Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Amran Rusid

Graduated from University of Indonesia, University of Edmonton, Canada & University of Wollongong, Australia. Dosen selengkapnya

Banda Aceh - Sabang Day-2 : Kuburan Massal Ulee Lheue, Masjid Baiturrahim, Pelabuhan Ulee Lheue, Kota Sabang, Monumen 0 KM, Pantai Iboih

REP | 17 December 2012 | 15:55 Dibaca: 557   Komentar: 0   0

Plesiran Tempo Doeloe
Banda Aceh-Sabang
Day-2 : Kuburan Massal Ulee Lheue, Masjid Baiturrahim, Pelabuhan Ulee Lheue, Kota Sabang, Monumen 0 KM, Pantai Iboih
12 October 2012

HARI ke 2, Jum’at 12 Oktober 2012

Selesai sarapan pagi di hotel Madinah, kami siap-siap naik bus yang telah menunggu di depan hotel. Hari ini rencana kami menyeberang ke pulau Weh dengan tujuan utama adalah kota Sabang, yang dulunya pernah bersinar sebagai pelabuhan bebas (Free Port) dengan kesibukan yang luar biasa. Kini kota Sabang adalah berpredikat sebagai kotamadya (daerah tingkat 2) dimana kami juga akan mengunjungi berbagai lokasi sesuai itinerary yang telah di bagikan ke setiap peserta.

Tepat pukul 8.00 bus mulai bergerak kearah pelabuhan penyeberangan Ulee Lheue yang berlokasi sekitar 15 km dari dari hotel kami. Ada 2 lokasi kami kunjungi sebelum sampai di pelabuhan penyeberangan yaitu Kuburan massal dan Masjid Baiturrahim.


KUBURAN MASSAL ULEE LHEUE

Sebelum sampai di pelabuhan penyeberangan Ulee Lheue kami mampir di kuburan massal korban Tsunami. Kuburan ini sudah menjadi situs wisata, terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda, jalan menuju ke pelabuhan. Sebelum tsunami lokasi ini merupakan Rumah Sakit Umum Meurexa. Namun ketika tsunami melanda kota Banda Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, seluruh wilayah Ulee Lheue termasuk lokasi RS tersebut luluh lantak, dan rata dengan tanah . Ketinggian air tsunami ketika itu mencapai 10 meter. Rumah Sakit tersebut rusak parah dan tidak dapat dipakai lagi. Di halaman RS inilah dimakamkam puluhan ribu jenazah korban tsunami. Lokasi ini sekarang sudah berubah sebagai obyek wisata, berupa taman dengan rumput hijau yang terpelihara rapi. Di pintu masuk kuburan massal dibuat sebuah gapura yang mempunyai 5 buah pintu geser. Tidak ada kesan angker di sini dan kami sangat nyaman saja berjalan-jalan di sekitar kuburan massal tersebut


MASJID BAITURRAHIM

Mendekati pelabuhan Ulee Lheue kami berhennti di sebuah Masjid cantik yaitu masjid Baiturrahim yang pada saat Tsunami, daerah sekitar masjid ini yang merupakan daerah padat penduduk menjadi rata dengan tanah, namun mesjid ini tetap berdiri kokoh walau air sampai mencapai ke puncak kubahnya. Subhanallah. Para peserta plesiran diizinkan memasuki masjid, berfoto-foto dan ada juga yang berdo’a khusuk. Memang hal yang sangat mengherankan betapa masjid tersebut selamat dari amukan tsunami, sehingga para turis yang datang ke lokasi masjid ini baik lokal maupun dari mancanegara konon dikabarkan ikut berdo’a menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Hanya sekitar 10 menit perjalanan dengan bus dari masjid Baiturrahim, rombongan sampai di pelabuhan penyeberanagn Ulee Lheue dan langsung memasuki waiting room.

PELABUHAN ULEE LHEUE

Pelabuhan ini juga habis disapu tsunami dan hanya tinggal rangkanya saja. Sekarang area pelabuhan sudah diperbaiki/direnovasi. Kami mendapati seperti pelabuhan baru dimana suasana di sekitarnya mirip dengan keadaan di airport dengan ruangan tunggu penumpang/ waiting room yang bersih dengan kursi-kursi deret yang rapi, dilengkapi pula dengan AC yang cukup sejuk.

Setelah membeli karcis seharga Rp 75.000 per pax, kami menunggu untuk masuk ke kapal ferry. Kapal ferry bernama Pulo Rondo adalah kapal ferry yang kondisinya bagus, bersih dan lapang. Bertingkat 2 dengan kursi semacam sofa dengan 6 orang penumpang di setiap barisnya, kami naik semuanya ke lantai 2 dengan bawaan masing-masing. Kapal ferry Pulo Rondo berangkat menuju pulau Weh dengan waktu tempuh sekitar 45 menit dengan pelayaran melalui laut yang tenang, dengan tidak terasa ada gelombang laut. Kapal ferry ini sepertinya kapal khusus penumpang karena kami tidak melihat mobil atau truk yang masuk ke lambung kapal.

Ferry merapat di pelabuhan Balohan tepat jam 14.45. kami sudah ditunggu oleh rekan kami sdr Alfi dan Helmi .Menaiki 3 minibus ke kota Sabang , kami sedikit kecewa dimana angkutan kota yang kami pesan pada waktu survey yaitu Avanza dan Innova ternyata yang disediakan adalah minibus tua keluaran tahun 80-an yang sudah rada reot. Ini agar menjadi perhatian dari pihak Dinas Pariwisata setempat agar turis tidak kecewa dan mestinya nyaman dan menyenangkan karena Sabang sedang di galakkan sebagai tempat tujuan wisata unggulan.

Sepanjang perjalanan menuju pusat kota Sabang yang melalui jalan berliku dan menanjak dimana kondisi jalan cukup mulus dan sepanjang jalan tersebut sudah menjadi dua jalur yang terpisah dan ditengahnya ditanami bunga yang cantik, Sesampai dipuncak di tengah perjalanan, jalan mulai menurun dan kami kadang berhenti mengambi foto pemandangan alam ke teluk dibawahnya dan ternyata adalah pelabuhan Sabang yang sangat mempesona.


K0TA SABANG

Kami menuju Hotel Sabang Hill tempat kami menginap melalui pusat kota Sabang. Pulau Weh yang orang lokalnya mengenal sebagai Sabang adalah sebuah pulau cantik terletak di bagian utara barat laut dari pulau Sumatera yang mencerminkan bagian paling barat dari Kepulauan Nusantara dan membentang lebih kurang 4000 km ke ujung timur ke Merauke di Papua. Letak pulau ini seakan sebagai gerbang ke selat Malaka yang sering dilalui oleh yacht dan kapal turis manca negara.

Menikmati Sabang sepertinya kita berkelana layaknya dibagian dunia lainnya dengan banyaknya gedung-gedung kolonial, tempat-tempat yang nyaman dan suasana yang agak unik pula. Menurut sejarahnya sebelum PD II pelabuhan Sabang sangat sibuk bahkan lebih sibuk di banding Singapore. Ketika kemudian kapal uap banyak digunakan dalam pelayaran internasional, barulah Singapore menjadi lebih berkembang. Pada tahun 1942 Sabang diduduki Jepang dan status Sabang sebagai pelabuhan bebas ditutup dan menjadikan Sabang sebagai tempat pertahanan Jepang yang utama. Pada tahun 1970 pelabuhan Sabang dijadikan sebagai duty free zone oleh pemerintah Indonesia yang menjadikan Sabang sebagai pelabuhan penting di bagian barat Indonesia. Akan tetapi rencana ini tidak terlaksana dengan baik sehingga pada tahun 1980 status duty free tersebut dicabut.

Sesampai di Hotel Sabang Hill yang terletak sekitar 700 meter di ketinggian kota Sabang, sebagian peserta beristirahat terutama peserta wanita. Peserta pria pergi ke kota bawah untuk sholat Jum’at. Uniknya tidak ada kendaraan yang mengantar kami ke masjid di dekat pantai yang perjalanannya menuruni bukit dari hotel, namun atas inisiatif sdr Alfi, kami diantar bergantian pergi pulang naik sepeda motor pinjaman dari hotel secara bergantian. Jadilah sdr Alfi bertugas sebagai pengojek dadakan.

Cuaca siang hari di Sabang hari itu sangat panas, perkiraan kami mencapai 34 derajat C, sehingga para peserta wanita banyak yang beristirahat di kamar yang berpendingin sambil menanti selesainya peserta yang sholat Jum’at dan juga menunggu bus yang akan membawa kami untuk makan siang dan pelesiran berikutnya yaitu ke monument Km 0.


MONUMEN 0 KM

Kami menuju Restoran Perkasa di dekat pantai untuk makan siang dengan menggunakan Bus Sekolah yaitu 2 bus baru bantuan Gubernur Aceh untuk pelajar Sabang yang baru dioperasikan dan berkapasitas masing-masing 25 tempat duduk akan tetapi tanpa AC. Selesai makan siang pelesiran diteruskan menuju lokasi monument 0 km. Pulau Weh dengan ibukota Sabang adalah daerah terbarat kepulauan Nusantara. Untuk memperingatinya pemerintah membangun sebuah monument yang di kenal sebagai Monumen 0 km. Monumen ini terletak di Ujong Ba’u, kelurahan Iboi kira-kira 29 km arah barat Sabang.

Perjalanan dengan bus kami tempuh hampir 45 menit. Hal ini terasa lama sekali dikarenakan kondisi jalan walaupun cukup mulus akan tetapi medannya berkelok-kelok menurun mendaki dan di beberapa lokasi ada belokan menurun dan hampir seperti belokan patah. Untunglah sopir kedua bus kami sudah berpengalaman dan mahir sekali mengemudi. Terima kasih pak sopir. Monumen dibangun berbentuk cylinder dengan ketinggian 22,5 m dan lebar 15 m. Setiap wisatawan yang berkunjung ke monumen Km 0 tersebut diberikan Certificate Km 0 yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata Sabang. Hampir semua peserta tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menaiki tangga monumen Km 0 tersebut dan tentu saja berfoto ria dan berfoto bersama. dengan spanduk PTD.


PANTAI IBOIH

Dalam perjalanan kembali ke hotel kami mampir di pantai Iboih yang jaraknya tidak begitu jauh dari monumen Km 0 dan hanya 15 menit perjalanan dengan bus. Pantai Iboih ini sudah menjadi tourist resort di Pulau Weh ini. Sudah banyak bangunan cottage di dirikan penduduk setempat dibibir pantai yang kelihatannya exotic sekali kalau dilihat dari arah laut. Pengunjung pantai Iboih dari luar negeri malah ada yang bermalam di cottage tersebut. Kami menjumpai ada beberapa turis bule yang lalu lalang di pantai tersebut. Turun dari bus sebagian peserta siap-siap dengan peralatan snorkeling. Satu hal yang kami sayangkan adalah tidak adanya kamar mandi/ bilas untuk yang snorkeling sehingga mereka sempat mengeluh dan kondisi badan tetap basah dan badan berbalut handuk naik bus sampai ke hotel. Memang ada tempat mandi/bilas yang dibangun, akan tetapi tampaknya tidak diurus. Terbukti untuk hajat kecil atau untuk cuci tangan saja tidak ada airnya apalagi untuk bilas. . Kami menyewa 3 boat, satu untuk yang snorkling dan dua boat untuk yang tidak ikut snorkeling dan hanya pelesiran mengitari teluk Iboih dengan boat yang dirancang memakai kaca dibawahnya. Ada 9 peserta yang nyebur ke laut (snorkeling) di sekitar pantai Iboih. Sekitar 1 jam kami dipantai Iboih dan selama menunggu selasainya yang snorkeling para peserta lainnya menikmati kelapa muda yang segar. Hampir waktu magrib kami kembali ke hotel untuk istirahat, mandi dan sholat. Namun bukannya langsung masuk hotel sebagian besar peserta malah langsung menyerbu hidangan makan malam yang disediakan hotel dan disiapkan di taman halaman depan hotel menghadap laut yang dihiasi kelap-kelip lampu di kota Sabang dibawah sana . Sungguh amat romantis suasananya. Selesai mandi dan sholat kali ini kami Pintong ke kota Sabang, apalagi kalau bukan beli oleh-oleh terutama baju kaos dengan motif Km 0 Sabang yang cantik di toko sekaligus pembuatan kaos tersebut. Selanjutnya kami menuju ke Jalan Perdagangan yang juga untuk cari oleh-oleh Sabang dan kemudian kembali ke hotel dan selanjutnya tepaaaar sampai pagi.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tim Indonesia Meraih Emas dalam Taste of …

Ony Jamhari | | 20 September 2014 | 13:35

Pendaftar PNS 1,46 juta, Indonesia Minim …

Muhammad | | 20 September 2014 | 12:59

Dari Melipat Kertas Bekas Bergerilya Berbagi …

Singgih Swasono | | 20 September 2014 | 17:28

Di Pantai Ini Tentara Kubilai Khan Mendarat! …

Mawan Sidarta | | 20 September 2014 | 13:30

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 8 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 10 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 11 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 11 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | 8 jam lalu

Hargai Penulis dengan Membeli Karyanya …

Much. Khoiri | 8 jam lalu

Kompilasi Buku, Haruskah Ada Ijin dari …

Cucum Suminar | 9 jam lalu

“Kematian Allah” untuk Kehendak …

Ps Riswanto Halawa | 9 jam lalu

Masyarakat Pedesaan Pikir-Pikir Beli Elpiji …

Akhmad Alwan A | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: