Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Ayu Sri Darmastuti

membaca, opini, tersesat, rimba-belantara, malam, kopi, musik lawas, Indonesia, anak-anak, imajinasi, oil pastel, tumbuhan, biologi… selengkapnya

Pendakian Masal ke Semeru Sampai 2000 Orang?

HL | 16 November 2012 | 12:27 Dibaca: 3845   Komentar: 59   10

13530383312053616225 Foto di samping adalah Ranu Kumbolo, sebuah danau yang terletak di ketinggian 2700 mdpl di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (disingkat TNBTS). Terletak di Kabupaten Lumajang, tepatnya wilayah Desa Ranupani, danau ini menjadi salah satu danau paling menarik karena terletak di kawasan pelestarian yang menjaga kelestarian alaminya.

Selain daya tarik Ranu Kumbolo, umumnya menjajal Puncak Semeru menjadi daya pikat sendiri untuk mengunjungi TNBTS. Karena Mahameru merupakan puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Karena berada di kawasan zona konservasi Taman Nasional, tentu saja TNBTS memiliki aturan sendiri. Misalkan batas orang yang diijinkan naik dalam satu hari hanya 600-800 orang. Sebenarnya dalam pelaksanaan peraturan tersebut, pihak TNBTS kurang bisa bertindak tegas mengingat banyaknya celah dan kekurangan. Mungkin saja memang kurang personel penjaga atau kepentingan lain.

Tahun ini kawasan TNBTS saya rasa sangat populer, beberapa kali saya melihat liputan dari koran, tabloid dan majalah dengan tajuk wisata, serta National Geographic Traveler. Juga acara-acara seperti jambore petualang bertemu Medina Kamil, pelaksanaan syuting film 5 cm, upacara 17 Agustus, hingga yang paling baru pendakian massal Jambore Pendaki Avtech (Salah satu merek produk perlengkapan outdoor) dan bertemu Riyani Djangkaru.

Entah saya menggunakan pasal yang tepat atau tidak (saya biasa menggunakan UU No 5 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya), menurut aturannya Taman Nasional dikelola dengan sistem zonasi dengan tujuan untuk konservasi, penelitian, pendidikan, budaya, serta rekreasi dan wisata. Pembagian di sini ada Zona Inti, Zona Penyangga, Zona Pemanfaatan dan zona lain sesuai keperluan.

Melihat bentuk dari TNBTS sendiri, saya rasa wilayah Gunung Semeru merupakan zona inti konservasi yang memerlukan perhatian khusus. Pasalnya meskipun di dalamnya banyak flora fauna yang berada dalam status keterancaman dari kepunahan, seperti Elang Jawa, toh Semeru menjadi tujuan favorit wisata minat khusus. Wisata pendakian.

Misalkan ketika pendakian masal 300an orang pada upacara 17 Agustus yang dilaksanakan tiap tahun. Anda tidak akan bisa membayangkan bagaimana padatnya suasana Danau Ranukumbolo. Danau indah tersebut seolah tersihir menjadi pasar tumpah ruah dengan beragam warna tenda doom dan (maaf) kotoran manusia bercecer. Masalahnya tidak semua “pendaki gunung” itu menyadari bahwa ketika mereka mendaki di kawasan TNBTS, mereka membawa beban tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya.

Dan ketika pendaki-pendaki ini tidak dibekali dengan pengetahuan (meskipun hanya pengetahuan minimal) dan kesadaran untuk berkonservasi, tak ayal mereka menjadi orang dengan potensi perusak.

Itu dari segi konservasi, dari segi keselamatan? Saya beberapa kali ikut meng-guide orang yang bertandang ke Kota Malang untuk menjajal Gunung Semeru. Kalau dari teman-teman komunitas jelas saya tak meragukan kemampuannya, tapi mereka yang hanya penasaran, saya bisa pastikan bahwa kotak P3K dan oxican yang saya bawa berguna buat mereka. Tak terhitung juga kecelakaan, tersesat, dan kematian di Semeru.

Kabar paling baru dan masih hangat, 2000an orang memadati jalur pendakian Gunung Semeru. Bayangkan, jumlah orang sebegitu banyak lebih dari dua kali lipat batas kapasitas aturan TNBTS. Mereka adalah peserta dari Jambore Avtech (tepatnya 1697 orang) dan pendaki independen di luar peserta resmi Jambore. Apakah anda bisa membayangkan dampak langkah kaki dan ricuh ramai mereka terhadap keberlangsungan kelestarian TNBTS?

Meskipun mereka membawa tajuk bersih gunung, saya tidak yakin mereka mau membawa turun feses (kotoran manusia) mereka masing-masing. Enggak juga semua punya kesadaran untuk tidak memetik bunga liar, berry-berry dan cantigi. Untuk tidak mengotori air Ranu Kumbolo dan mengganggu fauna liar dengan kebisingannya. Rekan-rekan dari Forum Mapala Malang melalu pengumpulan tanda tangan sudah melancarkan protes dan mendukung apabila TNBTS bertindak tegas untuk membatasi peserta sesuai aturan kapasitas. Tapi protes tinggal protes, toh acara tetap berlangsung dan kelestarian Semeru dikalahkan oleh masalah kepentingan. (Mungkin uang?)

Dimana nurani kita…

Biasanya mereka yang menyebut dirinya pendaki gunung bergejolak untuk “menaklukkan” Sang Mahameru. Sabar saja, tak akan lari gunung dikejar. Bertemu Riyani Djangkaru bisa di mana saja. Pikirkanlah segi pelestariannya sebelum memanfaatkan secara berlebih.

Tetap belajar dan masih terbuka untuk berdiskusi. Selamat Siang :)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Berburu Gaharu di Hutan Perbatasan …

Dodi Mawardi | | 29 November 2014 | 11:18

Jokowi Tegas Soal Ilegal Fishing, …

Sahroha Lumbanraja | | 29 November 2014 | 12:10

Menjadikan Produk Litbang Tuan Rumah di …

Ben Baharuddin Nur | | 29 November 2014 | 13:02

Kartu Kredit: Perlu atau Tidak? …

Wahyu Indra Sukma | | 29 November 2014 | 05:44

Ikuti Blog Competition ā€¯Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 5 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 9 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

SBY Mulai Iri Kepada Presiden Jokowi? …

Jimmy Haryanto | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Merespon Garuda …

Indra Sastrawat | 8 jam lalu

Festival Payung Indonesia Pertama, …

Indria Salim | 8 jam lalu

Bangun Indonesia dari Desa, Belajar dari …

Gapey Sandy | 8 jam lalu

Semurni Kasih Ibu …

Suci Handayani | 8 jam lalu

yang Muda ? Mbangun Desa!!! yang Tua? …

Kang Isrodin | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: