Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Amran Rusid

Graduated from University of Indonesia, University of Edmonton, Canada & University of Wollongong, Australia. Dosen selengkapnya

Bengkulu-Pagar Alam-Palembang Day-2: Danau “Dendam Tak Sudah”, Pagar Alam

REP | 13 December 2012 | 13:14 Dibaca: 558   Komentar: 0   0

Plesiran Tempo Doeloe
Bengkulu-Pagar Alam-Palembang
Day-2 : Danau “Dendam Tak Sudah”, Pagar Alam
24 April 2009Hari ke 2

Bangun pagi-pagi dan siap-siap sarapan pagi. Nah lo ternyata kantin hotelnya dalam renovasi dan sarapan diantar ke kamar masing-masing — Nasi Goreng — seadanya. Sudahlah makan saja nanti balas dendam di Palembang. Pukul 8.00 bus telah siap kembali untuk membawa kami ke Palembang melalui Pagar Alam di Sumatera Selatan.

Danau “Dendam Tak Sudah”

Perjalanan sampai ke Kepahiang berjalan lancar. Begitu keluar Bengkulu kami melewati sebuah danau namanya Danau “Dendam Tak Sudah”. Apanya yang tak sudah? Ada 2 versi cerita. Pertama dikatakan sebagai legenda percintaan 2 sejoli yang putus ditengah jalan dan mengakhiri hidup keduanya di danau. Versi kedua di danau ini pernah dibuat Dam, tapi tidak selesai dibangun. Jadilah danau tsb dinamakan Danau Dendam Tak Sudah, dengan menambahkan kata “Den” di depan kata “Dam”

Selepas Kapahiang bus mulai berdisco, jalanan yang rusak, berbelok-belok dan mendaki. Ada seribu kelokan barangkali saking banyaknya. Kami berharap disepanjang jalan antara Kapahiang dan Pendopo akan menemui bunga Rafflesia Arnoldi yang sedang mekar. Karena lokasi sepanjang jalan ini sering ditemui bunga Rafflesia Arnoldi yang sedang mekar yang ditunggui oleh masyarakat setempat. Namun harapan kami sia-sia karena hanya mendapati bunga Raflesia yang sudah mulai layu setelah berhari-hari mekar. Makan siang di Pendopo disebuah Restoran Surya yaitu masakan khas Indonesia lagi yang lokasinya tidak terlalu jauh dari perbatasan Bengkulu-SumSel. Hidangannya juga prasmanan dan makanannya lumayan enak, karena lapar selama perjalanan kali ye. Yang penting perut terisi dan perjalanan dilanjutkan ke Pagar Alam.

Pagar Alam

Sebelum memasuki kota Pagar Alam perjalanan mulai terasa lebih nyaman karena kondisi jalannya mulai membaik walaupun lebarnya hanya sekitar 4 meter saja sehingga perjalanan bus masih ekstra hati-hati. Mendekati kota Pagar Alam sekitar jam 2.00 siang, kami tidak langsung menuju penginapan akan tetapi mengadakan tour lebih dahulu ketempat-tempat ditemukannya batu-batu megalith yang berserakan di sepanjang jalan, di persawahan penduduk bahkan di perkampungan penduduk. Ada di 3 lokasi kami berhenti untuk mengamati batu megalith yang merupakan peninggalan zaman prasejarah atau megalithikum dalam berbagai bentuk dan ukuran seperti arca manusia, binatang dan rumah batu dan memiliki nilai eksotis dan historis yang yang sangat jarang ditemukan di daerah lain di Indonesia. Konon kabarnya batu-batu tersebut berusia sekitar 2500-3000 tahun.

Kota Pagar Alam dengan demikian merupakan daerah tujuan wisata baik wisata sejarah maupun wisata alam, terletak di lereng gunung Dempo yang berhawa sejuk bahkan dingin sekali diwaktu paginya. Di Pagar Alam kami dipandu oleh Bapak Budi Wiyana dan Bapak Nurhadi Rangkuti dari Dinas Purbakala Palembang yang sengaja datang dari Palembang sehari sebelumnya. Sore harinya sekitar jam 16.00 rombongan sampai di villa Gunung Dempo tempat kami menginap. Penginapan kami berupa villa cantik yang berlokasi ditengah perkebunan teh dimana masing-masing villa terdiri dari 3 kamar tidur untuk 6 orang. Udara pergunungan yang sejuk dan dingin mendominasi areal di sekitar lereng gunung Dempo yang dipenuhi oleh perkebunan teh tsb menciptakan pesona alam nan permai, sangat elok dan menakjubkan. Istirahat sebentar di villa, mandi, sholat dan siap-siap untuk santap malam. Makan malam di restoran di lingkungan villa disediakan oleh pengurus villa dengan menu lengkap seperti layaknya suguhan makan malam di hotel berbintang. Kembali ke kamar masing-masing dan tidur cepat agar dapat memulihkan tenaga untuk acara besoknya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 3 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 4 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 4 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 9 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 9 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 10 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 10 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: