Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Agung Sw

membaca,menulis dan menggambar

Di Baduy Waktu Diam Berhenti

REP | 21 October 2012 | 16:22 Dibaca: 562   Komentar: 0   2

Jam menunjukkan pukul 8 pagi,waktu untuk kereta berangkat dari stasiun Tanah Abang menuju stasiun Rangkas Bitung.

Ya,sebuah perjalanan menuju pedalaman suku Baduy saya mulai. Pedalaman Baduy terletak di wilayah Kabupaten Lebak,Banten. Awal perjalanan menuju Stasiun Rangkas bitung butuh waktu kurang lebih 2 jam.Dilanjutkan dengan naik mobil Elf menuju Ciboleger, sebuah desa yang merupakan pintu masuk menuju Baduy dalam.

Dibutuhkan waktu sekitar satu jam sampai di Desa Ciboleger.Melalui Jalan yang berkelok dan berliku,tak jarang pula dijumpai kondisi jalan yang terjal tanpa aspal,dan sebagian lainnya dalam tahap perbaikan.

Sampai di Desa Ciboleger kira kira pukul 12 siang, masuk menuju perkampungan Baduy Luar.Lewat jalan menanjak,berjajar kios menjajakan pernak-pernik khas Baduy.Ada juga yang jual sembako beserta ikan asin.

Menjadi suatu kebiasaan,apabila berkunjung ke Baduy Dalam,ada baiknya membawa semacam ‘oleh-oleh’ untuk diberikan kepada empunya rumah yang kita tinggali.Dan mereka paling suka ikan asin.

Masuk di perkampungan Baduy Luar, nampak rumah-rumah panggung berjejer rapi lengkap dengan hiruk-pikuk penghuninya seolah menyambut pendatang yang berkunjung.

Di Baduy sendiri,ada peraturan yang harus dipatuhi oleh pengunjung,salah satunya adalah meminta bantun “Guide” apabila kita ingin ke Baduy Dalam.

Guide kami bernama Pak Samin. Pak Samin mengantar salah satu dari kami ke tempat Jaro Pulung (Jaro untuk urusan dunia luar) untuk registrasi dahulu. Setelah birokrasi tersebut selesai, barulah kami berangkat menuju Baduy Dalam.

Jalan setapak dan menanjak menjadi awal perjalanan.Pepohonan hijau nan rindang menyejukkan mata di sepanjang perjalanan.Jalan tanah dan berbatu terjal menjadi irama perjalanan kami.

Butuh waktu 4-5 jam untuk sampai ke tempat tujuan. Itu pun untuk pengunjung yang belum terbiasa mendaki. Bagi orang Baduy sendiri bisa lebih cepat karena faktor kebiasaan, meskipun tanpa alas kaki.Hm, ini tanda-tanda kelebihan mereka.

Pak Samin memberitahu akan ada batas wilayah Baduy Dalam dan Baduy Luar, yakni jembatan di atas Kali Cibaduy. Ah, ternyata hanya jembatan bambu yang dibuat secara alami, tanpa menggunakan paku dan semacamnya. Cukup dengan tali yang mengikat “konstruksi” alami itu. Dan setelah melewati jembatan, berarti kami tak boleh lagi mengambil foto.

Masuk Baduy Dalam kita disambut oleh anak anak Baduy yang bermain di jembatan. Entah apa yang mereka obrolkan dengan bahasa Sunda sambil tertawa-tawa melihat kedatangan kami.

1350810689936966716

Rumah di Atas Batu”

Rumah-rumah panggung itu berdiri di atas batu. Menurut kepercayaan warga setempat bahwa agar rumah agar kokoh harus berdiri di atas batu.Beratap daun atau biasa disebut ’sulah nyanda’.Pintu rumah terbuat dari anyaman bambu,begitu juga dengan bilik rumahnya.

Secara umum rumah Baduy dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: ruang tidur kepala keluarga yang juga merangkap sebagai dapur, biasa disebut “imah”. Yang kedua ruang tidur untuk anak sekaligus ruang makan disebut dengan “tepas”, dan ketiga ruang untuk menerima tamu disebut “sosoro”.

Bangunan-bangunan rumah itu dibuat saling berhadapan satu dengan yang lainnya, dan hanya diperbolehkan menghadap Utara dan selatan saja.

Beruntung,kami berkesempatan menginap di rumah Jaro.Rumah tersebut tepat di depan kediaman sang Pu’un. Pu’un merupakan pemimpin tertinggi bagi masyarakat Baduy.Di samping rumah Jaro terdapat batas bambu yang menandakan pengunjung dilarang melintas daerah tersebut. Ya, karena daerah itu merupakan pekarangan rumah sang Pu’un.

Di belakang rumah Pu’un terdapat hutan yang disebut hutan larangan, di mana hutan tersebut tidak boleh dimasuki siapa pun.Untuk bertemu dengan Pu’un sendiri sangatlah susah apabila tidak ada kepentingan yang betul-betul mendesak.

Kami disambut ramah oleh Jaro dan keluarga. Istri Jaro sibuk menyiapkan penyambutan sederhana,tak lupa kami berikan oleh-oleh yang sudah disiapkan untuk dimasak dan dimakan bersama.

Malam pun tiba. Di depan rumah Jaro terdapat semacam Pos tempat berkumpul orang Baduy pada malam hari.Dilengkapi dengan perapian yang konon katanya bara api tersebut tidak pernah padam — wah, ini sih dian tak kunjung padam — pikirku. Api itu dipakai sebagai sumber untuk menyalakan obor bagi penduduk setempat.

Tak lama, makan malam pun sudah siap. Menu mie Instan, sarden yang kami bawa dan nasi siap dilahap bersama. Sederhana memang,makan bersama di bawah sinar temaram lampu obor dan senter kecil kami.

Nampak seperti sebuah kelurga yang harmonis.Gelas yang terbuat dari bambu,piring yang terbuat dari tanah liat begitu juga dengan sendok dan centongnya dengan bahan yang alami sungguh membuat seperti berada di jaman dahulu. Mereka tidak diperbolehkan menggunakan peralatan dari dunia luar yang modern.

13508109402005178158

“Perbincangan di Pos”

Malam yang dingin dan tak ada peradaban kota, lampu-lampu warna-warni apalagi deru kendaraan. Maka perbincangan dengan sang Jaro di pos mirip pos ronda itu berlangsung gayeng. Kami lebih banyak mendengar, terutama mengenai kehidupan penduduk setempat.

Masyarakat Baduy sendiri menganut kepercayaan Sunda Wiwitan, mereka tidak mengenal sekolah. Anak-anak mereka diajarkan untuk bercocok tanam sebagai pegangan hidup untuk laki-laki dan untuk perempuan diajarkan menenun sebagai bekal hidupnya kelak.

Penduduk Baduy sendiri menikah pada umur 20 tahun untuk pria dan belasan tahun untuk wanita. Pernikahan tersebut berlangsung dengan proses perjodohan.Pernikahan sendiri berlangsung kira-kira setahun setelah proses lamaran dan secara sederhana pula. Dan di sini tidak ada istilah undangan bagus, wangi dan pesta dengan adanya organ tunggal atau didokumentasikan foto atau video.

Dari obrolan dengan jaro,baduy sendiri percaya bahwa daerah mereka merupakan jantung dari Pulau Jawa,yang apabila terdapat kerusakan maka akan terjadi hal buruk bagi Pulau Jawa sendiri.Untuk itu mereka memegang teguh adat dan menjaga kelestarian wilayah mereka.

Meskipun hidup di pedalaman,bukan berarti mereka tidak tahu informasi dunia luar,sempat Jaro menyinggung masalah lumpur Lapindo yang diketahuinya dari televisi sewaktu ke Baduy Luar.Beliau mengatakan bahwa daerah terjadinya lumpur Lapindo tesebut merupakan kaki dari Pulau Jawa yang terluka.

Selain itu,ada waktu di mana Baduy Dalam tertutup bagi pengunjung dari luar,disebut sebagai bulan karo di mana mereka merayakan tradisi kawalu.Selama pelaksanaan kawalu kondisi kampung Baduy Dalam dalam keadaan sepi,hal ini dikarenakan mereka berpuasa dan memilih untuk tinggal di rumah.Tradisi ini berlangsung selama tiga bulan.

Waktu menunjukan pukul 9 malam berakhir pula obrolan kami dan saatnya beristirahat.

13508110402061981956

Pagi-pagi sekali sekitar pukul 5 kami terbangun.Tampak kegiatan penduduk sudah mulai terlihat. Wanita wanita Baduy nampak sibuk mengambil air ke sungai dengan membawa wadah berbentuk semacam kentongan terbuat dari bambu.Ada sekitar 4-5 buah. Wadah tersebut kemudian ditaruh didepan rumah mereka sebagai stok kebutuhan setelah di isi air.

Beberapa lainnya menggendong anak yang masih kecil,sambil melempar senyum ramah kepada pengunjung yang berpapasan.

Lelaki baduy juga sibuk dengan kegiatan berladangnya,tak jarang mereka terlihat membawa parang dan bungkusan seperti tas berjalan cepat menuju hutan untuk bercocok tanam,mencari kayu. Ada pula yang ke Baduy Luar dengan berbagai urusan.

Setelah selesai sarapan dengan menu yang sama seperti semalam kami pamit mohon diri.Jaro pun juga sudah bersiap hendak ke Baduy Luar untuk suatu urusan.Tak lupa kami tinggalkan uang sekedarnya sebagai ganti menginap semalaman.

Rute pulang kami pilih berbeda dengan rute awal,melewati lumbung-lumbung padi dan kampung lainnya.

Perjalanan pulang dengan medan yang lumayan menguras tenaga, kami sempatkan juga mampir kerumah penduduk kampung lainnya untuk sekedar melepas lelah.

Pemandangannya pun tak kalah menarik dibandingkan rute awal.Kali ini lebih banyak melewati perkampungan penduduk.

Kami tinggalkan Baduy yang kami inapi semalam. Kami orang kota banyak belajar dari sebuah peradaban yang memegang teguh adat tradisi turun temurun.***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 3 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 3 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 6 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 7 jam lalu

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Harus Wanita yang Jadi Objek Kalian?? …

Dilis Indah | 8 jam lalu

‘86’ Hati-hati Melanggar Hukum Anda …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Jack Ma: Gagal Ujian Matematika, Menjadi …

Hanny Setiawan | 8 jam lalu

Fabel : Monyet dan Penguasa Pohon Jambu …

Syam Jr | 8 jam lalu

Sunyi …

Yufrizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: