Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Herdian Armandhani

Kalau Tidak Mampu untuk Menjadi Pohon Beringin yang Kuat untuk Berteduh, Jadilah Saja Semak Belukar selengkapnya

Warna-warni Para Pedagang di Pasar Kumbasari Denpasar

HL | 06 November 2012 | 21:52 Dibaca: 862   Komentar: 0   1

13522121861927490965

Pasar Kumbasari dari Lantai Dua ( Sumber : Dokumentasi Pribadi)

1352212294591000128

Jembatan yang Menghubungkan Pasar kumbasari ( Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Menyebut kata pasar pasti terbesit dipikiran kita bahwa pasar merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli. Ada lagi yang mengatakan bahwa pasar merupakan ajang dimana para konsumen bisa berinteraksi denga para pedagang untuk melakukan kegiatan tawar menawar. Lalu sebagian kecil masyarakat mengasumsikan bahwa pasar ada tempat yang agak sedikit jorok dan kurang tertata pengaturannya. Nah, jika berkunjung ke Pasar Kumbasari Denpasar maka kesan bahwa pasar adalah tempat yang agak sedikit jorok dan kurang tertata pengaturannya maka semua asumsi tersebut akan sirna.

13522124111701695948

Sebelum Memulai Aktifitas Para Pedagang Bersembahyang Terlebih Dahulu di Pura Pasar Kumbasari (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

13522125471621257197

Gedung Pasar Kumbasari Sebelah Selatan (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

13522126321717659922

Tukad Badung di Foto dari Lantai 2 Pasar Kumbasari ( Sumber : Dokumentasi Pribadi)

13522128001375159671

Sebagian Dagangan Para Pedagang Di Pasar Kumbasari (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Pagi tadi (6/11) sekitar pukul 09.00 pagi penulis berkunjung ke Pasar Kumbasari Denpasar. Pasar tradisional yang terletak di bilangan jalan Gajah Mada Denpasar ini termasuk titik nadi perekonomian masyarakat yang ada di Bali. Pasar Kumbasari ini sangat ramai dikunjungi sebab pasar tradisional ini merupakan pasar yang dikelola oleh pemerintah setempat dengan penataan yang sangat strategis yakni di Jantung Kota Denpasar. Jalan Gajah Mada Denpasar sendiri merupakan kawasan warisan budaya kota Denpasar. Jika dari arah jalan Hasanuddin melewati Puri Pemecutan maka kita harus melewati jalan Gajahmada untuk bisa sampai ke Pasar kumbasari. Jika berjalan lurus kita akan meneukan Patung Catur Muka didekat kantor Walikota Denpasar. Daerah tersebut dikenal dengan titik nol kilometer kota Denpasar.

135221289742471694

Hiruk-Pikuk PasarKumbasari (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

1352212975902711981

Pakaian Ala Bali Seperti ini yang Laris diburu pelanggan (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Pasar Kumbasari terdiri dari dua pasar yakni sebelah utara merupakan komplek pasar yang menjual keperluan rumah tangga sehari hari seperti daging, bumbu-bumbu rempah, kue-kue kering dan beberapa keperluan dapur lain yang lazim dijual disuatu pasar. Sedangkan pasar disebelah selatan yakni gerbang utama pintu masuk dari pasar Kumbasari terdiri dari tiga lantai. Di Pasar Kumbasari sebelah Selatan ini termasuk sangat menarik. Disini dijual berbagai dagangan souvenir khas Bali seperti kain endek (kain khas Bali), kain pantai, busana ke Pura ( tempat ibadah umat Hindu), gelang manik-manik, kalung dari untaian batu yang sangat indah, baju bermotif “I Love Bali”, baju khas bali dengan berbagai bordiran yang terbuat dari kain katun sehingga jika menggunakannya akan terasa sejuk, berbagai seni ukir khas bali, kipas tangan untuk hiasan ala bali, payung khas bali umumnya dipakai sebagai sarana persembayangan, dupa aromaterapi, tas bali, topi tamasya, udeng kas Bali dan masih banyak lagi pernak-pernik yang dijual di Pasar Kumbasari. Di Lantai dasar para pedagang canang sari (peralatan sembahyang yang dipakai sehari-hari) mulai menjajakan dagangannya

Pasar Kumbasari dibelah oleh Tukad (Sungai) Badung sehingga untuk menyusuri bagian sisi gedung pasar yang disebelah utara para pengunjung bisa menggunakan jembatan manual yang ada dipasar tersebut. Konon Tukad Badung dahulu pada masa kolonialisme Belanda pernah digunakan oleh pihak Belanda untuk merebut Kota Denpasar dahulu sebelum kemerdekaan. Harga yang ditawarkan kepada calon pembeli sangat beragam. Harga yang ditawarkan termasuk agak miring mulai dari Rp 20.000 dan apabila beruntung anda akan diberikan diskon oleh para pedagang tersebut. Apabila anda berwisata ke Kota Denpasar,penulis sarankan untuk membeli oleh-oleh khas Bali ke pasar tradisional seperti Pasar Kumbasari ini. Alasannya sederhana, yakni masalah harga apalagi jika anda seorang bagpacker. Jika anda membeli oleh-oleh khas Bali di Pasar Oleh-oleh Bali Modern harga yang ditawarkan jauh kebih mahal 10 kali lipat sebab di pasar oleh-oleh Bali Modern pajak yang ditanggung para pemilik usaha lebih besar dibandingkan dengan oleh-oleh khas Bali yang dijual di pasar tradisional.

Saran dari penulis apabila berkunjung ke Pasar Kumbasari lebi baik anda menggunakan kendaraan roda dua untuk dating kemari. Anda akan kesulitan mendapatkan tempat parkir roda empat,walupun ada itu sangat sedikit sekali. Saat ini,Pasar Kumbasari sedang membuat parkir bawah tanah dan masih dalam tahap pengerjaan. Tarif parkir sangat murah untuk roda dia diberikan tarif Rp 2.000 saja. Walupun harga yang ditawarkan tidak terlalu menguras kocek calon pembeli tetapi soal kualitas dijamin sama dengan produk yang dijual di Pasar Oleh-Oleh Modern Khas Bali. Yuk buruan mampir Ke Pasar Kumbasari. Happy Shopping Day.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Jalan, Super Admin Kompasiana! …

Nurul | | 27 August 2014 | 11:44

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Tukang Ojek yang Membawa Perdamaian di Kota …

Uwais Azufri | | 27 August 2014 | 14:30

Artis Cantik Penginjak Bendera ISIS …

Den Hard | | 27 August 2014 | 12:26

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 10 jam lalu

Pak Jokowi, Buka Hubungan Diplomatik dengan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Persaingan Para Istri Bersuamikan WNA …

Usi Saba Kota | 11 jam lalu

“Tuhan, Mengapa Saya Kaya?” …

Enny Soepardjono | 12 jam lalu

DPRD Jakarta Belum Keluar Keringat, tapi …

Febrialdi | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: