Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Mas Lendro

laki-laki yang terus belajar menjalani hidup

Pantai Menganti, Surga Rahasia dari Kebumen

REP | 30 December 2012 | 22:48 Dibaca: 1264   Komentar: 0   1

Libur plus cuti Natal 2012 kali ini kami rencanakan untuk mengadakan perjalanan menapaktilasi kota-kota asal kami, di mana kami menghabiskan masa kecil kami sebelum kami menjalani hidup kami di Subang, Jabar. Tepatnya hari Kamis Tanggal 20 Desember 2012 pukul 19.00 kami sekeluarga meninggalkan kota kediaman kami, Subang, menuju kota tercinta Purwokerto, Jateng. Perjalanan malam kali ini ditemani guyuran hujan deras. Jalur yang kami ambil adalah jalur seperti biasanya, jalur alternatif Subang – Cikamurang – Tomo – Tol Plumbon - Tol Bakrie – Bumiayu – Purwokerto. Jalan sepanjang kabupaten Subang rusak, tetapi di kabupaten Indramayu, Sumedang dan Cirebon bagus. Keluar dari tol Bakrie Pejagan jalanan sepanjang Brebes sampai ke Bumiayu penuh lubang. Pukul 02.15 kami sampai di Purwokerto.

Pagi Hari Kamis berangkat dari Purwokerto ke Gombong, dari Gombong kami menuju pantai Ayah yang berjarak kira-kira 28 km dari kota Gombong. Dari pertigaan Jalan raya Gombong – Tambak, pantai Ayah berjarak sekitar 18 kilometer, melalui terowongan kereta api di daerah Ijo yang eksotis jalan menuju pantai ayah mulus dan nyaman untuk berkendara.

Sampai di pantai Ayah kami merasa kurang puas, karena pantai sedang direnovasi dan tidak ada lagi bibir pantai karena bibir pantai sudah di tanggul. Akhirnya kami memutuskan untuk ke Pantai Menganti, yang berdasarkan hasil googling dan informasi dari para pedagang di pantai Ayah, pantai Menganti berjarak 8 km dari pantai Ayah dengan track yang sempit, berkelak-kelok dan menanjak. Akhirnya kami beranikan diri untuk ke sana, dengan mobil MPV yang fully loaded, kami berharap bisa menaklukan track yang katanya beresiko tersebut.1356882462750943805

Benar saja…sepanjang perjalanan dari Pantai Ayah ke Pantai menganti track yang kami lalui sangat ekstrem. Pantas saja menurut informasi Pantai Menganti masih alami, karena saya yakin kendaraan pariwisata seperti Bus pasti tidak akan berani melalui jalur ini. Jalurnya sempit, berkelak-kelok, menanjak tajam dan disebelah terdapat jurang, tetapi pemandangan sepanjang jalur ini sangat indah. Kita bisa melihat pantai Ayah dari ketinggian, demikian juga pulau Nusakambangan tampak dari jalur ini.

Sampai di Pantai Menganti kami sangat takjub akan keindahannya. Pantai yang masih bersih, alami dan berpasir putih, dikombinasi dengan perbukitan yang menjulang tinggi. Ombaknya tidak terlalu besar sehingga anak-anak bisa bermain. Apabila dilihat dari atas bukit, pantai menganti benar-benar indah dengan deretan kapal, pasir putih dan air yang laut yang bening. Benar-benar keindahan yang tersembunyi. Di pantai ini banyak terdapat perahu-perahu tradisional nelayan yang digunakan untuk menangkap ikan. Di pantai ini juga terdapat Tempat Pelelangan Ikan, tapi anda harus pagi-pagi ke pantai ini apabila ingin menikmati suasana pelelangan ikan.

Setelah puas berkeliling dan mengambil gambar, kami memutuskan untuk pulang. Perjalanan pulang kami diwarnai sebuah kejadian menegangkan, dimana mobil MPV kami yang dipenuhi penumpang dan barang tidak kuat menanjak dan hampir saja mundur ke jurang. Setelah dibantu istri dan keponakan yang mencari batu untuk mengganjal ban dan keringat saya yang bercucuran karena tegang, akhirnya kami bisa melalui jalur ekstrem itu.1356882064797947779

Apabila anda seorang penikmat alam yang masih alami dan anda sedang melalui jalur selatan Gombong - Tambak, ada baiknya anda sempatkan diri untuk mampir ke pantai Menganti. Saran saya, pakailah mobil yang bertenaga atau 4WD apabila mobil anda penuh dengan penumpang dan barang agar anda dapat dengan mudah melibas jalur yang ekstrem tersebut. Tapi percayalah, keindahan Pantai Menganti semakin terasa dengan adanya efek ketegangan yang timbul saat kita melalui jalur mengerikan tersebut. Percayalah. Selamat berlibur.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Istiwak, Jam Kuno di Kota Solo …

Agoeng Widodo | | 23 September 2014 | 11:20

Perang Mulut di Talkshow TV (Mestinya) Cuma …

Arief Firhanusa | | 23 September 2014 | 11:04

Billboard, Sarana Sosialisasi Redam Gepeng …

Cucum Suminar | | 23 September 2014 | 16:30

Mengapa Toga Berwarna Hitam? …

Himawan Pradipta | | 23 September 2014 | 15:14

Lelaki Pengingatku …

Edrida Pulungan | | 23 September 2014 | 17:11


TRENDING ARTICLES

Mendikbud Akhirnya Tegur Guru Matematika …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 9 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 11 jam lalu

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Kemana Peghuni Eks Bongkaran Tanah Abang dan …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Usia Orang Kota Lebih Pendek Dari Orang …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi Oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 8 jam lalu

Waspadai Caries Gigi …

Amallya Luckyta | 8 jam lalu

Kunci Sukses itu Sesungguhnya Ada di Tangan …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: