Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Catatan Tepi

Ary Noer : Pekerja kantor, Trainer, Konsultan QHSE, Entrepreneur UKM, Penulis Catatan Tepi , Seorang selengkapnya

Wisata ke Bali dengan Mobil Sendiri, Siapa Takut!

REP | 09 January 2013 | 15:10 Dibaca: 18394   Komentar: 0   5

Ketika Libur Natal dan Tahun baru kemarin, begitu satu minggu kepastian cuti kerja bisa diambil, maka rancangan pergi ke Bali seperti yang diminta anak-anak saya yang masih sekolah dimulai lewat browsing internet, terutama ketersediaan tiket pesawat dan hotel. Karena berlibur dimasa yang disebut masa puncak atau Peak season, penuhnya hotel di tempat tujuan wisata ditambah dengan surcharge harga kamar yang bisa melebihi 20 persen dari harga rate normal belum lagi melambungnya harga tiket pesawat menuju daerah wisata yang kita hendak tuju menjadi kendala yang paling utama.

Sulitnya ke Bali, sebagai tujuan wisata utama sebagian besar orang Indonesia hampir menutup semua impian itu. Ketika mengklik situs Air asia, harga tiket pesawat termurah yang bisa didapat adalah 12 juta rupiah untuk kami berlima pulang pergi dan hotel hanya tersisa beberapa tempat yang ratenya melebihi 1.5 juta rupiah semalam dengan pemesanaan online, belum lagi sewa kendaraan selama enam hari dengan ongkos sewa 500 ribu rupiah setiap hari. Bukannya tidak bisa mengantisipasi dengan cara memesan tiket jauh-jauh hari agar bisa dapat harga murah, tetapi pekerjaan saya yang tidak memungkinkan untuk memprediksi bisa tidaknya cuti pada saat yang ditentukan menjadi satu hal yang membuat tidak memungkinkannya perjalanan dirancang jauh-jauh hari.

Kalkulatorpun berjalan dan didapat hasil :

Rp 12,000,000 tiket pesawat PP berlima

Rp 1,500,000 x 6 malam = Rp 9 juta biaya hotel

Rp 500,000 x 6 hari = Rp 3,000,000 biaya sewa mobil

Biaya yang harus dikeluarkan diluar makan, tiket masuk wisata, oleh-oleh dan lain-lain maka dana yang harus dikeluarkan adalah Rp 24,000,000. Jika ditambah biaya makan dan lain-lain, Tiga puluh juta rupiah mungkin angka ideal buat kami berlima untuk melihat Bali yang indah. Sebesar itulah pengorbanan biaya yang harus dikeluarkan, meskipun bisa menyediakannya tapi saya tidak rela untuk menghabiskan itu semua, it is hard to get money nowadays, you Know!

Dengan bekal sebelas hari waktu cuti, saya memutar otak untuk bisa sampai ke Bali memenuhi impian anak-anak saya yang ingin kembali kesana, bersama untuk berekreasi dan bukan untuk menyiksa diri. Maka terbersit tawaran perjalanan yang menurut saya akan luar biasa, yaitu dengan berkendara menyusuri jawa dan menyeberangi Bali dengan kendaraan yang kita punya, sebuah MPV. Sebuah tawaran yang membayangklannya saja sudah melelahkan apalagi menjalankannya, menurut kacamata orang pada umumnya tetapi bukankah sesuatu yang hebat selalu berawal dari ide yang Luar Biasa!

Prinsip utama saya sejak dulu adalah “Perjalanan wisata itu dimulai ketika kita meninggalkan pintu rumah, tak peduli kemanapun tujuannya dan menikmatinya sepanjang di luar rumah hingga kembali ke pintu yang sama sebelas hari kemudian”. Berdasarkan itu, kamipun membuat beberapa kesepakatan yaitu:

1. Tidak ada yang boleh mengeluh ataupun berbantahan selama perjalanan sebelas hari, dilarang menciptakan atau memelihara konflik.

2. Mengemudi hanya sebatas hingga pukul delapan malam jika melebihi harus dalam kesepakatan bersama.

3. Siapa saja boleh meminta berhenti menepi jika merasa lelah diperjalanan atau jika merasa ada tempat menarik yang harus dikunjungi ditengah perjalanan.

4. Tidak memburu waktu ketibaan ke daerah tujuan, kalau ngerasa capek, ya kembali Pulang!

Maka rancangan setengah matang pun dibuat, ditambah satu keberuntungan didapat, ada rombongan keluarga tetangga lain yang ternyata sejiwa untuk melakukan perjalanan menantang kedaerah yang sama, keluarga Pak Marbawi. Syukur Alhamdulillah kita bisa saling menjaga di perjalanan yang jaraknya lebih kurang 1,200 Km dari Jakarta ke Denpasar satu kali jalan plus perjalanan wisata selama berputar-putar di Bali yang mungkin saja memakan jarak 700 Km selama 6 hari berkeliling disana dan kembali menemupuh 1,200 km perjalanan pulang.

Saya tetap mempersiapkan rencana biaya sesuai dengan jumlah yang harus dikeluarkan jika naik pesawat namun bertekad memanfaatkannya seminimal mungkin dengan cara menyusuri wisata jalan darat sepanjang jalur utara dan selatan pulau Jawa dan Bali.

Dengan senjata tunggangan Nissan berengine 2000 Cc, 147 horse power, automatic transmission, 6 Recleaning seat, ful aircond, DVD indash, maka 45 liter pertamax di isikan pada lambung sang MPV saat memulai perjalanan. Saya memperkirakan jarak 1200 km akan meminum bensin sebanyak 120 liter dengan asumsi mobil saya yang bongsor memiliki fuel consumption 1:10. Untuk perhitungan selanjutnya agar mudah komparasinya maka kita gunakan premium.

Saya mencampur Premium dan pertamax karena mengantisipasi ketidak tersediaan pertamax dikota-kota kecil. Sebetulnya Nissan serena bisa memakai full premium namun untuk jalur luar kota mengharuskan kita mencampurnya 50%-50% sebagai syarat minimum Karena berkaitan dengan daya akselerasi saat menyusul kendaraan lain di jalur pantura.

Untuk perhitungan dari segi biaya, maka perjalanan darat ke Bali jelas memakan biaya yang jauh lebih ringan dari pada naik pesawat, hanya sekarang pertanyaannya adalah “ Seberapa berat medan perjalanan dari Jakarta ke Denpasar/Singaraja?”.

Untuk sampai ke ujung timur rute yang saya ambil yaitu lewat jalur utara : Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Demak = 18 km, Demak-Kudus = 25 km, Kudus-Pati = 24 km, Pati-Rembang = 35 km, Rembang-Tuban = 100 km, Tuban-Babat = 28 km, Babat-Lamongan = 27 km, Lamongan-Gresik = 28 km, Gresik-Surabaya = 15 km, Surabaya-Bangil-Pasuruan = 64 km, Pasuruan-Probolinggo-Situbondo-Ketapang = 246 km, Gilimanuk-Negara-Tabanan=108km,Tabanan-Denpasar=26km.

Karena ini perjalanan wisata dan banyak berhenti, dari Jakarta kami mencapai wilayah losari brebes dengan waktu delapan jam dan memutuskan menginap disana pada malam hari. Kalau dilihat urutannya sebagai berikut

1. Jakarta- Losari = 276 Km, menginap di family room hotel melati. Total cost : Biaya Tol cikampek dan Tol palimanan losari Rp 39,000 dan ongkos menginap Rp 145,000 = Rp 184,000 (8 jam)

2. Losari - Pekalongan = 100 km, isi bensin full tank 40 liter Rp 180,000. (2 jam)

3. Pekalongan – Tuban = 350 Km, isi bensin full tank 35 liter. Total cost bensin Rp 157,500, menginap Rp 300,000 family room air cond bintang-1 + biaya toll semarang Rp 12,000= Rp 469,500.( 10 jam) dengan diselingi kunjungan ke beberapa makam wali songo di kudus dan Tuban.

4. Tuban- Probolinggo- Banyuwangi= 406 km, isi full tank 40 liter. Total cost bensin Rp 180,000 = Rp 180,000 ( 12 jam )

5. Ketapang – gilimanuk – singaraja = 87 Km, Total cort tiket ferry setiap mobil penumpang MPV Rp 114,000 + menginap di gilimanuk Rp 150,000 = Rp 264,000 (3 jam)

Total jarak tempuh = 1,115 km , total waktu mengemudi = 35 jam. Total tempat wisata yang dilewati sulit dihitung karena dicampur wisata kuliner. Jumlah biaya yang dikeluarkan

Biaya bensin = 115 liter x Rp 4,500 = Rp 517,000

Biaya menginap = Rp 595,000

Biaya toll= Rp 51,000

Sekali lagi Karena ini perjalanan wisata, saya tidak memperhitungkan biaya makan karena ini bagian dari rekreasi kuliner yang bisa dipilih ditiap kota, namun kuliner di sepanjang utara jawa tidaklah memakan biaya besar karena makanan dan minuman di daerah ini teramat murah.

Tambahan lagi, andai saja mobil saya lebih irit hingga 1:15 atau bahkan 1:20, mungkin jumlah biaya bensin yang dikeluarkan hanya separuhnya saja atau cukup 60-70 liter bensin saja.

Jadi Total biaya yang dikeluarkan untuk transportasi dan akomadasi adalah Rp 1,163,000 saja untuk kami sekeluarga berlima. Jumlah ini akan jauh berkurang jika kita punya family di beberapa kota yang dilewati. Triknya cukup beli dua box/ lusin dunkin donut dari Jakarta sebagai oleh-oleh dan mampir ke dua kota yang ada familynya, maka pasti biaya nginap dan makan akan gratis dengan sendirinya.

Karena tak lebih dari seperlima biaya pesawat yang kita habiskan untuk perjalanan pergi ke Bali maka selebihnya kita tinggal menentukan Turis level apa kita ini ketika sampai di Bali. Saya memilih menjadi turis yang tak membatasi makan selama makanan itu halal, dan melupakan harga makanan mahal ditempat-tempat eksklusive di kawasan pulau Bali. Ubud banyak menawarkan restoran eksotis yang dibangun ditengah kota, pinggir sawah maupun pinggir hutan, Saya tak perlu membayar tiket pesawat 12 juta rupiah jadi tak perlu khawatir dengan harga makanan yang ada disana, toh, sebanyak-banyaknya makan perut ini ada batasnya juga.

1357718825295642087

Kesimpulannya ke Bali itu hanya memerlukan ongkos bensin 70-115 liter saja, dengan biaya tol maupun ongkos ferry yang tak lebih 200 ribu rupiah dengan asumsi menginap dan mampir di tempat family sepanjang jalan di jawa, maka Bali bukanlah tempat yang mahal dan tak terjangkau. Mengenai penginapan, di Bali tak perlu dikhawatirkan, meskipun status hotel penuh di situs online tetapi kalau kita bisa sambangi satu-satu hotel disana dengan mobil sendiri maka kita dijamin pasti mendapat kamar sesuai dengan yang diinginkan, sesuai budget atau sesuai ekpektasi pribadi karena kita dapat melihat dengan mata kepala sendiri kondisi tempat menginap di Bali. Kamar di Bali dirancang ramah untuk ukuran kantong turis, mau yang Rp 50 ribu hingga yang Ribuan dollar juga ada, tergantung selera. Saya termasuk beruntung, karena Ustadz marbawi dengan Gontor Connectionnnya bisa mendapatkan satu Guest house yang bisa dipakai secara gratis untuk dua keluarga, Alhamdulillah.

Tambahan lagi, selama enam hari disana, saya tak pusing dengan kendaraan karena tak perlu menyewa, kendaraan yang ada adalah kendaraan kita sendiri, very simple.

So, jika ada yang bilang jalan ke Bali itu nekat dan melelahkan..jawabannya adalah “Tidak!”. Sangat menyenangkan asalkan kita punya waktu minimal sepuluh hari dengan asumsi dua-tiga hari perjalanan berangkat ditambah dua-tiga hari perjalanan pulang lalu sisanya “We Can enjoy Bali with our Own car!”.

13577189092076215714

Perjalanan pulang kemarin, saya merancang perjalanan lewat jalur selatan yang terkenal pemandangan indahnya sepanjang jalan dan bisa melewati beberapa kota yang memiliki keunikan alam dan situs wisata termasuk mondok sebentar di pondok Pesantren Gontor tempat lokasi kisah film negeri Lima menara. Biaya pulang, setali tiga uang dengan biaya berangkat. Jalurnya Denpasar-Gilimanuk-Banyuwangi-Jember-Lumajang-Kediri-Ponorogo-Wonogir-Solo-Salatiga-Semarang-Pekalongan-Tegal-Brebes-Cirebon-Cikampek-Jakarta.

Berani coba? kenapa nggak?, kami saja enjoy kok menjalaninya, syaratnya perjalanan ini akan efisien jika dalam satu mobil berisi anggota keluarga minimal lima orang, jika Cuma berdua, naik pesawat lebih ekonomis ..Nice Try!.

1357718869570342069

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah 5 Butir Penting Putusan MK atas …

Rullysyah | | 21 August 2014 | 17:49

MK Nilai Alat Bukti dari Kotak Suara …

Politik14 | | 21 August 2014 | 15:12

Penulis Fiksiana Community Persembahkan …

Benny Rhamdani | | 21 August 2014 | 11:53

Meriahnya Kirab Seni Pembukaan @FKY26 …

Arif L Hakim | | 21 August 2014 | 11:20

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Dear Pak Prabowo, Would You be Our Hero? …

Dewi Meisari Haryan... | 3 jam lalu

Kereta Kuda Arjuna Tak Gentar Melawan Water …

Jonatan Sara | 4 jam lalu

Dahlan Iskan, “Minggir Dulu Mas, Ada …

Ina Purmini | 5 jam lalu

Intip-intip Pesaing Timnas U-19: Uzbekistan …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Saya yang Memburu Dahlan Iskan! …

Poempida Hidayatull... | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: