Back to Kompasiana
Artikel

Jalan Jalan

Acik Mdy

seorang ibu rumah tangga yang suka menulis

Ritual Sekaten Menyambut Kelahiran Nabi Muhammad SAW

HL | 18 January 2013 | 22:25 Dibaca: 731   Komentar: 0   0

13585173101160735262

Kanjeng Kyahi Gunturmadu

13585175321528586461

Kanjeng Kyahi Nagawilaga

Hari ke-4, kamis 17 januari 2013, di Yogyakarta, sebenarnya saya dan suami telah berencana untuk mengunjungi Candi Borobudur. Namun, ternyata rencana kami (saya dan suami) berubah. Demi bisa melihat upacara sekaten di Keraton Yogyakarta, kami memilih membatalkan pergi ke Candi Borobudur.  Ya..kapan lagi kami bisa melihat upacara sekaten ini, mumpung berada di Yogyakarta, maka kesempatan ini tak akan kami sia-siakan begitu saja.

Pemandu kami di Taman Sari-lah yang memberitahukan, bahwa kamis malam Keraton Yogyakarta akan melakukan upacara sekaten, menurunkan benda pusaka keraton. Maka, disarankan kami untuk datang melihatnya. Waktu itu, pemamdu kami di Taman Sari, menyarankan agar kami datang pukul 10 malam, di Alun-alun, tepatnya ditempat kita membeli tiket masuk Keraton. Saya dan suami antusias sekali mendengarnya, dan sangat ingin melihat upacara tersebut.

Dalam perjalanan pulang ke tempat penginapan, didalam becak, kami mengobrol dengan tukang becak, yang membawa kami ke penginapan. Dalam obrolan itu, kami bertanya-tanya pada bapak tukang becak tentang sekaten itu tentunya. Bapak tukang becak itu membenarkan, kalau memang besok malam (kamis malam, 17 januari 2013) akan ada sekatenan. Penurunan gong, benda pusaka Keraton Yogyakarta. Diharapkan kami datang lebih awal, jam 8 malam, karena biasanya suasana sangat ramai sekali. Karena dipercaya akan membawa berkah tersendiri bagi yang datang ikut merayakan. Bapak tukang becak itu bilang, “kalau saya percaya, bila kita bisa mendapatkan koin yang disebar, maka kita akan mendapatkan berkah”. Begitu kata Bapak tukang becak. Ya…udhik-udhik, dimana Sultan akan menebar koin, yang tentu saja akan diperebutkan oleh masyarakat Yogyakarta yang percaya dan hadir.

Rencana ke Candi Borobudur, batal dihari kami itu. Kamis pagi, kami memilih tempat yang lebih dekat saja, yaitu belanja batik di Mirota Batik Malioboro,  agar bisa pulang kepenginapan lebih cepat, yaitu jam 3-an sore. Istirahat sebentar, untuk kemudian pergi ke alun alun jam 8 malam. Tidak mengapa, batal ke Candi Borobudur. Mungkin bisa dilain waktu bisa pergi ke Candi Borubudur. Tetapi kalau datang ke Yogyakarta pas bertepatan dengan upacara sekaten itu waktu yang langka untuk kami.

Jam 8 malam, hujan mulai mengguyur. Antara, hendak jadi berangkat melihat upacara sekaten, atau tidak jadi berangkat saja karena hujan lumayan deras. Keinginan yang besar untuk melihat prajurit keraton keluar, melihat benda pusaka keraton di depan mata, mampu mengalahkan rasa ragu karena hujan mengguyur tanpa henti. Takut jadi sakit karena udara dingin malam, takut jadi sakit karena terguyur air hujan, sudah  tidak terhiraukan lagi. Kapan lagi….datang ke Yogyakarta, dengan waktu bertepatan seperti ini. Inilah yang membuat kami tetap terus sesuai rencana, malam hari pergi ke Alun-alun.

Setelah sebelumnya membeli payung terlebih dahulu, kami berangkat ke Alun-alun dengan menumpang becak yang memang banyak terparkir disekitaran tempat penginapan kami. Hujan berhenti sejenak dalam perjalanan, jalan begitu lengang dan sepi. Kata Bapak tukang becak, kalau tidak hujan pasti ramai sekali. Ya.. waktu sudah menunjukkan pukul 9.30 malam hari. Tadinya kami pikir, akan berangkat bila hujan reda, namun ternyata hujan tidak reda-reda. Tanpa pikir panjang, berangkat saja…

Sebenarnya saya ingin menyaksikan udhik-udhik (penebaran koin oleh sultan).  Dan inginnya menuju ketempat kami membeli tiket masuk keraton, sesuai dengan petunjuk pemandu sewaktu di Taman Sari. Tetapi menurut tukang becak ini, tempatnya tidak disana, tetapi di Alun-alun besar. Kami jadi bingung, mau kemana tujuan ini, ke Alun-alun besar Atau alun-alun kecil. Ya, sudahlah kami nurut saja dengan tukang becaknya, kan Bapak tukang becak ini orang Yogyakarta jadi lebih mengerti daripada kami ini. Maka turunlah di depan Masjid Agung Yogyakarta.

Sampai di Masjid Agung Yogyakarta, bertanya-tanya lagi dimana tempat udhik-udhik…Dari petugas keamanan yang berjaga-jaga, ada yang bilang udhik-udhik sudah dilakukan di Keraton, ada yang bilang udhik-udhik juga akan dilakukan di Masjid Agung Yogyakarta ini. Dari pada bertambah bingung, kami putuskan untuk masuk saja ke kompleks Masjid Agung Yogyakarta ini lewat pintu samping gerbang (gapura) utama, karena pintu gerbang utama ditutup.

1358517985782951252

Gapura Masjid Agung Yogyakarta

1358518144672371334

Salah Satu Pintu Samping Gapura Masjid Agung

Suasana sudah mulai ramai ketika kami masuk kompleks Masjid Agung Yogyakarta.  Banyak penjual nasi gurih dan seperangkat sirih. Dari kepercayaan masyarakat, bila kita ikut merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, maka kita akan mendapatkan berkah, pahala, dan juga awet muda. Dengan syarat mengunyah sirih dihalaman Masjid Agung Yogyakarta. Oleh karena itu banyak penjual nasi gurih lengkap  dengan lauk pauk, dihalaman Masjid Agug Yogyakarta, dan di Alun-Alun Utara Keraton. Dan kalau saya amati, banyak dari mereka yang berdatangan itu adalah orang-orang lanjut usia. Dalam udara dingin malam, dan disertai guyuran hujan, mereka tetap datang agar mendapat berkah sekaten.

Dan siapa yang menyangka, kami bertemu kembali dengan pemandu yang memandu kami di Taman Sari. Kami juga bertemu dengan anak ke-3nya yang baru kelas 4 SD (Sekolah Dasar). Dan siapa yang menyangka pula, ternyata anaknya sudah terampil menggunakan kamera SLR, kameranya para fotografer, tentu saja belajar dari ayahnya, siapa lagi kalau bukan Mas Gondrong (pemandu kami di Taman Sari). Terkagum-kagum kami melihat hasil jepretan anak Mas Gondrong.  Dari Mas Gondrong itu kami tahu, bahwa benda pusaka yang akan diturunkan ke Masjid Agung Yogyakarta, itu bernama Kyahi Gunturmadu, dan Kyahi Nagawilaga. Dimana Kyahi Gunturmadu akan ditempatkan di pagongan sebelah selatan gapura halaman Masjid Agung Yogyakarta. Sementara Kyahi Nagawilaga akan ditempatkan di pagongan sebelah utara gapura halaman Masjid Agung Yogyakarta.

Akhirnya setelah pukul 11 malam benda pusaka itu diturunkan ke Masjid Agung Yogyakarta, setelah sebelumnya telah diadakan ritual di Keraton Yogyakarta. Pintu gerbang (gapura) Masjid Agung yang tadinya tertutup, kini mulai dibuka. Didalam gapura itu ada kursi-kursi yang tertata rapi, hanya orang-orang tertentu saja yang duduk di kursi-kursi itu. Sementara para abdi  dalem sibuk membersihkan lantai gapura yang akan dilewati benda pusaka tersebut. Lantai itu di pel, dilap hingga benar-benar bersih. Dan kami lihat, dipel berkali-kali, dan dilap. Sementara jalan-jalan yang akan dilewati benda pusaka itu, mulai disterilkan dari pengunjung, sampai selebar 6 meter. Karena bambu yang digunakan untuk mengangkat benda pusaka itu selebar 6 meter. Selain di sterilkan, jalan-jalan itu disapu hingga benar-benar bersih.

13585184731894073904

Satu-persatu iring-iringan pembawa benda pusaka keraton itu memasuki gapura masjid. Dimana benda pusaka ini dikawal oleh prajurit mantrijero dan prajurit ketanggung. Yang  pertama masuk adalah iringan pembawa Kyahi Gunturmadu. Dan langsung menuju kepagongan sebelah selatan gapura masjid. Selanjutnya iring-iringan Kyahi Nagawilaga, memasuki pagongan sebelah utara gapura masjid. Setelah kedua benda pusaka itu sampai di pagongan masing-masing, maka pengantar kembali lagi ke Keraton.

13585188561998933829135851900220695790811358519142206947023013585193462047890803

Setelah gamelan sekaten ini memasuki pagongan masing-masing. Maka akan dibunyikan terus-menurus hingga enam hari, kecuali malam jum’at, sampai jumat siang setelah sholat jum’atan. Karena tadi malam adalah malam jumat, maka gamelan sekaten (benda pusaka tadi), tidak dibunyikan. Malam itu ada acara ritual di pagongan masing-masing benda pusaka itu, Kyahi Gunturmadu, dan Kyahi Nagawilaga.

135851956670426567313585197654210732321358519971467056732

Ya..inilah sedikit cerita dari upacara sekaten ini. Tidak bisa melihat udhik-udhik tidak mengapa, karena tetap bisa melihat benda pusaka Keraton Yogyakarta. Sebuah budaya, adat tradisi yang terus lestari hingga saat ini. Rasa-rasanya Yogyakarta adalah salah satu daerah yang tetap melestarikan budaya, adat dan tradisi, Pun juga dengan masyarakatnya tetap menjaganya. Masalah percaya atau tidak percaya tentang beragam ritual yang ada di Keraton Yogyakarta, buat saya itu adalah kekayaan budaya kita, Indonesia.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Meriah Nobar Relawan di Episentrum Kalla …

Indra Sastrawat | | 20 October 2014 | 12:56

Ibu Negara Kita Kenyes-Kenyes dan Cantik …

Mafruhin | | 20 October 2014 | 08:58

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Tolong … Emosi Saya Dibajak! …

Hendri Bun | | 20 October 2014 | 13:20

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Standing Applause, Bagi Kehadiran Prabowo …

Abah Pitung | 5 jam lalu

Beda Perayaan Kemenangan SBY dan Jokowi …

Uci Junaedi | 5 jam lalu

Ramalan Musni Umar Pak Jokowi RI 1 Jadi …

Musni Umar | 8 jam lalu

Jokowi Dilantik, Pendukungnya Dapat Apa? …

Ellen Maringka | 8 jam lalu

Ucapan “Makasih SBY “Jadi …

Febrialdi | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Curahan Hati Indra Sjafrie .. …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Setelah Menjadi Relawan Jokowi, Selanjutnya …

Maulana Zam | 7 jam lalu

Melihat Jokowi dari Papua …

Moh. Habibi | 7 jam lalu

Buku Adalah Dunia, Bukan Jendela …

Nitaninit Kasapink | 7 jam lalu

Pelantikan Presiden yang Mengukir Sejarah …

Mamank Septian | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: