ini, tapi semua hanya ketakutan belaka. Kami ber-10 selamat dan sehat (walaupun agak cape) sampai ke Villa kembali.

13499491541164179402

Beristirahat sejenak setelah menaiki 600-an anak tangga (Dok. Pribadi)

Setelah makan siang, kamipun segera bertolak meninggalkan Parongpong dan kembali ke Ibukota. Parongpong, tempat yang akan selalu kami kenang. Selalu akan kami ingat, sebagai tempat kami bersama-sama berpetualang menikmati keindahan ciptaan yang Maha Kuasa. Terima kasih Curug Cimahi, terima kasih Parongpong. Iraha-iraha abdi ameng deui nyah.

Buat teman-teman BackPacker yang mau ke Curug Cimahi, berikut rutenya :

1. Buat yang naik Bus : Dari Terminal Leuwi Panjang : Naik damri Leuwi Panjang - Ledeng (Rp. 2.000).

Buat yang naik kereta : Dari Stasiun Hall : Naik angkot L300 Stasiun Hall - Lembang (Rp. 3.000) turun di Terminal Ledeng.

2. Dari Terminal Ledeng naik angkot warna putih Ledeng - Parongpong (Rp. 3.500).

3. Naik angkot ungu Parongpong - Padalarang (Rp. 1.000) Turun di terminal/gerbang Curug Cimahi.

4. Retribusi masuk Rp. 10.000

Jadi dengan biaya minim, bisa menikmati Curug Tertinggi di Jawa Barat. Selamat berwisata. :D

.

13499492101404571726

Hatur nuhun Curug Cimahi, Parongpong (Dok. Pribadi)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-Keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Plus Minus kalau Birokrat yang Jadi …

Shendy Adam | | 02 September 2014 | 10:03

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 6 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 7 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Agung Laksono Lanjutkan Warisan Kedokteran …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

Mengenal Bunga Nasional Berbagai Negara di …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Cemburu Bukan Represent Cinta …

Diana Wardani | 9 jam lalu

“Account Suspended @Kompasiana Diburu …

Tarjo Binangun | 9 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: