Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Claudy Yusuf

Mahasiswa jurusan mmanajemen, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa "Saya mendapat ilmu ketika membaca maka saya balas selengkapnya

Backpacker ke Yogyakarta

HL | 14 January 2013 | 08:52 Dibaca: 6866   Komentar: 0   3

Liburan kali ini saya dan kaka memilih pergi ke Kota Yogyakarta dengan budget yang secukupnya. Perjalanan dimulai dari terminal bis lebak bulus dengan tiket yang sudah dipesan jauh-jauh hari. Perjalanan menggunakan bis ac yang nyaman dimulai dari pukul 17.30 wib. Sengaja memilih sore hari agar waktu perjalanan terasa singkat dengan tidur sepanjang malam didalam bis. Pada pagi hari terbangun dengan pemandangan yang menakjubkan. Berada dijalan yang berkelok-kelok seperti di tengah hutan dan berlanjut pada pemandangan pegunungan dengan hamparan sawah yang hijau. Akhirnya sampai di Yogyakarta sekitar pukul 09.30 wib dan melanjutkan ke Malioboro menggunakan bis trans Jogja.

Sampai di Malioboro langsung bergegas ke hotel yang sudah dipesan sebelumnya. Hotel sederhana yang hanya ada dua kasur dan kamar mandi, setidaknya setara dengan harga yang dikeluarkan. Membereskan barang-barang bawaan dan mandi lalu pergi mengelilingi Yogyakarta.

Pilihan pertama yang dikunjungi adalah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Menaiki becak dari Malioboro menuju Keraton Yogyakarta. Menembus jalan Malioboro yang ramai dengan pedagang dan beberapa bangunan bersejarah.

13581264531093972470
Perjalanan menuju keraton Yogyakarta naik becak

13581265321415694207
Perjalanan menuju keraton Yogyakarta naik becak

Memasuki Keraton Yogyakarta hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp. 3000 untuk wisatawan domestik dan jika membawa kamera harus membayar biaya tambahan sebesar Rp. 2000. Memasuki Keraton Yogyakarta akan terasa sekali kentalnya nuansa arsitektur istana jawa dengan balairung-balairung mewah, lapangan, serta paviliun yang luas. Halaman di Keraton ini dilapisi pasir hitam yang berasal dari pasir pantai selatan dan ditanami tumbuhan yang tertata rapih. Mengelilingi keraton melihat-lihat bangunan bersejarah, replika sejarah keraton, gamelan dan lainnya.

13581271092042332610
Gerbang Masuk Keraton

1358127177211903631
Salah satu bagian dari keraton

13581272451742898583
Gamelan di Keraton

Setelah menunjungi Keraton Yogyakarta, kami kembali ke hotel dan beristirahat. Malam harinya kami menikmati suasana malam Malioboro yang semakin ramai. Menikmati hidangan makanan angkringan, menonton aksi band jalanan dan menonton wayang. Namun tidak menonton wayang sampai habis pada pukul 04.00 pagi, hanya menonton sebentar saja. Dari Malioboro naik becak motor menuju House of Raminten, yang merupakan tempat makan dan nongkrong terkenal di Yogyakarta. Sayangnya Raminten saat itu sangat ramai dan mengantri panjang sehingga mengurungkan niat nongkrong di Raminten. Kembali lagi ke hotel di Malioboro naik bis trans Jogja. Malioboro makin malam makin ramai, diperjalanan menuju hotel ada konser reggae disebuah kafe.

Perjalanan esok harinya diisi dengan wisata belanja dan Candi Prambanan. Menemani kaka saya berwisata belanja di pasar Beringharjo membeli oleh-oleh berupa baju batik, kain batik dan lainnya. Penting disini untuk bisa menawar dan memilih karena pilihan yang sangat beragam. Selesai berbelanja di pasar Beringharjo kami langsung bergegas ke Stasiun Tugu untuk melanjutkan perjalanan ke Solo dengan kereta.

Niatnya ke Solo ingin menikmati suasana Kota Solo dengan naik bis tingkat. Namun, kurang beruntung bis tingkat hanya beroperasi pada hari libur sedangkan kami kesana saat bukan hari libur. Sehingga kami ke Solo hanya mengunjungi pasar Klewer. Tidak jauh berbeda dengan pasar Beringharjo, pasar Klewer juga dipenuhi dengan pedagang baju batik dan kain batik.

Setelah berbelanja di Pasar Klewer kami naik becak ke terminal untuk naik bis ke Candi Prambanan. Abang becak yang ramah yang memberikan kami saran saat naik bis agar tidak ditipu harga bis yang mahal dan untuk menjaga barang bawaan. Perjalanan cukup jauh dari pasar Klewer menuju terminal. Sepanjang perjalanan tidak ada sama sekali kemacetan dan kendaraan yang berlalu-lalang hanya sedikit. Naik bis dari Solo ke Candi Prambanan sekitar 2 jam.

13581277011677212501
Candi Prambanan

1358127775807160801
Candi Prambanan

Tiket masuk Candi Prambanan Rp. 25.000 untuk wisatawan domestik. Sebelum memasuki candi yang merupakan situs warisan dunia UNESCO ini kita diwajibkan memakai kain batik yang dilingkarkan dipinggang. Candi Prambana yang berbentuk tinggi dan ramping ini terdiri dari beberapa candi besar dengan candi utama yaitu Candi Siwa. Mengelilingi Candi dan masuk kedalam candi-candi kita akan disuguhi oleh relief-relief indah dan arsitektur candi yang indah. Setelah mengelilingi beberapa candi besar saya langsung mengantri untuk memasuki candi Siwa.

13581279691919903608
salah satu arca didalam candi

1358128040520746475
Candi Siwa disebelah kiri

Candi Siwa yang merupakan candi utama di kompleks Candi Prambanan merupakan candi yang paling besar  dengan tinggi 47 meter dan untuk memasukinya harus mengantri karena Candi Siwa hanya boleh dimasuki beberapa orang secara bergantian. Sebelum masuk diharuskan memakai topi proyek yang sudah disediakan. Di Candi Siwa terukir relief cerita Ramayana dan terdapat beberapa arca. Saat memasuki salah satu ruang di Candi Siwa terdapat orang yang sedang bersembahyang, tentunya kita sebagai wisatawan jangan mengganggu kekhusyukan orang yang sedang bersembahyang karena bagaimanapun fungsi utama candi adalah untuk beribadah. Keluar dari Candi Siwa disambut dengan hujan yang cukup deras sehingga kami tidak bisa melanjutkan mengelilingi candi-candi lainnya. Pulang dalam keadaan basah kuyup menaiki bis Transjogja menuju hotel di Malioboro.

Malam harinya kembali menikmati ramainya malam di Malioboro sekaligus membeli oleh-oleh. Salah satunya adalah bakpia. Naik becak dari hotel ke pabrik bakpia pathok 25, dengan harga yang terjangkau dan rasa yang enak dengan berbagai pilihan rasa. Bakpia menjadi oleh-oleh wajib saat berkunjung ke Jogja. Balik ke Hotel naik becak lagi setelah belanja bakpia dan abang becaknya minta di add facebooknya, ada-ada saja. Dekat hotel kami menghangatkan diri menyantap sekoteng hangat. Malam ini menjadi malam terakhir kami di Jogja untuk edisi liburan kali ini karena esok harinya kami harus kembali lagi ke Tangerang.

Hari ketiga, hanya diisi oleh sarapan dan mengemas barang-barang untuk pulang. Tidak seperti saat berangkat yang menggunakan bis, saat pulang kami menggunakan kereta ac ekonomi dari stasiun tugu menuju stasiun senen. Ternyata perjalanan menggunakan kereta lebih cepat dan pemandangannya jauh lebih indah.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Revolusi dari Desa di Perbatasan …

Pepih Nugraha | | 23 October 2014 | 12:52

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | | 23 October 2014 | 09:45

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Pertolongan Kecelakaan yang Tepat …

M. Fachreza Ardiant... | | 23 October 2014 | 10:23

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 6 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 7 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 8 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 8 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 7 jam lalu

Menunggu Hasil Seleksi Dirut PDAM Kota …

Panji Kusuma | 7 jam lalu

Penghubung Komisi Yudisial Jawa Tengah …

Muhammad Farhan | 8 jam lalu

‘Jokowi Efect’ Nggak Ngefek, …

Handarbeni Hambegja... | 8 jam lalu

Kisah Lebai Malang Nan Bimbang …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: