Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Titry Frilyani

traveling is my passion..please visit my blog : titryfrilyani.blogspot.com

4 Hari 3 Malam Keliling Sumatera Barat

REP | 03 December 2012 | 21:00 Dibaca: 1168   Komentar: 0   0

Jam Gadang, Simbol Bukit Tinggi

Sumatera Barat? Apa yang terpikirkan mendengar propinsi ini? Pasti kebanyakan orang akan mengasosiasikan dengan ibukotanya, yaitu Padang. Tapi, Sumatera Barat tidak hanya Padang lho, dan pengalaman saya mengelilingi berbagai daerah di Sumatera Barat membuka mata saya lebih lebar akan indahnya propinsi ini. 4 hari 3 malam saya rasa cukup memuaskan mata saya akan keindahan alam propinsi ini.

Hari pertama

Pesawat yang membawa saya take off jam 6 pagi dari Bandara Soekarno Hatta tiba di Bandara Internasional Minangkabau sekitar pukul setengah 8 pagi.  Agar lebih leluasa keliling Sumbar, lebih enak menyewa mobil saja, sewanya pun tidak terlalu mahal. Satu hari plus supir hanya 350 ribu rupiah (tanpa bensin).

Lembah Anai

Keluar bandara, kita akan disambut oleh hijaunya Bukit Barisan. Karena malam pertama kami akan menginap di Bukit Tinggi, jadi kami akan mengunjungi tempat wisata yang searah dengan perjalanan ke Bukit Tinggi. Perjalanan ke Bukit Tinggi sendiri adalah sekitar 2 jam. Tidak jauh dari Padang, sampailah di daerah Padang Pariaman. Karena belum makan pagi, kami singgah dulu di Restoran Lamun Ombak. Masakan Padang di tempat ini enak, dan yang jelas tidak mahal padahal kita makan segala macam, very recommended! Kenyang makan pagi, perjalanan dilanjutkan ke Lembah Anai. Air terjun ini terletak di pinggir jalan dan kalau kita akan ke Bukit Tinggi dari Padang, pasti akan melalui tempat ini. Walaupun tidak terlalu tinggi, tapi air terjun ini selalu menjadi tujuan wisata para wisatawan jika berkunjung ke Sumbar.

Sate Mak Sukur

Dari Lembah Anai, kita melewati Sate Mak Sukur di Padang Panjang. Belum ke Sumbar kalau belum makan sate ini. Sebenarnya di Jakarta juga sudah ada, tapi pastinya rasanya beda. Jauh lebih enak. Kalau di Jakarta biasanya sate langsung dihidangkan dengan dicampur kuahnya. Disini kuahnya dipisah. Dan satenya besar-besar, mantepp! Walaupun sebenarnya belum lapar, dipaksa makan saja, daripada nyesel nanti hehe.

Danau Maninjau

Perjalanan dilanjutkan. Sebelum ke Danau Maninjau, kami mengunjungi Pandai Sikek, yaitu pusat kerajinan kain khas diantaranya songket. Letaknya sekitar 10 km dari kota Bukit Tinggi. Harga satu songket bisa jutaan, wooww mahal yaa..tapi masuk akal karena proses pembuatannya juga tidak mudah. Setelah membeli beberapa titipan orang rumah, kami menuju Danau Maninjau. Untuk menuju danau Maninjau, kita melewati kelok ampek-ampek. Kenapa disebut begitu? Karena ada 44 tikungan yang akan kita lewati sebelum akhirnya sampai di danau. Tapi sayangnya karena sudah sore, kabut semakin turun jadi kami tidak bisa melihat danau dari ketinggian. Ketika akhirnya sampai di bawah pun, cuaca mendung sehingga tidak bisa melihat terlalu jelas. Saat itu seharian memang turun hujan. Sebentar berhenti, kemudian hujan lagi. Yah, maklum sudah musim hujan. Kalau lain kali cuaca bagus, kami akan menyempatkan diri ke Puncak Lawang untuk melihat Danau Maninjau dari atas.


Dari Danau Maninjau, kami menuju Bukit Tinggi untuk bermalam. Ternyata, ada jalan pintas yang lebih cepat yaitu melewati Matur, Sungai Jariang kemudian Jambak. Setelah berkunjung sebentar ke rumah kerabat dan membeli karakaliang (rasa karakaliang disini beda dengan yang dibeli di tempat lain, lebih top!!). Kita juga akan melewati  Ngarai Sianok. Disini, ada satu tempat makan yang sangat terkenal, yaitu Itiak Lado Ijo. Dan benar saja, itiaknya maknyuss! Selain itiak juga banyak masakan padang lainnya, bahkan ada pete dan jengkol juga hehe. Sekitar 30 menit, sampailah kami di Bukit Tinggi dan langsung check in di Hotel Galeri yang terletak tidak jauh dari Jam Gadang. Malam harinya, setelah mandi dan istirahat, waktunya untuk melihat Jam Gadang. Sekarang kawasan jam gadang sudah lebih bagus dan lebih rapi. Di alun-alun sekitar jam gadang ini cukup ramai dan meriah pada malam hari.

Masakan di warung Itiak Lado Hijau

Hari kedua

Hari ini kami akan menuju Batu Sangkar karena akan bermalam disana. Pagi-pagi setelah sarapan sedikit di hotel, kami langsung check out. Sengaja tidak sarapan terlau banyak karena kami akan makan di tempat yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Bukit Tinggi yaitu Pecal Ayang. Letaknya persis di jalan keluar Ngarai. Yang terkenal disini adalah bubur kampiunnya, tapi lontong sayur dan pecelnya juga enak banget. Dan yang pasti, dari pagi hari warung makan ini tidak pernah sepi dari pengunjung.

Pecal Ayang

Setelah makan, kami ke Taman Panorama, masih di Bukit Tinggi. Dari taman ini, kita bisa mengagumi keindahan Ngarai Sianok dari atas. Beruntungnya Indonesia diberikan keindahan alam seperti ini. Di Taman Panorama ini juga terdapat Lubang Jepang. Tiket masuknya 5000 rupiah saja. Kita bisa masuk ke dalam tanpa guide, karena dalam goa ini terdapat lampu-lampu sehingga kita tidak perlu takut tersesat. Tapi jika mau ditemani pun, ada guide yang bisa memandu kita masuk ke goa. Untuk masuk ke goa, kita akan menuruni ratusan anak tangga. Jadi, siapkan fisik yang cukup yaa, terutama ketika akan kembali naik ke atas. Lubang Jepang ini buka jam 7.30 pagi hingga 17.30 sore.

Ngarai Sianok

Karena sudah lama tidak makan masakan Uni Lis, kami menyempatkan diri ke Pasar Bawah. Kalau Pasar Atas yang dijual adalah berbagai macam barang diantaranya baju, di Pasar Bawah adalah tempat dijualnya berbagai macam makanan, yang bisa dibawa untuk oleh-oleh. Berbagai keripik hingga kerupuk kulit ada disini, dan yang membuat saya senang saya menemukan orang yang menjual kacang tojin, kacang paling enak di dunia (menurut saya hehe). Kalau dipikir-pikir parah juga, setelah makan di hotel dan Ngarai, kami masih makan juga di Uni Lis. Tapi kapan lagi ya menikmati masakan Padang yang benar-benar asli. Masakan di sini memang beda dengan di Jawa, lebih terasa bumbunya.

Lembah Harau dari kejauhan

Lembah Harau adalah tujuan kami berikutnya. Jaraknya sekitar 1 jam dari Bukit Tinggi. Pemandangan menuju Lembah Harau ini sangat cantik. Di kanan kiri dihiasi oleh tebing-tebing tinggi dan sawah yang hijau. Dari kejauhan, air terjun yang cukup tinggi ini sudah terlihat dengan indahnya. Saat itu hari Senin, jadi ketika kami sampai disana air terjun ini tidak terlalu ramai pengunjung. Tapi jadi enak karena kami bebas berfoto-foto. Lembah ini juga terletak di pinggir jalan. Dan betapa beruntungnya kami karena saat itu kami bisa melihat pelangi di air terjun ini :). Disini banyak anak-anak yang berjualan, tapi selain itu mereka juga bisa membantu untuk mengambil gambar. Karena cukup sulit mengambil gambar agar seluruh air terjun ini bisa masuk ke dalam foto. Karena merasa terbantu walaupun tidak membeli barang dagangannya, kami memberikan sedikit uang kepada mereka.

Batu Menangis di Ngalau Indah

Sepanjang perjalanan, hujan turun dan berhenti, terus seperti itu. Di perjalanan balik dari Lembah Harau menuju Batu Sangkar, ada satu tempat yang menurut saya juga tidak boleh dilewatkan yaitu Ngalau Indah, yaitu sebuah goa yang terletak di Payakumbuh. Goa yang tidak terlalu luas ini memiliki stalaktit dan stalakmit dengan bentuk yang unik-unik dengan warnanya yang menakjubkan. Bagus banget, dan banyak bebatuan disini yang didominasi warna hijau! Di dalam goa ini juga terdapat batu yang cukup terkenal di sana, yaitu batu menangis, batunya berbentuk kepala orang yang menurut mitos bisa menangis saat-saat tertentu. Menurut saya, ini adalah salah satu goa terindah yang Indonesia miliki.

Hari menjelang malam, dan sudah waktunya istirahat. Kami bermalam di Hotel Pagaruyung 2, hotel yang cukup bagus, dengan fasilitas yang juga ok di daerah Batu Sangkar. Harganya pun standar, tidak terlalu mahal.

Hari ketiga

Pagi-pagi setelah sarapan di hotel (menu sarapannya lontong sayur, enuaaak !!), kami pergi ke Batu Angkek-angkek, yang jaraknya hanya sekitar 10 menit dari Hotel Pagaruyung 2 ini. Mitosnya, jika kita mengucapkan basmalah, kemudian mengucapkan keinginan dalam hati, jika berhasil mengangkat batu tersebut, keinginan kita akan terkabul.

Batu Angkek-angkek

Dari sana, tujuan selanjutnya adalah Istana Pagaruyung. Saat itu masih jam 10 pagi jadi masih sepi. Ternyata istananya belum dibuka karena masih dalam tahap renovasi setelah terbakar. Tapi di bagian bawah, masih terdapat tempat penyewaan baju minang.   Kita tidak dilarang untuk menggunakan kamera sendiri walaupun mereka juga akan menawarkan untuk mencetak foto dari kamera mereka. Dan memang hasilnya lebih bagus. Jadi berfotolah kami di di sekitar Istana Pagaruyung.

Istana Pagaruyung setelah renovasi

Danau Singkarak adalah danau terbesar di Sumbar, dan terkenal dengan ikan bilihnya. Rasanya emang enak. Lagi-lagi cuaca kurang mendukung karena mendung, jadinya kami tidak berlama-lama di danau ini untuk menuju tujuan selanjutnya, yaitu Danau Atas dan Danau Bawah. Tempat wisata ini memang kelihatannya tidak banyak yang berkunjung. Retribusi masuk tempat ini juga tidak dikelola dengan baik, malah sepertinya hanya masuk ke kantong orang-orang disana. Memasuki kawasan ini, udara sangat dingin, apalagi ketika sampai di Danau Atas yang letaknya malah lebih bawah. Dari Danau Atas, kemudian dilanjutkan ke Danau Bawah. Terlihat jelas tidak terawatnya tempat ini walaupun sebenarnya potensinya sangat besar, karena pemandangan dari atas sini, indah sekali!!

Danau Di Atas

Malam ini kami bermalam di Padang, di Hotel Sriwijaya. Sebelum masuk hotel, kami makan di Soto Padang terenak yang pernah saya coba yaitu di Simpang Karya dan makan es duren Ganti Nan Lamo yang tidak kalah topnya.

Hari keempat

Hari ini keempat kami pergi ke Pantai Carocok, jaraknya cukup jauh dari Padang, sekitar 1,5 jam. Arahnya ke Painan dan tidak mudah mencapainya. Akhirnya sampai juga di Pantai Carocok, Tapi karena tidak punya waktu terlalu banyak, kami langsung menuju Bukit Langkisau. Menuju bukit ini, jalannya menanjak dan kecil, jadi perlu berhati-hati. Dari yang banyak saya baca, pemandangan dari Bukit Langkisau ini bagus sekali. Dan memang benar, pemandangan dari bukit ini luar biasa indahnya. Di bukit ini juga biasa dijadikan tempat untuk start paralayang.

Pemandangan dari Bukit Langkisau

Masih ada waktu, kembali ke Padang kami mampir dulu di Pantai Air Manis yang terkenal dengan legenda Malin Kundang. Disini bisa kita temukan patung Malin Kundang dan bekas kapalnya. Tapi sayang sekali, tempat wisata ini benar-benar tidak diurus, jembatannya saja sudah tidak layak. Padahal para pengunjung dikenakan tiket masuk lima ribu rupiah. Saya harap Pemerintah Sumatera Barat akan lebih memperhatikan pariwisata daerah ini.

Pantai Air Manis

Dari Pantai Air Manis, tiba waktunya untuk menuju airport untuk pulang. Perjalanan selama 4 hari ini cukup bagi saya untuk menikmati sebagian dari keindahan Sumatera Barat. Lain kali, insya Allah ingin berkunjung ke Pulau Sikuai yang sayangnya saat ini masih ditutup akibat sengketa.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 6 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 9 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 13 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 15 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: