Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Ardhi Hidayatullah

Profesi Sekarang sebagai Redaktur Pelaksana di Tabloid BeJa

Nyukcruk Galur Patilasan Karuhun Kesultanan Sela Cau - Tasikmalaya

REP | 26 December 2012 | 14:45 Dibaca: 831   Komentar: 0   0

Siapa tak mengenal Tasikmalaya. Terbagi dalam 2 pemerintahan Kota dan Kabupaten ini menyimpan banyak potensi daerah, mulai dari potensi SDM seperti kerjinan payungkertas, bambu, batik dan bordir. Selain itu, memiliki potensi alam yang dapat dijadikan bahan untuk pembangunan seperti kekayaan alam, batu bara, mangan dan pasir besi, juga memiliki budaya yang masih terjaga adat istiadatnya yakni kampung naga yang berpotensi sebagai tempat wisata. Selain itu, pegunungan, situ dan pantai, Tasikmalaya juga sering dikunjungi bagi wisatawan yang senang dengan wisata religi. Ada Makam dan Gua Pamijahan, Kanjeng Syeh Abdul Muhyi, Makam Baganjing dan makam Tanjung Malaya.
Selain makam-makam tersebut ada rupanya masih ada tempat disebelah selatan Tasikmalaya yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Ya, tepatnya di Kecamatan Parung Ponteng Kabupaten Tasikmalaya, terdapat makam-makam para syeh dan raja-raja, yang sangat terkait erat dengan makam Kanjeng Syeh Abdul Muhyi di Pamijahan.
Adalah Rohidin (33), pemuda kelahiran Tasikmalaya yang membuka dan mencoba merangkai sejarah dari patilasan karuhun di Tasikmalaya.
Beberapa waktu lalu, BeJa, berkesempatan mengunjungi beberapa tempat yang dipandu langsung oleh Rohidin. Tempat pertama yang dikunjungi adalah makam Gusti Raden Putranaya Yudanasa Diwangsaraja. Menurut suami Ina (Ratu Mangku Alam I) ini, menuturkan, dari catatan sejarah yang dimilikinya, sekitar Tahun 1548-1589, berdiri kesultanan Selacau dengan pusat pemerintahannya di Negara Tengah, Ds. Cibungur Kec. Parung Ponteng Tasikmalaya. Kesultanan tersebut dipimpin oleh  Raden Patra Kusumah dari kerajaan Mataram I, putra Syekh Akhmad Hirowi dari Tanah Arab yang menikah dengan Nyimas Ratna Sari Dewi atau yang di kenal dengan nama Mas Kusumah putra dari pramesuri Danmiani Dharmaksa dengan Gusti Prabu Surawisesa atau Jaya Perkasa, Raja Galuh Pakuan.
“Almarhum Gusti Raden Putranaya  Yudanasa Diwangsaraja menjadi bendahara di pemerintahan Kesultanan Selacau Tunggul Rahayu Periode III  (1549 M - 1614 M),” Tuturnya.
Untuk sampai areal pemakaman itu, tidak sulit karena Rohidin telah membangun jalan menuju areal pemakaman dengan biaya yang dikeluarkan secara pribadi. Di sekitar Areal tersebut, telah dibangun fasilitas seperti toilet dan musholla.
Tidak jauh dari areal itu terdapat sebuah curug (air terjun) yang dinamakan Curug Kencana Luhur. Konon, kata Rohidin, curug tersebut dipercaya mengandung karohmah kewibawaan bagi yang mandi di curug kencana luhur.
Melihat model pemerintahan kesultanan Sela Cau Tunggul Rahayu, ternyata telah menganut pemerintahan seperti sekarang yang memiliki lembaga khusus tentang hukum. Hal ini dilihat dari makam para Hakim Sela Cau, Kiai Sukmawijaya, Kiai Suradinata, Kiai Wiharma, Kiai Wiharja, Kiai Sukarta, dan Kiai Wihanta.
Apa yang dilakukan ayah Sahrul Pangestu dan Serli Kusuma Diningrat ini memang patut di contoh. Karena sebagai seorang pemuda telah berfikir untuk menjaga dan melestarikan sejarah daerah dan bangsa untuk kebesaran bangsa Indonesia. Lebih lagi, yang dilakukan nya tidak menuntut dan menunggu aksi dari pemerintah setempat.
Semoga apa yang dilakukannya dapat dilihat dan menjadi cambuk bagi kita para pemuda Indonesia terutama menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. (Ardhi).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Produk Indonesia di Tengah Konflik Rusia dan …

Syaripudin Zuhri | | 02 September 2014 | 08:42

Koalisi Merah-Putih Terus Berjuang Kalahkan …

Musni Umar | | 02 September 2014 | 06:45

Serunya Berantas Calo Tiket KA …

Akhmad Sujadi | | 02 September 2014 | 05:55

Tepatkah Memutuskan Jurusan di Kelas X? …

Cucum Suminar | | 01 September 2014 | 23:08

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Halusinasi dan Penyebabnya ,serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 6 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 8 jam lalu

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Yakitori, Sate ala Jepang Yang Menggoyang …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

Sebuah Cinta Berusia 60 Tahun dari …

Harris Maulana | 8 jam lalu

Yohanes Surya Intan Terabaikan …

Alobatnic | 8 jam lalu

Mengukur Kepolisian RI Dari Kuching …

Abah Pitung | 8 jam lalu

Xiaomi RedMi 1S “Hajar” Semua Brand …

Andra Nuryadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: