Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Hati-hati Berbelanja di Lucky Plaza - Orchard road

REP | 05 January 2013 | 19:49 Dibaca: 3608   Komentar: 13   1

13573898101461241552Banyak orang mengira bahwa Singapore adalah surganya berbelanja. Sekedar berbagi pengalaman dengan kawan2 yang kebetulan suka jalan ke Singapore, saya mohon perhatiannya untuk berhati2 jika anda kebetulan berbelanja di Lucky Plaza, Orchard road.

Begini nih ceritanya, dapat tugas dari kantor untuk berangkat lagi ke Singapore untuk tugas 3 hari. “Pa, nanti sepulang dari Singapore belikan Mama blackberry ya, ini blackberry udah ketinggalan banget!” kata istri saya. “Cariin Mama model terakhir ya!”. Karena lagi kepengen menyenangkan istri dan baru dapat bonus Natal, ya saya iyakanlah permintaan istri saya ini.

Singkatnya, saya tibalah di Singapore. Sepulang pertemuan dengan client saya singgah ke Lucky Plaza. Di sana saya melihat beberapa model blackberry yang diinginkan oleh istri saya, dan jatuhlah pilihan saya pada salah satu model yang menurut saya adalah model terakhir. Saya bilang ke pramuniaga tokonya kalo saya suka yang ini, dan menanyakan harganya berapa. Mereka bilang “Four hundred and fifty dollar Sir.” Dengan aksen pilipinanya yang masih kental, ini orang kayaknya TKP (Tenaga Kerja Philipina totok). Wah murah amat, saya pikir. “Four hundred fifty right?” tanya saya ingin menyakinkan lagi. “Yes Sir, four hundred fifty.”. “Fine, I get one for me.” Kata saya.

1357390129888045772

Toko tempatku beli backberry itu, Lantai 2 Lucky Plaza. Itu pegawai TKP nya.

“Oh ya Sir, can I have your passport for us to prepare an invoice?” Kata pelayan tokonya. Dengan lugunya saya kasihlah passport saya, karena saya pikir kalau saya akan dikasih invoice untuk bebas pajak.

“Sir, are you from Indonesia?” tanya pelayan tokonya. “Yes, any problem?” tanya saya.

“No Sir, if you want to use it in Indonesia you must unlock this handphone.” Kata pegawai toko itu dengan manisnya lagi. “Can I unlock it for you?” katanya meneruskan.

Nah, goblok saya itu ya pas moment ini. Saya pikir kalau itu adalah servis saja,tanpa ada biaya macam2, lagipula tuh pelayan toko tidak bilang kalo saya akan dikenakan biaya. Saya jawablah “Fine, no problem.”. Pergilah itu si pelayan toko ntah ke mana. Sewaktu dia pergi, datanglah pelayan toko yang lain meminta saya membayarkan harga untuk handphonenya. Kali ini pegawai (atau pemilik) yang turunan China, dengan bahasa melayu yang kaco dia bilang “Bapak bayar dulu harga handphone sekarang, ini invoicenya!” katanya. Saya lihatlah tuh invoice,”I though the price is only 450?” tanya saya. Dia bilang, “Four hundred fifty is the price before tax, I have included tax in this invoice and you will be reimbursed later at the Airport! Don’t worry about it.” Katanya.

Iya juga ya, saya pikir. “OK, I pay now. Please issue me a tax invoice.”

“Ok”, katanya.

Nah, sepuluh menit kemudian pegawai toko yang TKP (tenaga kerja philipina) datang membawa kembali blackberry saya. “it is all OK now Sir, your handphone has been unlocked.” Katanya. “This is the fee for unlocking the phone.” katanya kemudian sambil menyerahkan sebuah tagihan dengan jumlah 450 dollar. “I have paid the amount to him.” Kataku sambil menunjuk pegawai toko yang china. “No sir, this is fee only for unlocking the handphone. The price you paid before is for the handphone but not for service fee.”

“Gila, aku tertipu” pikirku dalam hati. Sebenarnya aku mau membatalkan transaksi itu, dan hendak pergi begitu saja. Tapi aku ingat, aku sudah terlanjur menyerahkan passport aku, lagipula pegawai2 toko di situ udah pada mengelilingi aku sambil berpura2 menawarkan ini itu. Aku jatuh mental, nyaliku ciut apalagi aku di negeri orang. Aku di negeri orang, aku gak mau susah apalagi besoknya aku harus balik ke Indonesia. “Why didn’t you tell me before that I must pay the fee for unlocking the phone?” tanyaku dengan nada gemetar. “If I knew that, I won’t ask you to unlock the phone” kataku lagi. “I have informed you about the rice before Sir.” Katanya. Seingat aku dia gak pernah kasih tahu aku mengenai biaya ini. Aku kalah, aku gak bisa buat apa2, jadi terpaksalah aku membayar lagi sejumlah 450dollar. Dengan ini artinya total biaya yang aku telah keluarkan menjadi dua kali lipat dari harga yang ditawarkan awal.

Aku tertipu, tapi aku gak berdaya.

Jadi saran saya ke teman2 yang ingin berbelanja ke Singapore. Berhati2lah kalau anda berbelanja di Lucky Plaza, yakinkan kalau harga yang ditawarkan ke anda sudah termasuk segala bentuk tetek-bengek biaya lainnya. Jangan terlalu percaya dengan orang2 yang menawarkan gadget2 di Lucky Plaza. Bahkan aku menyarankan kepada orang2 Indonesia yang ingin berbelanja ke Singapore, lebih baik berbelanja di mall yang ada label harganya. Hindarilah berbelanja hanya mengandalkan omongan doang, apalagi kalau berbelanja barang2 mahal.

Sekedar berbagi pengalaman tidak enak di negeri singa.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 11 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 11 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 11 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 12 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: