Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Jefry Seru

Jika aku adalah orang lain maka aku berarti engkau

Pantai Koka: Perawan yang Belum Bersolek

REP | 05 January 2013 | 18:41 Dibaca: 373   Komentar: 0   0

1357385727318327918

Pantai Koka merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang berada di Kabupaten Sikka, Flores, NTT

Untuk menuju ke pantai ini, hanya membutuhkan waktu kurang dari dua jam dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun empat dari kota Kabupaten Maumere. Pantai Koka berada di Desa Wolowiro, Kecamatan Paga. Jarak dari Desa Wolowiro tepatnya Dusun Kangarusa ke pantai sejauh 2 km.

Di setiap akhir pekan, pantai Koka selalu ramai oleh wisatawan lokal maupun mancanegara, bahkan setiap hari pantai Koka tak pernah sepi dari pengunjung.

Begitu kita menginjakan kaki di tempat ini, kita di buat terpesona dengan pemandangan laut yang bersih, begitupun air-nya yang jernih, pasir putih lembut membentang membentuk tembereng, kiri dan kanan terdapat tebing-tebing karang bagaikan lukisan alam terlihat sangat artistik.

Pohon-pohon yang rimbun, hamparan pohon kelapa serta kebun penduduk membentang diperbukitan yang berada di sekitar pantai, kesan alami begitu terasa.

Pantai Koka menyuguhkan cita rasa alam tidak kalah unik dengan pantai-pantai lain di Indonesia, seperti Raja Empat di Papua Barat dan Pantai Kaliantan di Lombok Timur.

Cukup jauh dari bibir pantai terdapat satu pulau mungil bernama nusa Koka. Untuk bisa ke sana pengunjung harus menggunakan sampan.

Sekedar untuk diketahui, di nusa Koka ada satu jenis ular, warnanya lurik hitam-putih, dengan jumlah lumayan banyak. Disarankan jangan mengganggu apa lagi membunuhnya. Ular-ular tersebut hanya menyempil di celah-celah batu pulau ini ( tak perilu takut ularnya tak menggigit).

Wisatawan yang berkunjung ke Pantai Koka tidak hanya sekedar untuk berjemur dan menikmati gulungan ombaknya yang kuat dan bertenaga tapi pengunjung di buat kagum melihat setiap detil apa yang ada di sekitar pantai ini. Kadang rombongan wisatawan Asing pun berminggu-minggu berada di sini.

Ini cerita dulu, saat saya masih di usia Sekolah Dasar.

Pantai yang mungil nan indah ini yang sejak dulu tak berubah dari tampilan fisiknya: fasilitas sekitar pantai, akses transportasi dan jumlah pengunjung.

Tak ada lagi pohon-pohon yang rimbun sekitar pantai, pohon kelapa pun sudah sangat jarang, pantai menjadi sangat gersang dan tak terurus. Semakin berantakan akibat abrasi.

Tidak ada fasilitas sama sekali disini. Akses menuju pantai masih sangat sulit, jalannya rusak parah sehingga pantai ini semakin sepih pengunjung.

Patut disayangkan, pantai dengan pemandangan unik ini dibiarkan begitu saja tanpa diperhatikan, dan di serahkan sepenuhnya pada proses alam.

Mestinya sudah ada pembangunan layaknya sebuah tempat wisata. Kondisinya memang tidak jauh berbeda dengan 20 atau 30 tahun yang lalu. Hanya saja dulu tempat ini sangat sejuk dan cukup ramai dikunjungi sekarang sudah menjadi gersang dan sepi.

Kalu saja ditata, dikelola secara baik dengan pengadaan fasilitas yang memadai. Seharusnya tempat ini sudah menjadi salah satu tempat andalan, tujuan wisata di pulau Flores, khususnya kabupaten Sikka.

Meskipun demikian pantai ini tidak pernah kehilangan pesona dan daya pikat, ibarat perawan yang tak pernah bersolek

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemuda Papua Unjuk Kreativitas Seni ‘Papua …

Viktor Krenak | | 28 November 2014 | 11:45

Harusnya Nominal Subsidi Tetap 1500 Perak, …

Dhita A | | 28 November 2014 | 13:34

Terpana Danau Duma …

Lukman Salendra | | 28 November 2014 | 12:25

Senangnya Terpilih Menjadi Host Moderator …

Edrida Pulungan | | 28 November 2014 | 13:43

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46



HIGHLIGHT

Tata Bangunan Kota Banda Aceh …

Rahmat Syah | 8 jam lalu

Komando Nelayan, Sebuah Pemikiran untuk …

Wahyudi Sebatik | 8 jam lalu

Naiknya Harga BBM Memaksa Gerak Lebih Cepat …

Muthiah Alhasany | 8 jam lalu

Menembus Batas-batas Pikiran …

Wira Dharmapanti Pu... | 8 jam lalu

Gerdema: Merevolusi Desa, Merevolusi Bangsa …

Octaviana Dina | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: