Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Syukri Muhammad Syukri

Orang biasa yang ingin memberi sesuatu yang bermanfaat kepada yang lain…. tinggal di kota kecil Takengon selengkapnya

Bule Eropa Minati Kebun Kopi Sebagai Obyek Wisata

HL | 28 November 2012 | 11:21 Dibaca: 1358   Komentar: 18   11

1354075976632999076

Kuba (25) wisatawan asal Ceko lebih suka menjelajahi kebun kopi dan berbincang-bincang dengan petani (foto: Win Ruhdi Bathin)

Barangkali kita sering terkecoh, seolah-olah wisatawan mancanegara selalu mencari obyek wisata yang serba wah dan megah. Oleh karena itu, promosi wisata yang dilakukan oleh sejumlah daerah, termasuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terfokus kepada upaya menampilkan keindahan panorama dan atraksi budaya. Benar memang, sejumlah wisatawan mancanegara masih meminati Bali dan Lombok sebagai daerah tujuan kunjungannya karena kaya atraksi budaya dan keindahan alamnya.

Namun, pernahkan disadari jika orientasi wisatawan mancanegara mulai berubah? Sekarang mereka cenderung mencari obyek wisata yang natural. Mereka lebih suka menginap di pondokan petani sambil beraktivitas sebagaimana layaknya seorang petani. Mereka juga belajar mengolah biji kopi secara tradisional sambil menikmati secangkir kopi yang dipanaskan diatas tungku perapian.

Januari 2012 lalu, kompasianer Win Ruhdi Bathin (45) dikunjungi dua orang gadis bule asal Polandia. Kedua gadis cantik itu bernama Joanna Niedzialek (25) dan Bogumila Jablecka (25) yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Kristen Petra Surabaya. Baik Win Ruhdi Bathin maupun kedua gadis asal Polandia itu sudah terlebih dahulu saling kenal dan berkomunikasi melalui situs couch surfing (CS), sebuah situs para backpacker internasional.

Bagi anak dan isteri Win Ruhdi Bathin, kehadiran bule ke pondokannya bukanlah yang pertama kali. Sebulan sebelumnya, Maja Sondag (30) gadis Eropa juga pernah menginap di pondokan mereka. Pondokan ditengah kebun kopi yang terletak di Desa Paya Serngi Kecamatan Kebayakan Aceh Tengah sudah sering dijadikan penginapan oleh komunitas backpacker internasional yang berkunjung ke Takengon.

13540761261704896365

Joanna dan Bogumila menikmati suasana menumbuk kopi di pondokan Win Ruhdi Bathin

Sebagai salah satu anggota komunitas CS, backpacker internasional, keluarga Win Ruhdi Bathin sudah sangat siap menerima kunjungan para bule. Win Ruhdi Bathin tidak menyiapkan springbed atau shower untuk melayani tamunya. Dia hanya menyediakan balai-balai kecil ukuran 2×3 meter dengan tingginya dari lantai tanah sekitar 15 cm. Balai-balai itu beralaskan tikar plastik. Benar-benar cerminan asli suasana pondokan ditengah kebun kopi, sangat sederhana.

Sulit membayangkan, bule-bule itu mau beristirahat diatas balai-balai sederhana sementara dinegerinya mereka tinggal di flat atau apartemen. Demikian pula dengan dua gadis bule yang biasanya tinggal dirumah yang sangat lumayan, tiba-tiba harus menginap di pondokan petani. Tetapi, itulah fakta yang kompasianer saksikan langsung saat itu.

Menurut Win Ruhdi Bathin, balai-balai itu digunakan keluarganya sebagai tempat lesehan, baik untuk makan maupun nonton televisi. Balai-balai model itu memang ciri khas pondokan atau rumah kebun yang terdapat di Dataran Tinggi Gayo. Bahkan pondokan petani yang berada di pedalaman, biasanya  tersedia tungku perapian sederhana di tengah balai-balai yang berfungsi untuk memanaskan ruangan. Menyangkut dengan jasa akomodasi dan konsumsi bule-bule yang menginap di pondokannya, Win Ruhdi Bathin tidak pernah menetapkannya. Terserah mereka, mau memberi berapa karena Win Ruhdi Bathin ikhlas melayani kunjungan mereka, apalagi tidurnya juga di balai-balai sederhana itu. Mereka tidak minta divan mewah, tidak minta selimut tebal, cukup digelar tikar maka mereka bisa tidur nyenyak berbantalkan ranselnya. Untuk mandi, mereka menimba air sendiri dari sumur. “Makan pun mereka tidak pilih-pilih, dengan menu ikan asin dan sayur rebus plus kopi panas sudah cukup,” ungkap Win Ruhdi Bathin.

13540762751333387401

Berfoto di kebun kopi membuat dua wisatawan Eropa itu tak mampu menghapus kenangannya terhadap Takengon, Aceh Tengah.

Awal November 2012, Win Ruhdi Bathin dikunjungi oleh Kuba (25) seorang wisatawan dari Republik Ceko. Si Bule itu juga tidur di balai-balai sederhana seperti wisatawan lain. Pagi hari, ditengah udara dingin dan kabut tebal, bule-bule itu mengikuti Win Ruhdi Bathin menyiangi kebun kopinya. Bule-bule itu sangat menikmati aktivitas pertanian yang dilakukan Win Ruhdi Bathin. Tidak jarang, suasana pedesaan yang kental itu membuat mereka betah tinggal di pondokan Win Ruhdi Bathin sampai seminggu.

Pada medio 2010 lalu, sejumlah wisatawan asal Taiwan yang berkunjung ke Aceh Tengah juga menginap di rumah petani. Mereka bahkan ikut belajar menanam padi bersama petani, termasuk belajar membuat kue di rumah petani. Sepertinya, obyek wisata natural sudah selayaknya dipromosikan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk meningkatkan jumlah kunjungan ke tanah air. .

Demikian juga terhadap Win Ruhdi Bathin, seorang petani kopi yang juga penyaji kopi (barista) disebuah kantin kecil, sepertinya pantas mendapat gelar sebagai salah seorang “pelopor” pariwisata natural. Seandainya tulisan ini dibaca oleh Ibu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, harapan kita, orang-orang berkarakter seperti Win Ruhdi Bathin dan keluarganya layak diberi penghargaan khusus. Sebab, dengan caranya yang sederhana, mereka telah sukses memperkenalkan potensi pariwisata natural, bahkan mulai diminati wisatawan mancanegara. Semoga!

Dan, mari kunjungi link http://www.indonesia.travel/ untuk mengetahui obyek wisata menarik lainnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Warga Kupang Anti-McDonald …

Yusran Darmawan | | 29 August 2014 | 06:43

Pak Jokowi, Saya Setuju Cabut Subsidi BBM …

Amy Lubizz | | 28 August 2014 | 23:37

Jatah Kursi Parlemen untuk Jurnalis Senior …

Hendrik Riyanto | | 29 August 2014 | 04:36

Jangan Mengira “Lucy” sebagai Film …

Andre Jayaprana | | 28 August 2014 | 22:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Cara Unik Jokowi Cabut Subsidi BBM, …

Rizal Amri | 2 jam lalu

Gaduhnya Boarding Kereta Api …

Akhmad Sujadi | 4 jam lalu

Jokowi “Membela” Rakyat Kecil …

Melvin Hade | 5 jam lalu

Ketua Gerindra, M Taufik Pasang Photo …

Frans Az | 10 jam lalu

Mafia Migas dibalik Isyu BBM …

Hendra Budiman | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Tempat Jajan Enak, OISHII …

Marisa Prasetya | 8 jam lalu

Rahasia Sukses Tionghoa Siantar! …

Saut Donatus | 8 jam lalu

Menumbuhkan Minat Baca, Cara Saya …

Masluh Jamil | 8 jam lalu

Perpustakaan “Ter” di Dunia …

Perpustakaan Kement... | 8 jam lalu

“Badan Penghubung Provinsi Riau di …

Achmaddin Addin | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: