Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Situs Kebudayaan Kerajaan Majapahit

OPINI | 06 November 2012 | 04:53 Dibaca: 3046   Komentar: 0   3

1352043685499119779

Cagar Budaya Gapura Bajangratu. Foto milik Kusmanto

Di pulau Jawa masih dilestarikan  kejayaan budaya Majapahit dalam bentuk Gapura. Hampir disemua bangunan pemda dan fasilitas umum mengunakan ciri ciri gapura seperti ini.

Bulan lalu saya dari wisata Bromo-Semeru, disekitar ini masih sangat kental sekali dengan budaya kerajaan Majapahit. Setelah saya pulang dari Danau Ranu Kumbolo, saya langsung melanjutkan wisata ke lokasi air terjun Madakaripura (kab. Probolinggo), yang konon diberitakan sebagai tempat semedinya Patih Gajah Mada.
Keterkaguman saya terdapat sejarah kerajaan Majapahit, membuat saya melanjutkan mengunjungi beberapa situs sejarahnya di Mojokerto di desa Trowulan.

13520525592116758074

Pemandangan lautan pasir Bromo. Foto milik Kusmanto

13520454641264167705

Air terjun menjelang masuk kelokasi air terjun Makadipura. Foto milik Kusmanto

13520460011237552922

Air terjun Makadipura. Foto milik Kusmanto

Berawal dari kunjungan saya ke Bromo yang sudah berulang kali. Disana ada suku Tengger yang menurut sejarah adalah pengikut setia raja Majapahit yang terakhir.
Waktu kejadiannya sekitar dijaman transisi serah terima kuasa dari Raja Majapahit kepada anaknya hasil pernikahan dengan Putri Campa. Sepaham saya putri Campa ada wanita China dari negara Kamboja.

Dari pernikahan Raja Majapahit dengan Putri Campa melahirkan putra yang menjadi terkenal dengan nama Raden Patah. Karena terjadinya perang saudara terutama ayah dan putra, maka Raja Majapahit tidak ingin membalas serangan putra nya. Demikian juga budaya tarian Reok Ponorogo yang awalnya menjadikan tarian sambutan utusan Majapahit didaerah kekuasaan Ponorogo, tidak digubris oleh raja Majapahit.

Raden Patah juga mempunyai nama Tionghoa yang bernama Jin Bun, tetapi tidak memiliki nama marga. Tidak memiliki nama marga Tionghoa, karena mempunyai ibu dari  keturunan China.
Sedangkan nama Jin Bun mempunyai arti orang kuat. Dan arti Patah (Fatah)  dalam bahasa Arab artinya kemenangan.

Demi menyelamatkan perperangan antar saudara di pulau Jawa, Raja Majapahit lebih condong menyerahkan kekuasaan kepada Putranya. Padahal kita paham bahwa area kekuasaan jaman Majapahit demikian luas sampai ke negeri China.

Transisi antara budaya Hindu-Buddha di Jaman Majapahit menjadi budaya Islam, dipimpin langsung oleh Raden Patah. Kemudian dari keturunan Raden Patah, Raja Demak,  telah melahirkan pemimpin nusantara yang luar biasa hebatnya.

Dengan mundurnya Raja Majapahit menuju daerah Banyuwangi, menyebabkan ikut sertanya pujangga maupun para ahli nya menyebrang ke Pulau Bali. Dan sebagian yang masih dalam perjalanan masih bisa ditemukan di daerah pengunungan sekitar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Suku ini ditemukan oleh sensus jaman orba dan mereka mempunyai kebudayaan dan hari besar bersama yang disebut Hari Raya Karo. Hari besar Karo adalah hari yang dirayakan oleh semua umat agama penduduk Tengger.  Dan saya yakin mereka adalah silsilah dari keturunan rakyat atau prajurit kerajaan Majapahit.

1352047307947921157

Soe Herry, putra asli dari Tengger. Bersama Herry atau ayahnya beliau, saya bisa menjelajah pelosok Taman Wisata Bromo Tengger Semeru. Difoto oleh Kusmanto

Saat saya tiba di desa Trowulan, pertama tama saya tiba di kolam Segaran.
Sungguh luas sekali dan saat saya harus jalan berfoto saja, membuat letih untuk mengelilingi kolam ini.
Seorang wanita muda penduduk setempat menceritakan fungsi kolam Segaran. Katanya sebagai tempat cuci piring yang dikemas secara politis bahwa Majapahit sangat berkuasa. Tiap ada pesta kerajaan, maka cuci alat alat makannya, cuma perlu di lempar saja kedalam kolam itu.
hehehe… begitu kayanya…. Sekali pakai …. Langsung buang ke kolam…
Tetapi katanya… ada jaring dibawahnya dan nantinya, alat makan itu diangkat lagi dan digunakan lagi.
Konon diceritakan juga, bahwa air ini tidak pernah kering.
Apakah cerita ini benar atau tidak….. saya bukan ahli sejarah.

13520476211877293021

Kolam Segaran. Foto milik Kusmanto

Wanita muda itu juga menjelaskan bahwa ada makam Raja Brawijaya terakhir bersama istrinya (Putri Campa). Saat kami berjalan kaki karena jaraknya sangat dekat, maka benar ada lokasi makam.
Saya dijelaskan oleh juru kunci makam bahwa ada makam di pendopo utama, yaitu makam Brawijaya serta putri Campa. Yang paling dekat dengan makam adalah juru masak nya.
Kemudian disekitarnya ada makam menteri keuangan, pujangga pembuat keris. Dan sahabat lainnya.
Juga ada dua makam ajudan setia Brawijaya saat berkuasa.

1352048371149675117

Ornamen yang sangat indah disekitar bagunan tembok makan Brawijaya dan Putri Campa. Kesan dibuat dari campuran budaya Jawa dan budaya China. Foto milik Kusmanto

Yang menurut saya cukup mistis adalah keberadaan ruangan yang selalu terkunci.
Saya tertarik terhadap motiv jendela yang terbuat dari kaca buram.
Di jaman itu, sudah ada motiv kaca semacam kristal dan menurut saya sangat indah sekali.
Konon di jelaskan, bila ada orang yang kena santet atau barang hilang, bisa minta tolong juru kunci. Setelah diberikan pertuah, maka yang bersangkutan bisa masuk kedalam ruangan itu.
Dan didalam ruangan itu akan dikasih lihat siapa yang kirim santetnya.
(Cerita nya demikian tetapi saya tidak berkomentar tentang hal ini, karena hal ini sangat berkaitan sekali terhadap kepercayaan masing masing).

1352048042285747702

Motiv kaca yang menurut saya sangat indah. Foto milik Kusmanto

13520518112139825028

Ornamen yang bagus, saya temui di pintu makam Ahli Pembuat Keris. Foto milik Kusmanto

Disisi makam Brawijaya dan Putri Campa, saya dijelaskan sekitar 1 jam oleh juru kunci yang sudah turun menurun beberapa generasi menjaga makam itu. Sayangnya bapak tersebut sudah tidak bisa melihat tetapi masih sangat ingat sejarah maupun nama nama pejabat maupun pendonor makam.
Sekilas dijelaskan pula bahwa Vihara yang sangat besar di Kota Tuban, konon pembangunananya diperintahkan oleh Putri Campa.
Demikianlah sekilas sejarah yang diceritakan oleh bapak juru kunci, Paujan.

13520511991233938885

Menurut juru kunci makam Brawijaya, bahwa perintah pembuatan Vihara sangat besat di Tuban, dititahkan langsung oleh Putri Campa. Foto milik Kusmanto

Kemudian saya menuju Candi Tikus.
Disana saya ketemu beberapa bus dari Bali yang sedang ziarah ke candi Tikus.
Konon lokasi ini tempat mandi yang tertutup tanah. Saat ditemukan telah menjadi sarang tikus. Sekarang sudah indah kembali tetapi namanya tetap menjadi Candi Tikus.

1352048234685729731

Candi Tikus. Foto milik Kusmanto

1352048707967275066

Candi Brahu. Foto milik Kusmanto

135204882995224164

Buddha tidur di Maha Vihara Mojopahit. Foto milik Kusmanto

Waktu makin siang dan saya menuju candi lainnya sekitar area situs.
Hanya saja perlu waktu untuk melihat dan berkunjung kesitus situs majapahit.
Bila satu persatu saya uraikan disini, maka tidaklah cukup detail dan pasti sangat panjang.

Sesuai judul artikel ini, ada yang saya sangat tertarik. Yaitu masih berlangsungnya budaya kerajaan Majapahit yang dilestarikan oleh masyarakat saat ini.
Bila kita perhatikan bentuk garupa yang ada di bangunan Pemda atau bangunan kepentingan masyarakat, biasanya bentuk gapuranya masih kental sekali dengan bentuk candi Gapura Bajangratu.

13520515582053474069

Bentuk Gapura sekolah di Kota Banyumas yang saya foto beberapa minggu yang lalu. Bentuk kuncupnya adalah ciri khas candi Bajangratu. Demikian juga sering kali gapura berbentuk simetris yang dibelahnya candi Bajangratu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: