Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Rudi Salam Sinulingga

Bekerja di salah satu penerbit buku nasional, mempunyai hobi membaca dan menulis. Visit my blog at selengkapnya

Tanah Karo dan Wisata Rohani

REP | 06 January 2013 | 19:32 Dibaca: 1184   Komentar: 3   0

13574755211446524367

Sebagian besar masyarakat Indonesia bahkan di manca negara sudah mengenal Tanah Karo, khususnya kabupaten Karo yang mempunyai letak geografis di dataran tinggi, berbatasan dengan kabupaten Deli Serdang, Langkat, Dairi dan Simalungun/ Dengan iklim dingin yang dimiliki menjadikan Tanah Karo sebagai salah satu dataran Tinggi di Sumatea Utara yang menghasilkan produk pertanian berupa sayur mayur dan buah-buahan yang sudah diekspor hingga ke manca negara. Tanah Karo terkenal dengan Gunung kembarnya, yakni Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung. Tanah Karo mempunyai beberapa daerah wisata yang sudah dikunjungi oleh wisatawan domestik dan internasional/ Untuk wisata alam, tanah karo mempunyai beberapa obyek wisata alam seperti Bukit Gundaling, pemandian panas Lau Sidebuk-Debuk, Tahura, Danau Lau Kawar, Simalem Ressort, dan termasuk Gunung Sinabung dan Gunug Sibayak.

Tanah Karo juga mempunyai situs budaya Karo, berupa rumah adat ( siwaluh jabu ) yang dapat kita temukan di Desa Lingga, di kecamatan Simpang Empat. Selain rumah adat, di desa ini juga terdapat museum budaya karo, yang lokasinya persis di depan Gereja Katholik di desa Lingga. Dengan adanya museum ini, para pengunjung dapat mempelajari dan mengetahui lebih banyak mengenai budaya dan identitas budaya Karo. Di dalam museum ini, kita dapat melihat barang-barang peninggalan dari jaman dahulu, berupa alat-alat pertanian, alat music, pakaian adat, serta hasil karya seni berupa topeng ( gana gana ), peralatan rumah tangga, dan lain lain.

Tanah karo adalah salah satu simbol pluralisme di Indonesia. Secara garis besar, masyarakat di tanah karo beragama Kristen Protestan dan Katholik. Namun masyarakat karo juga sangat terbuka dengan pluralisme. Ini dapat dibuktikan dengan adanya agama lain dan masyarakat dari suku lain yang mendiami tanah Karo. Harus kita akui bahwa berkembang atau tidaknya suatu daerah bergantung dari karakter masyarakat setempat. Daerah yang berkembang biasanya selalu terbuka dengan setiap perubabahan yang ada dan mampu menerima perbedaan yang ada di dalamnya, entah itu perbedaan keyakinan, budaya, hingga karakteristik personal dari masing-masing masyarakat.

Dalam perjalanan serta dalam perubahan waktu tersebut, tanah Karo di masa sekarang tidak hanya menawarkan wisata alam, wisata budaya, namun di saat ini Tanah Karo sudah menjadi daerah tujuan wisata Rohani yang sudah dikenal sebagian besar masyarakat Indonesia bahkan hingga ke manca negara. Beberapa waktu yang lalu, penulis bersama keluarga berkunjung untuk liburan ke kecamatan Dolat Rayat, tepatnya di desa Tongkoh, sangat mengagumkan bahwa Tanah Karo semakin menunjukkan identitasnya yang terbuka dengan perbedaan yang ada. Hal ini dibuktikan dengan dibangunnya satu oase rohani yakni International Buddhist Center Taman Alam Lumbini berada di Jalan Pertanian/Pagoda (Desa Dolat Rakyat, Kec. Dolat Rakyat), Berastagi, Sumatera Utara 22171, Indonesia.
Pagoda Shwedagon berukuran Besar di daerah Dolat Rayat ini hadir sebagai destinasi wisata Rohani bagi umat Buddha untuk beribadat sekaligus menjadikan tempat ini sebagai tempat untuk mensyukuri alam semesta sebagai ciptaan Sang Pengada bagi manusia untuk hidup. Dengan gaya arsitektur yang sangat bagus dan terkesan mewah, bangunan ini dihiasi oleh banyaknya lonceng di atas bagunan, bendera buddhis internasional sebagai identitas bangunan ini, dan warna bangunan yang berwarna kuning keemasan. Warna kuning keemasan sekaligus warna dominan dan menjadi ciri khusus dari pagoda tersebut. Untuk menentukan simbol suatu bangsa atau negara maupun kesatuan, biasanya ditandai dengan panji atau bendera. Untuk menciptakan simbol- simbol tersebut tidak sembarangan, karena merupakan suatu `pengenalan’ yang otentik. Seperti halnya bendera negara Republik Indonesia yang hanya dua warna, merah dan putih, diakui dunia sebagai hasil ciptaan almarhumah Fatmawati, istri Presiden Pertama RI, Ir Soekarno.

Membicarakan hal ini, dalam memperkenalkan bendera Buddhis secara internasional pun memerlukan rancangan yang serius. Seperti yang dituturkan Col. HS. Olcott dalam bukunya yang berjudul “Old Dairy Leaves”, tentang sejarah terciptanya Bendera Buddhis internasional.

Dalam tulisannya, Olcott selanjutnya mengatakan : “Kepada panitia, kami menyarankan agar bendera Buddhis tersebut tidak mempunyai atau mengandung arti politik dalam bentuk apapun, dan harus mempunyai arti serta nilai keagamaan yang mendalam”. Pada Hari Raya Waisak tahun 1885, bendera tersebut pertama kali mulai dikibarkan di hampir semua vihara dan rumah penduduk di Sri Lanka”. demikian tulis Olcott.

Warna-warni yang terdapat pada bendera Buddhis adalah warna biru, kuning, merah, putih, dan jingga atau merah muda. Warna-warni ini disusun secara vertikal lalu disebelahnya ada kelima warna ini yang disusun secara horisontal. Setiap warna mempunyai arti yang berbeda. Warna-warni horisontal melambangkan perdamaian abadi dari ras-ras yang ada di dunia dan keharmonisan dalam kehidupan bersama. Warna vertikal melambangkan perdamaian di dalam dunia ini. Secara singkat, bendera Buddhis memberikan makna bahwa tidak ada diskriminasi ras ataupun kebangsaan, kedaerahan ataupun warna kulit, bahwa semua makhluk mempunyai potensi mencapai kesucian menjadi Buddha dan mempunyai karakteristik kebuddhaan.

Panji Buddhis Enam Warna atau Sadvarna Dvhaja tersebut bermakna :

1. Biru dari warna rambut Sang Buddha melambangkan bakti atau pengabdian.

2. Kuning Emas dari warna kulit Sang Buddha melambangkan kebijaksanaan.

3. Merah tua dari warna darah Sang Buddha melambang cinta kasih.

4. Putih dari warna tulang dan gigi Sang Buddha melambang kesucian.

5. Jingga adalah warna yang diambil dari warna telapak tangan, kaki dan bibir Sang Buddha yang melambangkan semangat.

6. Gabungan kelima warna melambangkan gabungan kelima faktor yang telah disebutkan di atas.

Adapun makna sebenarnya istilah “Prabhasvara” adalah bersinar sangat terang atau cemerlang. Menurut Arya Satyani dari seksi Puja Relik pelaksanaan Asadha, mengatakan,…
Gautama yang dilambangkan dalam bentuk patung berwarna kuning keemasan
di Satu lipatan kain warna kuning khas biksu Sangga Theravada yang
dharma” yang artinya hukum atau ajaran dalam agama Buddha.

Pagoda ini sudah dikunjungi oleh banyak masyarakat dari Sumatera Utara, bahkan dari luar Sumatera Utara. Pengunjung yang datang ke tempat ini berasal dari masyarakat di luar agama Buddha. Mengapa demikian? Bangunan ini memang secara khusus dibangun sebagai tempat ibadah dan taman iman bagi agama Buddha, namun di luar agama Buddha juga sangat banyak berkunjung ke pagoda ini. Ada banyak tanggapan dari para pengunjung. Ada yang mengatakan, hanya sekedara jalan jalan saja, ada juga yang mengatakan kekagumannya terhadap bangunan ini, ada juga yang diajak teman, ada juga yang beralasan sengaja berkunjung ke daerah ini untuk melihat alam di luar bangunan pagoda ini. Semua alasan mereka memang dapat diterima secara logis.

Gereja Inkulturatif Karo yang berada di daerah Peceren juga merupakan salah satu tempat wisata Rohani bagi umat Katholik. Gereja Paroki Santo Fransiskus Assisi Brastagi ini dibangun dengan ide dari pastor Leo Joosten, OFM,Cap, seorang misionaris Kapusin dari Belanda yang sudah lama berkarya di daerah tanah Karo dan salah satu pemerhati budaya Karo. Dengan gaya arsitektur rumah adat Karo, bangunan ini sengaja di bangun sebagai Gereja Inkuklturatif Karo dalam proses Inkulturasi Gereja Katholik terhadap budaya Karo. Umat Katholik sudah mengenal Gereja Inkulturatif Karo ini, khususnya di Sumatera Utara, di Keuskupan Agung Medan. Dan di daerah Brastagi ini juga terdapat Rumah Retret yang dikelola oleh kongregasi Suster Suster Fransiskanes Santa Elisabet ( FSE ). Tempat pembinaan rohani ini diberi nama Rumah Retret Maranatha yang sudah dikenal oleh umat Katholik, baik di Sumatera Utara maupun di luar Sumatera Utara. Tempat Retret ini dijadikan sebagai tempat untuk pendampingan rohani, berbagai bentuk kursus pastoral maupun pendidikan Katholik, serta sebagai tempat untuk ibadat ketika retret dan camping rohani dilakukan.

Perkembangan agama tidak lepas dari perkembangan budaya. Dari budaya, maka lahirlah agama. Satu agama berkembang dalam budaya tertentu, sehingga dalam agama itu terdapat tradisi yang dijalankan oleh umat yang memeluk agama tersebut. Dalam masyarakat Karo, ada juga ditemukan aliran kepercayaan dari nenek moyang orang karo, yakni aliran kepercayaan si Pemena.Walaupun dalam perjalanannya, pemeluk agama ini semakin berkurang dikarenakan masuknya agama ke daerah tanah Karo.

Tanah Karo yang mempunyai destinasi wisata Rohani ini membuktikan bahwa semakin banyak masyarakat yang membutuhkan tempat untuk beribadah dan sekaligus sebagai sarana untuk merenungkan kembali akan hidup manusia di dunia ini. Dengan adanya keinginan tersebut, maka satu per satu tempat wisata rohani dibuat untuk memfasilitasi masyarakat untuk berwisata sekaligus mengambil momen yang berarti dalam hidup mereka. Dengan adanya keterbukaan di dalam masyarakat Karo, perbedaan yang ada itu dijadikan sebagai media dalam mensyukuri rahmat dari sang Pencipta kepada mereka. Dengan letak geografis yang berbukit dan berada di bawah gunung Sibayak dan Sinabung, tanah karo dalam perjalananya semakin menunjukkan eksistensi dan identitasnya sebagai masyarakat yang eksklusif dan mampu menerima perbedaan yang ada. Bangunan dan taman iman yang dibuat merupakan sarana dalam mempermudah umat beragama dalam beribadat kepada sang Pencipta.

Dengan hadirnya tempat wisata Rohani di Tanah Karo ini, maka sekaligus juga perputaran ekonomi di daerah ini akan semakin bergerak lebih baik. Keramahtamahan dari masyarakat Karo, sarana dan prasarana, serta kerja sama antara pemerintah daerah dengan pelaku usaha wisata juga sangat diperlukan dalam menjaga kenyamanan para wisatawan yang berkunjung ke tanah karo. Pengunjung yang datang ke tanah karo sekaligus memberikan kontribusi positif kepada pemerintah daerah dan masyarakat. Oleh karena itulah, maka diperlukan sinergitas antara masyarakat dan setiap pemangku jabatan di daerah ini. Sehingga ke depannya tanah Karo menjadi tempat yang tepat bagi mereka yang ingin berwisata alam, budaya sekaligus berwisata rohani. Sebab antara alam dan pencipta merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dilepaskan. Alam diciptakan oleh Sang Pengada bagi manusia sebagai tempat untuk hidup. Manusia bertanggung jawab terhadap alam. Manusia memerlukan alam sebagai sarana untuk hidup, dan sebaliknya alam memerlukan manusia untuk menjaga kelestariannya.

Dinas Pariwisata juga diharapkan mampu menjadi media yang dapat mempromosikan tempat wisata rohani ini ke masyarakat luar tanah karo. Sehingga ke depannya semakin banyak wisatawan yang datang untuk berkunjung, dan mengambil momen tepat untuk berwisata rohani sebagai kebutuhan spiritual. Dengan adanya promosi yang baik, maka dipastikan wisata rohani di tanah Karo akan dikenal hingga ke manca negara. Masyarakat Karo mempunyai peranan penting dalam mensukseskan program dari pemerintah daerah, yakni melalui dinas terkait. Maka ke depannya Tanah Karo akan lebih terkenal dengan julukan “ Tanah karo sebagai tempat untuk Wisata Alam, budaya dan rohani”. Mari kita mensukseskan program, “Visit Karo Land as a Natural, Cultural and Spiritual tourism object”. Dengan keseriusan dari masyarakat setempat, maka tanah Karo akan menjadi destinasi wisata rohani baru di Indonesia. Semuanya itu akan tercapai dengan adanya good governance di tanah Karo. Semoga………………..!

Oleh : Rudi Salam Sinulingga

Bekerja di Penerbit Quadra Cabang Medan

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Terimakasih BPJS …

Guntur Cahyono | | 25 July 2014 | 06:54

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Anonim atau Pseudonim? …

Nararya | | 25 July 2014 | 01:41

9 Tips Meninggalkan Rumah Saat Mudik …

Dzulfikar | | 24 July 2014 | 22:48

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: