Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Indra Djalalluddin

Nama saya Indra Lesmana. Putra asli daerah Bangka Belitung. Saya hanyalah orang biasa saja yang selengkapnya

Napak Tilas Misteri di Pulau Onrust

REP | 12 December 2012 | 12:09 Dibaca: 2402   Komentar: 0   0

Bukan Indonesia namanya kalau tidak mengkait-kaitkan sesuatu dengan hal-hal yang berbau mistis. Inilah yang saya rasakan ketika menjelajahi pulau bersejarah Pulau Onrust. Ntah karena tersugesti dengan cerita-cerita yang beredar atau memang tempatnya yang rada serem, menjelajahi Pulau ini membuat saya merinding disko sambil salto-salto.

Mungkin karena saya merasa terlalu lama, ditambah lagi memang sebelumnya saya sudah mengetahui sejarah pulau ini, saya memisahkan diri dari rombongan ketikatour guide berjalan pelan sambil bercerita tentang sejarah Pulau Onrust kepada peserta tour. Saya berjalan sendirian menelusuri blok demi blok dengan khusyuknya berharap menemukan sesuatu yang menarik untuk di foto. Sejauh saya berjalan, yang terlihat hanya reruntuhan bangunan tua, pondasi benteng, bekas toilet, pohon-pohon kokoh yang mungkin usianya lebih tua dari usia nenek tetangga sebelah rumah saya bahkan ada bangunan yang sudah rata dengan tanah. Sinar matahari siang itu bersinar agak redup terhalangi oleh rimbunya pohon-pohon membuat suasana menjadi seperti kembali ke beberapa ratus tahun yang lalu ketika VOC masih berkuasa di pulau ini. Sampailah saya pada satu tempat yang nampak dari jauh agak begitu beda dan membuat saya penasaran ingin melihatnya dari dekat. Dan ternyata inilah tempat pemakaman (graveyard) prajurit dan keluarga VOC yang dulunya penghuni pulau Onrust. Ditengah-tengah pemakaman ini terdapat pohon tua (ntah apa nama pohonnya)  yang berdiri tegap  memayungi makam-makam yang ada dibawahnya. Suasana yang sangat mirip dengan yang ada di film Kuntilanak yang dibintangi Julie Estelle.

Memasuki area pemakaman ini ada perasaan sugesti aneh yang saya rasakan. Dengan perlahan saya melihat makam demi makam dan mengetahui jasad siapa yang terkubur dibawah sini. Lalu sampailah saya pada sebuah makam yang menjadi buah bibir para traveller yang saya baca di Internet. Makam ini adalah makam Maria Van de Velde. Maria adalah putri seorang penguasa VOC dan juga seorang istri dari perwira VOC. Konon dari cerita yang beredar dari mulut ke mulut, Maria ini masih sering menampakkan dirinya lengkap dengan gaun noni Belanda. Ceritanya di pulau ini Maria selalu setia menunggu kedatangan suami tercintanya pulang dari Belanda. Bulan demi bulan, tahun demi tahun namun suaminya tak kunjung datang sampai ajal menjemput Maria karena terserang virus. Inilah yang membuat arwah Maria tidak tenang dan tetap ingin menunggu kedatangan suaminya ditempat ini hingga saat ini (iiiihhh sereeem…)

Tepat diatas batu nisan Maria Vam de Velde terdapat kalimat-kalimat yang secara pintas mirip seperti puisi dalam bahasa Belanda. Saya pun semakin penasaran. Setelah diterjemahkan kurang lebih artinya sebagai berikut :

Jenazah Maria Van de Velde
Dimakamkan di sini
Yang patut masih dapat hidup
Bertahun-tahun
Seandainya Tuhan berkehendak
Tetapi ternyata, Jehova (Tuhan)
Telah menghalangi dia dengan kematian
Maria telah pergi,
Maria telah tiada!
Tetapi, tidak! Saya tarik kembali kata itu.
Sebagai yang diucapkan tanpa berpikir
Dan itu dapatlah
Karena ketergesa-gesaanku,
langsung dihukum!
Sekarang baru Maria hidup.
Sekarang ia hidup dengan Tuhannya
Lahir di Amsterdam
Pada anggal 29 Desember 1693
Wafat pada tanggal 19 November
Di Pulau Onrust tahun 1721

Tapi sekilas saya pikir lebih mirip mantra hidupin mayat ketimbang puisi heheh. Dan saya pun kembali terus berjalan menelusuri sisi sisi Pulau ini. Yang saya temui lagi beberapa makam yang merupakan makam orang pribumi  korban dari pemberontakan Kapal Zeven Provincien pada tahun 1933.

Tepat disamping nya terdapat pula 3 makam yang dikeramatkan, yang salah satunya dipercayai  makam dari petinggi DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosoewiryo pendiri Negara Islam Indonesia (NII).

Belakangan hal itu terpatahkan dengan terkuaknya detik-detik terakhir S.M Kartosoewiryo sebelum dieksekusi mati lengkap beserta dokumentasinya. Terbukti bahwa S.M Kartosoewiryo bukan dimakam di Pulau Onrust melainkan di Pulau Ubi tak jauh dari Pulau Onrust.  Namun sekarang Pulau Ubi sudah tenggelam akibat abrasi air laut. Meskipun demikian ada beberapa orang masih mempercayai bahwa makamnya berada di pulau Onrust. Entahlah, begitulah sejarah. Yang menang yang membuat sejarah… Wallohu’alam bi Showab..

*semua foto-foto adalah dokumentasi pribadi penulis

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Rekor pun Ternoda, Filipina Bungkam …

Achmad Suwefi | | 25 November 2014 | 17:56

Pak Ahok Mungutin Lontong, Pak Ganjar …

Yayat | | 25 November 2014 | 21:26

Menunggu Nangkring Bareng PSSI, Untuk Turut …

Djarwopapua | | 25 November 2014 | 21:35

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | | 24 November 2014 | 10:02

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41



HIGHLIGHT

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 9 jam lalu

Bom Nuklir Ekonomi Indonesia …

Azis Nizar | 9 jam lalu

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | 10 jam lalu

Festival Foto Kenangan Kompasianival 2014 …

Rahab Ganendra 2 | 10 jam lalu

Lagi-lagi Kenaikan BBM …

Anni Muhammad | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: