Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Dularnowo

hanya manusia biasa yang tidak luput dari salah, dan sedang berusaha untuk menjadi sabar

Semua Orang Jadi Ojeg di Waingapu

REP | 23 December 2012 | 11:16 Dibaca: 465   Komentar: 0   0

13562361831803690977 Mendapat tugas pendampingan ke wilayah Indonesia Timur, membuat banyak pemandang yang bisa saya nikmati tanpa mengeluarkan biaya, tapi jangan disamakan dengan kunjungan DPR ke luar negeri, karena saya ditugaskan dengan tujuan untuk membantu teman - teman di wilayah Indonesia Timur untuk meningkatkan cakupan program yang sedang dilaksanakan.

Kali ini, saya mendapat tugas untuk membantu teman - teman di Sumba, baik Sumba Timur maupun Sumba Barat. Sebelum berangkat ke Sumba saya sudah mendapatkan informasi untuk tidak melewatkan keindahan pantai yang ada di Pulau Sumba dan keunikan makam - makam kuno yang tersebar di seantero Sumba.

Hari pertama saya datang ke Sumba, mulai dari Sumba Timur, kota Waingapu. Dari bantuan teman yang ada di Dinas yang ada di sana, saya mendapatkan tempat nginap di sebuah komplek kost yang biasa dipakai oleh tamu - tamu dari Jawa yang sedang melakukan kegiatan sesaat di Waingapu.

Pantai yang indah selalu menjadi tempat yang selalu saya kunjungi ketika selesai melakukan tugas kunjungan ke Puskesmas, entah mengapa, kayaknya pendamping saya yang disana selalu menawarkan untuk mampir kepantai yang ada dijalur yang saya lewati.

Hari Minggu saya isi dengan mengunjungi pemakaman Kampung raja, meskipun sebelumnya saya diingatkan untuk tidak mengambil gambar, karena pemakamam Kampung raja adalah tempat yang dikeramatkan di Sumba Timur. Tapi saya masih sempat mengambil gambar dari dalam mobil yang berjalan pelan mengitari perkampungan makan raja. Sebuah peninggalan yang sangat unik.

Kejadian pertama yang tidak bisa saya lupakan dari kunjungan saya ke Waingapu adalah ketika saya harus melakukan supervisi kegiatan penyemprotan rumah di suatu desa terpencil dan dilakukan di sebuah rumah tradisional. Tidak seperti rumah yang ada di desa dekat jalan besar, yang dindingnya terbuat dari papan atau bata, di desa tersebut rumah di bangun seperti dari bahan jerami, tapi tetap rapat. Ketika saya memasuki rumahtersebut, ternyata ada tempat yang agak tersembunyi, disana ada anyaman tali yang digantung seperti ayunan. Ketika saya tanyakan pada penghuni rumah, ternya ayunan itu merupakan tempat meletakkan jenazah dari keluarga yang meninggal.

Kejadian kedua yang juga saya temui di Waingapu adalah ketika saya harus keluar dari kost untuk mencari makan malan ataupun melakukan kegiatan di luar kegiatan dinas yang saya lakukan. Ketika saya berjalan di tepi jalan untuk menuju ke suatu tempat, selalu saya dengar klakson dari kendaraan yang ada di belakang saya.
Perasaan saya, saya sudah berjalan di pinggir jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki, kenapa masih juga diklakson ? Saya selalu berhenti berjalan atau makin memosisikan diri saya lebih ke pinggir.

Setelah hari ketiga saya di Waingapu, saya mendapatkan informasi kalau bukan karean jalan saya terlalu ke tengah, tetapi suara klakson itu tawaran untuk naik kendaraan yang berfungsi sebagai ojeg.
” Lho, kalau ojeg khan jelas tempatnya” saya bertanya pada teman di kantor
” Tidak pak, kalau bapak mau ikut, bapak bisa bayar Rp. 3.000,-”
” Oooh, begitu . . . . . . . . untuk semua orang”
” Ya, untuk semua orang, kalau dia membunyikan klakson berarti dia bersedia, kalau bapak mau ikut”

Mulai saat itu, kalau saya mau berangkat makan malam, ada tempat yang menjual makanan khas Jawa yang agak jauh dari tempat kost saya, saya sengaja berjalan pelan, ketika ada klakson di belakang saya, maka saya bisa ikut ke rumah makan yang saya tuju.

Hari Jum’at siang, kantor tutup lebih pagi karena ada sebagian masyarakat yang beragama Islam harus melaksanakan ibadah sholat Jum’at. Kebetulan depan kost yang saya tempati adalah kantor PDAM yang ada di kota Waingapu. Ketika saya berdiri di depan halaman tempat kost saya, seorang pegawai PDAM yang baru keluar dari kantor masih dengan seragam, membunyikan klaksonnya, saya pun mengangguk dan menghampiri pegawai tersebut :” Ke masjid pak “

Ternyata di Waingapu semua orang bisa jadi ojeg, jika membunyikan klakson jika melewati orang yang sedang berjalan kaki.
Akh Waingapu, makam kampung raja, pantaimu yang tidak bisa saya lupakan dan ojeg yang selalu ada dimana - mana

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Ogah Ditinggal Relawan …

Nurul | | 23 August 2014 | 17:17

Badan Pegal di Raja Ampat, Sentuh Saja …

Dhanang Dhave | | 23 August 2014 | 12:10

Gebrakan Trio Jokowi-AHOK-Abraham Samad = …

Den Bhaghoese | | 23 August 2014 | 11:37

“Pah, Sekarang Mamah Lebih Melek Politik …

Djoel | | 23 August 2014 | 18:00

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Dilema Makan Nasi Dalam Bakul …

Giri Lumakto | 2 jam lalu

“Ahok Si Macan Putih dari …

Pakfigo Saja | 3 jam lalu

Kacaunya Pagelaran Ulang Tahun RCTI ke-25 …

Samandayu | 3 jam lalu

Febriana Wanita Indonesia Jadi Bintang dalam …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Pilpres: Beda Prabowo & Megawati …

Mania Telo | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: