Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Hanifah Fitri

Jangan tanyakan aku tentang hidupku. Ia adalah rahasia kehidupan. Ia adalah anugrah dan ujian. Dia selengkapnya

Keliling P Onrust, P Kelor, P Rambut & P Untung Jawa

REP | 12 January 2013 | 22:03 Dibaca: 1511   Komentar: 0   0

Ekosotika Pulau Ondrust

prasasti Pulau Onrust

Pulau ondrust berasal dari bahasa belanda yang apabila diformasikan ke bahasa inggris dari kata un-rest yang artinya tak beristirahat. Pulau ini dahulu adalah pulau tersibuk di Indonesia. Pulau ini menjadi basis pertahanan maritim belanda untuk menjaga daratan sunda kelapa (Jakarta). Tapi sampai sekarang pulau ini kosong. Hanya dihuni oleh satu orang penjaga pulau dan seorang ibu penjaga warung yang berjualan makanan dan minuman kecil namun saat malam ibu penjual kembali pulang  ke rumahnya di Jakarta. Sempat saya bertanya pada ibu penjual tentang siapa yang biasa membeli jualannya mengingat pulau ini sepi dan sulit di akses. “Ada saja neng, biasanya orang-orang bule”.

Saya menarik nafas panjang, bahkan turis asing lebih mencintai sejarah Indonesia ketimbang bangsanya sendiri. T_T

Di pulau ondrust kami menjelajahi museum yang dahulunya kantor VOC, dari museum ini kami mendapat gambaran seperti apa sibuknya pulau ini dahulu. Di museum ini terdapat peninggalan-peninggalan zaman belanda dan replika bangunan-bangunan yang sebagian sudah runtuh. Konon pulau ini memiliki simpanan harta tak ternilai peninggalan VOC yang dicuri era tahun 80an. Sebab itu pulau ondrust dijadikan sebagau pulau cagar budaya.

Reruntuhan barak karantina haji Pulau Onrust

Puas mengelilingi penjara dan makam-makam belanda, kami pergi melihat reruntuhan barak karantina Haji. Zaman belanda, jemaah haji yang akan berangkat dan pulang dari tanah suci dikarantina di pulau ini selama satu bulan. Tujuannya untuk meredam semangat berjuang yang tumbuh paska pulang dari tanah suci. Setelah Indonesia merdeka, barak karantina ini digunakan untuk melokalisasi jemaah haji yang terkena sakit kusta. Kini barak karantina haji tak lagi difungsikan. Seiring tak lagi difungsikannya kapal sebagai sarana transport ke tanah suci. Kami hanya bisa melihat puing-puing sisa bangunan yang kosong. Butuh waktu bagi saya untuk menyadari bahwa di pulau tempat kaki saya berdiri pernah terjadi peristiwa sejarah yang luar biasa.

Pulau ondrust dekat sekali denga pulau cipir, dahulu terdapat jembatan penyebrangan sebagai akses kedua pulau ini. Namun sejak letusan Krakatau tahun 1883 jembatan ini runtuh. Saya sangat ingin menginjakkan kaki kesana. Tetapi waktu seolah tak mengzinkan.

Eksotika Pulau Kelor

Karena keterbatasan waktu, dari 3 pulau dalam gugus pulau ondrus kami hanya sempat mengunjungi pulau kelor. Sekedar informasi untuk pulau bidadari, dekat pulau ondrust, untuk berlabuh dipulau tersebut dikenakan biaya Rp. 50.000, sebab kabarnya pulau bidadari sudah dibeli oleh pihak Ancol. Pulau kelor, tak seorangpun yang menetap disana. Hanya ada sisa benteng berbata merah (benteng Martello) dan beberapa pohon perdu. Benteng Martello tak lagi utuh karena bencana tsunami tahun 1966 dan letusan Krakatau tahun 1883. Benteng Martello adalah pusat pengintaian dari pertahanan maritime belanda. Meriam dari benteng ini bisa  kami lihat di pulau ondrust. Benteng ini terletak paling tepi. benteng yang mirip cerobong asab ini melingkar membentuk sudut 360◦. Pulau yang dahulu lebih dikenal dengan pulau kherkof terancam tenggelam. Dahulu luas pulau ini 1.5 ha. Sekarang kurang dari 1 ha.  Itu sebabnya pulau ini didominasi pasir ketimbang tanah. Karena hamparan pasirnya luas, awalnya kami berencana shalat berjamaah dipulau ini tetapi karena udara terlampau panas niat tersebut kami urungkan.  Oh ya belakangan saya dengar pulau ini biasa menjadi tempat pemakaman. Dahulu, tahanan dan jemaah haji yang meninggal dikuburkan di pulau ini. Jika saja pulau kelor digali, kita akan menemukan banyak tengkorak manusia. Berbagai cerita mistis tentang pulau ini terutama tentang kucing-kucing yang hidup di pulau inii. Hgrr…


Bersenang-senang di Pulau Untung Jawa

Setelah puas mengeliligi pulau yang kaya akan sejarah, kami pergi menuju pulau Untung Jawa. Dengan kapal yang kami naiki, hanya butuh waktu 15 menit untuk bisa sampai ke Pulau tersebut dari pulau onrust. Melabuhkan perahu ke darmaga kapal kami dikenakan biaya Rp.35.000,00-. Pulau Untung Jawa termaksud Pulau wisata. Sebab itu, akses transportasi ke pulau ini relative lebih mudah. Bisa menggunakan kapal umum dari Muara Angke (Jakarta) dengan biaya Rp. 25.000,-atau dari pelabuhan Tanjung Pasir (Tanggerang) dengan biaya Rp. 10.000. Untung Jawa selain memiliki pantai yang Indah, terdapat juga taman tempat konservasi Mangrove, berbagai wahana bermain anak-anak dan banana boot, serta penginapan penduduk dengan  berbagai macam harga. Ditempat ini saya dan teman-teman menyewa tenda, bermain banana boot, shalat, dan makan bersama. Pulau ini cukup menyenangkan.

Pulau Rambut si Pulau Burung.

Uniknya alam Indonesia, meski Pulau Rambut terletak dekat sekali dengan Pulau Untung Jawa, ia memiliki topogafi dan keunikan tersendiri. Berbeda dengan pulau disebelahnya Untung Jaw, di pulau yang luasnya tak sampai 1 ha ini, didiami lebih dari 50.000 jenis spesies burung. Apabila ingin pergi ke Pulau tersebut hanya perlu menyewa perahu dari Pulau Untung Jawa dengan Biaya Rp. 10.000,-. Jika ingin pergi dan melihat burung-burung bisa menyewa guide dengan Rp. 5000,- untuk jumlah peserta lebih dari 10 orang. Pulau rambut adalah penutup perjalanan kami, sayangnya sekali lagi karena keterbatasan waktu, kami tak sempat berkeliling-keliling pulau ini. Meski begitu kami tetap merasa senang.


Catatan.

1. Tak ada tranportasi umum untuk bisa pergi ke Pulau Onrust, Kelor, dan Cipir. Harus menyewa perahu dari Muara Angke, Muara Kamal, Pelabuhan Sunda Kelapa, dan Pelabuhan Tanjung pasir. Harga perahu Rp. 800.000,- sampai Rp. 2.000.000,- bergantung besar dan ukuran kapal.

2. Pelabuhan terdekat dari pulau tersebut adalah pelabuhan Tanjung Pasir.

3. Untuk menekan biaya, sebaiknya pergi ke Pulau gugus cagar budaya (P. Kelor, P. Onrust, P. Cipir) bersama komunitas.

4. Sewalah perahu jauh hari dan berangkat pagi-pagi untuk menjauhi ombak yang relative lebih besar disiang hari.

5. Jika ingin pergi ke Pulau gugus cagar budaya (P. Kelor, P. Onrust, P. Cipir), bawalah perbekalan makanan yang cukup, karena penjual makanan hanya ada di P. Onrust dan harganya relative lebih tinggi dari harga makanan umumnya.

6. Pergi ke Pulau Untung Jawa bisa menggunakan kapal Transport kapasitas 150 orang berangkat dari Muara Angke Pukul 06.00-07.00 WIB dan jam 13.00-14.00 WIB dengan harga Rp. 25.000,- Atau mengguanakan perahu nelayan dari Pelabuhan Tanjung Pasir Rp. 10.000-Rp. 20.000. Waktu perjalanan dari kedua pelabuhan tersebut sekitar 20-30 menit.

7. Pergi ke Pulau Untung Jawa juga bisa menggunakan kapal kerapu (Kapal Boot), dari ancol dengan harga Rp. 25.000* berangkat pukul 06.00 WIB dan 13.00 WIB. Akan tetapi, perahu ini sering menjadi minta para wisatawan sehingga banyak wisatawan akhirnya tak mendapat tiket. Bahkan beberapa wisatawan yang ingin menggunakan kapal ini mengantri sejak jam 03.00 pagi demi mendapatkan tiket kapal. Jika Ombak besar, kapal kerapu pukul 13.00 WIB tidak diberangkatkan.

8. Untu bisa pergi kepulau rambut bisa menggunakan jasa perahu nelayan dari Pulau Untung Jawa Rp. 10.000-Rp. 20.000*

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 2 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 3 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 4 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 7 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kesaksian Terakhir …

Arimbi Bimoseno | 8 jam lalu

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | 8 jam lalu

Topik 121 : Persalinan Pervaginam Pd Bekas …

Budiman Japar | 9 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Transjakarta: Busnya Karatan, Mental …

Gunawan Eswe | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: